Malam hari yang begitu dingin menusuk karena cuaca yang mendung.
Ziya Dan Arta serta sahabatnya merayakan gelar yang telah di dapat ziya sebagai dokter jantung.
"Kak Arta berapa lama cuti, bagaimana kalau kita liburan sebelum kau bekerja,"ucap Lita yang baru saja selesai menyantap makanannya.
"Aku hanya satu hari cuti karena besok sudah harus kembali bekerja."jawab Arta yang membuat wanita di cintainya itu cemberut.
Menyadari jika kekasihnya itu kesal mendengarnya. "Sayang kau kenapa?"tanya arta mengelus lembut pipi ziya yang halus.
"Tidak apa-apa,"ucapnya bohong. Arta hapal betul jika kekasihnya jarang sekali mengungkapkan perasaannya.
"Boleh aku katakan sesuatu,"bisik arta tepat di telinga ziya.
"Apaa,"ucap ziya ketus.
"Kau semakin cantik jika memasang wajah cemberut seperti ini."kata Arta yang memperhatikan wajah ziya yang mengecurut kesal.
"Aku memang sudah cantik sejak lahir,"ucapnya bangga.
Malam semakin larut ziya dan Arta memutuskan untuk pulang duluan karena besok paginya Arta harus sudah di pelabuhan untuk berlayar.
"Kita duluan yah, soal Pak pelayar ini besok sudah bekerja,"sindir ziya tertuju ke Arta,
"Jadi ldr lagi dong,"ledek Lita. Arta hanya tersenyum tak berucap apa pun.
Masih wajah kesalnya ziya tak habis habis menyindir pujaan hatinya.
"Ya mau gimana lagi, ini kan resiko punya pacar pelayar di tinggal melulu,"ucap ziya dengan senyum djahil.
Akhirnya arta buka suara juga,"sayang Aku kerja, lagian aku di tengah Laut."Berapa lama,"tanya Ines penasaran.
"Terus kalau di tengah laut, memangnya kenapa,"ucapnya dingin.
Karena tahu tidak Ada habisnya berdebat dengan ziya, Arta memutuskan mengalah,"ya sudah lah katanya mau pulang,"
"Aku tunggu di parkiran, mau ambil mobil dulu ya," ujar Arta lalu pergi.
Ziya yang masih merindukan sahabatnya langsung berpamitan dengan Ines dan Lita. Sekarang giliran Nathan.
"Aku pulang dulu ya Pak tentara," ledek ziya tersenyum.
"Hati-hati bu dokter,"balas nanthan tertawa pelan memeluk dan cipika cipiki ziya.
Arta yang dalam Mobil melihat kelakuan nanthan yang membuatnya cemburu.
"Ayo pulang,",masuk ziya seraya memakai selt beatnya. Melihat tak ada jawaban dari Arta, ziya mengeryit dahinya bingung,"kau kenapa??"tanya ziya heran. "Bagaimana rasanya enak pipinya di cium oleh nanthan,"jawab dingin Arta. Ziya tertegun "apanya enak, Aku kan hanya cipika cipiki saja." Jelas ziya.
Arta memang sangat tidak suka memendam perasaannya bisa di bilang ia sering ceplos saja kalau bicara tanpa memikir perasaan orang lain.
"Jadi kau cemburu lagi,"tanya lagi ziya.
"Menurutmu,"jawabnya singkat. Ziya yang hampir bingung dengan kecemburua Arta kepada Nathan yang terlalu berlebihan. "Ya sudah kalau gitu berhenti aku turun disini saja,"ungkapnya merajuk.
"Tidak, Aku antarmu pulang."jawabnya ketus.
"Jadi kalau cemburu Pak pelayar sikapnya seperti ini,"ucap ziya wajah sendunya. Melihat wajah ziya, Arta sangat tidak tega.
"Aku minta maaf,"seraya mengelus pipi ziya.
Arta yang masih fokus menyentir mobilnya, sedangkan ziya terlelap kelelahan karena kegiatan wisudanya hari ini. Arta melajukan mobilnya karena cuaca seperti akan hujan. Hanya 15 menit Arta melaju ia sampai di depan rumah kekasihnya. Arta memperhatikan wajah polos ziya yang tertidur sangat pulas. Arta tidak tega jika harus bangunkan ziya tapi ia harus pulang karena besok mesti bekerja.
Arta mencium kening ziya lalu mengelus lembut pipi ziya. "Arta sudah sampai ya," tanya ziya membuka matanya perlahan.
"Iya Sayang ini sudah sampai."kata arta.
Arta tak lepas dari tatapannya yang masih terkesima dengan kecantikan ziya.
"Kenapa hm?"Tanya ziya.
"Rasanya tak sanggup harus berpisah lagi,"ucap arta menghela nafas panjang.
Ziya yang mulai cemberut,"kalau begitu jangan pergi,"
"Mana bisa, aku harus bekerja sayang. Kalau tidak bagaimana aku bisa halalkanmu"ucap arta berhasil mencetak senyum lebar di wajah ziya.
Arta mencubit gemas melihat wajah ziya malu malu. "Ya sudah sekarang sudah malam sepertinya aku sudah harus pulang, kasian ibu sendiri dirumah."lirih arta.
"Tak mau singgah dulu,"tanya ziya.
Arta menggeleng,"tidak usah lain sudah malam. Salam saja buat mama papamu yah!!".
"Baiklah Salam juga buat ibu, lain Kali Aku akan kesana melihat ibu,"ucap ziya.
Ziya mencium pipi kanan arta,"I Love you". Lalu hendak turun namun dihentikan Arta. Arta menarik lengan ziya,"tunggu". Ia mencium bibir ziya sekilas,"I Love you to sayang,"bisik arta.
"Ish.. dasar nakal,"ucap ziya lalu turun.
*****
Sinar matahari yang pagi cahayanya begitu hangat menembus jendela kamar ziya. Ziya bangun membuka matanya,"Hmmmmm,". Ziya melihat jam ternyata sudah pukul 07.45, ziya belalakan ketika mengetahui ternyata dia kesiangan padahal ia harus kepelabuhan menemui Arta. ",Oh my God Arta!! Bagaimana ini, aku telat semoga Arta belum berangkat". Ziya langsung saja bergegas mandi, karena terburu-buru is bahkan tidak sempat sarapan.
Di pelabuhan ziya berlari khawatir Arta telah pergi. Saat melihat sebuah kapal besar yang sedang bersiap untuk berangkat. "Itu pasti kapal Arta, tadi kemana dia," gumamnya dengan nafas yang masih terengah engah.
"Darimana saja kok baru datang," ucap seorang pria menepuk pundaknya dari belakang.
"Arta,"senang melihat Arta ia langsung saja memeluknya. "Kok lama sekali, Aku sudah mau berangkat,"lirih arta membuat ziya murung.
"Maafkan aku, tadi aku kesiangan,"sesal ziya merunduk. Melihat kesedihan di Mata ziya, "jangan sedih aku pasti kembali!! Tunggu aku ya sebulan lagi."ucap arta menenangkannya.
"ARTA..!!!" teriak Ta dari atas kapal. Tama menyuruhnya segera Naik. Ziya semakin sedih."aku sudah harus pargi,"
"Dengar jaga diri baik baik ya..!! Tunggu aku pulang," ucap Arta mencolek hidung ziya.
Ziya memeluk erat Arta, rasanya tak ingin melepaskannya. "Iya sayang hati-hati di jalan..!! Jangan nakal," melepas pelukan arta.
Arta berjalan ke arah kapalnya seraya melambai tangannya, "da..da.. I Love you". teriaknya dari kejauhan berjalan mundur.
"Jangan lupa telpon Aku jika Ada signal,"balas teriak ziya.
"I Love You too," melambai Arta yang telah berada di atas kapal.
Walau pun ziya sering sekali di tinggal Arta berlayar, selalu saja dia bersedih. Wajahnya masih saja bersedih saat sedang menyentir. Ziya berpikir sepertinya sudah lama sekali dirinya tak bertemu ibu Arta. Karena merasa masih belum sibuk bekerja ia berniat bertemu ibu arta.
Sampai di rumah Arta kebetulan saat itu ibu Arta sedang menyirami tanaman favoritenya.
"Assalamualaikum,"Sapa ziya.
"Ziya,"teriak wanita yang sangat di cinta Arta selain ziya.
Langsung saja ziya memeluk wanita tersebut."tante apa kabar,"tanya ziya ramah.
"Alhamdulillah sehat Sayang,"ucap bahagia melihat kehadiran kekasih putranya.
"Wah tante semakin banyak saja koleksi bunga tante."ucap ziya kagum.
"Ini cantik sekali,"ucapnya seraya memegang bunga lilih yang indah.
"Itu Arta kemarin yang membawanya." Jawab ibu Arta.
"Kenapa tak memberikan juga kepadaku!? Dasar pilih kasih!!!"Gerutu ziya dalam hatinya.
Langsung saja ziya di persilakan masuk oleh ibu arta. "Mari Sayang Kita masuk,"ajak ibu.
Ziya tersenyum,"iya tante". Ziya seperti tak Ada kecanggungan lagi kepada ibu Arta, bahkan sudah menganggapnya seperti ibu sendiri. "Pasti ziya dari pelabuhan ya,"tebaknya.
"Iya tante ziya dari bertemu Arta tadi, karena sudah lama tak bertemu ziya pikir untuk kesini."jelas ziya.
Mereka memang sangat bahkan ziya sering sekali cerita kelakuan Arta kepada ibunya. Karena asyiknya mengobrol ziya tak sadar jika sudah sore sekali. Ziya segera pulang khawatir mamanya mencari.