17. This is insane!

1355 Words
“Terima kasih sudah mau datang ya, Vanala. Lain kali kalo Mama undang main ke rumah lagi mau, kan?” Aku menoleh menatap Pak Mahesa. Jelas aku butuh bantuannya untuk menjawab pertanyaan ini, “Iya, Ma. Vanala pasti datang dan aku pasti antar Vanala buat main ke rumah kita.” Aku merasa ada bom jatuh dari langit tepat mengenaiku saat mendengar jawaban Pak Mahesa barusan. Aku menoleh menatap Ibu Dara yang sudah menatapku seakan menunggu jawabanku membuat aku yang tak enak hati pun akhirnya mengangguk meneguhkan jawaban Pak Mahesa. Aku dan Pak Mahesa memasuki mobil Range Rover milik Pak Mahesa dan mobil itu meninggalkan kediaman Wiradilaga. Sepanjang perjalanan aku hanya diam memikirkan apa yang sudah terjadi hari ini. Informasi mengenai Pak Mahesa yang ternyata adalah anak dari pemilik perusahaan tempatku bekerja dan bayangan mengenai Pak Eric dan Ibu Dara memperlakukan aku dengan baik memenuhi kepalaku saat ini. Ingatan akan perlakuan baik yang aku terima tadi membuatku semakin merasa bersalah karena hubunganku dan Pak Mahesa tidaklah nyata. Saat ini kami sedang membohongi kedua orang tua Pak Mahesa yang menerimaku dengan baik. Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan apapun diantara aku dan Pak Mahesa. Aku sibuk dengan isi kepalaku bahkan saat kami sudah sampai di apartemen milik Pak Mahesa yang kini menjadi tempat tinggalku pun aku memilih turun dalam diam. Aku melangkahkan kaki menuju unit apartemen yang sudah beberapa hari belakangan menjadi tempat tinggalku. Kepalaku benar-benar penuh. Aku takut dan panik. Aku memikirkan bagaimana kalau sampai Pak Eric dan Ibu Dara tau kalau aku membohongi mereka. Apa mereka akan marah padaku? Mereka pasti marah. Memangnya siapa yang tidak marah kalau dibohongi? Aku pun marah dengan Fandy yang berbohong padaku dengan menduakan diriku dengan Lena. Bagaimana kalau kemarahan mereka membuatku kehilangan pekerjaan? Apa aku harus mulai mencari pekerjaan sebelum skenario Pak Mahesa terbongkar? Aku melangkah masuk ke dalam apartemen tapi langkahku terhenti karena Pak Mahesa mengenggam pergelangan tanganku. Aku menatap tanganku yang ditahan oleh Pak Mahesa yang kini sedang menutup pintu apartemen lalu menatapku lekat, “Bisa kamu kasih tau saya apa yang kamu pikirkan? Sedari tadi kamu diam dan saya tidak bisa membaca apa yang kamu pikirkan sedari tadi.” Aku menghela nafas pendek, “Bisa lepas tangan saya dulu?” Tanpa membuang waktu Pak Mahesa pun melakukan apa yang aku minta. Aku melangkahkan kaki dan duduk di sofa diikuti oleh Pak Mahesa. Aku mengusap wajahku dengan kedua tanganku. Rasa bersalah yang sedari tadi aku rasakan meluap hingga tanpa sadar mataku sudah berkaca-kaca. “Orang tua bapak adalah orang yang baik dan saya tidak bisa melanjutkan ini, Pak. Saya merasa bersalah sudah membohongi mereka.” Pak Mahesa menghela nafas kasar, “Kita sudah pernah bahas ini, Va─” “Saya merasa bersalah, Pak. Saya─ tidak bisa melanjutkan ini.” “Lalu kamu mau saya jujur sama kedua orang tua saya kalau kamu bukan pacar saya? Kamu mau buat orang tua saya marah sama kamu karena kamu sudah berbohong sama mereka, begitu?” Ekspresi Pak Mahesa berubah. Rahangnya mengetat menahan emosi dan aku bisa melihatnya dengan jelas. Selain itu pertanyaan yang keluar dari mulut Pak Mahesa membuatku terdiam. Ya, Pak Eric dan Ibu Dara pasti marah. Pak Mahesa menghela nafas panjang perlahan dan mendekatiku. Pria itu duduk disebelahku lalu mengenggam erat kedua tanganku. “Kita sudah sepakat dan skenario yang saya buat sudah berjalan. Seperti yang saya bilang tidak ada jalan untuk mundur saat kamu menerima tawaran saya, Cantika.” “Tapi, Pak. Bagaimana─” “Kamu tidak mau skenario kita terbongkar, kan?” Pak Mahesa bertanya dengan nada serius dan aku dengan spontan menganggukkan kepala. Pak Mahesa tersenyum dan tangannya membawa diriku masuk ke dalam pelukkannya membuat diriku spontan membulatkan mata. “Pak─” “Ada beberapa hal yang harus kamu lakukan kalau kamu tidak mau skenario kita terbongkar, Cantik.” Pak Mahesa mengeratkan pelukannya membuat jantungku berdegup kencang dan otakku bekerja keras memproses setiap kalimat yang keluar dari mulut pria itu. “Yang pertama biasakan panggil saya dengan Mas Esa saat kita berdua.” Pak Mahesa menjeda ucapannya untuk mengecup puncak kepalaku membuat mataku semakin membulat menyadari apa yang pria itu lakukan, “Yang kedua, kamu harus terbiasa melakukan skinship sebagaimana seorang pacar berinteraksi dengan pacarnya.” Pak Mahesa kembali menjeda ucapannya melepaskan pelukannya memberi jarak diantara kami berdua sehingga aku bisa melihat bagaimana ekspresi Pak Mahesa saat ini. Pria itu kini sedang menatapku lekat, “Lalu yang ketiga, fokuskan perhatian kamu sama saya, Cantika.” Pak Mahesa sudah pergi dari apartemen namun aku masih duduk ditempat yang sama saat Pak Mahesa masih ada di apartemen ini. Irama detak jantungku mendadak kacau. Bahkan ketika Pak Mahesa pamit pulang setelah mendapat panggilan telepon dari Ibu Dara dan aku hanya menganggukkan kepala dengan bodohnya membiarkan pria itu pulang sementara aku masih duduk diam. Jantungku kacau dan aku butuh waktu untuk sendiri setelah apa yang barusan terjadi. Setelah duduk diam sekian lama akhirnya aku memutuskan untuk membersihkan diri namun saat hendak beranjak, ponselku bergetar. Aku menatap layar ponselku dan mendengus melihat nomer yang tidak dikenal menghubungi ponselku. Aku yakin Fandy adalah orang dibalik nomer itu karena Fandy sudah menghubungiku dengan beberapa nomer baru yang akhirnya kublokir karena aku tidak ingin lagi berurusan dengan pria itu. Fandy sangat ingin berbicara berdua denganku entah apa yang mau ia bicarakan setelah aku memergokinya selingkuh dengan Lena. Pada hari senin aku bekerja seperti biasa. Setelah menghabiskan hari minggu diam di dalam apartemen untuk beristirahat, hari senin aku kembali bertemu dengan keempat seniorku. Kembali bekerja dibawah pimpinan Pak Mahesa dan untungnya tidak ada yang berubah dari sikap Pak Mahesa saat bekerja. Ditengah-tengah aktivitasku sebuah pesan membuatku tanpa sadar menjatuhkan ponselku. “Lo kenapa, Va? Pegang hp aja bisa sampe jatoh.” Aku dengan cepat mengambil ponselku yang tergeletak diatas meja dan menggelengkan kepala dengan cepat menjawab pertanyaan Mbak Retha. “Gue baca pesen dari nyokap gue. Nyokap kasih kabar yang bikin gue kaget aja.” “Orang tua lo baik-baik aja, kan, Va?” Kali ini Mas Bimo yang melontarkan pertanyaan dan aku dengan cepat menatap Mas Bimo dan menganggukkan kepala, “Everything is under control, kok, Mas. Nyokap gue barusan kasih kabar soal sepupu gue.” Keempat seniorku memang mengetahui mengenai keluargaku karena aku pernah bercerita pada mereka saat aku harus cuti selama beberapa hari karena kondisi Abah dan Ambu yang saat itu sakit berbarengan. Sebagai anak yang baik jelas aku harus pulang merawat kedua orang tuaku dan untungnya pada waktu itu Pak Mahesa mengizinkan aku untuk cuti merawat kedua orang tuaku. Tapi kali ini yang sampai membuatku menjatuhkan ponselku adalah pesan yang dikirim oleh Ibu Dara. Ya! Dara Wiradilaga wanita paruh baya yang aku temui sabtu lalu dan aku panik membaca pesan yang wanita paruh baya itu kirimkan. Aku dengan cepat membuka ruang chat pribadiku dengan Pak Mahesa dan dengan cepat mengirim pesan yang untungnya langsung dijawab oleh Pak Mahesa. Vanala Cantika : Pak Mahesa, Ibunya Bapak kirim chat ke saya ajak ketemu sore nanti. Kang Tantrum : Mas Esa. Saya sudah bilang biasakan panggil Mas Esa kalau berdua. Ck! Bukan balas jawab pertanyaan saya malah bahas soal panggilan. Kumaha sih, bos! Vanala Cantika : Saya balas apa ini? Kang Tantrum : Balas sesuai keadaan kamu aja, kalau bisa balas bisa kalau enggak balas enggak bisa. Aku mendengus kesal. Enggak semudah itu fergusoooo! Vanala Cantika : Bapak aja deh yang bales. Bilang saya gak bisa. Saya enggak enak nolaknya. Kang Tantrum : Kamu yang diajak sama mama saya, kenapa harus saya yang balas? Bisa dikarungin kirim ke antartika biar berkumpul sama kawanan beruang kutub gak sih ni orang. Kok nyebelin banget. Magnet Chaos : Kalau kamu enggak ada acara mending kamu ikut mama saya aja. Kang Tantrum : Pergi sama mama saya gak akan bikin kamu bosan. Vanala Cantika : Enggak bosan tapi saya jantungan takut. Nanti ketauan gimana? Kang Tantrum : Law of attraction. Apa yang kamu pikirkan maka apa yang akan terjadi. Mau saya jelasin? Yeh! Malah mau buka kuliah tiga sks. Kang Tantrum : Penuhi saja keinginan mama saya. Kalau kamu menolak malah aneh. Aku menghela nafas panjang. Berdiskusi dengan Pak Mahesa malah membuatku semakin sakit kepala. Aku benar-benar khawatir kalau Ibu Dara menyadari kebohongan yang kami lakukan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD