Lyana menutupi tubuhnya dengan selimut. Kedua tangannya mencengkeram erat ujung selimut dalam genggaman. Keringat dingin mengalir keluar dari telapak tangan dan kaki. Bibirnya gemetar. Rasa nyeri di s**********n dan cairan lembab di antaranya telah menunjukkan peristiwa besar yang baru saja terjadi.
Lyana menatap Steve yang kini terbaring di sisinya dalam keadaan tidur. Nafasnya teratur, tubuhnya bergerak naik turun dengan lembut. Steve sama polosnya dengan Lyana. Baju mereka terlempar sembarangan di lantai.
Lyana memejamkan mata, menutupi wajahnya sendiri. Dia menggeleng tak berdaya. Di bawah remang-remang lampu kamar, Lyana mengamati tubuhnya sendiri yang penuh dengan bekas-bekas kemerahan. Steve terlalu liar sehingga tubuh sensitif Lyana memiliki banyak tanda di mana-mana. Mengingat apa yang baru saja mereka lakukan, membuat hati Lyana bergelenyar hebat. Detak jantungnya menghentak tak karuan. Wajahnya disembur oleh rasa panas karena malu.
Mereka telah melakukan itu. Mereka telah melewati batas. Bahkan, mereka melakukan ini tidak hanya sekali. Menyadari fakta tersebut membuat perasaan Lyana kacau. Giginya bergemeletuk karena sangat tegang.
Lyana memandang Steve yang terbaring menawan di sisinya. Mata lelaki tersebut terpejam, memberikan kesan damai. Melihat Steve yang seperti ini seolah menunjukkan dia memiliki sisi lain tersembunyi. Sisi lembut yang tak pernah Steve tampilkan di hadapan dunia, tak peduli apa.
Lyana merasa hatinya dicengkeram kesakitan baru. Dia memikirkan dengan cepat apa yang harus ia lakukan saat ini. Segalanya telah berjalan di luar kendali. Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan saat ini adalah membereskan kekacauan yang ada.
Setelah berdiam diri selama beberapa menit tanpa melakukan apa pun, Lyana kemudian memutuskan untuk bangkit dan memakai kembali bajunya yang terserak di bawah kaki ranjang. Ia juga mengambil baju milik Steve dan mencoba memakaikan baju Steve dengan susah payah setelah sebelumnya memastikan Steve benar-benar tidak sadar.
Tidak mudah memakaikan baju pada lelaki besar yang pasif. Lynelle terpaksa menahan tubuh Steve dengan kasar saat lelaki itu tanpa sadar menolak tindakan Lyana.
Setelah seperempat berlalu, Lyana duduk bersandar di sisi ranjang dengan nafas berat. Sungguh sebuah perjuangan membuat Steve kembali memakai bajunya. Lyana tidak boleh meninggalkan bukti. Dia harus membuat Steve tampak baik-baik saja keesokam harinya. Jangan sampai lelaki itu bangun dan menyadari apa yang sesungguhnya telah terjadi. Semuanya akan kacau jika Steve menyadarinya.
Lyane bertindak secepat tubuhnya mengijinkan untuk merapikan kamar Steve bekas percintaan mereka. Dia menutup mulutnya rapat-rapat saat melihat sebercak darah merah di atas tempat tidur. Lyana ingin menangis saat itu juga. Bukti paling jelas sudah terpapar oleh tindakannya sendiri.
Dengan pikiran kalut, Lyana mencari kain dan membasahinya dengan air. Setelah merasa yakin, dia datang ke sisi ranjang dan mulai berfokus mengusap dan menghilangkan bekas jejak darahnya sendiri. Darah kesuciannya.
...
Lyana menyembunyikan diri di kamar pribadinya, menutupi diri dengan selimut. Wajahnya pucat dan tampak panik. Bibirnya gemetar karena cemas.
Sudah empat jam ia duduk di ranjang tanpa melakukan apa-apa. Dia seperti hewan yang tersudut dan tak bersedia untuk keluar. Lyana bahkan belum tidur sama sekali. Matanya terlihat kuyu dengan lingkaran hitam yang menunjukkan kelelahan. Kelopak matanya sesekali bergetar lemah, menuntut istirahat.
Mentari telah menyapa. Satu jam lagi waktu sarapan. Lyana harus turun ke bawah. Tetapi situasi dirinya sendiri masih kacau dan tak karuan.
Bayangan apa yang telah ia lakukan tadi malam bersama Steve menari-nari dalam otaknya, menolak pergi. Tadi malam Steve mabuk dan merayu Lyana sebegitu rupa. Akhirnya, Lyana berakhir di ranjang kakak angkatnya sendiri. Dia menyerahkan sesuatu yang amat berharga. Kesuciannya.
Lyana adalah wanita yang amat tertutup. Di usianya yang ke dua puluh empat, Lyana bahkan belum pernah menjalin romansa yang serius dan tidak terlalu mengenal baik lawan jenis. Hidupnya terlalu monoton, menjalani hari-hari kosong tanpa angan muluk-muluk. Lyana bukannya kekurangan teman laki-laki atau tak memiliki pengagum sama sekali. Hanya saja setiap kali mereka melewati batas dan menginginkan hubungan yang lebih nyata, Lyana segera mundur teratur.
Sebagai putri p*****r, dia telah mengalami banyak olok-olok dari lingkungan sosial. Ibunya meskipun cukup baik, tetapi tidak terlalu memperhatikan perkembangan dirinya, sehingga Lyana merasa tumbuh seorang diri tanpa dukungan yang berarti. Dalam pertumbuhan itu, Lyana menyaksikan secara langsung bagaimana ibunya berinteraksi dengan lawan jenis yang berbeda dan merayu banyak lelaki. Semua itu membuat Lyana memiliki anti pati tersendiri. Jauh di lubuk hatinya, ia bersumpah tak akan pernah menjadi wanita yang sama dengan ibunya.
Tekad itulah yang telah membuat Lyana memasang tembok tinggi pada kaum adam. Dia tak bersedia takluk begitu saja. Bagi Lyana, hubungan romansa merupakan hubungan rumit yang tak perlu. Selain itu, ia juga belum menemukan lelaki yang ia cintai secara tulus. Untuk apa terburu-buru membentuk hubungan?
Namun, semua prinsip yang telah ia genggam selama ini hancur tadi malam. Satu saja rayuan dari Steve, kakak angkatnya sendiri, telah membuat Lyana menyerah dengan suka rela. Dia memberikan hartanya yang berharga begitu saja. Semua itu seperti hal manis yang mustahil untuk ia tolak.
Sekarang setelah semua berlalu, logika Lyana perlahan-lahan mulai kembali. Dia ingat statusnya dalam rumah ini sebagai anak angkat dan pendatang yang tak diharapkan. Dia juga tahu bagaimana pendapat Steve selama ini mengenai dirinya. Jika Steve tahu tadi malam mereka melakukan hubungan terlarang, pasti keadaan semakin kacau. Lyana hanya akan dituduh sebagai perayu ulung seperti ibunya, dituduh memanfaatkan Steve, dituduh mempermainkan Steve dalam kondisi tak sadar, dan pasti banyak tuduhan lain sejenisnya. Sudah bisa dipastikan hubungannya nanti dengan keluarga Shancez akan retak, dan ia menjadi pihak yang dibenci banyak orang. Lyana tak mau itu terjadi. Keluarga ini sudah menjadi nafas hidupnya yang amat berarti.
Lyana tak siap. Lyana tertekan. Lyana bingung. Dia memikirkan semua jalan keluar, sayangnya tak berhasil menemukan cara apa pun untuk melarikan diri. Satu-satunya cara untuk menghadapi kejadian ini adalah dengan berpura-pura tak terjadi apa-apa. Dia hanya bisa berharap Steve cukup mabuk sehingga tak mengingat kejadian semalam. Seharusnya, itulah yang terjadi. Lyana sudah menghapuskan jejak-jejak percintaannya semalam. Semoga tidak ada hal buruk menyertainya.
Lyana memutuskan bangkit perlahan dari ranjang dan membasuh wajah. Dia harus menyegarkan diri terlebih dahulu. Wajahnya sangat pucat saat ini dan ia tak mau menjadi bahan perhatian di meja makan. Celline adalah orang yang amat peka. Lyana tak ingin menarik banyak kekhawatiran orang lain.
Setelah membasuh wajah, Lyana berjalan pelan ke arah balkon. Tubuhnya menghangat saat disiram cahaya matahari pagi. Dia menatap langit yang cerah dan tanpa sadar, bayangan dirinya menghabiskan waktu tadi malam kembali berputar di kepala. Lynelle menggigit bibir dan menggelengkan kepalanya keras-keras. Bagaimana bisa ia sebrutal itu tadi malam? Dia menjadi wanita yang responsif pada setiap gerakan dan sentuhan Steve, seolah-olah keduanya memang ditakdirkan menjadi pasangan dan tak terpisahkan.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, Lyana mampu melihat sisi lain dari Steve. Sisi yang tak pernah Steve tunjukkan pada dirinya. Lelaki itu semalam penuh kelembutan dan pemujaan. Penuh pujian dan kekaguman. Sangat halus dan memuaskan. Tanpa sadar, mata Lyana tampak berkaca-kaca. Dia jelas tahu di lubuk hatinya, Steve memperlakukan dirinya sebagai orang lain, bukan sebagai Lyana.
Hati Lyana teremas menyakitkan. Dia terisak kecil, menutup wajah mungilnya yang indah.
Tiba-tiba sebuah ketukan membuyarkan lamunan Lyana. Terdengar suara Momo yang sangat akrab di telinga.
"Nona, waktunya sarapan. Nyonya sudah menunggumu di bawah!"
Saat itu juga, hati Lyana menjadi tak karuan. Bisakah ia menghadapi keluarga angkatnya saat ini?
…