“Bunda!”
Suara Deny yang terengah masuk menuju ruang tamu memecah kesunyian di dalam rumah. Anak lelaki itu melepas sandal cokelat yang ia pakai dan buru-buru mengangkut beberapa kardus yang tercecer di ruang tamu dan membawanya ke dalam kamarnya sendiri. Dengan cekatan, tubuhnya mondar-mandir setengah berlari memindahkan barang membuat sang ibu menatap aneh pada putranya.
“Kamu ngapain Den?”
“Ini dipindahin dulu,” ucap Deny tak berhenti bergerak. “Bantuin dong.”
“Buat apa?” Entah mengapa Kirana ikut melakukan hal yang Deny lakukan secara otomatis sebelum sempat Deny menjawab. Wanita itu memilih box-box yang jauh lebih kecil dan membawanya ke dalam ruang keluarga.
“Jangan di situ bun, di kamar Deny aja.” Anak lelaki membawa kembali kardus yang dibawa Kirana ke dalam kamarnya. Membuat sang ibu terheran-heran dan berhenti mengangkut.
“Ada apa sih?”
“ Gapapa. Ini pokoknya dimasukin aja dulu ke kamar Deny. Beresinnya besok-besok aja.”
Kirana geleng-geleng kepala melihat kelakukan anak semata wayangnya yang seolah kesurupan setan bersih-bersih. Matanya masih mengikuti gerak tubuh putranya namun ia tak lagi bertanya. Wanita itu kemudian kembali membawa kardus tersebut ke dalam kamar Deny.
***
“Siang tante.”
Kirana menatap takjub pada tiga orang remaja tanggung yang berada di depan rumahnya saat ini. Seorang gadis dengan rambut bob dan kaos serta celana pendek; seorang anak lelaki tambun dan seorang lagi gadis dikucir kuda yang masih menggunakan seragam SMA abu-abu.
Ketiganya buru-buru menyalami Kirana dengan sopan satu persatu membuat Kirana tersenyum karena meskipun ia masih bingung siapa ketiga anak di depannya ini, namun wanita itu bisa mengetahui kalau mereka adalah anak yang sopan.
“Saya Fira tante, temennya Deny. Ini Bima dan Laila.” Gadis dengan rambut bob tersebut memperkenalkan diri dan kedua teman di sampingnya kepada Kirana dengan senyuman manis.
“Wah, Deny sudah punya teman?” Kirana berucap spontan. Ia tak tahu kalau anak lelakinya ternyata cukup supel dan mudah bergaul. Padahal sebelumnya, ia mengira Deny cukup dingin bahkan pada teman-temannya di Jakarta. Ya pokoknya seperti model anak-anak keren yang tidak terlalu ramah alias sok cool. Ternyata baru sebentar di sini, anak itu bisa mendapatkan teman baru. Bukan Cuma satu, tapi tiga.
“Iya tante, tadi waktu jalan-jalan kami sempat kenalan.” Fira kembali menjawab. Dari perawakannya, Kirana bisa menebak kalau gadis satu ini agak tomboy.
“Masuk dulu sini.” Ajak Kirana kepada ketiganya. “Maaf ya rumahnya masih berantakan, baru mulai beres-beres ini.”
“Iya tante, nggak papa,” jawab gadis yang bernama Laila. Gadis itu mengenakan tas berwarna biru dan juga kuciran dengan warna senada. Beberapa jerawat nangkring di wajahnya, namun tidak bisa menutupi wajah manisnya lonjong.
Sementara itu, lelaki bernama Bima tersebut berjalan kikuk. Ia kelihatan lebih pemalu dibandingkan kedua temannya yang perempuan. Tubuhnya memang agak bungkuk dan berisi, membuat orang jadi memberi kesan bahwa Bima adalah pribadi yang murung.
“Duduk dulu ya.” Kirana lagi-lagi mempersilahkan ketiganya duduk di sofa panjang yang Cuma ada satu. “Maaf ya, sofanya Cuma satu. Yang satunya sedang tante cuci karena ada t*i tikusnya. Tapi tenang aja, ruangan ini udah bersih kok dari kotoran.”
“Hehe, iya tante. Santai aja.” Jawab Fira mantap sambil mendaratkan pantatnya di sofa yang berwarna kirm dengan corak mawar kecil tersebut.
“Atau kalian mau duduk di bawah? Tante bawakan karpet kalau mau.”
“Masa duduk di bawah sih? Udah di sofa aja nggak papa.” Deny tiba-tiba menampakkan wajah dengan cukup sewot. Ia sebenarnya tak masalah duduk di bawah, tapi tak enak juga bila membuat teman pertamanya di desa ini ikut lesehan. Pokoknya ia harus membuat impresi yang ‘WAH’ dan keren meskipun ini Cuma di desa.
“Eh, nggak papa kok Den. Kan enakan kalau di bawah, sekalian bisa selonjoran.” Jawab Laila.
“Tuhkan! Temen kamu aja gapapa duduk di bawah. Sok keren kamu!” ujar Kirana sembari masuk ke dalam dan mengambilkan karpet. Deny hanya bisa menepuk jidat sambil mengumpat karena hancur sudah citra keren yang ingin ia buat.
“Mau minum apa?”
“Nggak usah repot-repot tante.” Ujar ketiganya hanpir bersamaan. Kirana akhirnya bisa mendengar suara Bima yang cukup lembut untuk ukuran anak lelaki.
“Nggak papa. Tante bikinkan teh ya?” ujar Kirana sambil masuk.
Karpet sudah digelar dan kini keempat remaja tersebut duduk dengan agak canggung dalam diam. Hanya Fira saja yang terlihat santai. Mata cokelat gadis itu menjelajah ornament ruang tamu yang tak terllau banyak. Tatapannya lebih sering menuju pada langit-langit yang sepertinya jauh lebih menarik dari pada ketiga orang di sekilingnya.
“Diminum ya!” Kirana datang memecah kesunyian dan membawakan nampan berisi empat gelas the dan setoples wafer sisa bekal perjalanan kemarin.
“Kalian habis sekolah?” tanya Kirana yang malah ikut duduk dan bukannya menyingkir. “Fira enggak sekolah?” Deny lagi-lagi tepok jidat melihat kelakuan sang ibu yang sedang sok kenal sok dekat (SKSD).
“Saya kebetulan habis sakit tante. Sebetulnya hari ini bisa masuk, tapi saya harus jaga adik saya yang ikutan sakit.” Jawab Fira tampak tak terganggu dengan kehadiran wanita paruh baya tersebut di tengah para remaja.
“Oh… orang tua kamu kemana?”
“Bunda!” Kali ini Deny agak melotot melihat Kirana. Mungkin karena sudah cukup berumur, jadi ibunya merasa tak masalah menanyakan hal-hal pribadi seperti ini. Tapi Deny tak suka. Ia selalu menjaga batas untuk tak menanyakan hal pribadi pada orang-orang baru. Kehadiran Kirana yang ikut nimbrung saja sudah terasa tak nyaman, apalagi pertanyaan ini.
“Eh, gapapa Den.” Fira menjawab. “Ayah saya kebetulan merantau ke Sumatra tante. Ibu saya kalau siang harus mobile ke puskesmas soalnya beliau satu-satunya bidan di kelurahan ini.”
Kirana mangut-mangut mengerti.
“Bun…” kali ini Deny berusaha mengkode ibunya untuk menyingkir dari ruang tamu.
“Iya iya. Ini bunda pergi.” Seolah tahu pikiran anaknya, Kirana beranjak. “Kalau butuh apa-apa, bilang tante ya! Ini Deny anaknya suka nggak peka sama orang.”
Ketiganya tertawa kecil, membuat Deny merasa malu karena kata-kata bunda yang tanpa filter. Deny menghela nafas ketika Kirana akhirnya beranjak ke belakang.
“Ini Bima dan ini Laila.” Ujar Fira memecah kesunyian setelah Kirana meninggalkan tempat. Ketiganya tersenyum canggung pada satu sama lain.
“Kalian kok nggak salaman sih?” komentar Fira membuat Deny buru-buru mengulurkan tangannya sembari menyebutkan namanya sendiri.
“Bima. Tapi bisa kamu panggil Bim-bim.”
“Aku Laila, tapi bisa kamu panggil Lele.”
“Eh? Lele?”
“Hehe, iya.” Ujar Laila malu. Wajahnya terlihat tersipu memerah kontas dengan kulitnya yang berwarna putih.
“Kamu bakal pindah ke sekolah kami kan Den?” tanya Fira melanjutkan. Berbeda dengan Laila yang masih malu-malu di depan Deny, Fira jauh lebih terbuka. Seolah ia dan Deny sudah berteman cukup lama. Tampilan Fira memang berbeda dibandingkan pagi tadi ketika ia memakai rok, kini gadis itu memakai celana pendek yang membuatnya terlihat seperti anak lelaki, apalagi ditambah dengan sikap yang berani. Perangai Fira yang supel membuat Deny merasa nyaman berada di dekat gadis tersebut, apalagi sebenarnya Deny cukup pemalu jika berkenalan dengan lawan jenis. Deny merasa akan sangat cocok dengan Fira.
“Iya sih. Sekolah paling deket Cuma di situ kan? Apasih namanya?”
“SMA N 2 Temayang.” Jawab Bima ikut nimbrung. Deny bisa menebak bahwa pria di depannya ini agak gemulai. Mulai dari kumpulan pertemanannya (yang isinya perempuan) dan suaranya yang lebih mirip gadis dibandingkan lelaki kebanyakan.
“Eh iya. Tapi kok nggak ada SMA N 1 nya sih?”
“Nggak tahu tuh. Kayaknya sih dulu ada, Cuma emang sedikit siswanya jadi merger.” Jawab Fira sekenanya. “Eh, tapi anehnya nomor satunya dilompatin.”
Deny tertawa kecil, menandakan kalau suasana kini sudah cair. Keempatnya kini sudah bisa bersikap lebih lepas meskipun obrolan ngalur-ngidul itu lebih banyak dilakukan oleh Deny dan Fira. Sesekali Bima dan Laila ikut ke dalamnya, namun keduanya lebih banyak mendengarkan. Bima memang tidak banyak bicara dan lebih penakut dalam bersosialisasi dibandingkan kedua teman perempuannya. Sedangkan Laila… gadis itu diam-diam menatap Deny dengan kagum. Ia senang mendengarkan Deny bicara dan suara lelaki itu seolah menyihirnya, membuat apapun yang Deny lontarkan menjadi nyanyian merdu yang memanjakan gendang telinga.
‘BRUM BRUM BRUM.’
Suara gas motor yang sengaja digeber-geberkan merusak suasana percakapan. Fira yang tiba-tiba diam dan mengerutkan dahinya membuat Deny bertanya-tanya siapa gerangan pemilik motor yang sepertinya tak disukai gadis tersebut. Deny bisa membaca kalau Laila bertukar pandangan dengan Bima yang terlihat ketakutan. Pria itu tak bisa diam, jadi ia beranjak ke depan rumah tanpa bertanya apa-apa kepada teman-teman barunya tersebut.
Terkejut, Fira berusaha menghalangi Deny keluar rumah. Belum sempat tangan gadis itu menggapai Deny, “Berisik woy!” teriak Deny dari depan pintu.
Fira melotot, sementara Laila menutup mulutnya. Bima… lelaki itu pucat pasi seperti hampir pingsan.
‘Mampus.’