Selamat Tinggal Jakarta

1747 Words
“Aku nggak mau ikut, Yah!” “Gak bisa! Pokoknya kamu harus ikut!” “Aku nggak mau Yah! Aku mau tinggal di Jakarta!” Dua pria, ayah dan anak, terlihat tengah adu mulut di ruang tengah sebuah rumah di bilangan Jakarta Timur. Wajah mereka sama-sama merah karena saling berteriak dan menuding, urat leher tercetak jelas tidak dapat disembunyikan oleh kerah kemeja yang mereka kenakan, badan seolah siap untuk menerjang. Satu-satunya wanita di rumah itu terduduk cemas di sofa, ia takut keduanya akan mulai main tangan. Beruntung hal itu tak terjadi. Rumah itu berwarna kuning. Ia terletak di kawasan padat penduduk, jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya cukup dekat. Tembok menjadi sekat, namun suara tetap dapat terdengar antara keluarga satu dan lainnya. Ayah dan anak itu tahu jika mereka berteriak dan bertengkar, maka dalam waktu sehari, tetangga sisi kanan dan kiri akan membuat keluarga mereka jadi bahan gossip selama seminggu penuh. Tapi masa bodohlah pikir sang anak. Mau bagaimanapun keluarga mereka sepertinya akan segera pindah, bukan? Sang ayah, Chandra Adiguna, telah memutuskan  bahwa keluarga ini akan ikut pindah ke Jawa, entah Jawa bagian mana ia tak mau tahu. Sudah hampir seminggu, Deny, sang anak, bertengkar terus dengan sang ayah. tiap hari diisi dengan debat tanpa henti. Enam hari belakangan, debat ini masih bisa menggunakan kepala dingin, tapi tidak hari ini. Deny akan menumpahkan semuanya, pokoknya ia tidak akan ikut ke Jawa! Bagaimana Deny tidak marah dan kesal? Sudah hampir tujuh tahun ini keluarga mereka akhirnya menetap, sebelumnya sang ayah terus menerus pindah dinas karena tuntutan pekerjaannya di departemen kehutanan. Sewaktu masih kecil sih Deni, tidak merasa itu sebuah masalah. Toh, bagi Deny kecil, asal ia masih bisa bersama dengan keluarganya, itu sudah cukup. Yang penting keluarganya tetap jadi satu. Tapi kini lelaki itu sudah merasa cukup dewasa untuk bisa tinggal sendiri, Deny sudah bisa mandiri! Deny sudah lelah mengikuti ayahnya berpindah-pindah, ia pernah tinggal di Aceh, di Kalimantan, bahkan di Nusa Tenggara. Dalam tujuh belas tahun hidupnya di dunia ini, sudah  tujuh kali mereka pindah rumah. Pria itu selalu meninggalkan sahabat bahkan gebetannya yang baru ia dekati setengah jalan di masa lalu –meskipun cuma cinta monyet, itu tetap menyakitkan. Ia lelah karena tidak punya teman yang tetap. Setiap kali harus berkenalan dengan orang baru, ia juga harus teringat bahwa suatu saat nanti ada kemungkinan ia harus pergi. Tapi kini setelah menetap tujuh tahun di Jakarta, Deny sudah mulai mengurangi pemikiran semacam itu. Pria itu sudah bisa berteman tanpa harus takut kalau suatu saat nanti harus pergi. Deny sudah merasa Jakarta adalah rumahnya. Betul-betul rumah. Bukan persinggahan yang suatu saat nanti ia tinggalkan. Ia tak mau minggat dari sini. Selain itu... bagaimana nanti dengan Rani? Gadis itu baru sebulan menjadi pacarnya. Rani pasti kecewa dan patah hati. Ini baru pertama kali Deny berpacaran, selama ini lelaki itu selalu sendiri karena takut akan meninggalkan orang yang ia sukai. Ia tak mau pengalaman pertamanya malah jadi nestapa. Masa baru pacaran langsung long distance (LDR)? Memang bisa kalau Rani setuju mereka LDR, tapi kalau tidak? Bisa-bisa hubungan yang baru seumur jagung ini langsung kandas tanpa fafifu. Ah, Rani. Deni sangat menyayangi Rani. Rani merupakan gadis pertama yang akhirnya, setelah tiga bulan ia dekati, ia mantapkan sebagai pacar. Ia melalui proses berpikir panjang sebelum memutuskan berpacaran. Pun hubungannya dengan Rani tak selalu lancar, kadang Rani manja yang menyebalkan, tapi malah itu yang membuat hubungannya dengan Rani terasa menyenangkan. Baru saja, BARU SAJA, Deny merasa bahwa pada akhirnya ia bisa menjalani kehidupan yang normal: punya sahabat dan pacar yang tetap, ikut band sekolah, jadi populer,  bahkan sampai ikut geng. Ia tak mau meninggalkan semua ini. Deny kan sudah tujuh belas tahun, pun Deny adalah anak lelaki. Memang apa salahnya jika Deny tinggal sendiri di Jakarta? Pasti ia bisa bertahan hidup kok! Ayahnya ini ada masalah apa sih?! “Kenapa sih ayah memaksa? Deny sudah besar ya! Aku bisa tinggal sendiri di sini!" kali ini Deny berargumen kembali. Ia masih tidak mau mengalah, Masih pada pendiriannya kalau ia bisa tinggal sendirian di Jakarta. "Kamu tidak ingat terakhir kali ayah dan bunda meninggalkan kamu tiga hari sendirian, kamu hampir membakar rumah!" jawab sang ayah dengan galak, tak mau kalah. "Pokoknya kamu harus ikut!" “Deny, sudah ikuti saja kemauan ayah. Cuma satu tahun kok, nak.” Kali ini bundanya, Karina, ikut bersuara. Wanita itu memang satu-satunya orang yang mengerti Deny di rumah ini, sayangnya, bundanya merupakan wanita yang njawani alias jawa banget. Deny tidak suka ketika bundanya hanya manut-manut saja dengan keinginan ayahnya, seolah bundanya tidak punya keinginan sendiri. Deny tahu sekali bundanya juga lelah dengan pindah-pindah bla-bla-bla ke berbagai pelosok Indonesia ini. Tapi mau bagaimana? Menurut bundanya, seorang istri yang baik adalah istri yang mendengarkan dan membersamai suami. Duh, ini sudah 2021, sudah zaman emansipasi bunda! "Ayah egois!!!" kali ini lelaki tanggung itu kehabisan amunisi. Meskipun Deny membenci sikap manut bundanya, namun ia tidak mau melukai hati wanita yang telah melahirkannya tersebut. Dan ya… memang betul ia memang pernah hampir membakar rumah karena ketiduran ketika memasak air untuk mandi. Tapi kejadian itu terjadi hampir tiga tahun yang lalu. Deny sudah belajar dari kesalahan, Ia sudah dewasa kok! Ia tidak akan lagi mengosongkan air hingga membahayakan nyawanya sendiri.  Dengan marah Deni melangkahkan kaki ke kamar. Pintu ia banting sedemikian rupa hingga tembok rumah terasa bergetar. Ia memang jadi ‘Hulk’ (kuat banget) ketika sedang marah. Dalam beberapa kasus Deny bahkan mengajak adu jotos dengan lawan bicaranya (tentu kecuali orang tuanya). Yah, Deny sendiri merasa bahwa ia punya kontrol yang rendah dalam menahan amarah. Ayah bundanya juga berpikiran bahwa Deny punya semacam temperamen yang kurang terkendali secara general. Sudah beberapa kali Chandra dipanggil ke ruang Kepala Sekolah karena Deny ikut aksi tawuran melawan sekolah lain. Meskipun sudah dimarahi berulang, kelakuan nakal Deny tak pernah berhenti, pada akhirnya Chandra memaklumi karena Deny masih remaja. Tapi tentu, ia tetap akan marah jika Deny terlibat tawur. Di dalam kamarnya, Deny mencak-mencak. Amarahnya diluapkan pada guling yang tidak bersalah. Ia banting benda mati tersebut ke kasur berulang kali, di sela-sela waktu, ia tonjoki guling tersebut sampai busanya sulit mengembang naik. Setelah cukup lelah Deny lemparkan tubuhnya ke kasur. Kepalanya ia pendam ke bantal. Beberapa kali ia berpikiran untuk kabur dari rumah menuju rumah neneknya di Bandung, ia bisa pakai duit celengan untuk naik busa atau kereta. Namun segera, pikiran itu menghilang bersamaan dengan rasa kantuk yang mendera. ‘ Sudahlah pikir nanti saja!’ Mata yang setengah sadar itupun menutup, anak lelaki itu pun tertidur. *** Tiga minggu telah berlalu sejak pertengkaran dengan sang ayah. Meskipun Deny bersikukuh dengan cara mogok makan dan mogok bicara, pada akhirnya dia takhluk juga dengan ultimatum Chandra karena sang bunda, Karina, mengatakan kalau ia ingin terus bersama Deny sampai akhirnya nanti Deny pergi berkuliah setahun dari sekarang. Deny memang tidak bisa berbuat banyak jika sang bunda sudah bicara soal: sebagai satu-satunya anak, maka Deny merupakan satu-satunya harapan dan kesayangan sang bunda. Deny selalu luluh jika sang bunda sudah mengatakan hal-hal tersebut. Hari ini, setelah dua minggu yang lalu membereskan segala perabot, alat, dan keperluan serta urusan –termasuk bicara dengan sahabat dan pacarnya (yang akhirnya meminta putus), keluarga Deny akan angkat kaki dari Jakarta. Deny tidak pernah mau tahu ke mana tempat baru yang ia tuju, toh sama saja, tempat itu pasti membosankan dan tidak seru. Kata sang ayah, desa yang akan ia tuju berada di pegunungan, jadi udara akan sejuk. Memangnya udara bisa sayang-sayangan dengannya seperti Rina? Menyebalkan. “Deny sudah siap?” tanya Karina. Ia melihat anaknya yang dalam setahun lagi akan berkuliah, betapa cepatnya waktu berlalu, kini bocah laki-laki yang hanya bisa menangis saat kecil itu sudah menjadi remaja tanggung yang tampan. Diam-diam Karina menitikkan air mata dan segera menghapusnya. “Udah Bun. Ini buku Deny taruh mana?” lelaki itu membawa kardus raksasanya dengan merengut. Tubuhnya memang jangkung dan besar untuk ukuran remaja seusia. “Tanya ayah coba.” “Dih, males.” Deny memutar mata. “Deny…” “Iya bundaa.” Dengan langkah cepat ia menghampiri Chandra yang menata bagasi, bundanya akan mengomel jika ia masih marahan dengan sang ayah. Dari belakang pria paruh baya itu terlihat masih berbadan tegap. Chandra sudah lama bekerja di pemerintahan sebagai penjaga hutan, polisi hutan, entah apa namanya Deny lupa. Tapi tujuh tahun yang lalu, pria itu sudah mendapat jabatan di kantor, Deny tak tahu kenapa kali ini ayahnya malah dimutasi kembali menjadi penjaga hutan. Apa salah ayahnya hingga lelaki itu dipindahkan lagi? Jangan-jangan ayahnya korupsi? Atau malah… SELINGKUH? Bukankah perselingkuhan bisa mendapat sanksi dari kantor? Ah, Deny tak ingin memikirkannya. “Ayah, ini taruh mana?” dengan ogah, Deny bertanya. Ia tak mau menatap mata pria itu, ia masih ngambek! “Taruh di sini saja, nanti ayah yang susun.” Chandra menunjuk tanah di samping tempatnya berdiri. Segera, Deny melangkah menaruh bawaannya di tanah. “Terima kasih ya Den, sudah mau ikut ayah. Ayah tahu Deny ingin di Jakarta, nanti setelah setahun, kalau kamu masih mau ke sini, ayah akan ikut kamu pindah ke manapun yang kamu mau.” Ujar Chandra sembari menepuk bahu Deny. Deny menghembuskan nafas panjang. Meskipun sebal, ia tetap mencintai ayahnya. Meskipun kadang Chandra keras padanya, namun sang ayah merupakan pekerja keras. Selama hidupnya, sang ayah selalu berusaha agar Deny dan Kirana merasa nyaman dan berkecukupan. “Pokoknya, di sana harus pasang WIFI.” Deny melangkah masuk ke mobil meninggalkan ayahnya yang tertawa kecil. Pria itu duduk di belakang, membuka ponsel, dan mengetik salam perpisahan ke teman-teman sekolahnya. Terutama pada Rina, sang mantan pertama. … To: Bee Rina Rina sayang, hari ini aku mau berangkat ke antah berantah. Meskipun kita sudah putus, tapi Deny masih sayang sekali sama Rina. Makasih ya sudah mau mengisi sebulan bersamaku, memang singkat, tapi buatku sangat berarti. Suatu saat, Deny akan kembali ke Jakarta. Seandainya Rina masih sayang sama Deny pada saat itu, maukah Rina kembali lagi seperti kemarin? Selamat tinggal Rina, aku sayang kamu. … Deny hampir menangis jika sang bunda tidak tiba-tiba masuk ke mobil disusul ayahnya. “Semua sudah siap?” tanya sang ayah. Sabuk pengaman dipakai, mesin dinyalakan begitu pula GPS. “Berdoa dahulu, semoga perjalanan kita ke Temayang dilancarkan.” Hening sejenak, Chandra kemudian menarik gas. ‘Temayang ya? Kira-kira seperti apa desa itu ya?’ Deny menatap jalanan Jakarta yang dilewati. Avanza ayahnya melaju perlahan, membuat suasana terasa makin mellow bagi pria itu. “Selamat tinggal Jakarta,” bisik Deny pelan. Laju mobil makin cepat, meninggalkan kenangan yang berkelebat. Deny menatap ponsel, membuka galeri dan mengenang mantan pacarnya dari sebuah foto. “Selamat tinggal Rina.”    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD