Aku keluar dari ruangan Pak Eric dengan kepala yang penuh. Kaget, bingung dan takut kini menguasai diriku. Aku benar-benar tidak menyangka kalau mengakui diri sebagai pacar seorang Mahesa Wiradilaga akan seperti ini. Ini semakin rumit karena aku akan bertemu keluarga besar Pak Mahesa. KELUARGA BESAR! Jelas ini tidak boleh terjadi karena nanti akan semakin runyam saat kami harus menyelesaikan kesepakatan pura-pura ini.
“Aduh!” Kepalaku terbentur punggung Pak Mahesa dan aku langsung menatap sengit pria dihadapanku saat ini, “Kalau jalan jangan berhenti mendadak dong, Pak!”
Pak Mahesa menjentik keningku membuat aku semakin kesal. “Kamu yang jalan tidak hati-hati kenapa malah saya yang dimarahi?”
Aku berdecak. Ucapannya memang benar. Aku melamun.
“Kembali fokus bekerja. Urusan Bali akan saya urus. Kamu tidak usah pikirkan.”
Dia yang urus tandanya kami tidak perlu pergi, kan? Aku pun spontan tersenyum lebar dan dengan cepat menganggukkan kepala, “Bener ya, Pak. Bapak yang urus. Saya mau fokus kerja. Terima kasih, Pak.”
Pak Mahesa hanya menganggukkan kepalanya. “Hmmm... Bali urusan saya. Urusan kamu kembali fokus bekerja.”
Tanpa menunggu pria itu mengucapkan kalimat yang sama untuk kedua kalinya, aku pun langsung beranjak kembali menuju kubikelku. Mbak Retha dan Mas Bimo sudah tidak ada di kubikel mereka. Keduanya mungkin sudah pergi untuk meeting diluar kantor sementara kedua seniorku yang lain sibuk dengan urusan mereka masing-masing dan akhirnya aku menghabiskan hariku itu dengan fokus bekerja karena hingga jam pulang kerja Pak Mahesa tidak kembali ke ruangannya dan aku tidak perduli kemana atasanku itu pergi.
Aku pulang menuju apartemen milik Pak Mahesa yang aku tempati beberapa hari belakangan. Sungguh tinggal di apartemen ini mempermudah diriku karena jaraknya yang tidak jauh dari kantor. Aku tidak perlu menghabiskan banyak waktu di jalan karena aku bisa langsung membersihkan diri dan beristirahat begitu sampai di apartemen.
Dengan memakai pakaian rumah aku merebahkan diri ke atas tempat tidur. Aku tengkurap diatas tempat tidiur dan menghubungi nomer ponsel Ambu.
“Halo, Teh. Teteh sudah pulang kerja?” Suara Ambu yang kurindukan menyapa indera pendengaranku.
“Halo. Sudah, Ambu. Ambu lagi apa? Sudah makan malam sama Abah?”
“Sebentar lagi. Abah sama Ambu baru sampe rumah. Ambu baru duduk, Abah lagi di kamar mandi. Hari ini Ambu nemenin Abah ke rumah Pak Jiman. Abah jual hasil sawah lumayan buat nabung biaya kuliah Jojo. Sebentar lagi kan Jojo mau bayar uang kuliah. Teteh udah makan?”
“Kan Teteh udah bilang sama Ambu. Abah sama Ambu jangan capek-capek. Uang kuliah Jojo biar Teteh aja. Gaji teteh cukup kok.”
“Ambu sama Abah masih sanggup usaha, Teh. Kami gak mau ngerepotin Teteh. Teteh juga harus penuhin biaya hidup di kota terus nabung buat masa depan Teteh.”
“Ambu...” Suara Abah terdengar.
“Teh, Ambu tutup dulu ya. Abah manggil.”
Dan begitulah panggilanku dan Ambu berakhir. Percakapan singkat melalui telepon untuk mengobati rinduku pada Ambu yang berada jauh dariku. Aku cukup bersyukur memiliki dua orang tua yang menyayangiku disaat ada anak lain yang tidak seberuntung aku. Meski demikian keberuntunganku tidak dalam semua hal. Nyatanya walau beruntung memiliki orang tua yang menyayangiku tapi aku tidak beruntung soal ekonomi karena sedari kecil aku berada di lingkungan pas-pasan dimana kami harus berusaha keras demi memenuhi kebutuhan kami dan Abah mengusahakan agar aku dan Jojo bisa mendapatkan pendidikan yang lebih baik agar bisa memperbaiki taraf kehidupan kami dimasa depan.
Aku pun bergegas mengganti pakaian hendak keluar untuk membeli makanan untuk makan malamku hari ini namun ketika keluar kamar pintu apartemen terbuka dan Pak Mahesa muncul dari balik pintu.
“Saya bawa makan malam. Kita makan malam sama-sama, ya?”
Rejeki anak soleehhhh!
“Tolong bantu saya siapkan alat makannya, Cantik.”
Tanpa menunggu aku pun melakukan apa yang Pak Mahesa perintahkan. Aku mengambil alat makan dan saat Pak Mahesa meletakkan bungkusan yang ia bawa ke atas meja, dengan cepat aku menata makanan yang ia bawa. Ternyata Pak Mahesa membawa nasi goreng untuk kami berdua.
“Kamu mau yang pedas atau yang enggak?”
Aku diam berpikir.
“Cantik?”
“Kenapa Bapak panggil saya Cantik?”
“Mas Esa. Sudah saya bilang berkali-kali─”
“Biasakan panggil saya Mas Esa kalau kita berdua.” Aku dengan cepat melanjutkan kalimat yang sudah berkali-kali ia ucapkan itu. “Maaf, saya lupa. Saya terbiasa panggil Bapak dan aneh rasanya saya ubah karena interaksi kita selama ini hanya urusan kerjaan.”
Pak Mahesa menghela nafas. “Sekarang sudah berubah jadi biasakan ubah panggilan kamu.”
Aku pun memberi isyrat hormat layaknya sedang memberikan hormat saat upacara bendera dan Pak Mahesa pun mendengus. “Jadi kamu mau yang pedas atau enggak?”
“Pedas deh. Kalo yang enggak takut kurang enak.”
Pak Mahesa menganggukkan kepalanya dan menyodorkan piring yang berisi nasi goreng pedas ke arahku. Kami mulai fokus makan malam hingga setelah beberapa suap mukaku berubah menjadi merah dan rasa pedas seakan membakar lidahku. “Ini bukan nasi goreng pedas. Ini nasi goreng super pedas.”
Pak Mahesa menyodorkan gelas berisi air padaku namun sialnya tidak menghilangkan rasa pedas yang aku rasakan, “s**u. Tolong ambilin s**u, Pak!”
Tanpa menunggu Pak Mahesa melangkahkan kaki menuju kulkas dan mengumpat. Pria itu dengan cepat berlari pergi keluar dari apartemen dan bisa aku tebak kalau di dalam kulkas tidak ada s**u. Seingatku memang hanya ada air mineral di dalam kulkas karena aku belum sempat belanja apapun.
Pak Mahesa kembali dengan sekotak s**u ukuran satu liter lalu menuangkan isi dari kotak s**u ke gelas dan menyerahkannya padaku. Aku dengan cepat meminum s**u itu dan perlahan rasa pedas yang membakar lidahku memudar. Aku menatap Pak Mahesa yang masih berusaha mengatur nafasnya. Aku yakin pria ini tadi lari untuk memberikan s**u ini padaku dengan segera.
“Terima kasih, Pak.” Pak Mahesa berdecak dan aku meringis menyadari kesalahanku, “Terima kasih, Mas.”
“Lain kali kalau gak bisa makan pedas jangan makan pedas. Kamu bikin saya panik.” Pak Mahesa berucap dengan nada kesal.
“Saya bisa makan pedes kok. Nasi gorengnya aja yang kelewatan pe─ Eh, itu bekas─”
“Kelewatan gimana? Ini pedesnya normal.” Pak Mahesa menanggapi dengan nada sewot. “Nasi goreng ini buat saya. Kamu makan aja yang ini. Ini masih baru.”
Tentu dengan patuh aku melakukan apa yang Pak Mahesa ucapkan karena aku masih lapar. Aku makan dalam diam namun bisa kulihat dengan jelas kalau pria dihadapanku ini sedang berusaha meredakan rasa kesalnya.
“Pak─” Pak Mahesa mendelik sengit. “Mas...” Aku tersenyum kikuk.
Pak Mahesa menghela nafas panjang, “Kenapa?”
“Kenapa tiba-tiba datang kesini bawa makanan begini?”
Pak Mahesa mendelik, “Saya gak boleh dateng kesini begitu?”
Wah! lagi sensi, gawat. “Enggak gitu, ih. Saya Cuma tanya aja kok dateng bawa makan tapi gak bilang-bilang dulu. Kalau saya belum pulang gimana? Atau bisa saja saya pas lagi beli makan diluar.”
“Kalau kamu gak ada atau sudah beli makan, saya bisa makan makanan ini sendiri.”
Aku menggaruk tengkukku yang sebenarnya tidak gatal. Nampaknya saat ini diam adalah emas jadi lebih baik aku diam saja lah. Pada akhirnya kami makan dalam suasana hening hingga saat makan malam kami selesai dan aku mencuci alat makan yang kami gunakan, Pak Mahesa tiba-tiba buka suara. “Soal acara keluarga saya ke Bali...” Pak Mahesa menjeda ucapannya membuatku langsung mengarahkan perhatianku pada pria itu, "Mama sangat ingin kamu ikut ke Bali dan Papa ternyata menginginkan hal yang sama walau tidak secara jelas diutarakan. Kedua orang tua saya menyukai kamu jadi apa bisa kamu ikut ke Bali?”
“Lho! Kok malah─”
“Acaranya akan berlangsung hari Sabtu malam. Kita bisa berangkat dari sabtu pagi dan hari minggu pagi kita pulang. Saya akan pastikan kenyamanan kamu disana.”
Dan... benang di dalam kepalaku semakin kusut. Tetep jadi ke Bali, Pak?