Kebingungan

1033 Words
Duduk di ruang tamu, Deny tidak mengerti harus merasakan apa sekarang. Remaja itu masih sedih snag ayah jatuh sakit dan tidak diketahui kabarnya hingga saat ini. Tapi hatinya membuncah tak karuan karena kejadian ciuman barusan. "Apa yang terjadi?" Gumam anak lelaki itu sendirian di ruang keluarga. Fira sudah sejak tadi pulang. Ia mengatakan tak ingin dilihat orang kalau sedang membolos, jadi setelah bepagutan, ia langsing pamit melesat keluar dan meninggalkan Deny dengan pikirannya sendiri. Ah, itu bahkan bukan ciuman yang hanya sekali tempel. Deny ingat ketika di Jakarta, ia dan Rina –mantan kekasih, menonton drama korea. Ciuman yang terjadi hanyalah semacam amplop yang ditempeli prangko. Deny sempat ingin mencobanya dengan Rina jika saja teman satu bandnya tidak tiba-tiba masuk ruangan. Tadi itu betul-betul seperti ciuman. Bukan hanya bibir bertemu bibir, tapi Fira melumat bibirnya. Gadis itu duduk di pangkuan Deny dan mengalungkan lengannya ke leher Deny. Mau tak mau untuk mengimbangi, Deny meremas pinggul Fira yang kecil. Deny mengusap wajah dengan kasar. Ia kini tak tahu hubungannya dengan Fira ke depannya akan seperti apa. Setelah berciuman, tak ada pembicaraan mengenai status mereka dan Fira seolah buru-buru pulang menjauh dari Deny. s**l! Remaja itu merutuki dirinya karena malah fokus ke cinta-cintaan sementara Chandra ataupun Karina belum ada kabar sama sekali. "Fokus Den!" * Anggaplah keajaiban, anggaplah mukzizat, tapi Tuhan maha baik hari ini. Setelah luka yang begitu parahnya, darah di mana-mana, kehilangan kesadaran, dan dengan kondisi daging paha kiri yang cuil terkoyak cukup banyak, Chandra masih hidup. Suaminya masih hidup. Karina tak henti bersyukur karena meskipun sempat tersesat keluar desa, Chandra masih bernafas ketika tubuhnya diangkat ke ranjang IGD. Ia tak berhenti mengucap terima kasih pada pak lurah, Subagyo. Beliau mendampingi Chandra dan ikut mengurus administrasinya sehingga Karina bisa duduk mendampingi sang suami yang masih tidur dibantu oksigen. Tubuh lelaki itu sudah bersih dengan beberapa jahitan yang nampak jelas. Dokter bilang Chandra harus melakukan operasi malam ini untuk mengembalikan posisi kakinya yang patah. Tapi operasi ini harus menunggu satu kali dua puluh empat jam agar dokter tahu apakah kondisi Chandra stabil atau tidak. Tentu tanpa fafifu, Karina langsung setuju dan mengiyakan. Suaminya harus selamat. "Pak Bagyo terima kasih banyak." "Santai saja bu Karin. Ini tugas saya sebagai lurah." Karina menganguk pelan. "Pak Bagyo kalau mau pulang nggak papa. Saya rasa keluarga pak Bagyo menunggu di rumah juga. Ini sudah jam tiga sore." Ujar Karina. Wanita itu tahu Bagyo pasti juga kelelahan ikut mengurus suaminya. Akan lebih baik kalau pria paruh baya tersebut pulang dan beristirahat. "Wah, nggak papa bu Rina." "Jangan gitu pak, saya yang nggak enak sama bu Bagyo." Rina memotong. “Saya yang nggak enak bu sama kades kalau beliau tahu saya nggak becus njagain warga.” Ujar Subagyo. Beliau memang terlihat begitu khawatir dengan kondisi Chandra. “Apalagi pendatang. Harusnya saya lebih kuat melarang pak Chandra keluar semalam.” Keduanya terdiam. Subagyo merupakan salah satu orang yang menentang keinginan Chandra untuk ke hutan larangan pada malam jumat. Beliau bersikeras akan ada hal buruk apabila Chandra memaksa untuk melawan a*u njegog, Subagyo bahkan sampai berjanji tidak akan memproses kartu keluarga baru bila Chandra ngeyel. Namun sepertinya ultimatum tersebut kurang cukup keras, buktinya adalah Chandra yang kini terkapar tak berdaya di ranjang putih rumah sakit. “Sudahlah pak, nggak papa.” Ujar Karina sambil tersenyum lemah. “Pak Bagyo bawa saja mobilnya pulang, saya masih bakal di sini sampai lama.” “Tapi bu…” “Pak Bagyo sudah sangat membantu kok. Nanti kalau ada apa-apa insyaallah saya kabari bapak atau anak saya.” Keduanya diam lagi. Karina meliht Subagyo sedang berpikir dan menimbang-nimbang hingga akhirnya beliau memecah kesunyian. “Kalau begitu baiklah,” angguknya. “Lalu mobilnya?” “Pak Bagyo bawa saja pulang ke desa.” “Nanti bu Karin dan pak Chandra pulangnya pakai apa?” “Itu gampanglah pak. Saya bisa sewa-sewa.” Subagyo mengangguk kembali. “Kalau begitu saya kembali dulu ya bu Rina. Nanti mobilnya saya taruh depan rumah.” “Iya pak. Terima kasih banyak sekali lagi.” Setelah mengantar Subagyo sampai depan rumah sakit, Karina kembali ke kamar. Ia mendapati suminya masih di posisi yang sama. Dengna bantuan oksigen, pendeteksi jantung yang terus berbunyi putus-putus. Ada jahitan di pipi suaminya namun sama sekali tak merubah guratan yang ia kenal. Suaminya jelas masih tetap tampan dan bersahaja, dan meskipun terbaring lemah, pria yang ia kenal bertahun-tahun ini tetaplah orang terkuat yang Karina kenal. “Cepat sembuh ya mas,” bisik wanita itu pelan. ***  Setelah pulang sekolah, Bima memutuskan untuk menjenguk Deny kembali tanpa Laila. Ia memang sengaja tak mengajak gadis tersebut karena hari ini Laila sepertinya harus membantu orang tuanya bekerja di sawah. Begitu mengetuk beberapa kali, sang tuan rumah menyambut dari balik pintu dan mempersilahkan Bima duduk di sofa tamu saja karena karpet merah yang biasa mereka pakai bersama sedang dicuci. "Kok udah bersih aja Den?" Bima berbasa-basi. "Eh iya." Tergagap, Deny menggaruk tengkuknya canggung. "Cepet kan? Aku emang sat-set-sat-set orangnya." Tadi pagi, Bima mengingat kalau rumah Deny betul-betul berantakan laksana kena p****g beliung. Anak itu kelihatan stress meskipun mencoba tersenyum menyambut teman-teman yang datang dan berbela sungkawa. Berbeda dengan siang ini. Deny memang masih terlihat lelah, tapi tak seperti tadi pagi. Lebih ke arah... bingung? Bima tak ingin menebak-nebak. Mungkin Deny masih bingung karena kejadian semalam. "Gimana Den kondisi ayahmu?" Ada jeda cukup panjang yang membuat Bima merasa tak enak hati. Apa ia salah bicara? "Jujur aja aku belum tahu Bim. Belum ada kabar dari bunda." Bima mengangguk prihatin. "Ponselnya dibawa?" Deny mengiyakan dengan lemah. Sejak beberapa jam lalu ia sudah beberapa kali melakukan panggilan. Hanya tulisan memanggil dan bukan berdering yang ia dapatkan. "Bim, aku mau tanya deh..." "Ya?" "Sejak tadi aku kepikiran ini deh." "Ya?" "Hantu bisa ngelukain manusia secara fisik ya?" Bima tertegun. Ia juga sempat menanyakan hal ini sewaktu masih kecil. Namun pertanyaan itu dibungkam oleh kedua orang tuanya yang amat sangat percaya mitos. "Jujur Den aku..." "Aku nggak percaya." Deny langsung memotong sebelum Bima sempat menyelesaikan kalimat. Deny tak terima dengan kondisi ayahnya yang sekarat. Hantu anjing katanya? Hantu mana bisa melukai manusia! Pasti ada penjelasan yang lebih masuk akal dibanding cuma hantu nana nina yang tak jelas dan berbahaya kemunculannya. "Kita harus cari tau Bim!" "HAH?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD