Pertanyaan

1136 Words
Lyana terpaku dengan wajah pucat pasi. Dia menggigit bibirnya dengan keras, hingga terasa berdarah. Tangan Lyana yang kebas di pintu semakin mencengkeram erat. Dia ingin luruh saat ini juga. Mungkinkah Steve tahu yang sebenarnya? Atau mungkinkah Steve hanya berniat meraba-raba apa yang terjadi? Lyana memejamkan mata, tak bersedia mengakui. Dia harus mencoba peruntungannya sendiri. Selama ada kesempatan baginya untuk menutupi hal-hal tadi malam, Lyana akan melakukan apa pun. "Apa maksudmu, Steve? Kenapa kau menanyakan hal-hal seperti itu?" Lyana mendengar suaranya sendiri gemetar, seperti anak kecil yang mencoba menyembunyikan kesalahan. "Tadi malam aku cukup mabuk. Aku mengingat sepertinya kita sempat berpapasan di ruang tengah. Mungkinkah setelah itu terjadi sesuatu di antara kita? Ingatanku tak terlalu sempurna!" Mata Steve lebih tajam dari pada biasanya. Kedua tangannya meraih Lyana, menginginkan kebenaran. Lyana mundur tiba-tiba, tetapi ditahan oleh Steve. Tak ada ruang bagi Lyana untuk bersembunyi. Dia dipaksa menghadapi Steve langsung. "Steve … kau …." Lyana menarik tangannya, menyadari dirinya tersentak hebat ketika tangan mereka saling bersentuhan. Tetapi Steve tak mengijinkan Lyana menghindar. Lelaki itu sangat keras kepala. Dia memblokir semua usaha Lyana untuk menjauh. "Aku ingin kejujuran. Apakah ada sesuatu yang terjadi di antara kita? Jangan pernah berpikir untuk berbohong padaku!" Steve mengguncang tangan Lynelle, tak ingin membiarkan masalah ini berlalu. "Aku tidak berbohong padamu! Tidak ada yang terjadi di antara kita!" Lyana berkata cepat. Dia menghindari mata Steve. Dia tak tahu apakah Steve mampu menangkap tindakannya yang tak biasa. Dari sejak mereka remaja, mereka memang tidak dekat. Steve bisa dikatakan membencinya. Tak banyak interaksi di antara mereka. Tak disangka interaksi terpanjang mereka justru membicarakan tentang masalah ini. "Lyana, tatap aku!" Steve memaksa adik angkatnya untuk mendongak. Mata mereka saling bertemu. Sinar ganjil menyala-nyala di antara mereka. Untuk beberapa detik, Lyana seperti wanita linglung. Seolah-olah ia terjebak dalam dimensi khusus. "Steve," lirih Lyana, merasa kacau. Dia menggigit bibir bagian dalamnya dengan keras. Apa yang harus ia lakukan saat ini? "Jujurlah, Lyana! Aku memiliki kilas balik yang kacau tentang semalam. Apakah aku melakukan hal-hal yang tak seharusnya? Apakah sesuatu terjadi di antara kita?" Netra kelam Steve menuntut jawaban pasti. Suaranya kian menekan Lyana. "Kita hanya sempat berbincang sebentar di ruang tengah! Hanya sejauh itu. Tak ada apa pun yang terjadi!" Lyana berkeras. Dia memutarkan lengan, setengah mati mencoba melepaskan diri. Tetapi, sekuat apa pun Lyana mencoba, tenaga Steve lebih kuat lagi. Lelaki itu masih tak bersedia melepaskan Lyana. "Steve!" Ekspresi Steve tampak tak terbaca. Dia tak bergerak untuk beberapa saat lamanya. Saat Lyana pikir ia akan ditahan terus dalam cengkeraman Steve, lelaki itu tiba-tiba melepaskan begitu saja, sehingga Lyana sempat terhuyung ke belakang beberapa langkah. "Bersumpahlah, Lyana! Tidak ada yang terjadi di antara kita!" Nada Steve terdengar menuntut. d**a Steve naik turun tak teratur, menunjukkan bahwa ia menahan emosinya dengan kuat. Lyana yakin sebenarnya Steve pasti ingin marah dan melampiaskan emosi. Tetapi dia menahan mati-matian. Mungkinkah lelaki itu mulai membenci Lyana dan berpikir telah digoda olehnya? Kepala Lyana tertunduk dalam. Dia menarik nafas, mengeluarkan nafas, dan memejamkan mata sejenak. Setelah cukup santai, Lyana kembali memandang Steve yang berdiri angkuh di depannya. "Aku bersumpah! Tidak ada yang terjadi di antara kita tadi malam!" Ini adalah sumpah pertama yang Lyana buat dalam kebohongan. Sumpah palsu yang terpaksa ia lakukan, untuk menjaga harga diri. Harga diri adalah sesuatu yang rapuh dan masih ia miliki untuk saat ini. Lyana sadar siapa dirinya dan dari latar belakang mana ia berasal. Jika Lyana mengakui apa yang terjadi semalam, akan ditempatkan di mana nama baiknya sendiri? Ia diambil dan diasuh dalam keluarga ini atas kebaikan Celline. Jika ia mengakui dirinya berbagi malam dengan kakak angkatnya sendiri, Lyana hanya akan dianggap sebagai perayu ulung. Dia tak ubahnya w************n dengan motif tersembunyi. Kali ini, bukan hanya Steve saja yang akan membenci, tetapi juga Celline dan seluruh keluarga. Tidak. Ia tak bisa melakukan semua ini. Lyana tak bisa membiarkan dirinya jatuh dan terpuruk dalam. Steve mundur beberapa langkah, ekspresinya menggelap. Lyana tak bisa menebak emosi apa yang kini tengah Steve alami. Dia hanya bisa menjadi pengamat saja. "Kau tahu? Seseorang tak bisa bermain sumpah begitu saja. Hati-hati dengan sumpahmu!" Ada kesinisan yang jelas dalam kata-kata Steve. Mulut lelaki itu tertarik ke salah satu sisi, seperti mengolok-olok Lyana. Lyana membuka mulut untuk mengatakan sesuatu. Tetapi sebelum ia mengucapkan satu patah kata pun, Steve telah berbalik pergi. Langkah-langkahnya panjang dan cepat. Seolah-olah ia sudah tak sabar untuk meninggalkan Lyana dan pembicaraan mereka yang ambigu. Lyana bersandar lemas di dinding. Dia tak tahu maksud kalimat Steve yang terakhir. Dari kalimat itu, seolah-olah Steve menyindir dirinya langsung. Namun, tak peduli apa pun kata Steve, selama lelaki itu tidak mencari tahu lebih lanjut tentang kejadian tadi malam, Lyana sudah cukup bersyukur. Masalah ini telah selesai di sini. Sementara itu di tempat lain, Steve telah memasuki kamar pribadinya dengan suasana hati yang buruk. Dia menatap ranjang. Pikiran mulai berkeliaran dalam benaknya. Dengan mata tajamnya yang bak elang, Steve menyapu centi demi centi seprai gelap yang terhampar di ranjang. Sekilas, tak ada perubahan berarti di ranjang ini. Semuanya tampak sama. Tak ada hal-hal atau benda-benda asing yang tertinggal. Hanya saja, jika ada yang memperhatikan lebih jauh, ada sesuatu yang ganjil di ranjang. Di tengah-tengah ranjang, ada bagian seprai yang tampak gelap dan lembab. Warna seprai ini sedikit kemerah-merahan. Lynelle meraih seprai, menariknya kasar dan mencium bagian yang ia curigai. Aroma ini seperti aroma darah dan aroma percintaan. Mata Steve terpejam lama. Dia seperti terpukul keras oleh fakta ini. Jari-jemarinya meremas seprai dengan kasar, dan membuangnya begitu saja. Steve berjalan ke arah cermin dan memukulnya dengan tinju yang terkepal. Praaaaang! Suara pecahan cermin terdengar keras di ruangan yang berperedam suara. Serpihan-serpihannya tersebar tak beraturan di lantai yang dingin. Beberapa tetes darah mulai mengalir dari sela-sela jemari Steve. Tak ada ekspresi apa pun di wajah Steve. Tidak kesakitan, tidak kepedihan. Hanya kehampaan dan wajah yang dingin. Ruangan hening. Hanya jam dinding yang bersuara dan berdetak dalam irama yang teratur. Keheningan ini menakutkan. Seolah-olah dunia tenggelam dalam kehampaan. Tanpa apa pun di dalamnya. Steve mengitari ruangan, seperti mencari petunjuk. Dia bahkan masuk ke kamar mandi untuk memuaskan rasa ngin tahunya. Tanpa disangka, di tempat untuk meletakkan handuk, ada kain lap yang tampak basah. Steve meraih kain tersebut dan membiarkan pikirannya melayang. Meskipun kain ini bersih, tetapi masih ada sedikit aroma darah yang tercium samar. Senyum sinis mulai terbentuk di bibir Steve. Dia membuang kain itu begitu saja, kembali mengamati seprai lagi di dalam kamar. "Aku tahu kau berbohong, Lyana!" Wajah Steve tampak murka. Andai ada orang yang melihat mimik mukanya saat ini, pasti mereka tak berkutik. Steve terlalu menakutkan saat ini. "Aku telah mengambil kegadisanmu!" Steve menatap langit-langit ruangan, seperti tertekan oleh kenyataan ini. "Siapa yang menyangka kau masih suci sebelumnya!" Steve tersenyum miris, emosinya semakin kacau. …
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD