CHAPTER 1-ZIYA WISUDA

1040 Words
Pagi yang cerah meliputi awal kehidupan ziya, tepat hari ziya wisuda setelah 4 tahun menjalani kehidupannha sebagai seorang mahasiswi kedokteran. Kini ziya berhasil mendapat gelar kedokterannya. Dengan mengenakan kebaya silver membuat ziya terlihat lebih anggun. Ziya yang kini duduk manis di depan meja rias miliknya, ia terus bercermin sambil tersenyum manis. Senyum ziya berubah kian seketika seorang wanita menghampirinya. "Ternyata sekarang anak gadis mama sudah menjadi dewasa"kata mama yang berhasil membuat ziya tersipu malu. "Mama,"Sapa ziya. "Hmm.. pantas saja Arta sangat tergila-gila pada anak mama yang sangat cantiknya,"ledek mama seraya mencolek dagu ziya." Wajah ziya yang memerah karena malu."mama udah ah.. ziya kan malu."kata ziya yang masih bercermin seraya memain kan rambut ikal panjangnya. Saat asyik berbincang dengan mama terdengar bunyi ponsel ziya yang terletak di atas meja riasnya. "Ya ampun baru saja dibicarakan sudah menelpon,"godanya menimbulkan semakin merah di wajah ziya. "Angkat. !! Kalau tidak pujaan hati malah menelpon ziya yang lainnya."ujar mama membuat ziya tersipu seraya memegang pipinya telah merah. Tak perlu berlama ziya langsung bergegas mengangkat ponselnya dengan cepat. "Halo" "Hai Sayang bagaimana sudah siap wisuda Hari ini"ucap Arta dari seberang sana. "Tentu saja, hanya sedikit gugup"jawab ziya. "Jangan terus mengusap lehermu,"kata Arta yang sepertinya mengetahui begitu detail kebiasaan kekasihnya itu. Langsung saja menggigit bibir lembut ziya saat tebakan Arta begitu tepat."Sayang bibirku bisa terluka jika di gigit terus,"ucap arta. "Arta"bentak ziya membuat Arta menahan geli tawanya. "Lihat sekarang wajahmu mulai merah seperti tomato"ledek Arta semakin membuat kesal ziya. "Dimana sekarang kau,"tanya kesal ziya berhasil membuat Arta tertawa dari seberang sana. "Aku masih di rumah, 10 menit lagi aku turun,"ucap arta "Jangan terus bercermin kau tak kaca itu pecah,"lanjut ledek Arta belum habis-habis menggoda kekasih hatinya. "Argh.. sudah segera kemari nanti aku bisa telat,"ketus ziya lalu mematikan ponselnya. Ziya yang sedang sarapan bersama kedua orang tuanya di ruangan makan sembari menunggu kesal Arta. Cukup sekitar 20 menit terdengar suara klakson mobil milik Arta, seperti tahu jika yang datang kekasihnya. Dengan terburu ziya beranjak segera dari tempat duduknya. Arta yang telah berdiri tepat di samping mobil avanza silver miliknya, terlihat sangat tampan menggunakan jas hitam. Ziya yang membuka pintu seakan menatap tajam Arta seakan ingin melampiaskan kesalnya. Ziya berlari pelan mendekati Arta tanpa basa basi ia mencubit pria gagah itu hingga meringgis. "Aduh.. Sayang sakiit"ringgis Arta dengan wajah sangat lucu. "Salah sendiri kau tadi buat Aku kesal,"ketus ziya merajuk membalikkan wajahnya. "Jadi kau marah,"tanya arta. "Tidak, siapa yang marah"jawab ziya mengelak. Seperti sangat mengetahui sifat sang kekasih yang masih membelakanginya, Arta memeluk ziya dari belakang "Sayang kau tahu aku senang menggodamu,"bisik arta seraya memeluk tubuh langsing ziya. "Kenapa,"sahut dingin ziya membuat senyum tipis di wajah tampan arta. "Karena saat di atas kapal bahkan untuk menggodamu di telpon saja tidak bisa,"keluh Arta mendengus kesal. Mendengar perkataan pria yang di cintainya itu membuat ia berbalik membalas pelukan arta. Kini tangan ziya melingkar di leher Arta. "Arta kau tahu, Aku mencintaimu hanya kau seorang,"bisik lembut ziya berhasil membuat senyum lebar dengan lesung pipitnya. *** Sepertinya wajah tampan arta membuat gadis di kampus ziya terpesona melihatnya. Arta yang merasa aneh di perhatikan teman kampus ziya, ia memutuskan menunggu di luar daripada masuk ke aula. Arta yang menunggu di luar seraya menikmati sebatang rokok yang asapnya telah menghembus entah kemana. Dari kejauhan Arta melihat seorang pria lain yang pasti ingin menghadiri acara wisuda kekasihnya. Iya siapa lagi kalau bukan Nathan yang di temani dua gadis cantik Ines dan Lita sahabat baik ziya selain Arta. "Kak Arta,"Sapa Lita yang begitu akrab kepadanya. "Hai Lita, bagaimana kabarmu? Sepertinya sudah lama kita tak bertemu,"ucap arta ramah. Tak heran melihat kedekatan mereka, Lita lah penyebab awal ziya dan Arta bisa menjadi sepasang kekasih. "Kak Arta sudah lama, kenapa tidak masuk," sahut ines. "Tidak ah.. di dalam banyak gadis memperhatikan kegantenganku"canda Arta membuat kedua perempuan itu tertawa lepas. Tapi tidak untuk nanthan yang begitu canggung kepada Arta, dan sebaliknya begitu. "Hai ta,"ucap kakuk nanthan menyapa Arta. "Heemmm,"balas Arta hanya singkat seraya tersenyum tipis. Terlihat begitu canggung saat berfoto bersama pun rasanya malas untuk arta, kalau saja bukan permintaan ziya sepertinya enggan sekali untuk melakukannya. "Apa kabar nanthan seperti sudah lama tidak kerumah,"Sapa mama ziya ramah. Nanthan yang hanya tersenyum tipis. "Alhamdulillah baik tante,"jawabnya sopan. "Kenapa jarang main kerumah lagi,"tanya papa ziya menepuk pundak nanthan. "Tidak om nanthan lagi sibuk, ini saja ijin bertukar shift dinas om," ucapnya tak enak. Sebenarnya itu bukan alasan utama nanthan, ia tahu betul kekasih ziya sangat cemburu. Nanthan yang seorang tentara hanya bisa menyempatkan waktu menghadiri acara penting sahabatnya. "Iya pah dia sekarang sangat sombong,"sambung ziya kesal. "Eh diam kau, mentang-mentang sudah dapat gelar dokter,"sahut nanthan. Wajah Arta yang sangat terlihat kesal seperti sudah di ketahui oleh kekasihnya ziya, ia mendekati Arta. Sebelum ia membuka suara, Arta sudah terlebih dahulu bicara. "Kenapa tidak teruskan kemesraan bersama nanthan disana,"melihat tajam ke arah nanthan. "Arta kau cemburu lagi,"keluh ziya dengan mengerucut bibirnya. "Hmm menurutmu pacar Mana tidak cemburu melihat kedekatan kalian, seperti dia yang pacarmu dan aku bukan,"senyum sinis Arta yang semakin kesal. Mendengar perkataan arta, ziya langsung menutup mulut Arta dengan tangannya. "Tolong jangan berkata seperti itu,"ucapnya menggeleng yang terlihat sangat sendu di wajahnya. Melihat wajah ziya begitu sedih, Arta tak tega berlama berdebat dengan kekasihnya. "Jangan sedih, aku tak marah,"ucap arta berusaha menghibur. Arta mencium kening ziya dan memeluknya dengan erat. "Jangan cemburu lagi,aku hanya sahabat baik dengan nanthan tidak lebih. Percayalah!?"ucap ziya yang berada dekap pelukan arta itu. "Aku percaya,"mengusap lembut rambut ikal ziya. Arta memang sangat percaya pada ziya namun tidak nanthan. Ia sangat curiga. "Kita gabung bersama yang lain yuk,"ajak ziya menarik genggam tangan pujaan hatinya. Ziya dan Arta bergegas bergabung bersama sahabat dan kedua orang tuanya. "Ya ampun kalian berdua bagai prangko,"ucap Ines membuat ziya tersenyum seraya menatap wajah tampan arta. "Makanya punya pacar,"balas ziya membuat Ines mengeryit pasrah. "Eh kau jangan lupakan aku, kalau saja waktu itu bukan Aku yang mengenalkan kalian Mana mungkin kalian bersama,"sambung Lita dengan bangga membuat semua tertawa kecuali nanthan. Entah kenapa nanthan Dan Arta begitu saling membenci tentu Ada alasan tersembunyi. "Yah..ya kau memang mengenali kami, tapi kan kami bisa bersama karena cinta sejati kami miliki,"ucap arta tak mau kalah membuat sang kekasih menggeleng melihatnya. Arta tidak pernah bosan melihat wajah ziya yang selalu ia rindukan saat berada di atas kapal. Membuat ziya tersipu malu. Merona di wajah ziya begitu merah seperti tomat itu apalagi pipi wanita itu chubby semakin membuat Arta tak henti sedetik pun menatapnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD