“Den, kok udah msuk aja?”
“Eh Den, turut berduka ya!”
“Deny nggak mau libur lagi aja?”
Entah sudah berapa pertanyaan nangkring dari teman-teman sekelasny dan para guru ketika Deny menampakkan batang hidungnya di sekolah. Ayahnya memang sakit dan habis terkena musibah, tapi bukan berarti Deny bisa juga ikut kena musibah kan? Remaja itu Cuma bis nyengir dan menjawab seadanya ketika ditanya-tanya.
Sialnya hari ini Deny memutuskan untuk berangkat pagi. Biasanya ada Karina dan Chandra yang memastikan Deny tak terlambat meskipun ia berangkat di menit terakhir. Tapi karena kedua orang tuanya sedang tak bisa Deny gantungkan, maka Deny dengan inisiatifnya, bangun dan berangkat sepagi yang ia bisa. Tapi sungguh menyebalkan ketika semua orang yang datang ke kelas langsung menuju mejamu dan menyatakan bela sungkawa serta menanyakan hal yang sama. “Kok dah masuk sekolah, sih?”
‘Memangnya kenapa hah?’ ingin rasanya Deny berteriak di wajah mereka satu-persatu. Lagi pula bukannya kemarin mereka sudah ke rumah dan menyampaikan bela sungkawa? Kenapa hari ini lagi? Tangan Deny dan wajah Deny sudah pegal karena sepagi ini harus bersalaman dengan senyum yang dipaksakan. Lama-lama, perasaan Deny masam juga. Meskipun ia sedang sedih karena ayahnya sakit, tapi remaja itu agak menyalahkan Chandra.
‘Coba kalau kemarin maljum ayah nggak pergi keluar,’ pikir Deny.
“Deny!”
“Eh! Apa?”
“Kamu ngapain ngelamun?” Deny menatap Laila yang sudah berada di depannya. Gadis itu selalu berangkat dengan seragam kelewat rapi menurut Deny. Ia tidak tahu bagaimana cara Laila menyetrika hingga garis tekukan di belahan rok SMA begitu jelas tercetak. Sangat mengagumkan.
“Udah sejak kapan kamu di depanku?”
“Aku dah manggil kamu dari tadi,” balas Laila. Gadis itu mengambil duduk di sebelah Deny. “Aku perhatiin dari tadi kamu asem terus mukanya disalamin sama orang-orang.”
“Iya nih Le.”
“Mau aku temenin ngobrol biar nggak diajak ngomong yang lain?” tawar Laila. “Mumpung Bim-bim belum dateng.”
Deny mengangguk antusias. Di antara ketiga kawan barunya, Deny paling tidak akrab dengan Laila. Mungkin karena gadis ini pemalu, mungkin juga karena memang Deny ogah ambil bagian untuk mengetahui seperti apa Laila karena ia sudah klop dengan Bima dan Fira. Diam-diam lelaki itu menyesal juga.
“Kamu ada sesuatu yang mau ditanyain nggak? Kalo ada nanti aku jawab.”
Deny berpikir sejenak, “Kamu suka musik apa?”
Laila tertawa, memperlihatkan gigi gingsul yang tersembunyi agak ke atas.”Aku kira kamu mau tanya soal Fira dan Naya.”
“Hah?”
“Kemarin Bim-bim ngechat aku soal Naya yang ke rumahmu. Jadi sedikit banyak aku tahu,” jawab Laila sembari tersenyum. “Tapi kita bicarain musik aja. Aku kebetulan suka banget sama band western, aku juga suka kpop, terus sama… apa ya?”
“Kalo western kamu suka apa?”
“Aku suka banget sama musiknya Kodaline.”
“Serius? Aku juga suka mereka. Waktu dulu ngeband, aku suka banget bawain lagu mereka.”
“Eh, kamu ikut band? By the way, aku bisa main gitar loh.”
Keduanya terlarut asyik dalam obrolan hingga tak menyadari kalau Bima dan Fira sudah ada di depan mereka dengan wajah kecutnya. Bima karena tak bisa duduk dan Fira tentu saja karena…
“Asyik banget bos.” Fira berujar, memotong obrolan seru keduanya soal music. Sementara Laila tersenyum pada keduanya dan langsung memindahkan diri supaya Bima bisa duduk, Deny dan Fira saling tatap-tatapan seolah berkomunikasi, “habis ngapain?”, “nggak ngapa-ngaapin!”
Mereka berempat berpisah tempat ketika bel berbunyi. Tapi Deny masih bingung karena Fira hanya menatapinya dengan sengit. Sementara itu tanpa mereka sadari di bangku belakang, seorang gadis dengan rambut panjang sedang menatap bibit drama yang terjadi di hadapannya dengan ekspresi tak terbaca.
***
“Deny Amadeo Wiguna, ikut ibu keluar sebentar ya.”
Deny berdiri dan mengikuti seorang guru biologi, Bu Rasti, yang berjalan ke arah bangku di sebelah pintu kelas. Sejujurnya Deny bingung untuk apa ia dipanggil karena selama ini ia merasa tak pernah terkena masalah cukup serius. ‘Apa karena pertengkarannya dengan Nata?’ pikir Deny. Deny ikut menaruh pantatnya ketika Rasti mempersilahkannya untuk duduk.
“Jadi begini Den.” Rsti berbicara berhati-hati. “Tadi sekolah dapat telepon kurang enak dari pak lurah,” entah mengapa jantung Deny rasanya sudah jatuh ke bawah ketika mendengar berita ini. Firasat Deny mengatakan sesuatu yang tidak baik sedang terjadi.
“Katanya kondisi ayah kamu ngedrop, jadi Deny diminta ke rumah sakit. Pak Lurah sudah duluan ke sana, jadi Deny nanti diantar pak bon ya.”
Deny mengangguk, segera ia masuk ke dalam kelas lagi dan mengambil tasnya. Rasanya lelaki itu ingin menangis, tapi semua ia tahan karena pertama, malu. Kedua, menangis saat ini tidak ada gunanya. Ia akan lebih berguna apabila bisa berada di dekat sang ayah dan ibunda.
Ketika keluar kelas, pak bon sudah bersiap dengan motor supra yang biasa ia bawa ngarit sehari-hari. Deny agak ragu naik karena motor itu terlihat terlalu tua dan ringkih untuk dinaiki dua orang. Tapi persetanlah! Motor itu biasa ngankut jerami, rumput, dan gabah, pasti kalau ngangkut orang, nggak apa-apa.
“Maaf ya le, ini motornya jelek.” Ujar pak bon malu.
Deny mengangguk. Ia tak punya kekuatan untuk menjawab lagi karena kalut yang ia pendam sendiri di dalam hati.
Keduanya melaju, meninggalkan sekolah, melewati rumah Deny, dan keluar dari desa.
“Semoga ayah tidak apa-apa.”
***
Di rumah sakit, hal pertama yang Deny perhatikan adalah bagaimana dirinya betul-betul tak suka bau yang menguar. Ia benci masuk rumah sakit karena hidungnya tak terbiasa dengan aroma pembersih lantai dan entah apalagi itu yang menyabar rata ke seluruh penjuru. Ketika memasuki bangsal ayahnya, Deny bisa melihat Karina menangis tersedu-sedu. Ah, satu lagi yng Deny tak suka dari rumah sakit, orang menangis sedih.
Padahal kemarin Karina baik-baik saja ketika pergi dengan Chandra yang bersimbah darah. Tapi kini lihtlah, wanita itu baru menunjukkan tangisnya yang cukup keras. Sementara itu Deny juga bisa melihat siluet yang ia kenali sebagai pak lurah. Beliau datang lebih dulu, bahkan datang pagi-pagi saat Deny sedang akan bersekolah.
‘Benar-benar baik pada warga,’ pikir Deny.
Ketika mendekat, Karina langsung menhambur memeluk anak semata wayangnya. Deny mau tak mau akhirnya memecahkan tangisny juga. Ia sedih melihat sang bunda begitu terterkan dan sedih begini. Meskipun ia belum tahu kondisi sang ayah, tapi melihat Karina yang menangis sedu sedan membuatnya tahu, bahwa kabar apapun yang nanti ia terima, hal tersebut akan membuat Deny terluka.
“Den… ayah komplikasi. Lukanya harus dibuka dan… ayah kayaknya kena rabies.”