Setelah tangisan panjang yang Deny tak ingat berapa lama, ketenangan akhirnya datang menghampiri ruangan. Subagyo dan pak bon sudah pulang sejak tadi, menggunakan mobil avansa sebagai transportasi mobilenya. Remaja itu tadinya diajak untuk ikut pulang bersama, tapi Deny memutuskan untuk tinggal lebih lama dan mungkin membolos untuk keesokan harinya.
Deny menatap sang ayah dengan wajah sendu. Karina sudah tertidur di sofa, meninggalkan Deny yang sendirian berjaga duduk di samping kasur Chandra yang seolah tertidur lelap dengan bantuan oksigen. Tiada darah lagi seperti terakhir kali Deny melihat sang ayah, luka-luka di sekitar wajah sudah dibalut dengan kapas kasa dan dibebat perban. Tapi luka di kakinya, di paha yang sangat besar dan menganga, mengalami infeksi dan komplikasi –tentu saja akan ada kemungkinan amputasi untuk hal tersebut. Deny tak tahu mengapa bisa infeksi begitu begitu, padahal Chandra sama sekali belum terbangun dari tidurnya sejak kemarin, jadi tentu saja pria itu tak bisa bergerak kemana-mana. Ia punya dua teori: dokter yang menangani tidak becus sehingga sisa luka yang kotor tidak tertangani dengan baik; atau… ada yang sengaja mengutak-atik luka ayahnya dan memaparkan bakteri atau kuman.
Tentu saja lebih masuk akal pilihan pertama bukan? jadi Deny lebih percaya bahwa penanganan ayahnya ada yang salah di awal. Ah… rasanya Deny ingin memindahkan Chandra ke rumah sakit yang lebih besar dan lengkap seperti di Jakarta.
Tapi entah mengapa Deny tak bisa melenyapkan perasaan curiga bahwa memang ada yang sengja membut ayahnya jatuh sakit. Dan… rabies? Dokter emang mengatakan bahwa ada kemungkinan ayahnya terkena. Tapi itu belum pasti. Karina memang kalut dan memberikan informasi agak menyimpang, tapi memang hal tersebut penting juga sih.
Menggelengkan kepala, Deny kemudian beranjak dari kasur ayahnya ke luar ruangan untuk menyegarkan pikiran. Kakinya melangkah tak tentu arah, sementara itu matanya melihat ke sekitar.
Orang sakit, petugas kebersihan,, suster, sebuah kasur dengan roda, dan taman hijau –tempat Deny memutuskan duduk dan berhenti. Ia memilih duduk di ayunan. Masa bodoh dengan pandangan orang-orang soal anak SMA berseragam yang masih ikut mainan anak kecil.
Taman ini berada di tengah rumah sakit dan memang sangat luas hampir seperti lapangan Temayang, tempat ia dan Fira bertemu kemarin. Oiya, ia belum menyelesaikan masalah dengan gadis tersebut.
Deny mengambil ponselnya, berniat memberi tahu Fira kemana kepergiannya tadi di tengah kelas. Ia juga ingin memberi tahu Bima dan Laila. Tapi alih-alih membukan whasap, Deny memutuskan untuk membuka search engine.
r-a-b-i-e-s
Remaja itu dengan seksama mencari tahu mengenai penyakit tersebut. Ayahnya cukup beruntung karena rumah sakit yang tidak jauh dari sini memiliki persediaan vaksin rabies. Rumah sakit ini kehabisan vaksin rabies dan harus menunggu persediaan dari supplier. Sehingga Chandra bisa dibilang mujur karena dapat menerima penanganan sebelum gejala rabies muncul –jika memang ayahnya terinfeksi. Vaksin tersebut lumayan mahal, dan meskipun sebagai bentuk pencegahan karena Chandra belum tentu terinfeksi, Karina masih terus merasakan cemas dan Deny masih terus menenangkan Karina.
Lebih dari itu, yang sejak tadi remaja itu pikirkan adalah, memangnya hantu bisa menyebabkan rabies? Deny sama sekali tak mengerti kenapa kumpulan setan anjing itu bisa menyebabkan ayahnya terluka sebegininya, dan… rabies? Ada sesuatu yang tidak benar di sini. Ia memang cukup takut dengan hantu-hantu tersebut, tapi bagaimana jika ayahnya betul?
Tidak ada hantu.
Ada yang aneh…
Deny terpekur cukup lama sambil mengayunkan tempat duduknya. Ia baru tersadar ketika ada seorang bapak yang meminta izin Deny untuk menggunakan ayunan yang digunakan Deny. Tentu di sebelahnya ada seorang anak perempuan yang merengek minta mainan tersebut. Deny tersenyum dan mengalah, memberikan ayunan yang ia pakai untuk digunakan bocah tersebut.
Ia kembali ke kamar sang ayah dengan segudang pertanyaan yang masih melingkupu pikirannya.
***
Remaja lelaki itu tak jadi menginap di rumah sakit. Ibunya mengatakan kalau Deny harus tetap mementingkan pendidikannya. Jadi ia memutuskan –lebih tepatnya disuruh untuk pulang ke Temayang menggunakan ojek yang sungguh meminta bayaran sangat mahal agar bisa masuk ke kampung tersebut. Tapi harga itu termasuk rasional jika mengingat jarak tempuh serta kondisi jalanan yang bergeronjal dan hari yang mulai petang.
Sekembalinya dari rumah sakit, Deny menuju komputernya. Ini baru lepas magrib, jadi ia masih punya waktu panjang untuk melakukan banyak hal termasuk mencari tahu lebih jauh soal virus rabies. Dengan kemampuan berbahasa inggrisnya yang di atas rata-rata, bukan masalah besar bagi Deny untuk membaca artikel dari berbagai media asing maupun jurnal-jurnal internasional. Keluarga ini memang membiasakan Deny banyak membaca sejak kecil, bahkan Chandra lebih sering mengenalkan Deny pada jurnal-jurnal ilmiah yang ia langgan sejak lama alih- alih buku cerita anak-anak.
Setelah penelitian yang lumayan memakan waktu, Deny menyadari bahwa sangat tidak mungkin virus rabies ditularkan dari hantu. Kesimpulan yang ia dapatkan setelah mencari berjam-jam padahal sebenarnya jika dilogika, memang tidak mungkin hantu bisa punya virus dalam tubuhnya. meskipun itu hantu anjing. Bahkan berdasar penuturan paranormal yang ia lihat di yutup, hantu tidak bisa melukai fisik manusia sebegitunya. Ya memang sejak awal harusnya Deny tetap skepris terhadap a*u njegog.
Seperti ayahnya.
Setelah mematikan computer, Deny melangkah ke kamar. Ia sebenarnya lebih nyaman menginap di rumah sakit karena ia tak akan merasa sepi seperti ini. Apa boleh buat, Karina yang meminta, maka Deny tak punya banyak pilihan. Selain itu… Deny sungguh malas masuk sekolah. Ia ingin membolos saja besok. Ia bisa meminta izin ke sekolah dengan alasan menjaga ayah, selain itu sepertiny tidak ada seorangpun di Temayang yang menyadari bahwa ia sudah pulang ke rumah. Yah… paling penting dari itu semua, semoga tidak ketahuan Karina.
Mata remaja itu makin lama semakin berat, ia merasa mengantuk.
‘Kalau besok ia mengajak kencan Fira, apa dia mau ya?’
Dalam kantuknya, Deny mengirimkan pesan manis pada gadisnya, berharap kalau masalah mereka di sekolah tadi pagi sudah Fira lupakan. Seharian ini ia memang belum mengabari siapapun. Meskipun whasapnya beberapa kali menunjukkan pesan, namun ia sama sekali tak membuka kotak percakapan. Semoga Fira tak semakin marah karena Deny tak mengabari.
…
Fir, maaf baru ngabari. Aku tadi habis dari rumah sakit. Semoga kamu enggak marah ya. Aku kangen kamu hehehe
…
Sementara itu, di seberang, gadis yang menerima pesan merasa begitu sedih. Ia tersenyum getir karena dugaannya betul. Orang yang ia sukai menyukai orang lain.
Malam itu, Laila menangis dalam kamarnya.