16. Resmi jadi pacar pura-pura

1545 Words
“Selamat datang di rumah kami. Perkenalkan saya Dara. Saya mamanya Mahesa Wiradilaga,” ucap wanita paruh baya yang jelas kuingat betul wajahnya itu dengan nada ramah yang tidak berubah dari terakhir kali aku menyapanya saat acara ulang tahun perusahaan. Aku dan para seniorku menyapanya dengan panggilan Ibu Dara karena beliau adalah istri dari Bapak Eric Wiradilaga, sang pendiri sekaligus pemilik Wiradilaga Group dan aku tak pernah menyangka kalau Pak Mahesa adalah anak dari pasangan luar biasa ini. “Jangan ngobrol di pintu, Ma. Ayo, masuk ke dalam,” ucap seorang pria yang kuduga sebagai adik Pak Mahesa dengan nada ramahnya. Aku jelas kikuk kebingungan dan langsung menatap Pak Mahesa yang seakan memberikan isyarat bahwa semua akan baik-baik saja. Aku bak anak ayam yang mengikuti kemana peternak menggiringku karena saat ini otakku linglung dengan situasi yang terjadi saat ini. Tempatku berada saat ini seperti istana megah dan aku masih terkejut dengan status Pak Mahesa sebenarnya. Ya, aku hanya atau nama bosku Mahesa bukan Mahesa Wiradilaga. Aku memasuki sebuah ruangan dimana terdapat sebuah sofa yang sangat besar dan sudah ada Sienna yang duduk dengan wajah sebal. Aku mengingat Sienna karena dialah yang memergoki aku keluar dari ruangan pribadi Pak Mahesa dan tidak jauh dari Sienna ada pria yang tadi muncul saat aku dan Pak Mahesa sampai di rumah ini. Tidak lama kemudian sosok Eric Wiradilaga yang jelas aku ingat wajahnya muncul menuruni tangga. Dia pemilik Perusahaan tempatku bekerja saat ini dan aku sering melihatnya dikantor. “Akhirnya keluar juga, aku kira kalian bakal diem di dalem mobil sampe nanti sore,” ucap Sienna dengan nada sinis sambil menatap Pak Mahesa. “Nena…” Ibu Dara memanggil nama putrinya dengan nada peringatan membuat wanita itu mendengus. Ibu Dara menatapku, “Maafkan sikap Sienna. Nena kesal sama Esa karena Esa tidak jujur soal hubungan kalian.” Aku pun hanya mengangguk dan menoleh menatap Pak Mahesa yang kini sedang menatap Nena dengan ekspresi datar. Kami semua duduk lalu beberapa saat kemudian Pak Mahesa menghela nafas pendek sebelum mengalihkan pandangannya ke arahku, “Perkenalkan, wanita yang disamping aku ini Vanala Cantika dan dia pacarku.” Pak Mahesa menjeda ucapannya lalu mengalihkan pandangannya ke arahku dan tersenyum lembut, “Cantik, ini keluarga aku. Kamu sudah kenalan sama kedua orang tua aku tadi lalu adik pertama aku Sienna, kamu bisa panggil, Nena dan adik kedua aku, Kevan.” Pak Mahesa dengan santai memperkenalkan keluarganya dan aku menatap satu persatu orang yang dimaksud Pak Mahesa sambil tersenyum kikuk. “Salam kenal, Mbak Cantik.” Pria yang wajahnya hampir mirip dengan Pak Mahesa namun jelas berusia lebih muda dari Pak Mahesa menyapaku sambil tersenyum ramah. “You can call her Vanala, buddy. Cantik just for me and Vanala for you.” Pak Mahesa berucap dengan nada dan ekspresi datar andalannya membuatku meringis tanpa sadar. Kevan pun ikut memasang ekspresi datar menanggapi ucapan Kakaknya lalu mengalihkan pandangannya ke arahku dengan ekspresi datar yang belum diubahnya, “Apa Mas Esa selalu seposesif itu, Mbak? Kok Mbak tahan─” BHUG! Sebuah bantal sofa melayang dan tepat mengenai wajah Kevan membuatku spontan membulatkan mata lalu meringis. Pasti sakit rasanya. “Esa! Kok kamu kasar banget sama Kevan.” Ibu Dara memarahi Pak Mahesa lalu berpindah posisi mendekatiku, “Ayo, duduk, Vanala. Mahesa sama Kevan itu memang kadang masih kayak anak kecil. Kamu pasti masih kaget lihat saya dan Mas Eric, kan?” Aku pun spontan menganggukkan kepala. Aku memang tidak menyangka Pak Mahesa adalah anak dari pemilik Wiradilaga Group. “Ini semua ide Eric. Dia ingin Mahesa belajar semua dari bawah dan untungnya wajahnya Mahesa yang merupakan perpaduan wajah kami membuat Mahesa lebih mudah menutupi identitasnya. Suami saya memang tidak ingin anak-anak kami terbiasa mendapatkan sesuatu dengan mudah jadi mereka harus berusaha tanpa bantuan kedua orang tuanya.” Aku menoleh memperhatikan Pak Mahesa. Jika diperhatikan dengan seksama memang benar pria disebelahku ini memiliki kemiripan yang dominan dengan Ibu Dara. Bentuk wajah, hidung, ekspresi dan postur tubuh Pak Mahesa mengikuti ayahnya sementara warna kulit, mata, bentuk bibir dan rambut mengikuti Ibu Dara. Pak Mahesa memiliki rambut yang lurus dan lebat disaat Pak Eric memiliki rambut yang lebih tipis dan ikal bergelombang. “Esa belum menceritakan mengenai kami sama kamu?” Ibu Dara kembali bertanya sambil menatapku lekat. Aku pun menggelengkan kepala. “Pak─ Maksud saya Mas─ Mas Esa belum cerita apa-apa,” ucapku dengan nada gugup sambil melirik ke arah Pak Mahesa yang sedang menatapku lekat lalu kembali menatap wanita paruh baya yang berada di sisi lain posisi dudukku saat ini. “Terima kasih sudah mengundang saya datang ke rumah ini, Ibu Dara.” “Mama, kamu bisa panggil saya mama seperti Esa memanggil saya. Saya senang mengetahui kalau wanita yang Esa bawa ke rumah itu kamu, Vanala.” Aku menatap lekat wanita paruh baya yang duduk disampingku saat ini dan bisa aku rasakan ketulusan dan kejujuran dari ucapannya. Aku berusaha tersenyum walau hati ini mendadak seakan dipukul sebuah godam yang keras. “Lebih baik kita sarapan dulu.” ucap Pak Eric dengan nada yang sama seperti yang ada dalam ingatanku saat mendengar pemilik perusahaan tempatku bekerja itu berbicara di kantor. “Mama setuju. Kita bisa kenalan sama pacarnya Esa sambil sarapan.” Fix! Aku resmi jadi pacar pura-pura Pak Mahesa. Pak Eric berdiri lalu Kevan dengan santai mengangguk dan mengikuti Papanya dan Nena pun melakukan hal yang sama. Ibu Dara pun berdiri sambil memberiku isyrat untuk ikut berdiri untuk sarapan bersama dan satu anggukan dari Pak Mahesa saat aku menatap pria itu membuatku berdiri dan mengikuti Ibu Dara menuju ruangan lain tempat kami akan menyantap sarapan bersama. Rumah ini besar. Sungguh besar diluar dugaanku. Aku pikir rumah sebesar ini hanya ada di film saja tapi nyatanya rumah bak istana ini nyata adanya. Kami duduk disebuah meja makan dan aku duduk tepat disebelah Pak Mahesa. Kami duduk dengan tenang disaat ada dua orang asisten rumah tangga yang sibuk menyiapkan sarapan disaat Ibu Dara buka suara, “Kamu asalnya dari mana, Vanala?Kamu punya adik atau kakak?” Role play! and.... Start! “Saya berasal dari Bandung, Bu─” “Mama. Tadi Mama sudah bilang kamu bisa panggil sama seperti aku, Cantik.” Pak Mahesa mengkoreksi ucapanku membuatku meringis. “Tidak apa-apa. Vanala belum terbiasa, Mas.” Ibu Dara buka suara lembut menanggapi ucapan Pak Mahesa. Aku pun menatap Ibu Dara dengan tatapan berterimakasih atas pengertian wanita paruh baya itu. “Saya asli dari Bandung dan kedua orang tua saya tinggal di Bandung lalu saya punya satu orang adik laki-laki bernama Jovano yang biasa kami panggil Jojo. Jojo saat ini masih kuliah di ITB.” “Wah, adik Mbak kuliah di ITB? Mas Esa juga dulu kuliah di ITB, Mbak. Mbak juga kuliah di ITB?” Aku menoleh menatap Kevan dan menganggukkan kepala. “Ah, kalian satu angkatan?” Aku menggelengkan kepala dengan cepat. Jelas tidak. Pak Mahesa dari zaman prasejarah sementara usiaku aku jauh lebih muda darinya. “Jangan kepo sama urusan orang, Kev.” Kevan mendengus kesal. “Aku lagi tanya sama pacarnya Mas bukan sama Mas Esa kali. Kenapa kamu yang jawab sewot gitu sih.” “Usia kamu sekarang berapa, Vanala?” Pak Eric yang sedari tadi diam kini buka suara membuat pertengkaran Pak Mahesa dan Kevan otomatis berakhir. Aku pun menatap ke arah Pak Eric yang duduk di ujung meja. “Usia Vanala dua puluh enam tahun, Pa.” Itu suara Pak Mahesa. Untung Pak Mahesa dengan cepat menjawab pertanyaan Papanya karena aku jelas kikuk bingung memanggil Pak Eric dengan sapaan apa. Sarapan kali ini menjadi sarapan terpanjang sepanjang hidupku karena jantungku berpacu cepat karena setiap pertanyaan yang tertuju padaku membuatku harus berpikir dan menjawab dengan hati-hati. Aku takut membuat kesalahan. Pandangan Nena yang terasa berbeda membuatku semakin tidak tenang. “Kapan kamu menikah sama Mas Esa? Kamu sudah tau identitas asli Mas Esa?” Pertanyaan yang keluar dari mulut Nena spontan membuatku tersedak. Pak Mahesa dengan sigap mengambilkan gelas air minumku disaat kedua orang tuanya menegur Nena karena pertanyaannya yang mereka anggap tidak sopan. Pak Mahesa pun tidak ketinggalan menatap tajam Nena. “Pertanyaan kamu─” “Saya tidak tau. Saya─” Aku menjeda ucapanku untuk menatap Pak Mahesa, “Saya baru tau hari ini dan sejujurnya saya saat ini masih kaget karena saya tidak menyangka kalau keluarga Pak Mahesa sebenarnya adalah pemilik Wiradilaga─” “Apa kamu masih mau makan?” Pak Mahesa memotong ucapanku dengan sebuah pertanyaan dan dari ekspresinya terlihat pria itu sedang marah. Aku pun memilih menggelengkan kepalaku. Atmosfir ruangan ini terasa berbeda setelah pertanyaan Nena barusan. Sarapan selesai dan kami semua beranjak kembali duduk di sofa tempat kami duduk sebelum sarapan. Walau awalnya gugup dan suasana sempat terasa berbeda tadi tapi perlahan aku bisa ikut tersenyum dan tertawa mendengar perdebatan kecil antara Pak Mahesa dan Kevan. Kevan lebih bersahabat dibanding dengan Nena. Wanita yang mungkin seumuran denganku itu nampak tidak bersahabat. Ia lebih banyak diam setelah pertanyaan yang ia lontarkan tadi dan mendengus sesekali melihat tingkah kedua saudaranya. “Mas Esa itu kalo selama ini dijodoh-jodohin sama Mama. Mas Esa selalu nolak kirain aku masih mikirin Mbak Bri─” Dan Kevan kembali dihadiahi lemparan bantal sofa dan tidak sempat melanjutkan ucapannya. Pak Mahesa hanya tersenyum sinis disaat Kevan mengumpati apa yang kakaknya lakukan. Aku penasaran dengan kalimat Kevan yang tidak selesai itu. Mikirin Mbak Bri? Siapa Mbak Bri?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD