Om Bayu

461 Words
Rumah itu terbuat dari papan kayu. Satu lantai dan kelihatannya cukup luas. Pagar batu berlumut mengelilingi rumah, membuatnya tampak tua dari berbagai sisi. Meski begitu, rumah coklat tersebut terlihat kokoh. Entah pakai kayu apa, tapi yang jelas rumah ini tetap terlihat kuat untuk ditinggali beberapa belas tahun lagi. “Selamat datang mas Chandra.” Seorang pria berambut setengah putih menyambut Chandra ketika ketiga penumpang tersebut sudah turun dari mobil. Tubuhnya yang gempal membuat jalan pria tersebut menjadi lucu. Deny bisa melihat wajahnya dengan jelas ketika pria tersebut berada di bawah lampu jalan. Beberapa sisi agak keriput, meski begitu wajah tersebut menyiratkan kesan ceria yang membuatnya muda. Entah berapa umurnya, tapi mengingat kalau ini desa dan Deny selalu berpikir orang desa awet muda, kemungkinan pria itu berumur lima puluhan tahun. “Bayu?” “Iya, saya Bayu.” Keduanya bersalaman dan berpelukan layaknya kawan lama. Deny tak tahu hubungan ayahnya dengan pria besar tersebut, tapi kelihatannya mereka memang sudah dekat. “Dek, Deny, kenalkan. Ini om Bayu. Dia dulu teman SMA ayah. Sekarang kerja di perhutani juga. Baru sekarang kita ketemu lagi ya Bay!” Keduanya tertawa. Deny menyalami teman sang ayah tersebut. Kirana ikut memperkenalkan diri. Keduanya larut dalam obrolan, sesekali Kirana nimbrung dalam obrolan. Deny bersandar pada mobil, mengamati, mendengarkan, dan menunggu tiga orang dewasa tersebut selesai bercakap-cakap. Bosan, Deny mengamati rumah-rumah di sekitarnya. Tidak banyak yang bisa lelaki itu amati. Sebuah rumah di depannya yang juga terbuat dari kayu terlihat kosong. Entah kemana penghuninya. Ini karena lampu rumah tersebut tidak menyala. Sementara dua rumah di samping jaraknya kurang lebih dua puluh meter dari tempat berdiri Deny saat ini. ia tak terbiasa melihat pemandangan rumah yang tak berdempetan. Tapi ini bagus, karena Deny jadi tak merasa sesak ataupun harus takut jadi bahan gosip warga kampong. “Den, kamu sama bunda masuk aja dulu. Langsung tidur aja, kamarnya sudah dibersihkan sama pak Bayu.” Lamunannya pecah ketika ayahnya menepuk bahu Deny. Lelaki muda itu mengangguk dengan mantap. Ia memang sudah lelah dan rasanya tidur adalah pilihan terbaik bagi tubuhnya yang minta diistirahatkan. “Monggo bu, mas…” “Monggo pak…” Deny dan Kirana membalas pak Bayu hampir bersamaan. Ibu dan anak tersebut masuk ke dalam rumah. Meninggalkan kedua pria yang masih saling bercakap, kali ini Deny memperlambat jalannya, tak mensejajari bunda karena ia mendengar percakapan tersebut jadi agak serius. “Chan, sampeyan yakin? Akeh memedi neng kene. Aku wae ameh balik Yojo.” (Chan, kamu yakin? Banyak hantunya di sini. Aku aja mau balik ke Jogja) “Aku yakin Bay. Koe rasah meden-medeni.” (Aku yakin Bay. Kamu nggak usah nakutin) Deny tak tahu betul apa artinya, tapi kata “memedi” mengingatkannya kembali pada pertemuan dengan nenek tua di siang bolong tadi. ‘Ah sudahlah, nanti bisa tanya bunda!’  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD