Bab 2. Kejutan

1332 Words
“Ta-tapi ..., bagaimana mungkin? Papa bekerja keras membangun semuanya dan dalam keadaan sulit, dia tetap tidak berhenti berusaha mengatasi semua masalahnya. Apa yang terjadi?” Chiara meratap, berharap lantai di bawah kakinya terbuka lebar dan menelannya saat itu juga. Tanah yang menimbun kedua orangtuanya belum kering sama sekali. Delapan hari yang lalu, ia berjuang mengatasi situasi mendekati kegilaan karena kehilangan keduanya sekaligus. Ershan dan Nina Riyadi—orangtua Chiara mengalami kecelakaan di persimpangan jalan. Itu adalah kecelakaan tunggal. Mobil yang dikemudikan Ershan melaju terlalu cepat dan pada persimpangan itu, Ershan tidak bisa mengendalikan laju mobilnya sampai akhirnya menabrak trotoar dengan sangat keras dan terguling menabrak tembok sebuah toko di sisi jalan itu. Ershan dan Nina Riyadi meninggal dunia di rumah sakit, hanya beberapa menit setelah keduanya dievakuasi oleh polisi dan diturunkan dari ambulan. Keduanya terluka sangat parah di bagian kepala dan bebrapa bagian organ dalam tubuh mereka hancur karena benturan sangat keras. Polisi yang memeriksa CCTV di jalan yang mereka lalui menemukan bukti bahwa sebelum kecelakaan itu benar-benar terjadi, Ershan dan Nina terlihat berdebat sengit di dalam mobil. Nina terlihat sempat menampar Ershan ketika suaminya sedang mengemudi dan setelah itu Ershan mulai meneriakkan sesuatu kepada Nina yang terlihat menangis. Tidak ada yang dapat dipersalahkan dalam kecelakaan itu. Kejadian itu benar-benar murni sebagai kecelakaan tunggal. Polisi mengasihani gadis muda yang cantik yang mereka temui di rumah sakit, meratap pilu di sisi jenasah kedua orangtuanya, tetapi mereka harus menyatakan bahwa kasus kecelakaan itu akan ditutup karena semua bukti sudah menjelaskan bahwa tidak ada korban lain atau tersangka yang menyebabkan kecelakaan itu terjadi. Ershan Riyadi hanya mempunyai seorang Kakak perempuan—Ella, yang menikah dengan seorang laki-laki berkebangsaan Inggris dan tinggal bersama suami dan empat orang anaknya di Canberra. Hubungan keduanya tidak terlalu akrab sejak Ibu mereka meninggal dunia, waktu Chiara berusia enam tahun. Ayah mereka sudah meninggal lama sebelumnya. Ella dan Mike Donovan sangat terkejut ketika mendapat telepon dari sekretaris pribadi Ershan yang mengatakan tentang kejadian yang menimpa Adik dan Adik iparnya. Ia dan suaminya langsung memesan tiket pesawat dengan jadwal penerbangan paling cepat ke Indonesia. Bagaimanapun, Ershan adalah adiknya dan Ella menyayangi keponakan tunggalnya—Chiara. Nina Maris Riyadi adalah seorang yatim piatu sejak Ershan mengenalnya di bangku SMA. Gadis cantik yang periang itu dibesarkan di panti asuhan. Dia tidak mengenal orangtuanya dan kepala panti asuhan—seorang wanita di awal usia 35 tahun yang baru saja diceraikan oleh suaminya karena tidak bisa memberi keturunan yang diakibatkan oleh kemandulannya, jatuh cinta pada gadis kecil berusia dua tahun yang ditinggalkan begitu saja di depan pintu panti asuhan yang dikelola olehnya. Dia mengadopsi Nina menjadi anaknya sendiri. Ibu adopsi Nina meninggal dunia ketika Chiara—yang memanggilnya dengan sebutan Nenek Tanti, baru berusia delapan tahun. Nina meneruskan pengelolaan panti asuhannya dan mengajari Chiara juga. Tidak ada keluarga lain yang dapat dihubungi oleh Chiara dari pihak ibunya. Pemakaman dilakukan dengan cepat dan sederhana. Chiara sudah tidak bisa menangis lagi ketika peti yang berisi jenasah kedua orangtuanya diturunkan ke liang lahat. Airmatanya habis di malam ketika Polisi memberitahukan soal kecelakaan itu dan tiga malam setelahnya, saat ia masih belum bisa percaya bahwa semua yang dicintainya tiba-tiba menghilang seperti angin dalam sekali hembus. Kedatangan Ella dan Mike Donovan sedikit menghibur hatinya. Mereka tidak mengijinkan Chiara melakukan apa-apa dan bergerak cepat bersama-sama membersekan semua urusan yang berhubungan dengan pemakaman. “Ikutlah bersama kami, Chia,” ujar Ella dengan sangat hati-hati. “Kau bisa tinggal bersama kami, melanjutkan kuliahmu di sana.” “Benar kata tantemu,” lanjut Mike. “Kau sebatang kara di sini. Kami akan khawatir meninggalkanmu sendiri di sini. Bagaimanapun juga, sekarang ini hanya kami keluargamu yang tersisa.” Chiara membenarkan ucapan mereka dalam hati, tetapi ada banyak hal yang harus ia selesaikan sebelum memutuskan untuk mengikuti mereka. Chiara menatap lukisan sketsa dirinya, Ayah dan ibunya yang menempel di dinding. Dalam lukisan itu, mereka tertawa bahagia bersama. Bagaimana mungkin sekarang ia hanya tinggal sendiri? Airmata Chiara mengalir lagi, tanpa suara. Ella memeluk dan mengusap-usap rambutnya dengan mata berkaca-kaca. Gadis yang malang. Mike membelai rambut Chiara sebelum meninggalkan istrinya dan keponakannya itu berdua di kamar. “Aku akan memikirkannya, Tante,” ujar Chiara sambil menghapus airmatanya setelah beberapa saat menangis dalam pelukan Nina. “Banyak hal yang harus aku bereskan di sini sekarang. Perusahaan Papa, butik Mama, panti asuhan Nenek Tanti, kuliahku.” “Tentu. Kau tidak perlu terburu-buru. Tante mengerti bahwa sebagai anak tunggal, kau pasti menanggung beban cukup berat untuk mengurus semua hal yang ditinggalkan kedua orantuamu secara mendadak begini.” “Aku akan membereskan semuanya satu-persatu, pelan-pelan,” gumam Chiara. “Meskipun aku tidak tahu harus memulainya darimana.” “Jangan khawatir, Chia, Tante dan Om Mike akan membantu apapun yang kau perlukan. Lagipula, ada sekretaris papamu, pengacara dan asisten mamamu di butik yang akan membantu semua urusan itu. Tante memang tidak terlalu mengenal mereka, tetapi setelah kemarin kami bersama-sama mengurus kedua orangtuamu, mereka sudah berjanji akan membantu dan mendampingimu.” Chiara bersyukur masih ada kerabat yang menemaninya, tetapi ketika lima hari setelah orangtuanya dimakamkan, Ella dan Mike harus kembali ke Canberra. Mike tidak bisa terlalu lama meninggalkan pekerjaannya, begitu juga Ella tidak bisa terlalu lama membiarkan Ibu mertuanya yang sudah cukup berumur, mengurus keempat anaknya. Salah satu di antara mereka—si bungsu, baru berusia enam tahun dan sangat manja. Chiara melepaskan kepulangan Ella dan Mike sambil tersenyum, melambaikan tangan, setelah berjanji bahwa ia akan menghubungi mereka secepatnya setelah mengambil keputusan apakah ia akan pindah dan tinggal bersama mereka atau ada opsi lain yang dapat dipertimbangkannya. Saat ini, duduk di depan Chiara, adalah pengacara ayahnya. Dua orang laki-laki setengah baya yang juga diakrabinya sebagai teman dekat orangtuanya sejak mereka masih sama-sama duduk di bangku SMA—Ginting Aruan dan Doni Setyawan. Keduanya berwajah murung dan gelisah. “Ini ... lelucon, kan, Om?” tanya Chiara sambil menatap kedua laki-laki di depannya bolak-balik. “Papa hanya sedang menggodaku, kan? Yah, meskipun dia sudah tiada, tetapi dia masih ingin menjahili aku.” “Chiara, maafkan Om,” sahut Ginting dengan suara serak. “Andai saja Om bisa membenarkan ucapanmu tadi. Namun, utusan mereka datang tadi pagi dan memberikan bukti-buktinya. Semua dokumen itu ditandatangani oleh ayahmu, dengan nama jelas dan di atas materai.” “Mereka mengatakan bahwa batas waktu pembayaran kembali modal yang mereka tanamkan di dalam perusahaan sudah lewat hampir tiga bulan dan karena perusahaan tidak menunjukkan perkembangan yang mereka harapkan setelah ayahmu meminjam modal dari mereka, ada pasal khusus yang mengatur soal pengembalian dana itu.” “Om Ginting dan Om Doni adalah pengacara Papa, bagaimana mungkin Om tidak tahu apa-apa soal ini?” tanya Chiara gusar. Doni menghela napas berat, sedangkan Ginting menundukkan kepala. “Chiara, kami minta maaf. Namun, kami memang sama sekali tidak mengetahui soal ini. Lihat, perjanjiannya ditandatangani di Surabaya, dua tahun yang lalu.” “Apa Mama tahu soal ini?” tanya Chiara dengan masygul. “Kami yakin, ibumu juga tidak tahu soal ini. Bahkan, kalau boleh jujur, melihat rekaman CCTV yang ditunjukkan kepada kami oleh Polisi pada saat kejadian kecelakaan orangtuamu, kami yakin, saat itu mereka sedang bertengkar soal ini,” ujar Ginting. “Benar. Polisi menemukan sobekan-sobekan kertas di lantai mobil dan setelah kami menyatukan beberapa potongan kertas yang tersisa, itu adalah salinan dari dokumen perjanjian itu,” lanjut Doni dengan berat hati. “Oh Tuhan,” keluh Chiara sambil menutup wajah dengan kedua tangan. “Mengapa Papa tega melakukan hal seperti ini kepadaku.” Ginting dan Doni saling bertukar pandang dengan kebingungan yang jelas terpeta di wajah mereka. Kematian mendadak Ershan Riyadi bukan hanya mengejutkan bagi mereka, tetapi juga meninggalkan banyak masalah. Namun, apa yang mereka temukan tadi pagi adalah yang paling mengejutkan. “Chiara, kami mungkin bisa membantumu bertemu mereka dan menegosiasikan lagi isi perjanjian itu,” ujar Doni pelan. “Yah, meskipun kemungkinan untuk berhasil sangat kecil, tapi kita tetap bisa mencobanya.” Chiara melepaskan tangan dari wajahnya dan menghela napas berkali-kali sebelum akhirnya bertanya dengan suara serak kepada Ginting dan Doni. “Siapa orang yang akan menjadi suamiku itu, Om?” ***o*o***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD