Bab. 4. Aku ingin memelukmu

1207 Words
Sosok remaja tampan, berbadan jangkung dengan senyum manis, berdiri di koridor kelas sepuluh. Menatap Ara tanpa berkedip. Dia begitu terpesona dengan pipi chubby nan halus bak porselen Cina. Ingin rasanya mendekap lalu menguyel-uyel pipi Ara, sampai gadis itu tidak bisa bernapas. Seperti dulu. “Ya, seperti dulu, “terawangnya saat masih kecil di sebuah kota. Saat istirahat menjelang, Ara dan sahabatnya si Ceking menjalankan sholat Zhuhur bersama, setelahnya mereka mencari spot di Taman sekolah untuk makan siang berdua. Gadis gemuk itu merasa sangat beruntung, memiliki sahabat satu-satunya yang mengerti keadaan dirinya. Bahkan dia tak mempermasalahkan dengan kepribadian yang cenderung menyendiri. Dengan kesamaan mereka menjalin persahabatan yang tak terpisahkan. Dimana ada Ara disitulah si ceking berada. Bahkan ada yang menjuluki mereka berdua dengan sahabat bantal dan lidi berjalan. Kalimat yang membuat mood pipi chubby-nya tambah menggembung kesamping, pertanda tak terima. Tapi tak apa, mau dikatakan apapun, karena itu apa adanya. Membuka kotak bekal masing-masing, mulailah kegiatan makan siang yang telah bergeser dari waktu semestinya. “Kamu mau mencicipi bekalku Ara?” tawar si ceking sembari menyodorkan wadah makannya. Sejenak melirik kesana, “Gak ah”. “Kenapa ini enak loh”. “Enak bagimu buatku tidak”. “Sungguh?” kembali dia menyodorkan benda itu. “Hadew cekiiing…aku tidak terlalu suka dengan makanan laut. Bawa sana, habiskan sendiri!” “Huh dasar, herbivora, “ejeknya sambil menjulurkan lidah. “Carnivora, “balasnya sembari menjulurkan lidah. “Ha…ha…ha, “serentak keduanya tertawa. “Hei Ara”. Sapaan itu menghentikan tertawa tak elok mereka. “Ya”. “Hem…hem”. Respon si ceking sambil menyenggol lengan sahabatnya. “Apa si lue?” bisik gadis gemuk tersebut. “Idola sekolah nek, “bisiknya. “Diem deh loe”. Gerakan menutup mulut dan membuang kunci dilakukan si ceking. Kemudian sok sibuk memakan bekalnya kembali. Dengan sedikit gugup Ara berdiri menghampiri orang yang menyapa. “Ya, ada apa?” jawabnya kembali. “Jangan lupa setelah ini kita ditunggu guru pembimbing untuk latihan sampai jam tiga sore”. “Oke aku ingat”. “Di laboratorium. Kamu tahu, kan?” “Ya…ya”. “Oke kita ketemu disana nanti”. “Oke, “sahutnya sambil membentuk huruf ‘O’ dengan jari. Anak laki-laki yang mengingatkan, akan jadwal latihan pun meninggalkannya. Kembali Ara melanjutkan makan siang dengan tatapan penasaran dari sang sahabat. “Apa ingin kucolok itu mata?” “Sceek, “decaknya kesal. Meraih botol minum dan menandaskan. “Marah nie, sampai segitunya kalau minum?” “Kasih penjelasan dong? Bagaimana kamu bisa sedekat itu dengan The Most Wanted Boy di sekolah kita?” “Maksudmu?” “Ouh ayolah Ara nan chubby dan menggemaskan. Apa kamu tidak bisa mengartikan pandangan matanya?” “Emm tidak. Biasa saja tuh”. “Haish, kamu bodoh apa pura-pura bodoh?” “Dua-duanya mungkin?” sambil menggelengkan kepala. “Haduh, “ditepuknya jidat sendiri. “Ara sayang, “dijewernya pipi temben sang sahabat. “Dia menyukaimu, paham?” “Nggaaak…ha…ha”. “Bah, sudahlah percuma ngomong sama kamu. Ayo kembali ke kelas. Jangan sampai kita kena marah bu Nina”. “Oke”. Sahabat guling dan lidi berjalan melintasi halaman sekolah hingga mencapai kelas. Tak lama kemudian bel masuk pertanda pelajaran sesi berikutnya dimulai. Seperti biasa Ara-lah yang paling sering bertanya dan menjawab pertanyaan dari guru pengajar. Hal ini membuat hati seseorang semakin mendongkol. Dan bertumpuklah rasa iri benci dalam jiwanya. Dia mengepalkan tangan dibawah meja sambil bergumam, “Dasar gadis gemuk sok pintar. Tunggu pembalasanku”. Kedengkian yang merebak, membuat gadis cantik di bangku depan mencoret-coret buku Bahasa Inggrisnya tanpa sadar. Bahkan tanpa terasa ujung bukunya ada yang sobek. Keadaan itu seolah tak mempengaruhi suasana pelajaran. Hingga bel sekolah tanda berakhirnya kegiatan berdentang. Dan keriuhan para remaja dari setiap kelas menuju tempat parkir kendaraan pun menggema dimana-mana. Tak lama kemudian sekolah kembali sunyi. Menyisakan beberapa anak yang masih harus mengikuti pelajaran tambahan. Mereka memasuki ruang kelas dan laboratorium tempat pemusatan latihan. Sedangkan ceking masih mencoba menegosiasi sang sahabat. Dia ngeyel ingin menunggu Ara sampai selesai latihan. Dan perdebatan yang tak berujung terjadi didepan lab kimia. “Hei ceking kamu pulang duluan saja. Gak usah menungguku”. “Tidak bisa aku harus menunggu bestie-ku sampai selesai latihan. Karena kita sudah berjanji untuk pulang bareng-bareng. Okay, “jawabnya sambil mengedip-ngedipkan mata jenaka. “Bah, gak ngaruh tahu ngak. Ekspresimu itu bikin aku tambah eneg, “menjulurkan lidah. “Aiih jahat deh kamu Ara. Aku menunggumu sampai pulang. Ya…ya?” rayunya sambil mengusap lengan sahabatnya. “Ngapain juga nunggu aku sampai pulang. Ujung-ujungnya kita juga naik ojek sendiri-sendiri. Memangnya kamu punya sepeda?” Ditepuknya jidat sendiri, “Hadew aku lupa soal itu”. “Makanya ceking jangan kebanyakan makan p****t ayam”. “p****t ayam? Brutu maksudmu?” “Eh iya itu, “jawabnya sambil nyengir. “Huh dasar gadis kota. Brutu dibilang p****t, mana ada? Kalau p****t kan gak ada ekornya. Sceek dasar herbivora, “gerutunya panjang pendek. “Sudah~sudah. Pulang sana gih, ditunggu ojekan langgananmu tuh, “didorongnya punggung si ceking pelan. “Baiklah tapi janji besok ajari aku soal bu Nina tadi”. “Oke”. “Bye Ara…sampai ketemu besok…love you, “ucapnya berkali-kali sambil sesekali menghentikan langkah seolah enggan meninggalkan sahabatnya. Sedangkan Ara memanyunkan bibir sebagai balasan akan kelakuan absurd si ceking. Begitu sampai diujung tangga menuju lantai satu, gadis kurus pun setengah berlari sambil menahan tawa. Sesampai di gerbang sekolah dia mengeluarkan suaranya keras-keras. Untung semua siswa sudah pulang hingga tak menimbulkan berbagai pertanyaan. Hanya saja tukang ojek yang parkir dibawah pohon manggis sedikit mengerenyitkan dahinya melihat kelakuan pelanggan setia. Menghampiri pria yang tengah duduk di atas sepeda, ceking memposisikan dirinya di boncengan belakang sambil masih menahan tawa. “Neng tidak apa-apa?” mengangsurkan helm penumpang. “Maksudnya apa bang?” “Itu tertawa terus sampai mukanya memerah”. “Haish sudahlah yok jalan bang”. “Langsung pulang, nih?” “Tentu saja”. “Pegangan neng!” “Pelan-pelan bang, jalannya turun, nih!” Hanya anggukan kepala yang diberikan oleh si abang ojek. Sepeninggal sahabatnya Ara melangkahkan kaki menuju ke dalam laboratorium. Disana sudah ada ‘Renaldy’ sang ketua OSIS sekaligus partnernya dalam lomba kali ini. Remaja tampan pun mendongakan kepala saat teman tim-nya mendekati. Dia tersenyum sambil mempersilahkan gadis itu untuk duduk di sisinya. Mereka mendiskusikan banyak hal, termasuk proyek mereka saat ini. Hingga sebuah ide melintas untuk membuat sebuah produk pelangsing ramah lingkungan dari tumbuhan yang ada disekitar wilayah Prigen melalui proses kimiawi. Produk yang dibuat dari tumbuh-tumbuhan disekitar. Berupa minuman yang enak menyegarkan sekaligus menurunkan berat badan. Setelah keduanya mencapai kata sepakat. Mereka membagi tugas sesuai kapasitas masing-masing. Ara menyusun komposisi bahan dan katalisatornya. Sedangkan Renaldy membuat hitungan proses kimia-nya. Kedua pelajar pandai pun menuliskannya di buku masing-masing. Hingga tak terasa hampir pukul lima sore. Mereka mengakhiri kegiatan dan berjanji untuk bertemu di lab ke esokan hari dengan catatan yang sudah diketik rapi, untuk diajukan ke guru pembimbing. Saat Renaldy berkeinginan untuk membonceng Ara sampai dirumahnya. Gadis gemuk itu menolak dengan dalih si tukang ojek langganan tengah menunggu di depan gerbang sekolah. Sang ketua OSIS hanya mengangguk mengalah dan merekapun berpisah di pintu sekolah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD