12. Bisa ditukar tambah aja gak sih?

1250 Words
Pribahasa sudah tertimpa tangga itu tidak cukup mewakilkan apa yang kualami beberapa waktu belakangan ini. Pribahasa itu perlu ditambahi kalimat jatuh diatas anjing tetangga lalu dikejar si anjing pula. Ya, rasanya pribahasa yang ditambahi kalimatnya itu jauh lebih tepat untuk menggambarkan kondisiku saat ini. Aku benar-benar berada dalam kondisi sial dalam taraf level super duper mega sial karena kini harus berurusan dengan Pak Mahesa yang masuk dalam kategori anomali. Panjangkan sabar Vanala, Ya, Allah. Entah seberapa panjang kesabaran yang perlu aku miliki karena berurusan dengan anomali yang satu ini. Pak Mahesa bertindak seenaknya tanpa meminta pendapatku padahal dalam menjalankan skenario yang ia buat melibatkan diriku juga. “Kita perlu diskusi dan supaya efisen, malam ini kita akan diskusi sambil makan malam plus kamu sekalian melihat tempat yang akan menjadi tempat tinggal kamu nantinya. Saya akan pesan makanan setelah kita sampai disana. Kita perlu banyak bertukar informasi supaya hari sabtu nanti berjalan dengan lancar dan setelah pulang dari apartemen kamu harus segera bereskan barang-barang kamu supaya bisa segera pindah. Saya tidak mau ada kesalahan apapun, Vanala.” Hanya itu yang Pak Mahesa katakan saat kami sudah berada di dalam mobil Range Rover miliknya. Menolak? Jelas tidak mungkin. Pada akhirnya aku hanya mengangguk. Mendebat Pak Mahesa hanya akan menghabiskan tenaga yang aku miliki sehingga menurut adalah satu-satunya jalan karena semua ini terjadi pun karena aku yang keluar dari ruang istirahat pribadi Pak Mahesa di waktu yang tidak tepat jadi aku hanya bisa mengikuti skenario Pak Mahesa walau tidak ingin. “Ini apartemen yang saya beli tapi saya tidak gunakan. Saya beli karena iseng. Saya pikir bisa saya tempati karena lokasinya yang tidak jauh dari kantor tapi saya sudah terlalu nyaman tinggal bersama dengan keluarga saya.” Beli karena iseng? Luar biasa. Sebanyak apa uang pria dihadapanku ini? Pak Mahesa memasukan kombinasi angka pada pintu dan saat pintu terbuka pria itu masuk dan aku mengikutinya. Aku masuk dengan berjuta hal yang ada di dalam kepalaku. Jelas aku tidak mengetahui apapun tentang kehidupan pribadi Pak Mahesa. Di dalam kepalaku Pak Mahesa adalah kepala divisi tempatku bekerja. That’s it. Namun karena apa yang harus kami jalani, aku pun baru tau kalau Pak Mahesa memiliki sebuah apartemen yang dia beli karena iseng. Jelas dari pernyataannya itu pria yang ada bersamaku saat ini memiliki banyak uang. Bagaimana tidak, pria itu bisa membeli apartemen yang jelas tidak murah harganya hanya karena iseng. Bosku ini jelas horang kaya. Apartemen tempatku berada saat ini bukan apartemen kelas menengah ke bawah. Ini jenis apartemen kelas menengah ke atas. Apartemen dengan lift yang perlu akses dan hanya bisa mengakses lantai yang spesifik lalu pintu apartemen dengan smartlock serta isi dalam apartemen ini yang sudah full furnish dimana terdapat ruang tamu kecil dan dua kamar dengan pemandangan kota di dalamnya ini jelas tidak murah harganya. “Kamu bisa pakai apartemen ini─” “Pak, saya rasa ini berlebihan selain itu nanti kalau skenario bapak selesai, saya repot pindah-pindah kost lagi dan belum tentu kost yang saya tempati sekarang masih kosong. Lebih baik─” “Kamu bisa tinggal disini selama kamu bekerja di Wiradilaga. Anggap saja saya buka kost dengan harga murah buat karyawan saya sendiri. Kamu bayar harga sewa sesuai yang kamu bayar di kost yang kamu tempati sekarang. Lagi pula apartemen ini tidak terpakai. Dengan kamu tinggal disini dan bayar sewa ke saya membuat saya memiliki penghasilan tambahan.” Mulutku kehilangan fungsinya. Aku kehabisan kata-kata karena menolak pun nampak sok sekali diriku ini karena kenyataannya kalau harus membayar sewa kost dengan harga yang sama jelas apartemen ini jauh lebih nyaman dan mudah untukku. “Sekarang kita mulai bertukar informasi. Saya ingin kamu menceritakan semua tentang diri kamu dan juga keluarga kamu lalu saya juga akan memberitaku kamu hal yang sama. Kita bertukar semua informasi yang harusnya seorang pacar ketahui tentang pacarnya.” Aku pun menghela nafas pendek sebelum menjawab. “Nama saya─” “Saya sudah tau nama kamu. Kamu Vanala Cantika dan usia kamu dua puluh enam tahun,” potong Pak Mahesa dengan nada jengah. “Ceritakan mengenai keluarga kamu. Dimana mereka tinggal dan apa yang mereka lakukan, Vanala.” Kalau saja menggeplak kepala Pak Mahesa diperbolehkan maka rasanya ingin sekali aku memukul kepala pria dihadapanku ini karena kesal. “Keluarga saya di Bandung semua. Abah sama Ambu punya sawah dan kerja disawah. Hasil dari sawah dijual untuk kebutuhan keluarga. Saya anak pertama Abah dan Ambu. Saya punya adik laki-laki hanya satu. Jojo. Jojo sekarang masih kuliah di ITB.” “Adik kamu pasti pintar tidak seperti─” “Seperti siapa?” potongku dengan nada sengit. Pak Mahesa memasang senyum sinis sambil menatapku, “Kok kamu sewot. Maksud saya seperti orang lain yang saya kenal.” “Saya sama kayak Jojo lulusan ITB.” “Saya tau.” Aku menatap kaget Pak Mahesa, “Kok bisa tau?” Pak Mahesa memasang ekspresi datar, “Latar pendidikan kamu tertera di CV yang kamu berikan saat awal kamu melamar posisi kamu saat ini, Vanala.” Aku meringis menyadari kebodohanku sendiri. Tapi sungguh kalau saja pria dihadapanku ini Jojo, sudah habis kepalanya kukeplaki karena kesal. Untungnya masih ada sisa-sisa kewarasanku yang mengatakan bahwa itu tidak boleh aku lakukan. “Sekarang giliran, Bapak." “Giliran saya ngapain?” Tanya Pak Mahesa dengan sebelah alisnya terangkat yang benar-benar menguji kesabaranku yang sudah setipis tissue ini. Aku menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, “Saya sudah cerita soal keluarga saya, sekarang giliran bapak yang cerita soal keluarga bapak. Katanya mau tukar informasi.” “Oh begitu. Kamu kalo ngomong itu yang jelas dong.” Bisa ditukar tambah aja gak sih ini orang. Lama-lama nyewotin, sumpah! “Orang tua saya tinggal di Jakarta. Papa saya sudah masuk usia pensiun tapi masih mau kerja. Padahal seharusnya papa saya tinggal menikmati masa pensiunnya. Adik-adik saya semua sudah bekerja. Saya tiga bersaudara. Saya anak pertama, adik pertama saya Sienna dan adik kedua saya Kevan. Kamu sudah bertemu dengan Nena. Dia yang memergoki kamu keluar dari ruangan istirahat saya dan pria yang berdiri di sisi Nena itu Bhisma. Dia sahabat baik saya.” “Sepertinya adik bapak marah sama saya─” “Nena bukan marah sama kamu. Nena marah sama saya karena saya tidak mau dijodohkan dengan wanita pilihan mama saya padahal dia dan pacarnya ingin segera menikah tapi kedua orang tua saya tidak mengizinkan karena saya belum menikah. Selain itu mama saya sangat ingin saya punya pasangan tapi saya belum tertarik karena saya belum menemukan wanita yang cocok dengan saya.” Tanpa sadar aku mencebik. “Bapak terlalu pilih-pilih mungkiiinnnn...” “Saya rasa wajar. Prinsip saya menikah itu sekali seumur hidup. Saya tidak mau salah memilih pasangan jadi saya harus memilih dengan baik.” SHIAPP PAK! SHIAAPPP! “Kamu sudah berapa kali pacaran? Pacar kamu yang selingkuh itu pacar keberapa?” Pertanyaan Pak Mahesa membuat aku spontan terdiam dan tersenyum kecut mengingat si berengsek itu. “Fandy pacar pertama saya.” “Pertama kali pacaran tapi diselingkuhin. Ngenes banget cerita cinta kamu. Makannya jangan asal pilih pasangan. Kalau cari pacar itu pilih-pilih dulu jangan asal. Oke jadi kamu sudah satu kali pacaran dan saya adalah yang kedua. Kita tetap gunakan timeline yang sudah kita sepakati kemarin.” Pak Mahesa berdiri dari posisi duduknya, “Saya turun kebawah dulu ambil makanan. Kamu siapin alat makannya. Semua barang di apartemen ini lengkap tinggal kamu cari. Kalau cari pakai mata pasti ketemu tapi kalau carinya pakai mulut pasti gak ketemu.” Dan pria itu meloyor pergi meninggalkan aku yang melongo karena ulah ajaibnya barusan. Beneran minta dituker tambah ke tukang loak ini manusia!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD