Memedi

1678 Words
Hamparan sawah terbentang saat Deny membuka mata, terbangun dari tidur lelap. Aspal kini sudah tak ada, jalan tanah nan bergeronjal dengan batu-batu yang membuat avanza putihnya bergejolak kanan-kiri. Sinar terik menyentuh kaki Deny membuatnya terduduk dari posisi dan menghindari sumber cahaya. Sudah setengah hari Deny tertidur. Perjalanan ini ternyata sangat panjang. Deny pikir satu hari kemarin sudah cukup dan di pagi buta mereka akan sampai di desa entah apa namanya itu –Deny sudah lupa lagi. Ingatan Deny kuat, bahkan meski suka tawuran, Deny tetap mempertahankan sepuluh besar pararel di sekolah. Namun karena lelaki itu sebal, otaknya terus melupakan nama desa yang rasanya lebih mudah diingat dibandingkan sejarah Majapahit. “Yah, sudah sampai belum sih? Lama banget.” “Belum Den. Ayah juga bingung, sinyal di sini hilang-hilangan. Gmapsnya kadang berfungsi, kadang engga.” Ibu Deny menjawab. Karina menatap suaminya yang sudah kuyu karena tak berhenti menyupir sejak enam jam yang lalu. Matahari sedang terik teriknya, wanita itu sudah berusaha menutupi dengan sunshield yang ada di bagian depan mobil, namun tentu saja, sinar itu tak bisa ditahan mengenai sebagian wajah Chandra. “Mas, istirahat dulu yuk. Ini kayaknya belum berhenti sejak tadi. Mas pasti capek.” “Bentar lagi ya dik. Ini kayaknya bentar lagi sampai deh.” Ucap Chandra kaku. Pria itu sebenarnya ingin istirahat, namun ia tak mau terlalu sore sampai di Temayang. Ada beberapa orang yang harus ia temui untuk ‘sowan’ alias memperkenalkan diri dan keluarganya. Meskipun sudah lama tinggal di Jakarta, jiwa Jawanya yang masih kuat membuat Chandra tahu betul kalau di daerah terpencil seperti ini membuat ia dan keluarganya harus tahu unggah-ungguh alias tata karma jika tidak mau mendapat kesulitan. “Istirahat mas, kamu capek.” Tegas Kirana. Wanita itu melirik tajam ke arah belakang tempat Deny duduk dengan tenang. Deny menyadari sedang dilirik langsung merasa tak enak. Bocah tersebut membenarkan duduknya. Ia tahu sang bunda menginginkannya untuk meminta sang ayah berhenti sejenak. Deny menghela nafas diam-diam. “Ayah, berhenti dulu. Deny capek nih, mau cari udara.” Ujar Deny dengan agak kesal. Ia selalu menuruti bunda dan entah mengapa tka bisa membantah wanita tersebut. Kalau dipikir, sebenarnya ia bisa saja jadi anak rebel dan melawan. Dia kan pentolan tawuran di sekolah, harusnya Deny bisa sekalian saja jadi ‘nakal’. Tapi entah kenapa, kata-kata bunda layaknya sihir dan setiap ia ingin membantah, mulutnya bungkam atau kalaupun melawan, pada akhirnya remaja tanggung itu terpaksa menurut. Ia kadang bingung apakah kata-kata bundanya sekuat itu hingga Deny tak bisa menentang? Ibunya pakai mantra apa ya? “Iya Den.” sang ayah tersenyum. “Kita cari pohon yang teduh ya, biar enak istirahatnya.” Deny mengangguk di belakang. Mobil tersebut berhenti di bawah beberapa pohon jati yang berdekatan. Tidak rimbun, tapi daunnya yang cukup lebar rasanya cukup untuk menutupi sebagian besar tubuh mobil. Meskipun jalan tanah, namun jalan tersebut cukup lebar. Mungkin bisa di lewati oleh dua buah truk yang cukup besar. Deny dengan tubuh jangkungnya keluar dari pintu mobil. Sawah tanpa batas masih menghampar sepanjang mata memandang. Jalanan tanah ini masih bisa terlihat sampai ujung. Di depan sana ada sebuah gunung yang tidak terlalu besar, mungkin lebih tepat disebut perbukitan atau dataran tinggi. “Itu Temayang di depan sana.” “Hah?” terkaget, Deny menengok ke arah sang ayah yang sudah berdiri di sampingnya. Pria itu lebih tinggi beberapa senti darinya, jadi ia tak perlu mendongak untuk saling memandang. Tak seperti sang ibu yang tubuhny lebih kecil dua puluh senti dari keduanya. Deny memang banyak mewarisi karakteristik sang ayah: alis tebal, rahang kokoh, tinggi yang semamapai, juga rambut hitam kelam. Memang bisa dibilang Deny termasuk pria yang tampan. Hanya saja umurnya yang masih muda, sifat meledak-ledak, dan tak sabaran, membuat Deny terlihat kekanakan. Berbeda dengan sang ayah yang begitu matang dan semakin menawan ketika umurnya bertambah tua. Ya, mirip anggur (wine). Satu-satunya yang ia warisi dari sang ibu adalah mata cokelat muda dan juga senyum yang terlihat lembut. Kontras dengan wajah yang keras tersebut. “Itu loh, Temayang,” ujar Chandra. “Temayang?” “Desa tempat kita tinggal Den.” Mulut Deny membentuk huruf o, ia teringat lagi nama desa yang membuatnya harus meningglkan Jakarta. Temayang. Berima dengan sayang. Tapi juga berima dengan buang. Entah mengapa Deny malah memikirkan hal ini. “Masih jauh banget ya mas kayaknya.” Kali ini Kirana ikut nimbrung. Deny buru-buru menggandeng lengan ibunya dengan erat. Entah mengapa Deny selalu suka tiba-tiba menggelendot di lengan sang bunda tanpa sebab. Ini adalah kebiasaannya yang membuat teman-teman Deny kadang mengatai Deny anak mami. Mungkin memang betul Deny anak mami, tapi yah… dibandingkan tidak sayang sama sekali dengan bunda?  “Den, jangan kayak anak kecil dong.” Kirana mengingatkan. Ia memang suka digandeng putra semata wayangnya seperti ini, tapi rasanya Deny sudah terlalu besar untuk melakukan hal kekanakan semacam ini. Kadang Kirana takut jika Deny terlalu lekat dengannya, Deny tidak akan punya pacar. Yang Kirana tak tahu bahwa sebenarnya Deny sudah memiliki kekasih sebelum akhirnya pindah ke Temayang. “Ini mau sampai kapan nih kita istirahatnya?” tanya Chandra sembari melangkah ke dalam mobil. “Sejam lagi ya Yah. Ayah tidur dulu aja, Deny mau jalan-jalan ke sawah,” ujar Deny sambil melepaskan gandengannya. “Bunda juga istirahat gih.” Bunda tersenyum, tanpa berbasa-basi, wanita itu juga masuk ke dalam mobil. Sedari tadi ia memang ikut tak tidur guna menjaga sang suami agar tidak mengantuk di jalan. Matanya melek meskipun kantuk kadang tak bisa ia tahan. Ia terus mengajak Chandra mengobrol agar lelaki itu tidak hilang sadar. “Deny jalan-jalannya jangan jauh-jauh. Nanti susah nyari kamu.” “Ayah apaan sih. Emang aku anak kecil!” “Ahahahaha.” Tawa sang ayah dan bunda mengiringi langkah kaki Deny yang kesal memasuki pematang sawah yang masih hijau. *** Satu jam tersebut Deny berencana habiskan untuk merendam kakinya di dalam air irigasi yang mengalir. Dingin di tengah panas adalah apa yang lelaki itu butuhkan. Jam menunjukkan bahwa ia baru menghabiskan setengahnya untuk menyegarkan diri. Airnya jernih, tidak seperti air di Jakarta yang kumuh. Keluarga Deny memang harus menggunakan PAM agar mendapatkan sumber air yang bersih. Ah, paling tidak ada satu hal yang Deny bisa sukai dari tinggal di desa. Sedari tadi lelaki itu melamun memikirkan seterpencil apa, se’ndeso’ apa, dan setertinggal apa Desa yang Ia akan tempati. Ia takut kalau nanti ia terisolir, bahkan sinyal saja tidak sampai di sini. Bagaimana sinyal bisa masuk ke tempat yang jauh lebih tinggi, lebih pelosok dari yang sekarang? “Cah bagus, lagi ngopo?” (anak laki-laki, sedang apa kamu?) Terkejut, lelaki itu langsung berdiri seolah sedang tertangkap basah mencuri, padahal ia hanya bersantai. Sepatu convres yang ia lepas tadi terpaksa ia injak dengan kaki basah. Lelaki itu agak menyesal kemudian karena lebih baik ia memijak tanah karena kotornya bisa dibasuh lagi disbanding membasahi sepatu mahal tersebut. Deny tergagap ingin menanggapi nenek tua yang berdiri di sebelah. Deny ingin segera menjawab namun otaknya mampet. Semua ajaran bahasa jawa yang ia dapatkan dari bunda dan ayahnya menguap entah kemana. Mulut Deny mangap beberapa saat sebelum akhirnya memutuskan menggunakan bahasa Indonesia. “Eh, saya lagi istrirahat mbah.” Saking paniknya, Deny menggucap istri disbanding isti. Nenek itu sepertinya tidak peduli hal tersebut. “Raiso boso jowo to, le?” (nggak bisa bahasa jawa, nak?) “Mboten, mbah.” (enggak, mbah) “Lha kui iso.” (itu bisa.) Nenek itu tertawa kecil. Deny menggaruk kepalanya dengan malu. Ia harusnya terus menggunakan bahasa Indonesia saja dibanding ditertawai semacam ini. “Simbah ngerti karepmu. Tapi aku gak lancar boso Indonesia.” (Simbah tahu maksud kamu. Tapi aku nggak lancar bahasa Indonesia.)  Diam-diam Deny menghembuskan nafas lega. Komunikasi mereka bisa dilakukan dua arah, ia tetap bisa sopan menjawab orang yang lebih tua disbanding hanya mendiamkannya. “Nggih mbah. Kulo mboten saged boso jawa alus.” (iya mbah, saya enggak bisa bahasa jawa halus) Ujar Deny dengan logat aneh Jakartanya. Padahal ia sempat tinggal di Pekalongan meski beberapa bulan, kemana bahasa yang ia pelajari dulu? “Kowe lagi ngopo?” (kamu lagi ngapain?). “Eh, kulo lagi…” (saya sedang…)Deny tergagap tidak bisa menemukan bahasa jawa menyegarkan diri. Persetanlah! Pakai Indonesia saja! “Saya sedang berendam mbah. Istirahat sebentar.” Ujar Deny sambil tersenyum. “Oalah… arep nyangdi le?” (mau kemana nak?) tanya nenek tersebut. Deny kini lupa nama desa yang ia tuju. Baru setengah jam ayahnya memberitahu, kini otaknya berulah lagi memutuskan melupakan informasi yang saat ini penting. “Eh… itu mbah. Ke situ.” Deny meringis dan menunjuk bukit nun jauh di depannya. Bukit yang mungkin saja menyimpan desa-desa lain atau daerah lain yang banyak jumlahnya. Deny merasa bodoh. “Lha endi kui le?” (di mana itu nak?) “E… itu mbah. Saya lupa.” Ujar Deny malu. “Ada mayang-mayangnya mbah.” Nenek tua itu terlihat agak kaget. Dengan mata tua yang tajam nenek tersebut memastikan. “Temayang le?” Deny menyadari perubahan sikap nenek tua tersebut. Senyum yang tadi lembut memudar digantikan rasa khawatir. Mata lembut tersebut berubah tajam dan ketakutan. Ah… belum-belum sudah ada masalah. “Nggih, mbah.” (iya, mbah.)Ujar Deny juga ikut canggung. Nenek itu makin terlihat khwatir. Rasanya Deny bisa melihat wajah berkerut itu makin banyak kerutannya. ‘Mirip kodok,’ pikiran kurang ajar Deny tiba-tiba berujar. Deny diam-diam menyalahkan diri karena mengatai orang asing yang baik. “Ati-ati yo le. Neng kono akeh memedi.” (hati-hati nak. Di sana bnyak hantu.) “Hah?” Deny tak tahu arti memedi. Ia mengangguk tak tahu harus merespon apa lagi. Pada akhirnya setelah berbasa-basi beberapa saat, nenek itu pergi. Masih meninggalkan Deny dengan tanya, apa itu memedi. ‘Ah, nanti aja tanya ayah lagi,’ pikirnya. Ia kembali merendam kaki, menikmati aliran air dan angin. Sebentar kemudian, Deny merebah, tertidur sambil memimpikan Jakarta. Klakson beberapa kali membangunkan Deny. Menggerutu, lelaki itu melangkah menuju mobil yang hanya seratus meter dari temparnya berendam. Pada akhirnya ia lupa percakapannya dengan nenek tua tadi. Ia lupa menanyakan memedi. Otaknya memutuskan memedi tak penting lagi, jadi kata itu dibuang begitu saja selayaknya ia melupakan Temayang. Tak apa.  Nanti ia tahu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD