Suasana Hati yang Kacau

1196 Words
Lyana pulang kembali ke apartemen. Dia berpamitan dengan Celline dan seluruh keluarga. Kali ini, Lyana adalah orang yang pertama kali meninggalkan rumah sementara yang lain masih menikmati kebersamaan satu sama lain. "Kau yakin ingin kembali ke apartemen secepat ini?" Celline mencoba menahan. Yang lain berencana akan pulang nanti sore, sementara Lyana justru terburu-buru. Apakah ada sesuatu yang Lyana sembunyikan? "Aku perlu mempelajari beberapa aset properti yang akan aku tawarkan besok, Mom! Aku harus pulang sekarang!" Lyana mengambil alasan acak yang terdengar meyakinkan. Kendall yang menyaksikan tekad Lyana, hanya bisa mengangguk dalam, membujuk Celline untuk menyetujui. "Sayang, biarkan Lyana pulang! Ia memiliki rencananya sendiri." Kendall menepuk bahu istrinya dengan lembut. Ada cinta yang kuat dari kedua matanya untuk sang istri. Cinta yang tak pernah pudar sepanjang usia. Lyana menunduk dalam. Setiap kali ia melihat ekspresi penuh cinta dari kedua orang tua angkatnya, ada rasa iri tersendiri. Dulu, ibunya tak pernah memiliki kesempatan membesarkan Lyana dengan penuh cinta seperti itu. Kini, giliran Lyana yang merasa tak akan pernah bisa mendapat cinta seperti itu. Terlalu besar dan mewah. Sepertinya, Lyana hanya akan ditakdirkan dengan standar rendah sejauh menyangkut tentang cinta. "Tapi—" Celline masih ingin menahan kepergian Lyana. "Sudahlah, biarkan Lyana pulang!" Lagi-lagi Kendall membantu keinginan Lyana. "Oh, baiklah! Sebenarnya aku masih ingin kau ada di sini. Kita jarang menghabiskan waktu bersama setelah kau memiliki pekerjaan dan tinggal terpisah. Tetapi sepertinya saat ini kau memiliki kesibukan lain. Di lain waktu, aku pasti akan membuat kita kumpul bersama lagi dan kau tak bisa berpamitan pulang secepat ini!" Celline berkata tegas, mengingatkan Lyana. Tetapi meski begitu, ada kasih sayang yang ia pancarkan dari kedua matanya. "Aku janji, Mom! Lain kali aku akan mengunjungimu lebih lama." Lyana mencium kedua pipi ibu angkatnya dan tersenyum hangat. Dia berpamitan dengan saudara-saudaranya yang lain sebelum akhirnya berhadapan langsung dengan Steve. Seperti biasa, Steve tampak dingin. Dia berdiri menyendiri di sudut ruangan dan mengamati orang-orang dengan malas. Kedua mata elangnya seperti laser. Tajam dan intens. Lyana menunduk dalam, memutuskan untuk tidak berpamitan dan tidak menyapa kakak angkatnya sama sekali. Dia berjalan melewati Steve dengan langkah-langkah cepat. Tanpa diduga, sebuah tangan kuat menahan lengan Lyana. Menghentikannya tiba-tiba. Lyana tertegun untuk beberapa saat. Jantungnya menghentak-hentak, merasakan reaksi yang sangat familier. Tangan ini mengingatkan Lyana pada banyak hal. Membuat bayangan yang Lyana pendam tentang semalam berhamburan keluar tanpa pertahanan. Tubuh Lyana menggigil saat bayangan demi bayangan mendominasi pikirannya. Dia segera menepis tangan Steve dengan keras. "Ada apa, Steve?" Lyana bertanya gugup. Steve menatap tangan kanannya yang baru saja ditepis oleh Lyana. Sebuah senyum menakutkan terbentuk di bibirnya yang tipis. "Kenapa kau buru-buru pulang? Tindakanmu seperti seoseorang yang mencoba menyembunyikan sesuatu!" Mata Steve penuh dengan tuduhan. Udara di sekitar mereka seperti turun beberapa derajat. Cara Steve menatap Lyana benar-benar bisa membekukan makhluk hidup. Andai saja Lyana tidak terbiasa menghadapi kesinisan Steve, dia pasti telah jatuh berlutut tak berdaya. "Terserah apa yang kau pikirkan! Aku tak peduli!" Lyana membalas. Dia tahu penilaian Steve terhadap dirinya selalu buruk. Lyana sudah tak peduli lagi. Di mata Steve, semua hal tentangnya dianggap salah. Lyana adalah seseorang yang tak diharapkan dalam keluarga. "Kau bahkan mulai berani! Dosa apa yang telah kau lakukan, ngomong-ngomong? Mungkin saja kau membutuhkan pengakuan yang lebih jujur. Kau pernah dengar kan, istilah kebohongan tak pernah bertahan lama?" Steve memberi peringatan secara implisit. "Di hadapannmu, aku selalu dianggap sebagai pendosa!" Senyum Lyana tampak miris dan dibayangi kesedihan mendalam. Agaknya dia sadar tentang opini yang terbentuk selama ini dari Steve untuknya. "Kau bukan hanya sebagai pendosa. Tetapi kau juga pembohong!" Mata Steve berkilat berbahaya. Lyana langsung merasakan tusukan tajam dari Steve ke dalam perasaannya. Raut muka Lyana tertekan, tak berdaya. "Steve!" "Kenapa? Apakah aku salah?" Steve kian memancing Lyana lebih jauh lagi. Tak jauh dari mereka, Celline dan Kendall mengamati keduanya dengan banyak spekulasi. Celline meraih lengan Kendall khawatir dan menanyakan keadaan ini kepada suaminya. "Apakah kau pikir Lyana dan Steve memiliki masalah? Keduanya tidak cocok dari dulu. Tetapi sekarang sepertinya mereka berdua berada dalam permusuhan baru. Apakah menurutmu ada sesuatu yang terjadi di antara mereka?" Kening Kendall berkerut. Dia mulai memikirkan sesuatu. "Kendall? Bagaimana menurutmu?" Celline mengguncang lengan suaminya, menginginkan jawaban jujur. "Sayang, jangan terlalu dipikirkan! Mereka sudah dewasa, seharusnya bisa menyikapi banyak masalah dengan cara-cara mereka sendiri. Kita hanya bisa memandang mereka dari samping. Jika mereka datang pada kita, barulah kita mulai membantu melalui nasehat dan semacamnya!" Kendall menenangkan Celline, mengusap lembut bahu sang istri. Mata Kendall selalu berubah lembut setiap kali ia menatap Celline. Cinta dan kasih sayang miliknya tampak jelas tak terbantahkan. Bagi Kendall, wanita di sisinya adalah segalanya. Wanita yang menjadi alasan bagi kehidupannya berlangsung. "Begitu ya?" Celline sedikit tak puas. "Tentu saja. Jangan terlalu memikirkan!" Celline mengangguk kecil, mempercayai kata-kata suaminya. Dia menyurukkan kepalanya di d**a Kendall dan menyesap aroma lelaki yang telah menemani hidupnya selama berpuluh-puluh tahun. Meskipun Kendall mencoba menenangkan Celline dan menahan istrinya untuk tak ikut campur lebih dalam lagi, sebenarnya Kendall memiliki rencana sendiri. Dia telah memutuskan untuk melakukan sesuatu. Sementara itu, tak jauh dari mereka, Lyana masih terjebak dengan Steve. Dia mencoba menghindar dan pergi, tetapi Steve tak mengijinkan. Sepertinya, entah bagaimana Steve selalu memiliki hasrat untuk menyindir Lyana dan menyudutkan wanita itu sebegitu rupa. "Biarkan aku pergi, Steve! Jangan sibukkan dirimu dengan urusanku!" Lyana berbicara dengan suara lirih. Kata-katanya penuh permohonan. Steve menaikkan sudut bibirnya, seolah-olah mencibir Lyana. Dia akhirnya membiarkan Lyana pergi kali ini. Wanita itu segera mengambil kesempatan yang ada dan mengambli langkah seribu, seolah-olah takut akan ditahan oleh Steve lagi. Sudut mata Steve tak pernah lepas dari Lyana. Saat ini dia memikirkan banyak hal. Dari dulu, Lyana seperti kelinci kecil di mata Steve. Sesuatu yang coba ia sudutkan dan dibiarkan tertekan. Hanya saja, kali ini emosi Steve mulai rumit. Bayangan ia menguasai Lyana tadi malam melalui ingatan yang samar-samar telah membuat emosinya kompleks. Perlahan-lahan, ingatan tadi malam mulai terbentuk satu demi satu, membentuk kesempurnaan. Kulit lembut wanita itu, suara indah Lyana yang menyambut dirinya, permohonan demi permohonan, bahkan sikap liar wanita itu, membangkitkan suatu keposesifan tersendiri. Ada suatu kehangatan yang mulai mencengkeram d**a Steve. Suatu emosi yang tak pernah ia miliki pada wanita lainnya. Banyak wanita yang telah Steve sentuh tetapi tak mampu membangkitkan keposesifannya. Banyak wanita yang berusaha menyenangkannya tetapi tak pernah terasa mengesankan. Mirisnya, sosok yang bisa mengesankan dirinya tak lain adalah adik angkatnya sendiri. Seseorang yang memberikan diri secara penuh, bahkan kesuciannya. Sayangnya, wanita itu terlalu pengecut. Dia memilih bersembunyi dalam kegelapan. Sepertinya, Lyana hanya menginginkan kesenangan sesaat. Sesuatu yang ia raih saat Steve tak sadar. Sesuatu yang tak sudi ia akui secara terbuka. Menyadari hal ini, membuat kemarahan Steve terbentuk seperti gelombang pasang. Sebenarnya, permainan apa yang sedang direncanakan oleh wanita itu? "Steve, kau baik-baik saja?" Suara Bella membuyarkan lamunan Steve. Bayangan Steve tentang Lyana hilang seketika. "Aku baik-baik saja!" Steve menjawab ringan. "Kau yakin tak ada masalah?" Ada ketakutan dari nada suara Bella. Bella adalah orang yang mengenal kakaknya dengan baik. Saat ini ia melihat Steve tampak kacau. Emosi Steve labil tanpa sebab jelas. "Aku baik-baik saja. Aku hanya sedang dibohongi oleh seseorang. Aku tak tahu alasan ia berbohong sehingga emosiku cukup kacau!" …
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD