Cerita Naya

1268 Words
Bima sama sekali tak tahu apa yang terjadi saat ini. Ia seperti kerbau yang dicocok hidungnya, mengikuti Deny ke kamar temannya itu, duduk di kursi dan ikut-ikutan melihat gambar-gambar anjing di internet. Bima lebih banyak diam dan menganggukkan kepala ketika Deny menemukan sesuatu. Ia merasa seperti i***t yang bisanya cuma merespon dengan angguk atau geleng. Tapi bahkan geleng tidak ia lakukan. Tentu saja Bima tahu cara menggunakan laptop, ia tahu bagaimana internet bekerja. Hanya saja menemukan dan mencari tahu perihal a*u njegog sama sekali tak pernah ada dalam pikirannya. Asu njegog sudah sama seperti legende, sebuah adat, sebuah mitos mendarah daging yang punya kuasa absolut atas hidup orang Temayang. Berteman dan berdampingan dengan hantu-hantu Temayang tersebut membuat Bima tak pernah sekalipun mencari tahu mengenai anjing-anjing yang tiap malam jumat pekan kedua turun ke desanya. Ia yang sejak kecil tahu a*u njegog hanya bisa menerima dan pasrah terhadap kondisi desa. Kalau bapaknya tahu, ia mungkin bisa dimarahi habis-habisan. Pantang mencari tahu mengenai hantu-hantu tersebut. Kini lihatlah. Ia malah mencari tahu perihal makhluk tak kasat mata yang sudah jadi bagian sehari-hari menggunakan internet bersama pendatang baru yang kurang dari seminggu baru berada di Temayang. Apa ini tidak apa? "Coba liat deh Bim." Deny kembali menyodorkan sebuah video gonggongan anjing kepada Bima yang kaku di kursinya. "Ini suaranya mirip sama gonggongan kemarin." Kembali, Bima menurut dan mendengarkan rekaman yang ditemukan Deny. Bima tidak merasa ada apapun yang spesial. Baginya semua suara anjing sama saja. Semua suara anjing tidak ada bedanya. Bahkan suara hantu tersebut sama seperti anjing pada umumnya. Kepala Bima jadi agak pening memikirkan ini semua. 'Ah, mbuhlah! Gak ada bedanya!' *** 'Beda!' Deny memekik kesal karena sejak tadi apa yang ia cari tak ditemukan. Ia sudah mengubek-ubek rasanya hampir separuh dari isi internet soal rekaman suara anjing. Tapi yang Deny ingin temukan, tidak kunjung nampak hilalnya. Sebut saja ini kelebihan, sebut saja ini bakat, Deny terlahir dengan telinga yang peka, lebih peka dari pendengaran orang kebanyakan. Ia bisa mendengar langkah yang mengendap, Deny bisa membedakan langkah binatang dan manusia, ia bisa membedakan bagaimana cara jalan orang A dan orang B, bahkan ia bisa mengetahui beda suara gonggongan satu dan lainnya. Dan yang ia cari adalah gonggongan yang mirip dengan semalam. Mungkin cukup gila jika didengar orang Temayang, tapi dalam beberapa kali waktu semalam kemarin, Deny mendengar bunyi gemerisik khas speaker. Jangan-jangan suara anjing-anjing itu cuma rekaman? Berangkat dari kecurigaan itu, Deny meminta Bima menemaninya untuk mencari suara yang sama seperti malam tadi. Tapi sepertinya tak ada gunanya karena Bima malah terkantuk di kursi. “Mengapa tak kunjung ketemu juga?” Deny terlalu fokus ke layar hingga tak memperhatikan sebuah suara memanggilnya dari luar. Yang pertama kali sadar adalah Bima. Lelaki yang awalnya terkantuk itu langsung bangun dengan mode siaga. “Den, ada orang tuh.” “Hah? Siapa?” “Nggak tahu. Tapi kayak kenal suaranya.” Deny melepas fokusnya dari laptop dan ikut mendengarkan dengan seksama. Ia ingat pemilik suara ini. “Naya…” desis kedua lelaki itu. *** “Wah, rumah kamu bagus ya! Aku nggak nyangka rumah terbengkalai gini bagus juga hehe.” “Nggak lebih bagus dari rumah kamu kok Nay.” Suara tawa yang begitu renyah keluar dari mulut kecil gadis bernama Naya tersebut. Kembaran Nata itu dengan santainya menelusuri rumah Deny dan memberikan komentar tak penting perihal perabot-perabot rumah yang Deny miliki. Deny melirik pada Bima yang bersembunyi di kamar Deny dan mengintip dari celah pintu. Dari mata, telepati antar keduanya seolah terjalin. “Kayak gini nih cewek yang dulu kamu suka?” “Dia sebenernya baik kok.” “Huwek.”   Dengan senyum dipaksakan, Deny meladeni tiap pertanyaan, komentar, juga kritikan tak penting yang Naya ajukan. Mana mungkin Deny mengusir putri kades yang jauh-jauh datang dari Temayang utara hanya demi mengantarkan serantang makan siang yang disiapkan oleh bu kades. “Kamu masih temenan sama Bima, Laila dan, kawannya?” tanya Naya ketika akhirnya gadis itu selesai melakukan home tour. Ketika menyebut ‘kawannya’, Deny menyadari ada nada agak sebal dan sinis yang tersirat. “Masih kok.” “Mending kamu nggak usah gaul sama mereka deh,” ujar Naya sambil menyenderkan tubuhnya ke sofa. Gadis itu kemudian menyesap teh yang suguhkan empunya rumah dengan tenang. “Kenapa?” “Mereka problematic semua.” Meskipun dongkol, Deny diam dan mendengarkan ocehan gadis tersebut. ia tak begitu ingin tahu presepsi adik dari musuhnya mengenai sahabat-sahabat baru Deny, tapi memotong gadis ini berbicara juga tidak sopan. “Tuh si Lele, orang tuanya sering banget berantem. Beberapa kali sampai lempar piring dan mau cerai.” Deny berusaha mendatarkan ekspresinya, tapi dalam kepalanya ia mencemooh kelakuan Naya yang mirip tetangga Deny di Jakarta yang merupakan tukang gossip. “Orang tua yang problematic sama sekali nggak bikin anak ikutan jadi problematic kan Nay?” Naya mengangguk, namun segera meluruskan, “Dia kasar. Beberapa kali dia ngejahatin adeknya. Dia buang anak itu ke kalen (selokan) deket hutan timur.” Agak kaget, Deny hanya mangut-mangut saja. Remaja itu tak ingin berspekulasi jauh mengenai teman barunya hanya karena cerita dari gadis yang tak akrab dengannya. “Kalo Bima… sedikit banyak kamu udah tahu kan tentang Bima?” Lagi, Deny hanya menganggukkan kepala seperti robot. “Aku sama sekali nggak masalah ditembak sama Bima. Bagiku dia lelaki yang baik meskipun rada melambai juga.” Ujar Naya agak sedih. “Tapi…” “Kenapa Nay?” entah mengapa, Deny malah jadi ikut tertarik mendengarkan sudut pandang Naya. “Waktu Bima nembak, satu sekolah ngeliatin. Kakak kelas, guru-guru, semua orang ikut lihat. Jujur sja aku nggak nyaman.” Naya menghela nafas berat. “Setelah kutolak, Bima menangis habis-habisan. Dia mogok makan, nggak masuk sekolah, dia patah hati. Tapi aku kan nggak salah. Maksudnya… aku kan nggak mungkin harus nerima Bima jadi pacarku kalau aku hanya menganggap Bima teman kan?” Deny mengangguk setuju, diam-diam ia melirik ke dalam kamar dan tak mendapati Bima yang sedang mengintip. Tapi jelas, Deny yakin Bima ikut mendengarkan. “Semua orang di sekolah nyalahin aku karena bikin Bima nangis. Beberapa guru juga ikut campur nyuruh aku nerima Bima atau seenggaknya pura-pura pacaran sebentar supaya Bima nggak malu di depan umum. Jujur aja Den, aku stress banget waktu itu.” Naya mengangkat kaki ke sofa dan memeluk lutut dan menenggelamkan kepalanya. “Bima baik, itu jelas. Tapi dengan tingkah dia yang seperti itu, semua orang menyalahkan aku dan membuat aku jadi pemeran antagonis. Lama-lama aku dibully, dituduh, dan dijauhi. Untung ada mas Nata.” Deny mengrinyit mendengar nama tersebut. Selama beberapa saat tadi, ia lupa kalau gadis yang sedang bercerita di sebelahnya adalah adik kembar dari Nata, musuh barunya di Temayang. “Sebelum gibahan dan hinaan itu beneran jadi tindakan fisik, mas Nata bertindak dengan ngancem semua orang, termasuk Bima. Cara mas Nata jelas salah, tapi dengan begitu nggak ada yang berani ganggu aku di sekolah.” Senyum Naya. “Tapi kurasa soal Bima mas Nata keterusan sih.” “Kenapa kamu nggak pernah ngasih tau untuk berhenti sih?” kali ini Deny membalas dengan agak dongkol. Alasan seperti apapun tidak menjadikan k*******n sebagai sesuatu yang dinormalisasi. “Berkali-kali Den,” Bela Naya. “Aku dah ngasih tau dia, ayah, ibu, bahkan aku ngancem mogok bicara kalau dia masih ngejahatin Bima. Tapi kurasa kakakku itu bebal. Apalagi semenjak Fira gabung sama Bima. Makin jadi itu mas Nata.” Deny kembali diam mendengarkan nama Fira disebut-sebut dalam percakapan. “Kamu… mau cerita soal Fira?” tanya Deny berhati-hati. Naya menatap mata Deny dalam dan seolah mengerti sesuatu, gadis itu mengangguk. “Mungkin ceritaku bakal bias. Mungkin kamu akan nganggep aku bohong, tapi dengarkan aku sampai selesai ya.” Deny menangguk antusias. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD