Lyana bangun dari tidurnya dengan keringat yang deras. Punggungnya terasa lengket, piyamanya melekat erat di kulit. Nafas Lyana tak teratur. Matanya mengerjap bingung, sementara kedua tangannya saling terkepal erat. Selimut merah yang membalut dirinya kini telah berada di ujung ranjang, ia tendang tanpa sadar.
Kamar Lyana remang-remang. Cahaya lembut dari bohlam kecil menerangi ruangan berukuran tiga kali empat meter. Cahaya orange itu membilas wajah Lyana yang pucat pasi.
Lyana mengerutkan tubuhnya, bersandar linglung di kepala ranjang. Jam dinding menunjukkan pukul dua dini hari. Langit masih kelam tanpa bintang yang biasanya tersebar.
Malam ini, Lyana baru saja memimpikan tentang Steve. Dalam mimpinya, ia mengulang kembali apa yang terjadi beberapa malam yang lalu. Di sana, ia melihat wajah Steve melembut. Ada pancaran kehangatan yang sangat istimewa. Setiap sentuhan yang Steve berikan padanya, membawa keindahan. Kebersamaan mereka sempurna dan saling memberi. Seolah-olah untuk sejenak, mereka adalah sepasang kekasih yang saling mencintai.
Jantung Lyana bergetar hebat. Dia tak pernah merasakan emosi ini sebelumnya. Ada rasa mendamba yang hadir di lubuk hatinya, saat wajah Steve merasuk dalam ingatan. Lelaki itu tampak sempurna. Senyum bibirnya seperti sebuah kelangkaan yang amat mahal. Emosi Lyana teraduk-aduk setiap kali ingatannya terpaut pada sang kakak angkat.
Bibir Lyana gemetar. Ada rasa sakit yang terbentuk, menghancurkan hatinya dengan kejam. Bayangan Steve yang indah dan hangat hanyalah sebuah khayal belaka. Mimpi yang mustahil terjadi dan tidak mungkin terwujud. Sesuatu yang ada hanya dalam harapan semu belaka.
Sakit.
inilah yang Lyana rasakan. Saat kita melambung tinggi dalam khayalan yang manis dan sadar itu hanyalah hal yang berada di luar batas kemampuan, saat itulah hati kita tergores pilu. Merasakan kekecewaan berkali-kali lipat.
Lyana menatap tangannya sendiri. Beberapa malam yang lalu, tangan ini pernah disentuh oleh Steve. Suatu sentuhan yang hadir dengan kelembutan. Lyana masih ingat bagaimana sentuhan itu terjadi dan bagaimana respon dirinya. Mereka seperti dua orang yang terikat rasa dan saling berbagi momen istimewa. Sayangnya, itu semua hanya terjadi untuk sesaat. Sesuatu yang mustahil terulang kembali.
Pernah terbetik di hati Lyana. Bagaimana jadinya andai Steve benar-benar melihatnya sebagai seorang wanita? Seorang wanita istimewa dan memiliki nilai. Lyana pasti akan sangat bahagia. Lyana pasti akan sangat bersyukur.
Terkadang, muncul pemikiran dan harapan-harapan gila dari Lyana. Berharap entah bagaimana Steve bisa menghentikan anti patinya dan menerima Lyana sebagai sosok wanita. Memang, semua itu mustahil. Melihat kepribadian Steve yang angkuh dan kebencian tanpa henti lelaki itu, Lyana pastilah dianggap sebagai sampah dalam keluarga. Sebuah sampah yang memiliki latar belakang buruk dan tak pantas untuk ditatap.
Air mata mulai mengalir. Kerinduan ini menyesakkan. Harapan ini mengikis kewarasannya. Bagaikan pungguk merindukan bulan, semua yang ia harapkan mustahil terjadi. Semakin ia berharap, semakin ia terluka.
Mungkin benar kata Irina, temannya. Sudah saatnya Lyana membuka diri pada lelaki lain. Seorang lelaki baik-baik yang memiliki prospek dan bisa membuat Lyana melupakan rasa sakit karena pengharapan kosong. Seorang lelaki yang mampu mewarnai harinya dan mengalihkan perhatian Lyana secara penuh. Dengan begini, mungkin bayangan Steve akan hilang dari hatinya.
Dengan gerakan kasar, Lyana meraih ponsel di atas meja nakas dan menghubungi temannya, Irina. Irina adalah teman fakuktas semasa Lyana belajar di collage. Mereka berhubungan baik bahkan hingga detik ini, meski keduanya bekerja dalam bidang yang berbeda. Jika Lyana bekerja sebagai agen marketing properti, Irina justru bekerja menjadi model. Bahkan, prestasinya dalam dunia tersebut melebihi Bella, adik angkatnya sendiri.
"Halo? Lyana? Jam berapa sekarang? Apakah kau sudah gila? Kau menelfonku dini hari seperti ini!" Suara Irina terdengar sedikit serak. Dia pasti baru bangun tidur. Lyana jadi sedikit merasa bersalah.
"Maaf. Aku hanya … oh, apakah aku harus menutup pembicaraan dan menghubungimu lagi pagi hari?" Lyana meringis kecil.
"Akan kubunuh kau jika berani melakukannya! Kau sudah membangunkanku dini hari seperti ini dan kau berniat pergi begitu saja tanpa berbicara tentang tujuanmu sebenarnya? Aku seharusnya mengirimmu ke samudera atlantik saja!" Kali ini nada Irina lebih tinggi, menunjukkan ia sepenuhnya tersadar dari tidur.
"Baiklah!" Lyana memijat pelipisnya, mulai merasa menyesal kenapa ia menghubungi Irina yang berlidah tajam.
"Jadi, Lyana … ada apa sebenarnya menghubungiku di waktu tidak normal seperti ini?" Irina merongrong temannya, ingin tahu alasan sebenarnya.
"Aku hanya sedang merenung tentang kehidupanku. Tidakkah kau pikir hidupku terlalu monoton?"
"Kau sudah sadar? Baguslah! Sudah kukatakan dari sepuluh dekade yang lalu bahwa sebagai wanita, kau terlalu kolot dan kaku. Lihat hidupmu yang seperti gurun. Tak ada apa pun. Bekerja, bekerja, dan bekerja. Hanya siklus seperti itu! Tidakkah kau bosan?"
Lagi-lagi, Lyana mulai menasehati. Dia sudah mengatakan berulang kali kepada Lyana betapa membosankannnya hidup Lyana. Irina sudah sering mendorong temannya untuk melakukan hal-hal selayaknya wanita normal. Bersenang-senang, menjalin hubungan, dan sesekali bertindak gila. Tetapi, semua masukan Irina tidak pernah Lyana pedulikan. Entah kenapa malam ini tiba-tiba Lyana membahas topik ini. Mungkinkah pada akhirnya Lyana sadar jika hidupnya terlalu mengenaskan?
"Aku baru memikirkan tentang semua itu, dan sepertinya kau benar! Irina, aku bahkan tak memiliki satu kontak pun kaum lelaki, kecuali bos-ku dan customer bisnis, tentunya! Sepertinya hidupku memang mengenaskan!"
Irina mendesah lega saat Lyana akhirnya mampu mengambil kesimpulan seperti itu.
Sebenarnya, Lyana bukanlah wanita yang mengenaskan. Dia memiliki banyak nilai yang mampu membuat lelaki mana pun bertekuk lutut. Lyana memiliki kecantikam yang sangat istimewa. Dia bahkan bisa langsung masuk dan berhasil dalam dunia modelling andai ia bersedia. Pendidikannya tinggi dan otaknya sangat cerdas. Siapa lelaki yang bisa menolak Lyana begitu saja?
Yang jadi masalah saat ini, adalah Lyana tak pernah bersedia membuka hati untuk kaum laki-laki. Sebanyak apa pun laki-laki mendekati dirinya, ia menanggapinya dengan sinis. Lama-lama, para lelaki itu mundur teratur dan tidak lagi sanggup menoleransi sikap dinginnya. Siapa juga yang mau diabaikan sepanjang waktu oleh wanita?
Irina mencoba menyadari alasan Lyana melakukan ini. Dia terlalu trauma dengan ibu kandungnya. Sebagai anak seorang p*****r, Lyana selalu menanggung beban moral lebih tinggi dari yang lain. Seolah-olah ia dibebani tanggung jawab besar untuk tidak melakukan hal-hal seperti ibunya sendiri. Inilah yang membuat Lyana terpenjara dan tak bersedia membuka hati.
Namun, bukankah setiap pertahanan itu ada batasnya? Jika Lyana terlalu lama seperti ini, lelaki mana yang cukup waras menerimanya? Yang ada, dia hanya akan diabaikan begitu saja.
"Kau sudah memutuskan untuk membuka diri?" Irina sangat antusias. Lyana bahkan harus menjauhkan ponsel dari telinganya karena teriakan temannya tersebut.
"Ya." Lyana berbisik lirih.
Tadinya, ia belum berniat membuka diri dan menjalani romansa. Tetapi karena ia terlanjur kehilangan kesuciannya dan mulai jatuh dalam pesona Steve, ada baiknya Lyana mencari pelarian diri secepat mungkin. Berharap dengan lelaki yang tepat ia mampu menghilangkan bayangan Steve sepenuhnya.
"Oh Ya Tuhan. Ini adalah kabar paling hebat sepanjang sejarah. Kau akhirnya bersedia membuka diri. Kukira tadinya kau akan menjadi perawan tua yang hidup kesepian dan merana. Baguslah jika kau mulai sadar tentang semua ini!"
"Irina! Berhentilah mengolok-olokku! Aku mulai menyesal mengatakan semua ini padamu!"
"Baiklah! Baiklah! Maafkan aku! Jadi, apa yang bisa kubantu dengan niatmu kali ini? Aku berjanji akan membantumu sebisa mungkin!" Irina tersenyum kecil, diam-diam bersyukur dalam hati.
Lyana adalah wanita yang cukup tertutup dan sulit untuk ditebak. Karena suatu peristiwa besar, akhirnya ia bersedia meruntuhkan tembok penghalang dan berniat membuka diri.
"Aku …." Lyana mendesah panjang. Dia akhirnya memutuskan untuk melakukam hal besar dalam hidupnya. "ingin berkencan. Apakah kau memiliki kenalan? Seorang lelaki yang baik?" tanya Lyana, mulai tak yakin.
Terdengar jeritan antusias dari Irina di seberang sana. Setelah Irina menenangkan diri cukup lama karena merasa bahagia atas keputusan temannya, dia akhirnya menjawab dengan serius.
"Aku memiliki banyak kenalan laki-laki. Dari yang berlatar belakang pengusaha, pengacara, dokter, aktor, bahkan pegawai pemerintahah. Lelaki seperti apa yang kau inginkan? Kupastikan kau tak akan kecewa oleh pilihanku. Bagaimana jika kuatur kau agar melakukan kencan buta?"
…