Bima dan Deny terdiam duduk di sofa ruang tengah setelah kepergian Naya. Keduanya duduk bersebelahan menatap layar TV yang tadi siang baru saja Deny pasang bersama Fira. Remaja itu teringat bagaimana Fira tersenyum dan menggelitikinya kala membersihkan ruangan. Apa semua itu juga cuma dusta?
“Emang cerita Naya bener ya Bim?”
Bima yang sedari tadi terpekur, menatap Deny. “Yang mana?”
“Semuanya.”
dan menggeleng lemah. “Nggak tahu Den.”
Keduanya kembali bergulat dengan pikiran masing-masing, meninggalkan tayangan gosip yang menampilkan seorang aktor ibu kota yang tengah kepergok selingkuh oleh sang istri. Istri yang juga seorang penyanyi tersebut membawa beragam reporter dan menjebol kamar yang dipesan sang suami dan selingkuhan.
‘Memangnya bisa ya ngelabrak bawa reporter?’ pikir Deny. Adegan kini menunjukkan sang istri yang tengah menjambak si perempuan simpanan. Begitu heboh, begitu ribut, dan… entahlah Deny merasa ikut malu sendiri. Apa memang perlu satu Indonesia mengetahui masalah rumah tangga selebritas ini?
“Aku nggak pernah tahu Naya tertekan banget setelah pernyataan cintaku dulu.”
Deny menatap sahabatnya dan mendengarkan seksama. “Maksudku Den… aku pikit Cuma aku yang menderita karena Nata nggak suka Naya kusukai. Ternyata dia nggak suka adiknya jadi bulan-bulanan satu sekolah.”
Deny bisa mendengar penyesalan dari perkataan Bima. Bima menunduk dan terlihat sedih menyadari kalau gadis yang sampai saat ini masih diam-diam ia sukai pernah tersakiti karena tindakannya. Dan bodohnya, Pria itu tak menyadari hal tersebut.
Keduanya kembali hening dan lagi-lagi TV yang menjadi pengisi kediaman dua pria yang tak bergeming tersebut.
“Den, udah mulai sore nih. Kayaknya aku pulang dulu aja ya.”
Deny mengangguk tanpa menjawab sepatah kata. Keduanya beranjak dari sofa dan menuju keluar. Setelah melakukan tos, Deny menatap kepergian Bima yang terlihat agak gontai. Yah, kalau dapat kabar seperti itu soal sahabat yang ia percayai, Deny juga akan lemas sih…
Sekarang saja sudah lemas.
Deny kembali masuk ke dalam rumah dan masuk ke kamarnya. Tak lupa, ia mengunci semua jendela dan pintu-pintu rumah terlebih dahulu. Ia tak ingin kejadian seperti a*u njegog kemarin terulang kembali. Dan meskipun lelaki itu tahu bahwa a*u njegog hanya datang di malam jumat pekan kedua, kejadian tersebut membuatnya trauma berat. Seandainya waktu itu Karina tidak mengajaknya ke ruang baca dan mereka hanya duduk-duduk di ruang tengah, pasti kemarin Deny dan Karina tidak selamat.
Dalam kamarnya, Deny kembali merenung soal perkataan Naya tadi,
“Fira dan aku sejak kecil nggak pernah akur. Sejak kecil kami bersaing dari mulai nilai, popularitas, kecantikan, apapun itu. Aku nggak sadar sejak kapan persaingan kami nggak sehat. Tapi setiap kali ada sesuatu yang kusukai, Fira akan.. ngerebut? Aku nggak tahu kata-kata tepatnya. Tapi jelas Fira selalu menaruh mata pada hal-hal yang kusenangi…
… Fira nggak pernah suka sama Nata. Dia macarin kakakku cuma buat bikin aku sebel dan emosi. Selama pacaran sama mas Nata, Fira berusaha bikin kami terus berantem. Sampai akhirnya mereka putus dan dia milih temenan sama orang yang bikin aku susah ya karena… mungkin Fira sebenci itu sama aku.”
Deny memang belum yakin secara pasti apakah cerita barusan memang betul atau tidak. yang ia tahu bahwa memang kenyataannya hubungan Fira dan Naya tidak baik, dan Fira memang pernah menjadi kekasih Nata. Dan hal yang paling membuat Deny semakin bingung adalah perkataan Naya dirinya,
“Aku nggak tahu apakah Fira udah bergerak ngedeketin kamu atau belum. Kalau belum syukurlah berarti ceritaku di atas Cuma bohongan. Tapi kalo udah… kamu ingetkan di sekolah aku sempat nggodain kamu? Itu Cuma bercandaan sebenernya hehe…
Tapi, seandainya tiba-tiba Fira ngedeketin kamu, mungkin… itu juga karena persaingan kami. Aku harap kamu nggak terlalu berharap sama Fira.”
Ya. Ia harusnya tak berharap pada Fira. Fira adalah teman sejak awal dan harusnya Deny tetap mempertahankan status tersebut. Gadis itu bahkan tak mengatakan apapun setelah menciumnya. Seolah ciuman yang terjadi tadi adalah sesuatu yang sekali lewat saja. Jadi sekarang mereka apa? Teman? Tapi bukankah teman tidak saling mencium? Lalu apa? Mereka sekarang ini apa? Mungkin benar kata Naya, bahwa Fira hanya merasa perlu ‘menang’ dari Naya.
Tapi… apa betul Fira seperti itu?
Deny harusnya tidak perlu sepening ini jika saja ia tak berciuman dengan Fira tadi.
‘Tidur saja ah!’
***
“Kamu tuh dari mana aja sih Den, kok nggak ngangkat telepon?”
“Tidur bun.” Ujar Deny masih lemas. “Ayah gimana?”
“Masih belum stabil. Harus nunggu dua puluh empat jam dulu untuk tahu kondisi selanjutnya.”
“Oh… bunda sudah makan?”
“Ini barusan makan, mau balik ke ruangan ayah. kamu sudah makan?”
“Belum. Nanti Deny masak telur aja.” Deny tiba-tiba teringat sesuatu. “Oiya bun, tadi Naya ke rumah ngasih makanan, nanti makan itu aja deh.”
“Naya siapa?”
“Anaknya pak kades.”
“Oh, yang kembar itu ya? Yang perempuan ya?”
“Iya.” Jawab Deny.
“Suka kamu kali.”
“Jangan ngada-ngada deh bun.”
Karina terdengar terkikik dari seberang telepon. “Jangan lupa bilang makasih sama pak kades atau bu kades.”
“Yoi.”
“Yaudah. Jaga rumah ya, besok masuk sekolah. Jangan bolos kelamaan.”
“Iya.” Deny berjalan menuju dapur. “Deny besok boleh ke rumah sakit?”
“Boleh, tapi kamu mau naik apa?”
“Pakai mobil. Kan aku bisa nyetir.”
“Nggak, besok coba bunda minta tolong pak lurah lagi aja. Sekalian jemput kamu aja. Mobilnya kan prkir di depan rumah dia. Kamu belum ada SIM.”
“Yaelah bun…”
Obrolan itu terus berlanjut sembari Deny berjalan ke sekeliling ruangan dan menghidupkan lampu-lampu yang ia butuhkan. Rumah terasa sepi tanpa kehadiran ayah dan bundanya. Meskipun ia masih bicara dengan Karina lewat sambungan HP, tapi tetap tak sama rasanya dengan merasakan kehadiran manusia.
Tak terasa Deny telah tertidur sampai malam hari. Di luar gelap sudah jadi raja, tak ada suara berarti kecuali jangkrik dan katak yang bernyanyi. Lelaki itu duduk dan memikirkan banyak hal yang terjadi hari ini: ayahnya, kecurigaannya soal a*u njegog, soal Fira dan Naya.
Rasanya ada banyak hal yang ingin ia lakukan untuk mengurangi masalah dan rasa penasaran tersebut, tapi di saat yang sama… rasanya tidak ada yang benar-benar bisa Deny lakukan.
Malam semakin larut dan Deny hanya bisa tepekur di depan televisi menatapi film aksi yang ditayangkan tramTV. Tangannya menggenggam piring kosong, masakan dari bu kades sudah ia makan habis. Ia bersyukur karena tak perlu masak malam ini. Semoga besok pagi ada yang mengirimkan makanan lagi
‘Mungkin Fira.’
Pemikiran itu segera ditepisnya.
Tapi meskipun coba menghilangkan Fira dari ingatannya, Deny terus-terusan mengingat cerita Naya. Jam sepuluh malam dan pikirannya masih belum berhenti berlari.
“Yang ini harus kuselesaikan.”
Lewat sepuluh, sebuah pesan balasan dari Fira sampai di ponselnya.
…
Kalau kamu nggak masalah pergi jam segini, aku juga nggak masalah. Kita ketemu di bawah lampu jalan depan lapangan ya
…
Segera, Deny megenakan jaket, sebuah tas, pisau –untuk jaga-jaga bila ada sesuatu di jalan, dan senter ----karena jalanan menuju lapangan agak gelap. Sandal jepit hitam kesayangan menjadi alasnya malam ini. Udara terasa tidak begitu dingin atau mungkin Deny sudah terbiasa dengan suhu pegunungan Temayang, Deny juga tidak tahu. Yang jelas, hari ini, ia ingin sebuah kejelasan.
Kejelasan dari gadis yang telah mengambil hatinya tanpa disadari dan membuatnya pusing bukan kepalang.