Keheningan malam seolah menelan keduanya dalam pikiran masing-masing. Laila sebenarnya ingin mengajak pria di sebelahnya bicara jika saja ia tidak melihat ekspresi serius Deny yang diterangi sinar rembulan. Setelah kegelapan yang begitu memakan penglihatannya, kini mata kedua manusia yang sedang duduk dipinggir jendela sudah terbiasa. Dengan penyinaram alam yang seadanya, keduanya memperhatikan apa-apa saja yang sedang terjadi di luar rumah. Pasang mata, pasang telinga, begitu kata Deny. Tentu saja, setelah dua jam mengamati luar yang sama sekali tiada apapun, Laila merasa jengah. Dibandingkan memandangi hutan larangan, ia lebih suka memandangi pria terlarang di sebelah. Jika Laila bisa membedah apa yang Deny pikirkan malam ini, pasti ia akan lakukan. Tapi sayang, itu hanya ada di imajina

