Matahari menampakkan semburat jingga, membuat langit begitu indah dengan warna menawan yang menarik mata. Sayang, pemandangan itu tak dinikmati oleh ketiga manusia yang saat ini sedang berada di dalam avanza. Jalanan di depan mobil itu kini telah memasuki wilayah yang lebih sempit. Masih bergeronjal, tanpa aspal. Berbatu di beberapa tempat membuat perut ketiga orang di dalam kendara roda empat tersebut mual. Beruntung antmo yang diminum sebelum perjalanan berefek sangat baik.
Deny, duduk paling belakang sejak tadi hanya mendengarkan musik melalui ponsel. Ia yang biasanya bisa streaming, kini hanya bisa mendengarkan lagu yang tersimpan dan ia download karena lagu tersebut sangat ia sukai. Sebuah lagu sisa adalah bikinannya sendiri yang sekiranya akan diperdengarkan saat pensi beberapa bulan lagi. Jadi total ada tiga buah lagu yang bisa ia dendangkan. Lagu dari Bee Gees-Run to Me serta lagu dari The Script-Six Degree of Separation. Lagu yang ia ciptakan berjudul We Could Have It All, lagu yang sekiranya akan dimainkan bersama bandnya The Alex.
Band tersebut digawangi oleh Deny sebagai gitaris, Alma pianis, Faras sebagai vokal, Roy di drum, dan Yogi di bass. Nama Alex sendiri diambil dari kesukaan kolektif anggota band tersebut terhadap Alex Turner, seorang musisi asal britania raya yang begitu ciamik dalam membuat lirik. Khusus untuk Roy, Alex yang dia inginkan bukan Alex musisi, tapi Alexander The Great, pemimpin Roma jaman bahula yang menurut bocah botak tersebut begitu keren. Ah… Deny begitu merindukan mereka.
Jikalau hari ini ia tak pindah, ia pasti sedang jamming di studio music milik paman Alma. Mereka bisa menghabiskan berjam-jam dengan hanya membayar satu jam, menyenangkan bukan? ia rindu ketolilan Yogi yang selalu berhasil membuat tertawa dengan celetukannya, Deny merindukan Roy dengan cerita tidak pentingnya soal sejarah bangsa Eropa, ia merindukan denting piano Alma yang merdu lalu tiba-tiba jadi berantakan karena diganggu Yogi, dan ia merindukan Faras yang suka lupa lirik jikalau sedang bernyanyi. Paling penting dari semua itu, ia merindukan kebersamaannya dengan empat orang sableng tersebut.
Kadang, pacar-pacar mereka datang untuk menonton. Rani, kekasih hati Deny membawakan minuman dan camilan kecil untuk bersama dimakan. Begitu pula kekasih Roy dan kekasih Yogi. Alma dan Faras tak memiliki kekasih karena Faras menyukai Alma. Meskipun tahu Faras menyukainya, namun Alma masih belum yakin pada Faras. Karena itu saat ini hubungan keduanya hanya sebatas teman tapi mesra. Sebelum berpamitan, Faras bilang pada Deny kalau lelaki itu akan meminta Alma menjadi kekasihnya sebulan lagi. Ah… kira-kira apa Faras jadi menembak Alma ya?
Pikiran Deny berkelana, mengingat banyak memori menyenangkan selama di sekolah. Suara Faras terus berdengung di telinga, melantunkan bait-bait yang ia kreasikan setelah mendengar lagi I love You but I’m Letting Go.
Baby, do you remember?
When you hold me like it’s forever
Now you ditch me like it’s never
We could have it all
The castle, the mountain, the sunshine above our head
Baby, cause I remember
When you kiss me like no other
Now you leave me like a father
We could have it all
The castle, the mountain, the land between our knees
Suara Faras tiba-tiba berhenti. Batrai ponselnya habis. Buru-buru ia mencari power bank, namun begitu ditemukan, benda itu juga kehabisan daya.
Sial!
Deny mengumpat diam-diam, ia membalikkan badan kesal.