bc

My Little Wife

book_age16+
detail_authorizedAUTHORIZED
839
FOLLOW
2.6K
READ
family
CEO
drama
tragedy
like
intro-logo
Blurb

Diana begitu mencintai sang kekasih sampai ia lupa bahwa ada batasan untuk melakukan hubungan yang lebih. Namun, ia ternoda meski sudah mencoba menolak dan pada akhirnya tidak ada pilihan untuknya.

"Bukan aku pelakunya, tapi kenapa harus aku yang bertanggung jawab!"

Suara itu menggelegar sebelum akhirnya Diana dipersunting oleh kakak dari sang kekasih.

chap-preview
Free preview
Bab 1
Bab 1Diana berdiri di depan cermin mengamati dirinya sendiri yang saat ini sudah berdandan begitu cantik. Dress polos panjang di bawah lutut, menghiasi tubuhnya yang mungil. Kisah perjodohan di dalam novel atau pun drama televisi, sangat Diana benci. Menurut Diana itu adalah sebuah pemaksaan dan tidak memberikan sebuah pilihan sementara hati tidak bisa dipaksakan. Ini bukan tentang perjodohan yang kebanyakan orang bilang, tapi ini sebuah pernikahan mendadak yang harus di laksanakan karena sebuah kecelakaan. Namun, bagi Diana hal ini tidak jauh berbeda dari sebuah perjodohan atau pemaksaan. Diana tahu ini kesalahannya karena terlalu percaya dengan janji manis seorang pria, hingga pada akhirnya ia harus menanggung akibatnya. “Kamu sudah siap, Nia?” suara lembut itu datang dari balik pintu. Diana mendesah berat, coba menarik setiap ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman. Setelah memejamkan kedua mata beberapa detik sambil mengatur napas, Diana kemudian beranjak membukakan pintu. Di hadapannya, berdiri Wanita paruh baya dengan tatapan sendu penuh keprihatinan. “Kamu sudah siap, Sayang?” tanya Yuni. Diana mengangguk. Sebuah anggukan yang amat sangat berat, tapi tidak bisa dicegah oleh siapa pun. Diana merangkulkan tangan pada lengan ibunya. Jelas sekali ia gemetaran dan Yuni sadar akan hal itu. Yuni menuntunnya hingga sampai di ruang di mana Diana akan dipersunting seorang pria. Sambil melangkah perlahan, Diana tidak terlalu focus melihat pria yang bahkan belum pernah Diana temui itu. Teman-temannya bilang, orang itu tampan dan sangat baik dan santun. Dia juga ramah dengan orang-orang. Ayah dan ibunya juga bilang seperti itu sebelum hari penting ini dilaksanakan. Semakin dekat langkah kakinya, Diana bisa dengan jelas melihat wajah pria yang akan menjadi suaminya. Cukup sekilas Diana menatap, karena tidak cukup memiliki keberanian. Pada intinya, saat ini apa pun yang akan terjadi, Diana tidak bisa mundur untuk pergi. Ia hanya berharap saat pria itu mengucapkan ikrar janji suci, maka kehidupan barunya akan sesuai dengan apa yang orang-orang sekitar katakan. Bahagia dan juga terus Bahagia. Bodoh! Diana terlalu cepat menyimpulkan hal itu sampai dia lupa bahwa pernikahan ini adalah sebuah ke tidak sengajaan. Kesalahan yang Diana perbuat dengan sang kekasih berimbas pada pria lain yang sekarang resmi menjadi suaminya. Ini bukan kisah yang ingin Diana lalui, tapi apa salahnya berharap bahwa pria yang bertanggung jawab atas kecelakaan hina itu mau menyayanginya dengan sepenuh hati? Diana tidak pernah mau kejadian buruk itu terjadi. Sebisa mungkin dia sudah menolak, tapi ia kalah dengan kekuatan dan tenaga sang kekasih yang terus memaksa. Cih! Diana ingin sekali memaki pria yang sudah mengotorinya saat ini jika berani memasang muka di hadapannya. Sayangnya, hal itu tidak akan pernah terjadi. “Peraturan pertama!” ucapan itu mencuat Ketika sudah masuk ke dalam kamar. Diana yang baru saja menutup pintu seketika terdiam dan menoleh. “Jangan berani menyentuhku, menggangguku, apa lagi sampai menyentuh barang-barang pribadiku.” Diana menelan ludah susah payah. Belum sempat Diana melihat wajah suaminya dengan jelas dan mengagumi seperti yang orang lain katakan, ia langsung disadarkan dengan sebuah kenyataan kalau ternyata memang tidak ada yang tulus. Pria bernama Rendy Raharja itu, kini menoleh dan menatap jeli ke arah Diana. “Apa kamu paham?” Sekali lagi Diana menelan ludah lalu ia mengangguk sambil memejamkan mata. Pria yang kata orang baik hati dan ramah, di depan Diana terlihat begitu mengerikan. “Dan satu lagi,” ucap Rendy sambil menunjuk tepat di depan wajah Diana. “Jangan mengajakku bicara, dan jangan juga ikut campur urusan pribadiku. Kamu cukup diam dan sisanya terserah!” Rendy melepas jasnya lalu melempar ke sembarang tempat dan menghilang masuk ke dalam kamar mandi. Di tempatnya berdiri saat ini, Diana sudah termenung—mematung—sementara air matanya sudah hampir menetes. Seluruh badannya gemetaran dan keringat dingin sudah menyerang. Sekarang harus apa? Diana bukan lagi tinggal di rumah kedua orang tuanya, tapi sudah menetap di rumah mertua dan suaminya. Apa yang harus Diana lakukan sekarang? Diana mengamati jelas yang terjatuh di lantai itu. Cukup lama Diana terdiam sampai ia teringat dengan sebuah nasihat. Pesan dari sang ibu yang Diana dapatkan sebelum akhirnya resmi dipersunting. “Tenang, Diana.” Diana menarik napas dalam-dalam dan mengusap dadanya dengan lembut. “Semua akan baik-baik saja. Sekarang kamu cukup melakukan apa yang biasanya seorang istri lakukan. Bersikap baik, apa pun yang terjadi.” Diana membuang napas lalu tersenyum menyemangati diri. Ketika Diana hendak memungut kemeja di atas lantai, seseorang di luar sana mengetuk pintu. Dengan cepat Diana berdiri dan membukakan pintu. “Tante,” lirih Diana begitu pintu sudah terbuka. “Hai Diana.” Santi tersenyum. “Bagaimana, apa kamu sudah berbenah?” Diana terdiam karena bingung. “Ma-maksud tante bagaimana?” Santi maju dan mengajak Diana masuk. “Kemarilah, biar mama bantu kamu menata pakaian di lemari.” “Tapi, tante—” “Jangan panggil aku tante. Panggil aku mama sepeti yang lain.” Diana tersenyum kaku. “Sini, biar mama bantu.” “Ta-tapi, Tan, em … Ma. Aku tidak enak meletakkan barang-barangku di kamar ini.” Bukan tidak enak atau tidak mau, tapi Diana kembali teringat dengan perkataan Rendi yang terdengar seperti sebuah ancaman. “Aku tidak mau, Bang Rendy terganggu dengan baran-barangku.” Santi tersenyum lalu mengangkat tas besar milik Diana ke arah lemari. “Milik Rendy adalah milik kamu juga, termasuk apa pun yang ada di dalam kamar ini.” Diana tersenyum getir dan mulai meremas-remas jarinya. Ia sungguh takut saat melihat ibu mertuanya mulai memasukkan pakaiannya ke dalam lemari yang sama dengan pakaian Rendy. Sesekali Diana menatap ke arah pintu di mana Rendy sedang berada di dalamnya. “Aku tidak usah sungkan di sini. Anggap saja rumah sendiri.” Diana lagi-lagi hanya bisa tersenyum tipis. Melihat ibu mertuanya terus menata pakaian, Diana tidak enak hati jika tidak membantu. Perlahan Diana turun, tapi seketika terkesiap dan berdiri lagi saat seseorang di dalam kamar mandi muncul. “Sedang apa mama di sini?” tanya Rendy. Diana menggenggam kedua tangannya sendiri dan menunduk menahan rasa takut. “Tentu saja membantu Diana menata barang-barangnya,” jawab Santi tanpa menoleh. “Kamu buram bantu juga.” “Kenapa harus aku?” “Rendy!” Santi menoleh dengan cepat dan menatap tajam. Suaranya tidak lantang, tapi seperti ada pemaksaan di dalamnya. Rendy melengos ke arah lain sambil menggosok-gosok rambutnya yang basah. “Ya, ya, nanti aku juga bantu. Sekarang aku lelah.” Diana menelan ludah tapi kemudian kembali coba bersikap setenang mungkin saat ibu mertuanya mengajak mengobrol. Setidaknya dengan sikap Santi yang lembut, mengurangi rasa takut pada hati Diana. ***

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

TERNODA

read
199.3K
bc

TAKDIR KEDUA

read
34.2K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.6K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.2K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
14.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.2K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
69.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook