Tebangun oleh kokok ayam, Deny kini bisa melihat lumayan jelas seperti apa Temayang di pagi hari. Lebih tepatnya di pagi buta. Padahal biasanya remaja tersebut tidak bisa terbiasa bangun dini, bahkan ketika di Jakarta, alarm dengan volume paling keras sekalipun sulit membuatnya terjaga. Satu-satunya yang membuat Deny bisa melek adalah suara dan tepukan ibunya yang marah-marah karena Deny hampir terlambat masuk sekolah.
Ini memang seburuk yang Deny bayangkan. Deny berada di tengah hamparan lembah, gunung, bukit, atau apalah ini namanya. Ia benar-benar dikelilingi oleh gunung-gunung yang menjulang tinggi dan satu-satunya jalan keluar dari desa ini adalah aspal yang berada di depan rumahnya. Seperti yang Deny duga semalam, rumah-rumah di sini sejajar lurus menghadap jalan. Ada beberapa rumah di belakang, namun setelahnya adalah sawah yang menghampar.
Terasa ajaib karena di jam subuh begini, Deny bisa menemukan beberapa orang yang keluar dari rumah membawa pacul, arit, dan entah apalagi. Beberapa memakai motor dan beberapa berjalan kaki. Deny bisa melihat bahwa bapak dan ibu yang lewat di depan rumahnya menatap Deny dengan pandangan penasaran. Mungkin karena ia adalah warga baru jadi semua orang yang melintas menengok seolah Deny adalah wahana wisata baru. Deny merasa tak nyaman, jadi remaja itu masuk ke dalam rumah lagi.
“Sudah jalan-jalannya Den?” tanya Kirana. Wanita itu mengambil box di ruang tamu yang berisi alat-alat masak. Deny buru-buru membantu ibunya untuk mengangkat kardus tersebut.
“Bunda ambil yang kecil aja. Deny bawain yang besar.”
Kirana mengangguk cepat. Dalam hatinya wanita itu bersyukur karena meskipun anak lelakinya tersebut bandel dan keras kepala, Deny masih bersikap lembut dan bisa menghormati orang tuanya. Beberapa anak dari tetangga mereka di Jakarta sering jadi bahan gossip di tukang sayur karena sering membantah orang tua bahkan membentak dan melakukan k*******n pada orang tuanya sendiri.
“Ini Deny taruh meja ya?”
“Iya. Makasih ya Den.”
“Apa sih bun,” Deny merengut dan mengambil kursi untuk duduk. Deny tidak begitu suka dipuji untuk hal-hal kecil karena pujian sering membuatnya tersipu. Deny tidak suka jadi malu-malu. Lagi pula ini adalah tugasnya sebagai anak dan juga basic manner alias tata krama terhadap sesama manusia.
“Tadi gimana jalan-jalannya?” Kirana kembali bertanya. Tangan kecil wanita paruh baya tersebut teliti membuka kardus dengan gunting.
“Hah?” Deny ternganga. “Oh… ngga jalan-jalan, aku tadi di depan doing sambil liatin orang jalan.”
“Loh, kenapa engga jalan? Mumpung masih subuh gini. Enak tau nak, sejuk gimana gitu.”
“Sejuk apanya?” Deny mencibir. Satu lagi yang remaja itu tak suka adalah dinginnya udara Temayang yang rasanya membekukan seluruh tulang belulangnya. Ia jadi ingat, salah satu alasannya tak bisa tidur kembali adalah rasa dingin yang menjalar meskipun ia sudah menggandakan selimut yang ia pakai. Saat ini saja ia duduk di meja makan dengan jaket yang biasa pria itu gunakan untuk mendaki gunung.
Kirana terkikik menatap putranya yang mengetatkan kembali jaketnya. Wanita itu mulai menyusun satu-persatu perabotan. Peralatan masak yang ia gunakan dan koleksi memang banyak. Wanita itu memang suka sekali mengoleksi beragam piring, cangkir, wajan, dan apalah lainnya yang Deny tak tahu. Remaja itu sampai geleng-geleng kepala ketika sang ibu sibuk packing di bagian dapur beberapa minggu lalu. Tapi bagusnya adalah, masakan Kirana sangat enak dan Deny selalu dapat makanan lezat setiap hari yang tersedia di meja makan. Sebenarnya, alat yang tadi Deny gotong masih termasuk sedikit, beberapa barang akan disusulkan menggunakan pick up dan baru sampai beberapa hari lagi.
“Mau Deny bantu nggak bun?”
“Eh, jangan!” Kirana menyuruh Deny duduk kembali. “Kamu nggak tau maunya bunda. Udah duduk aja.”
“Ye… dibantuin malah nggak mau. Nanti sakit jangan minta kerokin ayah.”
“Eh, kamu bilang apa?”
Deny terkikik dan menyingkir dari ruang dapur. Ia kembali ke kamar dan mengecek ponselnya yang masih tiada sinyal. Saat ini ia bingung harus melakukan apa karena betul-betul tak ada kegiatan yang bisa ia lakukan. Ayahnya masih mengurung diri di kamar sembari menata buku dan berkas.
‘Apa aku ganggu bunda lagi ya?’ pikir lelaki itu sembari bersandar di gawang pintu. Matanya menatap lantai kayu yang mengkilat di bawahnya. Rumah ini memang terasa nyaman karena perpaduan kayu dan bata tidak dikuliti. Coklat dan hangat, menurut Deny.
“Kalo gabut, mending jalan-jalan!” seru Kirana dari dapur. Wanita itu seolah bisa membaca pikiran Deny yang sedang termenung.
“Iya bun! Pengen banget sih anaknya pergi. Kek ibu tiri aja. Huuu!” balas Deny. Ia suka sekali menggoda ibunya karena ia tahu ibunya tak akan pernah marah betulan terhadap remaja pria tersebut.
“Kamu bilang apa?!” tiba-tiba ibunya keluar dari dapur dan mengacungkan sotil berwarna ungu.
Deny tertawa terbahak sambil berlari ke luar rumah.
‘Memang lebih baik jalan-jalan saja.’
***
“Mari pak.”
Entah sudah berapa kali Deny mengangguk pada orang-orang yang ia temui di jalan. Beberapa ada yang sedang bekerja di sawah dan berhenti bergerak ketika melihat Deny berjalan. Tampilan Deny memang tidak aneh, ia hanya sedikit lebih ‘raksasa’ dibanding orang-orang di desa tersebut. Jika harus mencari keanehan, mungkin jaketnya yang terlalu tebal (tak ada yang memakai jaket setebal itu di sepanjang perjalanan) dan rambut belah tengah ala oppa-oppa korea tersebut yang asing.
Meskipun agak risih karena dipandangi dengan aneh, namun Deny senang akan senyuman balasan yang dilontarkan warga asli ketika Deny menyapa. Beberapa membalas mengangguk dan bertanya Deny mau kemana. Tentu sebagai basa-basi, Deny mengatakan hanya jalan-jalan. Beberapa lagi bertanya agak panjang seperti siapa dirinya atau di mana rumahnya, membuat Deny agak berlama berdiri.
Tanpa terasa matahari sudah menampakkan semburat kuning meskipun tak terlalu kentara.
“Hah? Jam tujuh?” Deny mengecek jamnya yang menunjukkan pukul yang seperti tidak sejajar dengan posisi matahari. Ia kira ini masih pukul enam karena matahari tidak secerah itu dan udara masih terasa agak dingin. Betul-betul anomali.
“Masih banyak kabutnya, makanya gak terang.” Deny terkejut karena suara berat di belakangnya tiba-tiba menginterupsi. Pria itu membalikkan badan dan menemukan seorang gadis dengan rambut pendek tiba-tiba sudah berdiri tegak tanpa suara di belakang Deny.
“Fira.”
“Eh, apa?” Deny kaget ketika gadis itu tiba-tiba mengulurkan tangan, mengajak Deny berjabat tangan dengan cengiran khas. Satu lesung pipit di sebelah kiri, satunya tak ada. Buru-buru pria itu menyambut tangan Fira yang menggantung di udara. Deny ikut nyengir kuda karena baru kali ini Ia diajak berkenalan duluan oleh perempuan.
“Deny.”
“Kamu pindahan? Bisa bahasa jawa? Umur berapa? Kamu kelas berapa?” Fira memberondong lelaki tersebut dengan pertanyan.
“Eh, aku nggak bisa bahasa jawa.” Deny kikuk menjawab. “Kelas dua SMA.”
Gadis itu mengangguk-angguk mengerti. “Sama dong,” Fira menimpali. Mata Deny menjelajah penampilan Fira. Gadis itu menggunakan sandal jepit hitam, rok biru dengan aksen bunga kecil-kecil dan kaos warna hitam yang jauh lebih besar dari tubuhnya. Tinggi Fira hampir sama dengan tinggi ibu Deny, membuat gadis itu tampak mungil.
“Rumah kamu yang di pojok itu?” tanya Fira menunjuk rumah dinas ayahnya yang sudah tak kelihatan lagi.
Deny mengangguk cepat.
“Kamu pendiam ya?” Fira tiba-tiba menghakimi. Gadis itu kembali menunjukkan senyuman yang Cuma separuh tersebut. Deny yang masih belum terbiasa hanya bisa ikut tersenyum kecut.
“Nanti siang boleh main?”
“Eh ya?”
“Main ke rumah kamu.” Jawab Fira cepat. “Nanti aku bawa temanku. Boleh?”
“Iya. Boleh.” Seolah terhipnotis, Deny mengizinkan gadis aneh yang baru berkenalan dengannya melakukan tur ke rumah yang bahkan belum sempat ia jelajahi atau bereskan. Mungkin karena mirip ibunya, Deny jadi merasa kata-kata Fira mirip seperti kata Kirana.
“Oke deh. See you later ya!”
Deny mengangguk masih melekatkan pandangan pada gadis tersebut yang menjauh menggunakan sepeda kumbang miliknya. Setelah tubuh Fira menghilang, Deny baru tersadar soal keadaannya saat ini.
‘Rumahnya kan belum dibersihin?’ Deny buru-buru berjalan balik menuju rumahnya ingin membereskan ruang tamu yang penuh kardus masih tersegel.
‘Orang desa bisa bahasa inggris juga ya.’ Lelaki itu terkikik oleh pemikirannya sendiri di jalan.