“Asli pas dateng gue kaget pagi-pagi si Vanala udah duduk bengong di kursinya terus pas gue tanya dia nangis-nangis sampe kayak keran bocor itu air mata. Gue pikir si Vanala kena semburan lahar Mahesa pagi-pagi eh tau-taunya mergokin Fandy selingkuh,” ucap Mbak Retha dengan nada kesal yang jelas terdengar di akhir kalimatnya.
Semua sudah kembali ke kursi masing-masing dan mulai menggerjakan pekerjaan masing-masing. Kami semua sedang mengecek pekerjaan kami yang mau diserahkan ke Pak Mahesa pagi ini.
“Si Fandy sama Si Lena sama-sama bangke! Bisa-bisanya mereka nusuk lo dari belakang gitu!” Mas Bimo mengenal kedua orang itu jelas emosi. Mas Bimo pernah kukenalkan pada keduanya saat kami tidak sengaja bertemu di mall. Aku sedang berjalan-jalan di mall dengan Fandy lalu aku bertemu dengan Lena. Kami jalan bertiga dan tidak lama kemudian kami bertemu dengan Mas Bimo yang sedang bersama dengan istrinya.
“Nah! Bangke emang kan tuh orang jadi laki! Gue aja emosi banget dengerin cerita si Vanala. Tapi gue kurang puas harusnya elo bukan cuma putusin si Fandy terus maki-maki mereka, Va. Elo harusnya videoin kelakuan mereka dan viralin!” kata Mbak Retha dengan nada penuh emosi.
“Malas, Mbak. Kalo sampe viral nanti malah nambah-nambahin masalah hidup gue, Mbak. Udah gue doain gak bahagia seumur hidup karena udah nyakitin gue aja udah cukup. Gue yakin Tuhan mendengar doa orang terluka dan teraniaya.”
Mas Bimo mengangguk tegas, “Pasti! Gak usah sedih, Va! Elo enggak sendiri! Mati satu tumbuh seribu yang mau jadi pacar lo!”
Aku tertawa mendengar ucapan lebay Mas Bimo tapi dalam hati terharu. Perselingkuhan Fandy mendominasi pembahasan dan kejadian Pak Mahesa memergokiku menggunakan ruangannya akan kusimpan seorang diri. Suasana dikantor terasa sedikit panas karena akhirnya keempat seniorku itu mengetahui akhir cerita mengenaskan perjalanan cintaku. Hari ini keempat seniorku sibuk bekerja sambil menyumpahserapahi Fandy. Namun kali ini, aku sama sekali tidak keberatan mendengar sumpah serapah yang ditunjukan untuk Fandy karena si berengsek itu memang pantas mendapatkannya.
Mengingat kejadian semalam jelas aku kesal bukan main. Menyadari kalau Fandy selama ini berselingkuh dibelakangku dengan Lena yang tadinya adalah sahabat baikku membuatku mempertanyakan apakah Lena memang sahabatku atau sebenarnya selama ini wanita itu adalah musuh dalam selimut. Akhirnya tau kalau mereka sudah bersama selama satu tahun dan Lena sudah menyukai Fandy sejak lama. Aku dibohongi oleh kedua manusia laknat itu.
“Guys, buka grup. Pak Mahes barusan ngabarin di grup dia hari ini sepertinya enggak keburu balik ke kantor. Proposal kita bakal dia cek besok.”
Kabar dari Bang Rizal membuatku merasa semakin sial saja. Sudah capek-capek lembur dan berujung memergoki permainan panas Fendy dan Lena sampai masuk ke dalam drama produksi Pak Mahesa tapi proposal hasil lemburku tidak jadi diperiksa oleh bosku.
“Masih ada waktu buat recheck sebelum Si Mahesa bedah proposal kita lagi.” Mas Bimo buka suara menatap kami satu per satu lalu berhenti menatap diriku lekat, “Gue tau elo lagi sedih tapi lo mesti fokus, Va. Kalo lo enggak mau tambahan semburan kemarahan Si Mahesa buat cerita sedih lo hari ini.”
Ucapan Mas Bimo menyebalkan tapi apa yang diucapkannya memang benar. Ini adalah moment berharga bagi kami karena kami bisa menjeda sejenak dari ocehan pedas karet lima yang selalu menjadi makanan sehari-hari bagi kami berlima. Aku berusaha fokus dengan tanggung jawabku untuk R&D untuk segala project mengenai makanan dari negara Korea. Sementara Mas Bimo bertanggung jawab untuk project makanan Eropa, Mbak Retha untuk project makanan Jepang dan Cina, Mas Satria untuk makanan Vietnam dan Thailand lalu Bang Rizal untuk makanan Indonesia dan Malaysia.
Kami memegang negara-negara itu bukan tanpa alasan. Mas Bimo bertanggung jawab untuk project makanan yang berada di benua Eropa karena Mas Bimo pernah tinggal cukup lama di salah satu negara di benua Eropa untuk kuliah lalu bekerja disana selama beberapa tahun sebelum kembali ke Indonesia. Mbak Retha bertanggung jawab untuk makanan yang berasal dari negara Jepang dan Cina karena hobi traveling yang ia miliki. Sementara aku, Mas Satria dan Bang Rizal kami bertanggung jawab pada bagian kami masing-masing bermodalkan pengetahuan yang kami miliki.
Aku tidak pernah pergi ke Korea apa lagi sampai sekolah dan tinggal di negara itu. Bisa melanjutkan pendidikanku ke jenjang universitas saja sudah membuatku sangat bersyukur. Ketertarikanku pada negara Korea berawal dari drama Korea dan semakin berkembang dengan mencoba berbagai restoran korea yang bermunculan.
“Gue doain semoga elo dapet cowok yang lebih segala-galanya dari si Fandy supaya kalo elo papasan sama duo laknat itu elo bisa lewatin mereka dengan kepala terangkat-”
“Jangan lupa elo juga harus kasih senyum sinis sama mereka karena elo jauh lebih bahagia dari pas elo sama si tukang selingkuh itu.” Mbak Retha dengan cepat menambahi ucapan Mas Bimo yang langsung diangguki oleh ketiga seniorku yang lain dengan kompak.
Aku mendadak terharu mendengar dukungan para seniorku yang sudah satu tahun ini menjadi teman berbagi suka dan duka di kantor. Keempatnya memang memiliki ciri khas mereka masing-masing tapi aku bisa merasakan ketulusan yang mereka miliki untukku. Jam makan siang kali ini kami memilih makan siang diluar dan jelas terasa berbeda untukku hingga tiba-tiba suasana berubah saat Mas Bimo menatap ponselnya dan memasang ekspresi serius. Aku yakin ada yang tidak beres saat Mas Bimo menatap Aku, Mbak Retha, Mas Satria dan Bang Rizal satu per satu secara cepat. “Guys, perut kalian udah kenyang, kan?”
Kami berempat kompak mengangguki pertanyaan Mas Bimo.
“Proposal kalian yang diminta Mahesa kemarin juga udah beres, kan?”
Untuk kedua kalinya kami berempat kompak mengangguki pertanyaan Mas Bimo dan aku semakin yakin kalau dugaanku barusan tepat. “Pak Mahesa tau-tau nanyain kerjaan kita? Tapi bukannya Pak Mahesa tadi ngabarin kalau dia enggak tau bisa balik ke kantor apa enggak jadi dia mau periksa proposalnya besok?”
Mas Bimo menatapku sambil menggelengkan kepalanya perlahan, “Kayak baru kemarin join divisi Mahesa aja sih lo, Va.” Aku meringis mendengar ucapan sarkas yang keluar dari mulut Mas Bimo, “Dia bilang itu tadi pagi tapi siang bisa berubah. Buktinya sekarang Si Mahesa udah dikantor dan kita disuruh buruan balik karena dia mau periksa proposal kita.”
Aku spontan meringis mendengar ucapan Mas Bimo. Menjadi anak buah Mahesa memang nano-nano rasanya. Namun siapa sangka saat kembali ke kantor ada yang sudah menungguku. Si berengsek Fandy datang dan menungguku di lobby. Fandy memakai topi dan masker tapi aku dan keempat seniorku sudah hafal itu adalah Fandy. Dia memang terbiasa memakai masker kalau pergi keluar.
“Va─”
“Eh, Si Bangke. Ngapain lagi lo─”
“Mas Bim...” Aku memegang lengan Mas Bimo yang sudah emosi melihat sosok Fandy. Aku menggelengkan kepala agar pria disebelahku ini menahan emosinya dan Mas Bimo mendengus kesal. Aku menoleh menatap Fandy. Pria itu datang ke kantor pasti karena tidak bisa menghubungiku. Aku memblokir nomer Fandy dan Lena. Tidak ada gunanya berkomunikasi dengan para pengkhianat itu.
“Va, aku mau jelasin─”
“Apa lagi yang mau lo jelasin sih? Vanala udah tau busuknya elo,” ucap Mas Satria dengan nada kesal yang jelas.
“Gue mau bicara sama Vanala dan kalian─”
“Bah! Apa pula yang masih perlu dibicarain sih?” Kali ini Bang Rizal menanggapi dengan logat bataknya yang khas.
“Va─”
“Mereka bener. Udah enggak ada yang perlu dibahas. Semua udah selesai.”
Aku melangkahkan kaki dengan langkah pasti menuju lift diikuti Mbak Retha dan Mas Bimo meninggalkan Fandy yang terus memanggil namaku tapi ditahan oleh Mas Satria dan Bang Rizal. Aku menulikan telingaku dari panggilan Fandy. Aku tidak mau menengok ke belakang. Tidak. Pria berengsek itu tidak memiliki kesempatan lagi walau hanya untuk bicara.
“Abaikan si berengsek itu, Va. Hubungan lo emang ancur tapi elo enggak sendirian.”