Lynana, Kau Unik.

1213 Words
Dia adalah Frank Moses. Seorang lelaki berprofesi aktor dengan wajah menawan. Frank merupakan lelaki jangkung, berkulit putih, dan memiliki lesung pipit. Matanya sewarna rumput musim semi, hijau memukau. Rambutnya pirang terang. Dia adalah jenis lelaki amerika yang sering kali menjadi impian para gadis remaja. Irina berhasil membujuk Lyana untuk melakukan kencan buta dengan Frank. Setelah melalui bujukan yang lumayan alot, akhirnya Lyana bersedia menemui Frank di sebuah restoran untuk makan malam. "Aku tak pernah menyangka Irina akan memiliki teman sepertimu!" Frank berkomentar saat mereka berdua melakukan pendekatan. Kali ini, Lyana mengunjungi restoran berdesain outdoor. Lampion-lampion berwarna orange lembut ditempatkan di banyak titik strategis. Meja-meja dipenuhi lilin, memberikan kesan romantis. Para pelayan berseragam menampilkan pelayanan istimewa, menunjukkan tingginya nilai restoran. Lyana tersenyum kecil. Untuk seukuran lelaki yang berprofesi sebagai aktor, Frank termasuk menyenangkan. Tak ada jejak kesombongan di matanya. "Memangnya aku seperti apa?" Lyana bertanya heran. "Kau tipe wanita yang tidak terlalu suka mengumbar banyak kata." Frank memuji. "Bilang saja jika aku introvert." Lyana meringai kecil, menyadari kelemahan dirinya. Sebagai seorang agen properti yang terbiasa memasarkan produk dengan kata-kata lihai dan persuasif, Lyana justru memiliki kepribadian tak banyak omong. Tetapi justru inilah keunikannya. Para klien sering kali percaya pada penilaiannya karena Lyana bukan tipe orang yang suka membual. Penilaiannya dianggap benar-benar objektif. "Menjadi intovert itu bukan hal yang buruk. Dengan begitu, kau tak harus memaksa dirimu sendiri hanyut pada situasi yang tidak kau kehendaki." Frank berkata apa adanya. Dalam dunia hiburan yang Frank jajaki, dia terbiasa menemukan rekan perempuan yang ekstrovert dan mudah diajak berbicara. Bahkan, terlalu aktif dalam banyak hal. Frank jarang menemukan wanita pendiam dan anggun seperti Lyana. Nilai-nilai inilah yang membuatnya merasa cocok meski baru pertama kali bertemu. "Aku memang orang yang tak mudah berbaur. Terutama dalam beberapa hal yang membutuhkan obrolan banyak. Terkadang dengan karakterku, orang lain akan merasa jenuh." Lyana ingat setiap kali ia berkumpul bersama anggota keluarga Shancez yang lain, ia adalah satu-satunya sosok yang suka menenggelamkan diri dan bersikap seolah-olah tak ada. Semua keluarga angkatnya memiliki keunggulan sendiri-sendiri. Revel yang hebat dengan kekasihnya, Morrisa. Status mereka sebagai dokter hebat telah menjadi kebanggan keluarga. Bella memiliki kecantikan dan karakter hangat alami. Setiap orang selalu tertarik secara otomatis padanya. Revel meskipun kepribadiannya dingin, terapi prestasinya dalam bisnis dan kemampuan bawaannya mampu membuat Kendall dan Alice bangga luar biasa. Sedangkan dia, seorang wanita dengan karir sederhana dan kehidupan monoton. Dihadapkan dengan kehebatan saudara-saudari angkatnya, Lyana jelas merasa tidak ada apa-apanya. Dia seperti itik buruk rupa di antara angsa-angsa cantik. "Lyana, setiap orang itu istimewa. Memiliki kelebihannya masing-masing. Jangan pernah bandingkan dirimu dengan orang lain. Kau istimewa dengan caramu sendiri. Justru dengan dirimu yang seperti ini, entah kenapa aku merasa nyaman. Aku seperti pulang ke rumah. Kau paham maksudku, bukan?" Frank tersenyum tulus. Untuk pertama kalinya selama ia menjajaki dunia hiburan, Frank merasa nyaman saat duduk bersama seseorang. Seolah-olah dengan Lyana, entah kenapa Frank merasa tak harus mengenakan topeng kesempurnaan. Sesuatu yang selama ini ia kenakan. Bahkan di hadapan teman-temannya. "Bagus. Kau langsung membual di pertemuan pertama!" Lyana hanya bisa terkekeh kecil. Frank cukup blak-blakan. Lyana tak menyangka akan bertemu dengan lelaki seperti ini. Tadinya ia mengira Frank cukup sombong dan menyulitkan. Sepertinya Irina memang mencarikan lelaki yang menyenangkan untuknya malam ini. "Aku memang sering membual. Kuharap keahlianku itu bisa merayumu!" Frank mengedipkan matanya, menggoda dengan lihai. Frank termasuk aktor yang sedang dalam proses menapaki karir lebih tinggi lagi. Meskipun dia bukan aktor kawakan dan legendaris, tetapi dia juga bukan aktor kecil. Lelaki itu aktor pertengahan yang berusaha meniti jalan lebih besar. Dengan kemampuannya, Lyana yakin tak ada setahun ia pasti akan menjadi aktor hebat. Sekarang saja setiap serial film yang ia bintangi cukup sukses dan masuk pasaran. Meskipun ia belum bisa menjadi tokoh utama, setidaknya perannya bukan peran yang abal-abal. "Frank. Sebagai orang yang meniti karir di dunia hiburan, tidakkah kau pikir seharusnya mendekati wanita dengan profesi artis juga? Maksudku, sesuatu yang tidak jauh dari karirmu!" Bukan hal yang rahasia jika seseorang ingin mengembangkan karir, mereka akan memilih mendekati orang-orang yang membawa keberuntungan. Termasuk kencan. Banyak artis dan aktor saling berkencan, sengaja memancing berita heboh, sehingga nama mereka ikut naik. "Aku orang yang memiliki batasan dalam melakukan sesuatu, Lyana. Meskipun aku aktor dan sedang dalam tahap menaikkan karir, tetapi aku ingin menggunakan cara-cara yang baik. Melalui prestasi dan kalayakan diri. Untuk apa naik melalui gosip murahan dan berita palsu? Aku juga ingin memiliki sisi kehidupan normal. Mengenal wanita biasa, suka, dan jatuh cinta. Sesederhana itu!" Frank tersenyum cerah, mata hijaunya bercahaya. Lyana yang mendengar penjelasan Frank hanya bisa tertunduk. Wajahnya memiliki gurat kemerahan samar. Lyana seperti seorang remaja yang malu-malu. Dia tersenyum canggung. "Kata-katamu cukup lihai untuk menarik lawan jenis, bahkan dalam pertemuan pertama!" Lyana tersenyum lemah. Apakah Frank memang selalu seperti ini? Lyana korban yang ke berapa? Jika Lyana hanya menjadi satu dari sekian banyak orang taklukkan Frank, maka ia perlu mundur dan berbalik arah. Demi Tuhan. Lyana tak butuh lelaki bermulut besar. Frank tertawa lebar. Dia bersandar ke kursi bagian belakang, menatap sepenuhnya pada wanita di hadapannya. Rambut cokelat batanya yang bergelombang dibiarkan tergerai, membingkai wajah cantik miliknya. Hidung mancung, bibir eksotis, dan kulit seputih pualam. Mata birunya layaknya topaz. Wanita ini sangat sempurna. Memiliki kecantikan layaknya ratu. "Aku memang memiliki mulut yang suka banyak berkata-kata. Tetapi percayalah, Lyana. Aku bukan playboy yang suka gonta-ganti pasangan. Kau bisa memastikan hal itu pada Irina. Jika aku memang kandidat yang buruk, temanmu pasti tidak akan mencomblangkan aku denganmu." Frank menjelaskan apa adanya. Frank memang memiliki kepribadian yang menyenangkan. Dia bisa dikatakan ekstrovert. Tetapi Frank bukan jenis lelaki yang suka bermain kata untuk mendapatkan wanita. Setidaknya, Frank masih memiliki hati dalam bergaul dan memperlakukan lawan jenis secara sopan. "Maaf, Frank. Aku tak bermaksud menilaimu rendah. Aku hanya … merasa harus wadpada!" Lyana adalah wanita yang tak mudah dekat pada lawan jenis. Dengan profesi ibunya dulu sebagai wanita bayaran kelas tinggi, ia telah belajar banyak hal. Salah satunya adalah kewaspadaan tinggi pada semua jenis rayuan palsu. Berapa saja lelaki ibunya dulu yang berkata akan memberikan separuh hidupnya dan melakukan apa pun untuknya. Nyatanya, setiap kali ibunya memiliki masalah, mereka semua bubar. Tak ada lelaki yang cukup kuat bertahan dan setia. Frank yang melihat ekspresi gelap pada wajah Lyana, jadi bertanya-tanya. Sepertinya wanita yang ada di depannya ini tidak sederhana. Ia memiliki banyak hal yang disembunyikan. "Lyana. Apakah ada yang salah? Kau seperti memikirkan sesuatu?" Tanya Frank. "Tidak. Aku hanya sedikit melamun. Jadi, bagaimana dengan karirmu sekarang? Kau sedang menjalani syuting apa? Bisakah kau ceritakan sedikit padaku?" Lyana mengubah ekspresi wajahnya, berusaha memberikan senyum kecil. Frang mengangguk kecil, mulai menceritakan sedikit tentang profesi yang ia geluti. Diam-diam, Frank mengembangkan ketertarikan baru pada Lyana. Entah kenapa, dia merasa Lyana bukanlah wanita yang sederhana. Dia layaknya mutiara yang bersembunyi di balik penampilan sederhana. Pemikiran dan cara pandang wanita ini unik. Dia memiliki kecerdasan yang tinggi dan kedewasaan alami. Sesuatu yang membuat Frank tak ingin melepaskan Lyana begitu saja. Tak jauh dari tempat mereka duduk, ada seorang lelaki dengan penampilan luar biasa tengah menatap mereka. Tatapan matanya tampak kelam dengan jejak membunuh yang kuat. Auranya gelap. Bibir tipisnya melengkung samar, menampilkan kesinisan untuk memangsa. "Jadi, dia memiliki lelaki sekarang!" Sorot mata Steve mengunci pasangan tersebut dengan penuh kebencian. Ada jejak ketidakterimaan. "Aku ingin melihat sampai sejauh mana hubungan mereka nantinya!" Suaranya memiliki niat untuk menghancurkan. …
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD