Lyana turun ke ruang makan dengan gugup. Kali ini ia mengenakan dress dari sutra lembut berwarna pastel. Di pinggangnya terdapat kerutan samar dan hiasan manik-manik. Rambut cokelat gelap kemerahan miliknya ia biarkan tergerai. Mata biru gelapnya menatap meja ruang makan dengan khawatir. Nafasnya tertahan lama. Bulu mata lentiknya bergetar pelan, seperti kelopak mawar yang rapuh dan membutuhkan perlindungan.
Di meja makan, telah ada banyak orang yang duduk. Lyana adalah orang terakhir yang bergabung pagi ini. Bahkan, dengan sudut matanya, Lyana sempat melihat Steve telah duduk di kursi paling ujung. Matanya tampak sedikit merah dan wajahnya menunjukkan kelelahan. Lyana segera memalingkan pandangannya secepat kilat. Jantungnya terasa berdegup tiga kali lebih cepat. Menghentak-hentak rongga dadanya dan membuat Lyana linglung.
"Sayang, kau baik-baik saja?" Celline menatap Lyana yang terlihat kurang sehat. Wajahnya pucat pasi. Gerakan tubuhnya canggung. Dia juga terlihat linglung. Jelas Lyana tidak baik-baik saja.
"Mom, aku … aku baik-baik saja. Hanya sedikit lelah!" Lyana tergagap. Bella yang berada paling dekat dengannya mengernyitkan kening, ikut bingung.
"Lyana. Kau sepertinya tidak sehat!" Bella berkomentar, terdengar khawatir.
"Aku hanya kelelahan. Tidak apa-apa, aku baik-baik saja!" Lyana mengambil tempat duduk di sisi Bella dan tersenyum kecil pada semua orang. Dia menampilkan ekspresi lembut, menunjukkan ia baik-baik saja. Tetapi semua orang tak mudah dibohongi. Terutama Celline dan Kendall. Mereka adalah dua orang yang cukup tajam dalam menilai situasi. Tak mudah membohongi mereka berdua.
"Kau yakin tak ada masalah?" Kali ini Kendall yang bersuara. Dia mengamati anak asuhnya secara seksama, menilai dengan hati-hati apa yang salah dari dirinya. Jelas ada sesuatu. Lyana tak biasanya tertekan dan canggung seperti ini.
"Tidak ada apa-apa, Dad! Aku hanya kurang istirahat. Jangan terlalu khawatir!" Lyana menunduk dalam, menyembunyikan ekspresi wajahnya. Tak mudah menutupi sesuatu dari Kendall. Ayahnya sangat peka dan sensitif, meskipun dalam banyak kasus ia jarang berbicara secara langsung.
Namun, saat ini tidak ada lagi yang bisa Lyana lakukan selain berbohong. Kedua lutut Lyana sudah gemetar hebat. Dia merasa seperti tersangka yang siap diadili.
"Beristirahatlah dengan baik!" Hanya inilah yang dikatakan Kendall sebagai balasan. Lelaki itu tahu ada yang tidak beres, tetapi saat ini dia memilih membiarkan saja masalah tersebut. Lyana jelas menyembunyikan sesuatu. Jika Kendall tetap memaksa berbicara pun percuma. Selama Lyana tidak mau membuka mulut, toh semuanya akan sama saja.
Dalam hati, Kendall berharap apa pun yang disembunyikan Lyana bukan hal-hal buruk. Anak itu biasanya cukup baik dalam bersikap dan tidak pernah melakukan hal-hal negatif yang berpotensi bahaya.
"Baik, Dad!" Lyana mengangguk kecil, bersyukur dalam hati ia bisa terlepas dari objek rasa ingin tahu ayah angkatnya.
Sarapan mulai dilakukan. Meskipun orang-orang saling berbincang santai, tetapi Lyana merasa ada hawa dingin yang melingkupi dirinya. Dia merasa telah menjadi objek pengamatan seseorang. Lyana memberanikan diri melirik ke arah Steve, mencari tahu reaksi lelaki tersebut.
Betapa terkejutnya Lyana saat ia melihat wajah kelam Steve yang menatap dirinya lama. Mata lelaki itu menyipit dalam, seperti menelanjangi Lyana langsung tanpa belas kasihan. Di bawah tatapan lelaki itu, Lyana merasa dirinya membeku. Urat-uratnya seolah berhenti berfungsi dalam sekejap. Mata tajam lelaki itu seolah laser yang siap menghancurkan Lyana tanpa sisa.
Lyana merasa tak nyaman dengan situasi ini. Dia jadi takut. Mungkinkah Steve menyadari apa yang terjadi semalam? Bukankah seharusnya semua ini bisa ditutupi dan tetap hanya menjadi rahasia?
Mengatasi suasana hatinya yang carut marut, Lyana mencoba menenangkan diri. Semua tidak akan membaik jika sikap Lyana sendiri tak terkontrol.
"Lyana, apa kau yakin kau baik-baik saja?"
Melihat Lyana yang semakin memucat dan siap terpuruk kapan saja, Celline semakin yakin pasti telah terjadi sesuatu pada anak angkatnya. Lyana adalah orang yang tenang dan tak mudah tertekan. Pagi ini, alih-alih bersikap seperti biasanya, wanita itu lebih mirip dikatakan sebagai mayat hidup. Tanpa semangat dan sangat pucat. Setiap tindakannya juga kaku.
"Tidak apa-apa, Mom. Aku … sepertinya aku tak enak badan." Lyana sudah kehabisan sikap. Tadinya ia pikir momen sarapan ini akan baik-baik saja sehingga ia berani datang ke sini. Tapi, sekarang Lyana merasa sekarang ia tak bisa lagi berpura-pura. Pikirannya kacau. Apalagi setiap kali Steve memandangnya, Lyana seperti sedang dihakimi langsung. Seolah-olah lelaki itu tahu semua sandiwara Lyana. Jangan-jangan lelaki itu mulai tahu semuanya?
Namun, jika memang Steve tahu, tidakkah seharusnya ia membuat pembicaraan langsung dengan Lyana? Kenapa dia masih duduk di meja makan dengan santai tanpa sepatah kata pun? Sebenarnya, apa yang sedang dipikirkan lelaki tersebut?
"Bagaimana jika kau beristirahat dulu di sini selama beberapa hari. Sekarang hari minggu, kau bisa beristirahat dengan tenang setelah ini. Besok jika keadaamu belum membaik, ada baiknya kau mengambil cuti dulu!" Celline memberikan saran. Tak jauh darinya, Revel yang sudah khawatir ikut menguatkan saran Celline.
"Mom benar. Kau sepertinya memang tidak baik. Bagaimana jika Morrisa memeriksamu setelah ini?" Revel melirik pada pasangannya, meminta bantuan. Morrisa mengangguk, bibirnya tersenyum tulus.
"Setelah ini aku akan memeriksamu! Kau sangat pucat, Lyana!" Morrisa terdengar prihatin. Lyana adalah wanita yang cukup menyenangkan, meskipun ia memiliki karakter introvert. Tak ada buruknya berbuat baik dengam wanita itu.
"Tidak perlu repot-repot. Aku hanya harus istirahat lebih banyak. Aku tetap akan kembali ke apartemen hari ini, Mom." Lyana menatap semua orang. "Maaf, semuanya! Aku kembali ke kamarku lebih awal!"
Tanpa menunggu reaksi dari keluarganya, Lyana sudah bangkit berdiri dan berjalam cepat ke kamarnya. Semua orang saling memandang dan merasa tak berdaya. Meskipum Lyana introvert, dia adalah orang yang cukup keras kepala. Jika telah memutuskan sesuatu, sulit bagi orang lain untuk menghentikan. Termasuk saat ini. Dia enggan diperiksa dan memilih pergi begitu saja. Tak ada seorang pun yang berniat menahannya lebih lama. Mereka tak tega melihat wajah pucat Lyana yang tertekan. Mungkin wanita itu memang butuh istirahat yang lebih banyak. Ada baiknya juga ia segera kembali ke kamar. Masing-masing orang saling berargumen setelah kepergian Lyana. Mereka ikut khawatir.
Hanya satu orang saja yang tidak ikut berargumen. Dia memilih tetap diam dan mengamati situasi. Ujung jari telunjuknya bergerak, membentuk pola abstrak di atas meja. Gerakannya santai, tanpa beban dan tekanan. Tetapi, tak ada siapa pun yang memperhatikan jika sorot matanya berubah lebih tajam dan berbahaya.
Sementara itu, setelah Lyana pergi dari ruang makan, dia langsung kembali ke kamar. Langkahnya cepat dan stabil. Air mukanya masih sekelam tadi, tetapi setidaknya pikirannya mulai berjalan normal.
Seperti halnya Revel, Bella, dan Steve. Hari ini adalah hari terakhir ia di rumah ini sebelum akhirnya bisa kembali ke apartemen sederhana yang ia miliki. Setidaknya, setelah ini, Lyana bisa segera pulang dan tidak lagi menghadapi Steve. Situasi rumah ini membuat Lyana merasa was-was.
Baru saja sepuluh menit ia duduk termenung di kamar dan berencana kembali ke apartemen lebih awal, pintunya diketuk oleh seseorang. Kening Lyana mengernyit dalam. Dia berjalan enggan dan membuka pintu.
Saat Lyana membuka pintu, dia mematung selama beberapa detik. Sosok di hadapannya adalah sosok yang menjadi beban pikirannya sepanjang pagi ini. Persis tak jauh dari Lyana, berdiri Steve dengan anggun. Matanya meskipun sedikit merah, tetapi memiliki ketajaman bawaan. Tubuhnya yang jangkung dan gagah membuat Lyana seperti diintimdasi.
"Steve? Apakah ada sesuatu yang membuatmu datang mencariku?" Suara Lyane tercekat. Dia menopangkan kedua tangan ke pintu, merasa tak sanggup berdiri tegak. Matanya memancarkan ketakutan. Mungkinkah Steve ingin membahas apa yang terjadi semalam? Sudah tahukah ia tentang peristiwa semalam? Jika benar, akan serendah apa Steve menilai dirinya? Mungkinkah ia akan dijadikan sebagai titik kesalahan dan dianggap tak berharga lagi?
Semua pertanyaan-pertanyaan itu membuat Lyana semakin was-was. Wajahnya kian memucat, seolah-olah tak ada darah di bawah kulitnya lagi.
"Lyana," panggil Steve, nada suaranya menunjukkan keseriusan. Sinar mata Steve menari-nari dengan indah. Saat ini, ia seperti lelaki yang sedang membidik suatu target untuk mendapatkan informasi akurat.
"Ya?" Jawaban Lyana terlalu lirih, nyaris seperti angin.
"Aku ingin mengetahui sesuatu. Apakah ada yang terjadi semalam di antara kita?"
…