Sudah hampir dua jam Deny berusaha menikmati jalanan yang makin gelap. Ia tadinya bisa melihat hutan-hutan jati dan hamparan padi berterasering, kini Deny hanya bisa meraba remang-remang yang tak tampak. Sudah beberapa saat sejak matahari menanggalkan tempatnya, bulan pun enggan menggantikan. Langit malam hanya berisi bintang-bintang sepersekian dari berjuta yang indah, tapi tak menerangi jalan mereka. Deny menduga-duga, apa yang ada di balik lebatnya pohon. Mungkinkah masih ada babi hutan? Macan? Atau malah… hantu? Ah, bikin merinding saja.
Penerangan satu-satunya, lampu mobil yang menyorot ke depan, membuat Deny juga ikut berfokus ke depan saja. Jalanannya memang masih tanah dan agak berbatu. Sedari tadi ia masih tak bisa tidur karena hal ini. Kegiatan yang tersisa hanyalah memperhatikan jalan yang dilalui. Ah, Deny lelah sekali. Ia mengalihkan pandangannya menuju handphone mati di pangkuan.
Mobil tersebut berbelok, jalanan tiba-tiba berganti. Deny bisa merasakan tiba-tiba mobil mereka berjalan mulus.
Ia menengok ke depan, Deny bisa melihat tidak ada pohon-pohon lagi. Entah apa itu di sisi kiri dan kanan jalan, namun sepertinya perkebunan atau sawah membentang. Di ujung, Deny bisa melihat pendar cahaya cukup terang.
“Kita sudah sampai di Temayang.” Ujar Chandra. Suara senang jelas terdengar dari mulutnya. Memang siapa yang tidak lelah mengakhiri perjalanan panjang yang sepertinya tiada akhir ini.
Deny mangut-mangut di belakang. Matanya awas menghitungi berapa luas lahan membentang sebelum sampai Temayang. Makin lama, cahaya itu makin terang. Ia betul telah memasuki kawasan Desa.
Deny tak mengerti mengapa ada Desa yang dibangung di tengah tengah pegunungan begini. Maksudnya, Temayang begitu terpencil. Dan meskipun sudah ada listrik yang masuk dan juga aspal seadanya yang melintasi desa, namun jalan menuju ke desa ini malah sebatas tanah saja. Rumah-rumah di tempat ini juga cukup jadul: beberapa ada yang disusun papan kayu, beberapa lagi disusun dengan bata. Ia belum pernah melihat rumah yang disusun dengan papan kayu, jadi Deny cukup terkesima.
Sunyi, hanya deru mobil dan bunyi jangkrik yang menjadi peneman. Rumah-rumah tersebut seolah tak berpenghuni. Membuat Deny bertanya seperti apa orang-orang yang tinggal di dalamnya.
“Kita sudah sampai.”