11. Totalitas harga mati!

1230 Words
Mas Bimo mengajak kami semua untuk makan siang diluar. Katanya, ada tempat makan baru yang buka tidak jauh dari kantor kami. Letak restoran itu hanya berjarak beberapa ratus meter dan untuk melepas penat. Mas Bimo mengajak kami semua keluar dari ruangan kerja yang kami tempati setiap hari itu dan kami memutuskan kesana bersama dengan berjalan kaki. Hitung-hitung olah raga, kata Mas Bimo. “Kenapa muka lo begitu?” Mas Satria bertanya menatapku lekat setelah kami memesan makanan dan minuman kami masing-masing. "Iya, muka lo lecek banget. Mana hari ini elo rajin banget keluar masuk ruangan Si Mahes. Yang Mulia ngebedah kerjaan lo lagi apa gimana?” Mas Bimo menatapku lekat. Aku meringis. Memasang ekspresi nelangsa. Menceritakan yang sebenarnya lagi-lagi tidak ada dalam pilihan. Kesepakatan mengenai rencana Pak Mahesa aku harus rajin berbohong pada para seniorku. Pada akhirnya aku hanya menganggukkan kepala mengiyakan pertanyaan Mas Bimo. “Gue turut berduka, adik kecil. Lo harus makan yang banyak supaya siap menghadapi Pak Mahesa dan segala keajaibannya,” ucap Mbak Retha dengan nada kasihan. Seandainya saja mereka tau alasan sebenarnya aku bolak-balik masuk ke dalam ruang Pak Mahesa. Keempat seniorku itu pasti akan terheran-heran. Pasalnya alasan yang sebenarnya aku bolak balik masuk ke dalam ruang Pak Mahesa karena Yang Mulia Tuan Mahesa benar-benar melaksanakan ucapannya kemarin. Pagi-pagi Pak Mahesa memintaku untuk masuk ke dalam ruangannya hanya untuk menayakan kost mana yang aku pilih. Pria itu kembali menekankan kalau lokasinya harus berdekatan dengan kantor dan karena aku tidak menganggap ucapan Pak Mahesa kemarin itu penting maka aku belum mencari kost seperti yang atasanku itu inginkan. Ya, aku mengabaikannya dan hasilnya Yang Mulia Tuan Mahesa murka. Aku pun mendadak mengesampingkan pekerjaanku dan mencari kost terdekat yang sesuai dengan kantongku dan sialnya tidak ada sehingga jaraknya aku sedikit rubah walau agak jauh tapi tidak sejauh kostku yang sekarang. Hasilnya tentu Pak Mahesa marah besar dan aku sangat kesal hingga aku lupa kalau Pak Mahesa adalah atasanku dan dengan berani aku menjawabi seluruh luapan kemarahannya. “Kamu paham bahasa indonesia gak sih, Vanala? Saya bilang cari yang deket kantor kenapa jaraknya masih jauh begini? Kamu ini ada masalah sama pengetahuan jarak jauh sama dekat atau emang kamu seneng susah di jalan? Gaji kamu lebih dari cukup buat bayar kost deket kantor kenapa masih milih yang jauh? Kelakuan kamu ini bikin saya pusing!” “Bukan saya yang bikin pusing! Bapak yang bikin saya pusing! Saya cari kost buat pindah ini udah terpaksa banget! Saya enggak ada masalah dengan kost saya yang sekarang. Kalau yang deket kantor itu mahal buat saya. Dari pada saya pakai buat bayar kost mending uangnya saya kasih Jojo buat bayar kuliah atau bisa saya kasih Abah sama Ambu buat kebutuhan sehari-hari. Mending batalin aja rencana bapak deh! Saya bakal cari kerjaan baru dari pada repot begini.” Aku meledak. Aku keluar dari ruangan Pak Mahesa dengan wajah kesal dan penyesalan yang membumbung tinggi. Setelah emosiku membuatku melakukan kebodohan memberi tau alasanku memilih kost yang jauh lebih murah padahal sebelumnya aku memilih menutupinya kini sepertinya aku harus berpikir cepat mencari pekerjaan karena aku sudah bilang mau cari kerjaan baru daripada tetap menjalankan rencana Pak Mahesa dan aku tenggelam dalam kerumitan lainnya. Ya, penyesalan memang selalu datang belakangan karena kalau duluan namanya pendaftaran. Begitu kata orang-orang dan ternyata itu benar adanya. Kini aku menyesal. Tapi diantara semua kesialanku ternyata masih tersisa keberuntungan karena Pak Mahesa tidak mengambil serius ucapanku. Pak Mahesa memanggilku kembali dan menyodorkan sebuah foto di tabletnya membuatku mengerutkan alis memahami maksud dari apa yang atasanku itu lakukan. “Itu apartemen tidak pernah saya tinggali. Kamu bisa tinggal disitu dan bayar sesuai dengan harga kost kamu sekarang.” Pak Mahesa berbicara dengan nada serius sambil menatapku lekat. “Saya minta maaf. Kamu benar soal kebutuhan setiap orang berbeda dan saya baru tau kalau kamu menanggung beban yang cukup berat.” Aku menghela nafas panjang. Ternyata emosiku tidak hanya hampir membuatku harus mencari pekerjaan baru tetapi juga membuat Pak Mahesa yang notabene sebagai orang asing jadi tau tentang kehidupanku. “Pak, ini semua salah. Saya tidak bisa─” “Saya sudah bilang sejak awal kalau tidak ada pilihan untuk mundur, Vanala. Kamu sudah setuju melakukan skenario yang saya buat dan malam ini bereskan barang-barang kamu─” “Tapi, Pak─” “Bereskan barang-barang kamu malam ini dan besok saya akan suruh orang─” Diktator! “Barang saya tidak banyak. Saya bisa bawa sendiri. Bapak tidak perlu repot-repot suruh orang. Bapak kasih tau aja dimana alamatnya nanti saya datang dan bawa barang-barang saya sendiri.” Dan begitulah kejadian asli yang sebenarnya tapi aku tidak mungkin menceritakan itu semua pada keempat seniorku karena itu sama saja harus menceritakan seluruh kejadian sebenarnya dari awal mulai dari aku yang ketahuan menggunakan ruang istirahat pribadi Pak Mahesa hingga skenario yang dibuat Pak Mahesa. Kebohongan yang sudah berguling menjadi bola salju yang semakin besar dan aku takut bola salju itu akan menimpa diriku sendiri. “Bah! malah bengong pulak bocah ini. Makan buruan, Va!” Aku meringis mendengar ucapan sengit dengan logat khas milik Bang Rizal. Aku pun mulai menyantap makananku mengikuti para seniorku. “Pak Mahesa suruh gue hunting ide baru. Dia bahkan bilang gak masalah kalau perlu gue ke Jepang buat cari ide karena menurut dia performa gue menurun padahal di approve-approve aja ide gue.” Mbak Retha buka suara membuat kami semua menatapnya. “Mahesa kan gitu. Totalitas harga mati, Ret. Dia gak masalah elo ke Jepang asal elo pulang bawa ide baru yang orisinil yang bisa di aplikasiin ke proyek lo.” “Pak Mahesa juga suruh gue jalan-jalan buat refresh pengetahuan.” Bang Rizal ikut menimpali. “Masalahnya gue tuh lagi enggak mood ke luar negeri, Mas. Sekarang semua bisa jarak jauh. Cari info lewat komputer juga─.” “Elo bukan anak baru kerja kemarin sama Mahesa, Ret. Mahesa itu perfeksionis tidak boleh ada kesalahan dalam perencanaan. Totalitas, loyalitas udah harga mati dan karena itu pundi-pundi kita gemuk,” potong Mas Bimo dengan nada gemas. Aku dan Mas Satria meringis bersamaan. Ucapan Mas Bimo memang benar adanya. Aku bersyukur bisa masuk dan menjadi bagian dari tim Pak Mahesa. Walau lebih banyak menyebalkannya tapi emosi yang terkuras seakan terbayar dengan gemuknya pundi-pundi kami. Aku bisa memenuhi kebutuhan Jojo sekaligus Abah dan Ambu dengan baik. “Va, ponsel lo enggak dibawa?” Mas Bimo bertanya sambil menatap ponselnya. “Bawa, kok.” Aku menjawab dengan cepat. “Liat ponsel lo. Si Mahesa nyariin elo ke gue nih. Jangan bikin Yang Mulia kesel, Va. Kita masih kerja setengah hari lagi dan gue enggak mau setengah hari gue ikutan jadi suram.” Aku meringis meminta maaf dan dengan cepat meletakkan alat makanku lalu mengambil ponselku. Sesungguhnya jantungku sudah berpacu secepat otakku yang memikirkan untuk apa Pak Mahesa menghubungiku. Sore ini kamu pulang bareng saya. Tunggu saya balik ke kantor karena ada yang mau saya bicarakan. “Kerjaan tambahan, Va?” Pertanyaan dari Mbak Retha spontan membuatku menoleh dan dengan cepat aku mengangguk. Mbak Retha memasang ekspresi prihatin, “Semangat ya, Va. Abisin makanan elo abis itu kita langsung balik ke kantor supaya lo bisa lanjutin kerjaan lo.” Aku dengan cepat mengangguk. Sepertinya untuk saat ini lebih baik mengiyakan saja apa yang ada di dalam kepala para seniorku mengenai alasan Pak Mahesa menghubungiku karena tidak mungkin aku jujur pada mereka. Aku melanjutkan makan siangku dengan kepala yang jelas penuh dengan pertanyaan, apa lagi yang mau dibicarakan oleh Pak Mahesa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD