Bab. 6. Perlombaan Ilmiah

1245 Words
Di aula Brandt Research Center, Renaldy dan Ara telah duduk di panggung, tempat mereka akan diuji oleh tiga professor dengan pertanyaan lisan. “Jangan gugup Ara ada aku bersamamu, “mengenggam tangan sang gadis. “Aku takut membuat kesalahan, Rey,“melirik kearah sang guru di barisan penonton. “Ingat pesan pak Hamid. Kita harus terus berusaha dengan keras, tanpa terbebani dengan hasil akhir, “menatap matanya intens. “Ya aku tahu.” “Tarik napas, hembuskan napas.” Ara melakukan yang diperintahkan Reynaldi. Kala air mukanya sudah normal lagi, sang partner melepaskan genggaman tangan. “Kamu siap partner?” “Siap.” “Baguslah, jangan lupa jika pertanyaannya dalam Bahasa Inggris, itu bagianmu,“kerlingnya nakal. “Heeems,“mencebik dengan disambut kekehan geli disebelahnya. Pertanyaan juri dibabat habis oleh team Privos, dengan nilai mutlak. Ara dan Renaldy mendapatkan acungan jempol dari guru pembimbing. Kemudian team pemenang yang terdiri dari tiga besar diarahkan menuju laboratorium. Tiga meja panjang berjajar rapi, dengan terdapat gelas ukur juga peralatan pratikum. Kali ini Ara dan Reynaldi sendirian berhadapan dengan team sekolah lain. Pak Hamid dan pembimbing dari sekolah, hanya diperbolehkan menyaksikan jalannya pertandingan dari balik layar kaca. Para peserta betul-betul disterilkan dari interfensi pembimbingnya. Kembali kegugupan menghampiri, “ingat Ara, tarik napas keluarkan napas.” “Iya…iya aku tahu Rey.” “Babak penentuan Ara, jangan sampai kita kalah dengan mereka. Bukankah kamu ingin melihat pusat penelitian di Amerika?” “Fine aku tahu itu,“masih gugup. “Jangan lupakan beasiswa yang akan kita dapat sampai perguruan tinggi. Harvard, girl.” “Oke, beasiswa Amerika, Harvard,“kata-kata itu disuntikan dalam benak dan pikiran. Hingga gugupnya berangsur menghilang. Emosi Ara pun menjadi tenang, dengan kepala tegak, dia menunggu amplop pertanyaan yang akan didistribusikan para juri. “Mama, doakan anakmu menang,“ batin Ara. Reynaldi hanya tersenyum senang sambil membayangkan kedekatannya dengan Ara, saat mereka kuliah di Amerika nanti. “Kita akan menang Ara, aku mengandalkanmu,“ pikirnya. Amplop berisikan pertanyaan telah diterima masing-masing team. Disana tertera waktu yang harus dipatuhi, kala mengerjakan praktikum. Semua team berusaha dengan keras untuk menjadi yang terbaik. Hingga tiba saat penilaian. Satu persatu meja dihampiri oleh para juri yang membawa papan penilaian dengan alat tulis. Tanpa bertanya ketiga professor itu langsung menuliskan sesuatu di board mereka, setelah melihat hasil eksperimen. Kemudian mereka kembali ke meja juri, berunding. Hingga kata sepakat telah diperoleh. Arahan bagi para team untuk menuju aula lomba, terdengar. Semua peserta mengikuti petunjuk panitia, begitu juga dengan para pembimbing. Keriuhan mulai terdengar dari berbagai sudut. Dengan harap cemas, Ara mulai menunjukan sisi kegugupannya. Reynaldi memahami kekuatiran sang teman, dengan mengenggam tangannya yang dingin. Ekor mata Pak Hamid menyaksikan,“apa kalian sudah jadian?” senyumnya menggoda. Reynaldi hanya tersenyum simpul sedangkan Ara yang tak sengaja mengangguk. “Oke kamu sudah menjawabnya, girl. Jadi jangan mengingkarinya,“ bisik Reynaldi ditelinga sang gadis. Melepas genggaman, “ap…apa yang kamu tanyakan?” “Tidak ada, lupakan saja.” “Ehem,“ batuk kering terdengar dari arah samping. Ara tersipu melihat kearah sang guru pembimbing, yang sedang menaik turunkan satu alis. “Bapak bikin Ara jantungan saja.” “Yang bikin kamu jantungan, saya apa genggaman itu Ara?” Rona merah dipipi pun tak dapat disembunyikan. “Kamu cantik Ara, dengan warna pipimu itu,“ bisik Reynaldi. “Apaan sih kamu,“ mencubit pinggang sang partner pelan. Yang disambut dengan ringisan. Tak lama kemudian suara dari panggung terdengar, meminta perhatian semua yang hadir. Dan pengumuman pemenang pun terjadi dengan team PRIVOS menjadi juaranya. Memperoleh nilai mutlak jauh meninggalkan team lain. Euphoria kegembiraan terdengar dari ketiganya. Tanpa sadar Ara memeluk Reynaldi, yang disambut dengan kecupan dikepala. Kembali semburat merah mewarnai pipi chubby sang gadis. Tawa terbahak terdengar dari Pak Hamid. “Bapak, jangan begitu kan Ara tambah malu jadinya,“ menunduk. Digusraknya rambut sang gadis, “tak usah malu Ara. Pak Hamid juga pernah muda.” Setelah menggaungkan Nama PRIVOS di provinsi, Ara kembali ke kehidupannya yang biasa sambil menunggu datangnya pelaksanaan lomba tingkat Nasional, enam bulan dari sekarang. Pak Hamid, guru pembimbing dibidang research, memberikan jeda waktu sebulan untuk istirahat. Sembari memberi ide tentang proyek yang akan mereka ajukan. Ara sedang duduk di tepi kolam ikan yang ada di taman sekolah. Dia menikmati hembusan angin pagi sambil menikmati kudapan favorit. Gadis tambun itu tampak terpejam, merasakan belaian alam ke pipi bulat yang halus bak porselen. Namun tiba-tiba ada dua lengan melingkari pundak, dia pun menoleh kebelakang. “Breng…….!” matanya melotot ke pemilik tangan. “Cek….cek, anak gadis tidak sopan mengucapkan umpatan, duduk di sebelah Ara. “Kamu, bikin kaget aku tahu tidak!” Mengelus pipi chubby Ara, “maaf, aku sengaja. Hahaha.” “Dasar teman nggak punya akhlak.” Masih terbahak, “sarapan apaan, Ara? Boleh minta nggak?” Menyembunyikan wadah bekal,“nggak boleh, ini khusus untuk ku. Nggak ada jatah buat si ceking,“ mengerucutkan bibir. Menggembungkan pipi, “weleh pelit. Mentang-mentang…” “Mentang-mentang apa?” Berpikir sejenak dengan otak lemotnya,“eeemmm, apa ya? Oh, mentang-mentang menang lomba kali ya? Eh, nggak cocok ding. Kamu punya ide nggak Ara, kata yang cocok buat menjelaskan hal yang tadi?” “Weleh, malah bertanya. Memangnya apa yang ada di otak mu itu?” “Nggak tahu ah, bingung aku.” “Maksudku itu, wadah bekal kamu kan bagus banget. Baru ya?” “Kamu mau mengataiku pelit apa karena wadahku yang baru ini, membuatmu iri?” memperlihatkan wadah. Berpikir lagi,“kalau dua-duanya, gimana Ara? Aku bingung mendeskripsikan kata-katanya?” “Hehehe. Pikir sendiri deh,“ kembali melihat kolam ikan. “Wuuh dasar Ara, nggak seru.” “Sceeeekkk, sudah diamlah Ceking. Aku lagi menikmati keindahan kolam di pagi hari.” “Iya…iya.” Hening sejenak,“gimana hasil lombanya kemarin, Ra?” “Katanya mau diam, sudah ngajak ngomong lagi.” “Kan aku kepo tahu,“ mengedipkan mata dengan jenaka. “Nanti juga dikasih tahu pas upacara bendera hari senin.” “Kelamaan tahu, tidak cocok sama jiwa kepoku yang meronta-ronta. Ayolah Ra, sama sahabat sendiri ini, pelit banget.” “Gimana ya, kasih tahu nggak ya?” Mencebik, “Ara nyebelin,“ menghentakan kaki. “Hahaha,“ mengerling nakal. “Sceeek, dasar pelit.” “Ya sudah, kukasih kue ku mau nggak? Bunda yang buatin,“ menyodorkan wadah bekal. Ceking mengenduskan hidung kesana, “baunya enak. Kue apaan ini?” “Cicipi saja dulu, baru nanti kasih komentar.” “Kayak bukan kue Indonesia, ya?” “Memang bukan.” “Bundamu pintar masak resep semua Negara, ya?” “Boleh dibilang begitu.” “Aku kapan-kapan boleh main kesana, nggak?” “Nanti aku tanyakan sama Bunda.” Mengerucutkan bibir, “masa dikit-dikit Bunda. Apa-apa Bunda.” “Weeeh, lha Bunda yang punya keputusan. Kamu tahu semua yang melekat di badanku ini, milik Bunda.” “Heeeemmms,“ hendak menimpali. “Apa lagi?” “Nggak jadi deh. Tapi beneran ya, aku boleh kerumahmu?” “Iya, nanti kurayu Bunda, biar memperbolehkan si Ceking main kerumah. Atau nginap sekalian, bila perlu.” Matanya berbinar, “sungguh?” “Heem.” “Oke….oke,“ bertepuk tangan tanpa suara. “Tapi aku masih penasaran nie kamu menang, kan?” “Rahasia dong.” “Baiklah, kalau begitu aku mau tanyakan ke Reynaldy saja.” “Ya sudah. Berangkat sana.” Melirik jam di pergelangan tangan,“memangnya si Rey sudah datang jam segini?” “Eemmm,” Ara tampak berpikir dengan keras. Biji matanya pun memutar-mutar dengan liar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD