Bab. 5. Rengekan Amalia

1496 Words
Hari ‘H’ semakin dekat, membuat team lomba dari setiap kompetensi bertambah kesibukan. Bahkan Renaldy bolak balik pergi ke toko bahan kimia tatkala ada yang terlupakan. Sedangkan Ara lebih banyak diam di laboratorium sambil mengerjakan proses penelitian yang tinggal sedikit lagi. Seperti saat ini dia tengah berada di ruangan yang penuh dengan gelas-gelas ekstraksi bahan, sendirian. Sesekali matanya melihat gelembung cairan yang mengalir menuju pipa dan berakhir di gelas beaker lima ratus mili yang terletak disisi kanan meja praktikum. Saat warna cairan dalam wadah Kristal menjadi ungu terang dengan wangi khas buah berry, dia pun mengangguk pertanda puas akan keberhasilan membuat ekstrasi tersebut. Fokus dalam pengerjaan proyek, dia tak menyadari ketika seseorang memasuki ruangan. Berdiri dibelakang Ara sambil berkacak pinggang. Tak menghiraukan, dia tetap mengamati setiap proses penelitian. Hingga orang tersebut memecah kesunyian saat tangannya mengebrak meja dengan buku yang dipegang. “Dasar sombong! Sok pintar!” Ara berjengit, “Ap~apa?” membalikan badan ke suara. Netranya memicing tatkala Sonia, gadis tercantik dikelas tengah menatap tajam penuh kebencian. Membetulkan posisi kacamata sejenak. Dia pun berkata,“Apa maksud perkataanmu itu, heh?” “Kamu itu gadis sombong sok pintar,“tunjuknya ke dahi Ara. “Apa itu menganggumu?” “Jelas karena kamu sangat sombong, mana sok pamer lagi. Cantik juga tidak, ngaca sana!” Netra Ara mulai berkaca-kaca mendengar hinaan itu. Dia menetralkan emosi yang sempat mencuat. Menghembuskan napas sejenak, setelahnya dia membalas dengan senyum tertahan. “Kamu merasa insecure akan hal itu, Sonia?” “Braaak!”membanting lagi buku di atas meja dengan keras. “Ngak level tahu!“jawabnya sambil bersedekap d**a. “Lantas?” “Eh dengar ya gadis tambun sok cantik. Jangan sok keganjenan deh kamu. Pura-pura pintar, supaya kamu bisa mendekati Renaldy, kan?” “Ouh jadi ini semua tentang dia?” “Kalau iya kenapa? Perlu kamu tahu ya, dari sisi sebelah manapun kamu tak pantas disandingkan dengan The most wanted boy di sekolah ini. Kayak the bold and the beast. Renaldi bold-nya sedangkan monsternya kamu, paham!” Sedikit bergetar Ara menjawab, “Kalau masalah itu kamu tidak usah kuatir. Aku hanya team lomba dengan dia. Dan aku tak punya keinginan sedikitpun untuk menjadi kekasihnya. Aku cukup tahu diri”. “Heeem, baguslah kalau begitu,“sahutnya ketus. Sonia pun membalikan badan hendak meninggalkan laboratorium. Dengan tangan kanan sedikit terayun, seolah tak sengaja dia menyenggol gelas beaker hingga benda itu jatuh menggelinding ke lantai. “Oups maaf, “katanya sambil berlari kecil keluar ruangan. Melihat gelas ekstrasi bahan yang belum sempat diproses isinya berhamburan ke lantai, Ara hanya mengelus d**a dan menggumamkan kalimat, “Sabaaar Ara”. Dia memunguti benda itu dan mulai membersihkan dengan lap basah. Saat tengah sibuk membersihkan lantai, Renaldy datang sambil menenteng dua plastik belanjaan di tangan. Begitu melihat partnernya yang bersimpuh, dengan terburu dia meletakan barang bawaan ke meja. Dia pun jongkok di sisi gadis itu. “Apa yang terjadi Ara? Tak biasanya kamu seceroboh ini?” “Kamu sudah datang? Apakah bahan-bahan yang kita perlukan sudah lengkap?” jawabnya tak menghiraukan dengan pertanyaan remaja lelaki itu. Dia tetap sibuk dengan kegiatannya sambil bertanya, tanpa menatap lawan bicara. “Hei lihat aku. Jawab dengan jujur Ara, apa yang terjadi?” sambil menangkup pipi chubby gadis di depannya. Mata bulat coklat milik Renaldy menatap intens ke bola gelap gadis gemuk berkulit putih. Dari dahinya mulai menetes peluh kala kesibukannya terhenti. Posisi bersimpuh memerlukan tenaga lebih baginya, sehingga mengalirlah tetesan keringat dari dahinya yang sedikit lebar. “Sceek. Kamu selalu membuatku iba dengan air di wajahmu itu, “remaja tampan itu meraih tisu dari atas meja tanpa mengalihkan pandangan dari Ara. Dengan penuh kelembutan dia mengusap peluh gadis chubby yang pipinya mulai memerah karena malu. Bahkan tanpa disadari, Renaldy mulai mendekatkan wajah dengan tatapan intens mengarah ke bibir pink Ara. Bahkan hembusan napas hangat mulai terasa di bibir gadis gemuk itu. Ketika jarak kedekatan mereka tinggal satu centi, suara ketokan sepatu pantofel beradu dengan lantai terdengar nyaring. Keduanya tersentak kaget dan mengarahkan pandangan ke pintu. Salah tingkah, gegas Renaldy berdiri tegap dan mengeluarkan barang-barang yang dibelinya ke atas meja. Sedangkan Ara menghembuskan napas. Memegang d**a yang sempat mengeluarkan suara drum bertalu-talu. Dia pun melanjutkan kegiatan membersihkan lantai. Keduanya hanya melirik ke arah pintu masuk. Sampai suara itu semakin menjauh dari ruangan dimana mereka berada saat ini. Dan, “Fiuh kukira Pak Hamid”. Kata remaja lelaki itu. Dia melirik kebawah dan Ara pun menyambut dengan senyum dikulum. “Kamu sudah selesai Ara?” “Sudah”. “Baiklah kita makan siang dulu. Aku sudah membelikan bihun jagung kuah kesukaanmu”. “Sungguh?” sahutnya dengan mata berbinar. “Itu yang membuatku tak tahan, “digusraknya rambut Ara lembut. “Ba~bagaimana kamu tahu makanan favoritku, Rey?” “Aku ketua OSIS di sekolah ini. Semua informasi dapat kuperoleh dengan mudah, “jawabnya sambil menepuk d**a. “Aish, sombong”. “He…he…he”. Reynaldi pun mengambil kotak bekal Ara yang ada di bak cuci peralatan. Dia menuangkan isi bungkusan ke dalamnya. Meletakan sendok di atasnya dan mengangsurkan ke hadapan gadis itu. “Nih makanlah. Jangan sampai kamu sakit perut karena terlambat makan”. “Oke ketua”. “Jangan panggil dengan jabatanku”. “Lalu aku panggil apa?” “Rey saja Ara dengan nada yang lembut”. Dipukulnya dengan pelan lengan remaja lelaki disisinya. Dan matanya membulat tatkala melihat dia tidak mengambil wadah buat makanannya sendiri. Seolah mengerti dengan tatapan gadis chubby didekatnya, Renaldy berkata, “Tak usah risau. Punyaku bukan kuah, jadi aku bisa langsung makan dari bungkusnya,”Ara hanya mengangguk paham. Dan merekapun makan siang dalam diam. Seusai makan dan sholat, keduanya melanjutkan proses ekstrasi di laboratorium hingga sore menjelang dengan hasil sesuai harapan. Setelah membuat cairan penelitian siap untuk dikonsumsi, mereka membungkusnya di packing khusus agar tak mudah rusak. Menyimpan bahan tersebut di almari pendingin lab. Mereka pun meninggalkan sekolah, dengan senyum puas tersungging di bibir masing-masing. Seperti biasa, saat sang ketua OSIS ingin mengantarkan partnernya pulang, Ara selalu mempunyai beribu alasan untuk menolak. Dan Renaldy hanya bisa mengangkat bahu, tak berdaya. Akhirnya yang dia lakukan hanya bisa menunggu disisi Ara sampai ojek langganannya menjemput. Sore pun mulai merambah bumi saat kedua remaja itu berpisah di ujung jalan yang memisahkan kedua arah, menuju hunian masing-masing. *** Sabtu malam minggu pun datang. Halaman sekolah penuh dengan dua mobil elf yang tengah parkir menunggu para penumpang. Sang sopir mengobrol di bangku beton yang berada dibawah tulisan PRIVOS, sambil sesekali menjawab telepon genggamnya. Sedangkan kenek mereka tampak sibuk mengelap badan mobil yang sedikit berdebu, sambil berdendang lirih mengikuti irama music dangdut yang sengaja disetel keras dari amplifier mobil tersebut. Dibawah tiang bendera, beberapa siswa tampak sedang berselfie ria. Sedangkan di pembatas taman depan ruang perpustakaan, ada beberapa remaja laki-laki bersenda gurau. Banyak yang mereka bicarakan bagi teman-teman yang akan berangkat lomba kali ini. Terutama Renaldy yang berulang kali tersipu dengan pembicaraan absurd sahabat-sahabatnya. Jika sang ketua OSIS dikerumuni banyak rekan baik itu laki-laki maupun perempuan, keadaan ini berbanding terbalik dengan Ara yang tengah bermelow-melow dengan sahabat satu-satunya. Mereka tengah berucap selamat berpisah dan semoga sukses dibawah tangga kelas depan ruangan sepuluh IPA. Ucapan itu lebih banyak didominasi oleh si Ceking, yang tak rela ditinggal oleh sang sahabat selama menjalani karantina. Bahkan tangisan buaya sengaja dia perlihatkan demi mendapatkan simpati Ara, agar sering video call-an begitu timnya sampai ditempat lomba. Gadis gemuk dengan pipi chubby itu hanya mengiyakan semua permintaan sahabatnya, demi menghindari suara rengekan yang semakin keras. Ara memang bingung dengan kelakuan bestie-nya yang cenderung ingin menempel kemana pun dia pergi. Bahkan pernah dia menganjurkan agar si Ceking belajar dengan rajin supaya bisa bergabung dengan ‘Club Science’ di sekolah. Tapi penjelasan panjang lebar yang dia berikan, tidak ada artinya bagi gadis kurus itu. Dia lebih menyukai ‘Club Bola’ daripada memeras otak kecilnya. “Bikin pusing,”keluhnya saat berhadapan dengan angka-angka yang berderet di buku catatan. “Oke aku janji nanti langsung Video call kamu deh,“bujuk Ara sambil mengelus punggung sang sahabat. “Hiks…hiks, janji ya,“sambil mengekspresikan mata puppy-nya. “Oke, sekarang pulang gih”. “Hem ngusir, nih?“memonyongkan bibir. “Ngak. Cuma aku bosan aja lihat rengekan kamu yang kayak anak kucing itu”. “Haisssh, ya sudahlah. Aku pulang, nih”. Mengaitkan satu tangan di besi pembatas tangga. “Iyaaa, pergi sana”. “Baiklah~tapi lepaskan dulu pegangan tanganmu, Ara”. “Siapa yang pegang, Ceking?” “Ya kamulah, siapa lagi. Lepasin! Berat nih”. Sadar dengan kekonyolan temannya, Ara hanya tergelak. Si Ceking pun melepas kaitan tangan dari pembatas dengan acuh. Kemudian kedua gadis itu pun menuju mobil yang akan mengantarkan tim lomba ke Surabaya. Lambaian tangan di ayunkan saat kendaraan melaju dengan perlahan menuju jalan raya. Semua pengantar pun membubarkan diri tatkala kendaraan itu sudah tak terlihat lagi dalam pandangan. Dan kembali lingkungan sekolah menjadi sunyi, menyisakan sang penjaga malam yang sedang menutup pintu gerbang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD