Udara jadi agak dingin, membuat Deny mengetatkan lagi jaketnya malam ini. Agak menyesal barusan ia menyatakan sudah terbiasa dengan kondisi suhu Temayang, ternyata belum. Rumahnya mungkin yang sudah terlalu hangat sehingga Deny bisa berkata begitu.
Tak ada yang keluar malam ini kecuali dua bapak-bapak yang mengenakan sarung dan akan pergi ke arah pos ronda. Deny sengaja bersembunyi di balik bayang malam sehingga dua orang itu tak menyapanya dan bertanya mengapa ia pergi selarut ini. Larut? Di Jakarta bahkan jam segini ia baru akan pergi ke destinasi kedua. Apa semingguan di Temayang sudah membuatnya jadi kolot? Deny tertawa mendengarkan pertanyaannya sendiri.
Jalanan menuju lapangan cuma memiliki tiga buah lampu jalan, satu dipasang sendiri oleh warga, dan dua dipasangkan oleh pemerintah. Dibandingkan dengan sekolah, ke arah lapangan sudah jelas lebih jauh. Tempat ini berada di tengah dan lebih dekat dari rumah Laila dan Fira. Jujur saja, karena sudah tak ada rumah warga ketika menuju lapangan, Deny merasa sedikit takut menyusuri jalan gelap. Tapi terserahlah, ia perlu menyelesaikan pertanyaan dalam kepalanya.
Deny berbelok dan dari kejauhan, lelaki itu bisa melihat siluet gadis mungil yang bersandar pada tiang lampu jalanan. Gadis itu terlihat rileks dan tak menunjukkan ketakutan sama sekali dengan kondisi malam yang gelap begini. Semakin dekat, Deny makin jelas melihat rambut pendek Fira yang rapi meskipun tanpa disisir, hoodie kebesaran yang ia pakai, dan celana kargo yang makin menenggelamkan tubuh mini tersebut.
‘Cantik…’
Fira yang menyadari kehadiran Deny melambaikan tangan dan meminta Deny mendekat. Senyum dengan lesung pipit khas yang cuma sebelah nangkring di wajah Fira dan hati Deny berdesir dibuatnya.
“Di sini aja?” tanya Deny ketika sampai.
“Nggak, duduk di sana aja yuk? Kalau di sini, aku takut keliatan orang. Nanti kita dikira lagi mesum.” Fira berujar menggandeng Deny dengan segera tanpa menunggu persetujuan dari empunya tubuh. Deny hanya bisa berjalan mengekor di belakang dengan hati yang agak berdebar.
Deny tahu mereka sedang jalan menuju bangku bawah pohon jati di pojok lapangan. Tempat ini tak terlalu jauh dari lampu jalan, namun cahaya tetap tak dapat menjangkau dan memperlihatkan sosok tubuh mereka jikalau ada seseorang yang kebetulan melintas. Tapi memang siapa yang mau melintas malam-malam begini.
“Nggak basah,” ujar Fira setelah meraba bangku bamboo yang sekiranya akan ia duduki. Deny mengikuti duduk di sebelah Fira. Gadis itu terlihat tenang seolah ciuman mereka tadi siang sama sekali bukan apa-apa. Jangan-jangan memang menurut Fira itu bukan sesuatu yang ’apa-apa’?
“Jadi… mau ngomongin apa?” Fira tiba-tiba bertanya.
Blank. Deny sama sekali hilang ingatan soal topic yang akan ia katakan pada Fira. Berdua seperti ini di tempat sepi membuat Deny panik sendiri. ia masih diam sambil berusaha menenangkan hatinya, otaknya kembali mengingat-ingat apa yang sekiranya sudah persiapkan tadi di rumah.
“Den?”
“Ya?”
"Kamu nggak papa? Kedinginan po?" Tanya Fira khawatir. Gelap, jadi Deny tak bisa melihat ekspresi maupun kekhawatiran dari mata gadis di sebelahnya. Tapi secara tiba-tiba, Fira bergerak mendekat ke arahnya. Mendempetkan tubuh keduanya yang membuat jantung remaja pria itu melonjak tiba-tiba.
"Biar hangat." Fira berujar sambil terkekeh.
Bukan hanya tubuhnya yang menghangat, hati Deny juga. Lelaki tersebut tersenyum dan menikmati keadaan sebelum lagi-lagi gadis di sebelahnya memecah keheningan.
"Jadi… apa?"
Deny hening sejenak sebelum melanjutkan, "Fir... aku ngerasa norak."
"Kenapa?"
"Kamu kelihatannya biasa aja kayak gini, sedangkan aku udah deg-degan.
“Menurut nggak norak kok Den. Soalnya aku juga ngerasain yang sama?” ujar Fira terdengar tenang. Deny terkekeh karena makin tersipu. Entah siapa yang memulai, tangan mereka bergandengan.
“Fir, kita nih… apa?”
Fira menolehkan kepalanya dan menatap pria di sebelahnya yang sudah lebih dulu menatapnya. Lalu gadis itu menggelengkan kepala.
“Aku nggak tahu.” Fira memandang depan kembali. “Kamu maunya apa?”
Deny tersenyum kecut mendengar penuturan Fira dan menggumamkan, “aku juga nggak tahu.”
Jujur, Deny mengharapkan jawaban yang lebih baik dari sekadar ‘tidak tahu’. Tapi toh sebenarnya lelaki itu juga tidak tahu mau diapakan hubungan ini. Deny mungkin mengharapkan komitmen seperti ‘pacaran’, tapi ternyata ketika dihadapkan dengan jawaban Fira barusan, keberanian yang ia miliki jadi putar balik.
Keduanya diam namun jelas pikiran mereka berjalan-jalan tak tentu arah berusaha menemukan jawaban yang sekiranya akan menyenangkan hati satu sama lain.
“Apa kita tetep temenan aja?” tanya Deny. Giliran Fira yang kini terkaget oleh putusan Deny yang begitu cepat dan gadis itu lebih kaget lagi karena reaksinya –menggeleng datang lebih cepat lagi.
“Den, jujur aku suka kamu. Aku serius.” Deny bisa merasakan remasan Fira pada genggaman mereka. Ia masih menunggu gadis di sebelahnya melanjutkan lagi. “Tapi Den… aku ngerasa ini terlalu cepat. Aku nggak tahu ini c*m sekelebat, Cuma haha-hihi sementara doing, atau… aku beneran nggak tahu dan aku takut.”
“Aku lebih takut sama kelakuanmu.” Ucap Deny. Selorohan itu tentu mendapat geplakan dari gadis sampingnya.
“Lagi serius juga!” Fira kesal. “Ngacauin suasana aja!”
“Sorry.” Deny tersenyum jahil. “Lanjutin dong.”
“Ogah.” Fira ternyata betulan marah. “Dah ah, mau balik.” Fira berdiri dari kursi yang segera ditarik duduk kembali oleh Deny.
“Jangan marah dong.”
“Habisnya kamu sih!” lagi-lagi Deny mendapatkan geplakan ringan dari gadis tersebut. Tentu saja tidak sakit, tapi Deny pura-pura mengaduh untuk mendapatkan simpati gadisnya. Tentu saja Fira yang tahu Deny berbohong makin mencubiti lelaki itu. Deny yang tak terima juga ikut cubit balas dengan gemas. Keduanya kemudian tertawa tertahan karena takut digrebek warga.
“Eh, serius… terus Fira maunya gimana?”
Fira menggeleng, masih sama jawabannya dengan tadi, tidak tahu. Tapi kali ini Deny merasa tidak terlalu kecewa.
"Kalau nggak usah pakai sebutan boleh nggak sih Den?"
Keduanya bertatapan dengan serius. Pada akhirnya Deny mengangguk tanda setuju pada status dan kondisi hubungan mereka saat ini.
Lelaki itu sudah tak peduli lagi soal apa yang diceritakan Naya tadi siang karena lihatlah, perasaan gadis di sampingnya ternyata hal yang lebih penting. Ia tak perlu bertanya-tanya karena saat ini berada dekat dengan gadis di sebelahnya sudah membuat Deny merasa tenang. Ia tak butuh memikirkan pendapat orang lain lagi.
“Pulang yuk.”
Pada akhirnya dua manusia itu kembali ke rumah masing-masing. Deny mengingat malam itu sampai kapanpun. Tangan mereka lekat, tak terpisah meskipun harus menghindar beberapa bapak-bapak yang sepertinya baru akan berangkat ke pos ronda. Keduanya bergandengan terus sampai akhirnya Deny membalikan Fira ke rumahnya pukul setengah dua belas.
Gadis itu masuk rumah melalui jendela kamar yang tentu saja membuat Deny menahan tawa.