Jika tatapan tajam yang mengeluarkan laser milik superman benar-benar ada di dunia nyata maka Pak Mahesa pasti memiliki kekuatan itu. Mas Bimo saat ini pasti sudah hangus jadi partikel abu yang super duper kecil karena tatapan tajam Pak Mahesa. “Gue akan bawa hasil kerja kalian ini ke meeting besok. Kalo sampe enggak approve siap-siap aja bonus kalian gue potong,” ucap Pak Mahesa dengan nada tegas sambil menatap tajam kami anak buahnya satu per satu
Hilih. Dikit-dikit kok ngancemnya potong bonus. Geser dikit potong gaji. Gak mau potong yang lain aja gitu? Hih. Nyebelin! Pak Mahesa sama seperti bos-bos lainnya yang dikit-dikit mention gaji atau bonus sebagai ancaman untuk para anak buah agar terus produktif. Karyawan yang ada tertekan, Pak!
“Vanala Cantika.”
Aku yang sibuk mengumpati bosku dalam hati pun spontan menegakkan tubuh dan dengan cepat menatap Yang Mulia Tuan Mahesa yang memanggilku barusan. “Ya, Pak?”
“Kita bicara di ruangan saya nanti selesai saya meeting dengan tim proyek. Ada yang perlu saya bicarakan dengan kamu,” ucap Bosku itu dengan nada tegas dan wajah seriusnya.
Jelas aku menganggukkan kepala patuh. Sudah ketauan menggunakan ruangan pribadinya lalu aku menolak perintahnya. Jika aku melakukannya jelas aku sudah gila. Karena kalau aku melakukannya sama saja aku mengajukan perang terbuka dengan pria itu. Perang dengan atasan jelas nasib di kantor tidak akan lagi aman karena bagaimana pun atasan akan punya power lebih dari pada karyawan kecil macam diriku ini.
Pak Mahesa tidak mau repot-repot menunggu jawabanku. Pria itu langsung berdiri dari tempat duduknya dan meninggalkan ruang meeting tempat kami berada saat ini. Aku spontan menyenderkan punggungku ke kursi dengan kepala mendadak penuh. Apa yang mau bosku itu bicarakan?
“Lo ada urusan apa dipanggil si bos, Va?”
Aku menoleh menatap Mas Satria yang masih duduk ditempatnya sambil membereskan barang-barangnya, “Gak tau, Mas. Rasanya kerjaan gue udah beres. Tadi dia gak komplen kan?”
Mas Satria menganggukkan kepalanya perlahan. “Terus kenapa Pak Mahes panggil elo ke ruangannya?”
Aku merotasi kedua bola mataku tanpa sadar, “Mana gue tau, Mas. Kalo tau gue enggak bakal kepikiran begini.”
Mas Satria meringis lalu beranjak dari tempat duduknya meninggalkan ruang meeting. Aku pun mengikuti Mas Satria meninggalkan ruang meeting dengan kepala yang jelas penuh dengan berbagai pertanyaan. Apa Pak Mahesa mau membahas kejadian tadi pagi?
Aku mencoba fokus dengan pekerjaan yang harus aku kerjakan namun sialnya mataku terus saja melirik ke arah jam yang terdapat di pojok kanan layar laptopku. Tanpa sadar aku memperhatikan jam sambil menghitung sudah berapa lama meeting yang sedang diikuti oleh Pak Mahesa. Perasaan takut dan penasaran dengan apa yang akan dibicarakan Pak Mahesa memenuhi benakku saat ini.
“Vanala, kamu ikut ke ruangan saya.”
Tubuhku spontan tegang karena mendengar suara Pak Mahesa yang memanggil namaku. Bosku itu sudah masuk ke dalam ruangan kerja miliknya ketika aku melihat jam yang berada di pergelangan tanganku.
“Buruan masuk, Va. Mood Yang Mulia kayaknya gak bagus itu.”
Sialnya ucapan Bang Rizal membuatku makin gelisah. Entah bagaimana tugas kami berlima jadi harus memikirkan mood bos kami. Aku beranjak dari kubikelku menuju ruangan Yang Mulia Tuan Mahesa yang terasa seperti ruang penghakiman karena entah apa yang mau dibicarakan oleh bosku itu.
“Duduk dulu di sofa.”
Aku duduk di sofa sesuai dengan arahan Pak Mahesa. Pria yang mungkin memiliki tinggi sekitar seratus tujuh puluh sampai seratus tujuh puluh lima itu sedang fokus dengan layar laptopnya membuatku tanpa disuruh pun aku memilih diam dan menunggu. Dingin dalam ruangan kerja pria itu seakan terasa menusuk tulangku karena rasa gugup yang aku rasakan saat ini membuatku tanpa sadar memeluk diriku sendiri sambil sesekali mengusap lenganku dengan telapak tangan guna menghadirkan rasa hangat.
Suara Pak Mahesa menutup laptopnya membuatku spontan menatap bosku itu membuat pandangan kami saling bertemu satu sama lain. Pak Mahesa beranjak dari kursi kebesarannya dan melangkahkan kakinya ke arah sofa dimana aku duduk saat ini. “Saya ingin minta maaf lebih dulu untuk kejadian tadi pagi, Pak. Saya─”
Pak Mahesa duduk di sofa single yang memang biasa ia duduki tanpa melepaskan pandangannya sama sekali. “Saya memang memanggil kamu untuk membahas mengenai apa yang sudah terjadi tadi pagi tapi bukan untuk mendengarkan permintaan maaf kamu.”
Aku pun spontan mengerutkan alis, “Lantas untuk apa bapak panggil saya?”
“Apa yang kamu lakukan tadi pagi berdampak besar untuk saya. Seharian saya jadi repot karena dampak dari ulah kamu yang tiba-tiba muncul dari ruangan pribadi saya sepagi itu. Pekerjaan saya dan kehidupan pribadi saya kacau dan kamu harus tanggung jawab Vanala.”
Aku menundukkan kepalan. “Saya sungguh minta ma─”
“Sudah saya bilang saya tidak ingin mendengar permintaan maaf dari kamu.” Nada Pak Mahesa mulai terdengar jengkel dan ekspresinya pun berubah sehingga aku lebih memilih menutup mulut menunggu pria itu mengucapkan semua yang ingin ia ucapkan. “Kamu tidak perlu minta maaf karena yang perlu kamu lakukan adalah bertanggungjawab. Apa yang kamu lakukan membuat saya mendadak memiliki seorang pacar yang harus saya bawa kehadapan kedua orang tua saya di hari sabtu nanti dan jelas saya harus bawa kamu, Vanala.”
Aku spontan mengerutkan alis mendengar ucapan Pak Mahesa barusan. Aku pun mengangkat wajahku dan menatap Pak Mahesa. “Kenapa saya yang harus bapak bawa? Bapak bisa─”
“Really? Kamu masih perlu dijelaskan kenapa saya perlu bawa kamu kehadapan orang tua saya setelah apa yang terjadi tadi pagi, Vanala.” Pak Mahesa beranjak dari tempat duduknya menuju sebuah lemari dimana ia menempatkan sebuah mesin kopi yang pria itu bawa sendiri untuk ia gunakan dikantor.
Tanpa sadar aku meringis. “Maaf, Pak─”
“Saya tidak perlu maaf kamu. Saya perlu kamu ikut dengan saya di hari sabtu karena semua ini terjadi karena kamu. Kalau kamu tidak tiba-tiba muncul dari ruangan pribadi saya tadi pagi, saya tidak putar otak seperti ini dan perlu berpura-pura menjadikan kamu pacar saya.”
“Tapi bapak bisa saja memarahi saya karena muncul dari─”
“Dan membuat wanita yang bersama saya bingung karena tiba-tiba ada wanita lain muncul dari ruangan pribadi saya dengan kondisi berantakan seperti baru bangun tidur?” Nada sinis terdengar jelas membuat nyaliku membantahku spontan menciut. “Saya tidak akan membicarakan kenapa kamu muncul dari ruang pribadi saya di jam sepagi itu karena menurut saya jauh lebih penting membicarakan kamu yang harus ikut dengan saya bertemu dengan kedua orang tua saya. Saya butuh pertanggungjawaban kamu, Vanala. Kamu sudah bikin hidup saya mendadak kacau dan saya sudah memiliki rencana untuk membereskan kekacauan yang kamu buat.”
“Saya ingin memperjelas pertanggungjawaban yang bapak maksud. Apa bapak ingin saya ikut bertemu dengan kedua orang tua Bapak untuk menjelaskan kalau saya bukan pacar bapak, begitu?” Aku bertanya dengan nada bingung dan Pak Mahesa menggelengkan kepalanya dengan tegas membuatku semakin bingung.
“Bukan. Saya perlu kamu melakukan sebaliknya.”
Apa? Gimana? Sebaliknya?