Aku senang dia menatapku cukup lama, walaupun tatapannya masih saja datar. Tapi, setidaknya itu bisa mengobati rasa rinduku setelah sekian lama tak bertemu sedekat ini dengannya. “
~ Kiara Salshabilla ~
***
Aluna merasa kesal karena sampai sekarang dia belum bisa melupakan cowok yang tak pernah meliriknya sama sekali. Namun, dia merasa di saat terakhir bertemu dengan cowok itu, dia merasa ada kehangatan yang dirasakannya saat cowok yang dia cintai mau gadis itu peluk sebelum dia pergi studytour ke Bandung.
“Dih, aku masih aja ngarep buat bisa dekat sama Kak Bryan yang jelas-jelas nggak mau aku deketin. Tapi, aku senang saat terakhir ketemu aku meluk, dia mau balas pelukanku.” Aluna mengingat saat terakhir kali gadis itu bertemu dengan Bryan yang masih saja bersikap cuek dan dingin padanya.
Aluna terdiam sejenak, di sisi lain dia teringat cowok lain yang selalu ada di sampingnya di saat suka maupun duka. Cowok yang selalu melindunginya dan menyayanginya secara tulus, cowok yang sangat disayanginya. “Kok jadi ingat Kak Arga, ya? Dia kabarnya gimana, ya? Kangen sama dia yang suka main nyelonong masuk ke kamar.“ Aluna tersenyum mengingat Arga yang selalu menganggunya saat sedang di kamar.
"Besok aku akan bertemu dengan mereka lagi, dua cowok yang sifatnya bertolak belakang, yang sangat aku sayangi.” Aluna tersenyum karena dia akan bertemu kembali dengan Bryan dan Arga.
Aluna mengingat kembali Alana yang mungkin sudah bahagia bisa hidup aman bersama Arga, yang pasti akan menjaga dan melindunginya sebagai Aluna, adik kesayangan Arga. Karena, Aluna yakin Arga menjaga dan memerhatikan Alana dengan baik dan penuh kasih sayang sama seperti Arga yang menyayangi dirinya.
“Kak Alana, aku harap kakak bahagia hidup sama Mama Wulan dan Kak Arga yang pasti jagain kakak dan menyayangi kakak sebagai aku. Maafin aku yang sengaja bikin kakak jadi diriku tapi aku melakukannya agar kakak aman disana, aku akan mengamati dan melindungi kakak juga sama seperti yang lain walaupun nanti kalian semua tidak sadar akan kehadiranku,” ucap Aluna, yang akan melakukan rencananya diam-diam.
***
“Jangan pernah mencoba menyentuh dan menyakitinya ....”
Manda menatap ke arah orang yang menahan tangannya, yang akan dia gunakan untuk menampar gadis itu yang dia anggap sebagai Alana.
“Lo siapa?! Nggak usah ikut campur urusan gue sama dia,” ujar Manda seraya menatap Alana yang masih kaget melihat kedatangan seseorang itu.
“Kak Arga.” Alana kaget saat manik matanya melihat Arga yang tiba-tiba datang dan menahan Manda, saat gadis itu akan menamparnya.
Arga menatap tajam Manda yang akan menyakiti Alana, yang merupakan adiknya. Bahkan Alana tidak pernah mendapat perlakuan kasar dari siapapun termasuk dari dirinya maupun kedua orangtuanya.
“Aluna adik gue! Jadi gue harap sekarang lo pergi atau lo akan berurusan sama gue. Karena lo udah berani berbuat kasar sama adik gue.” Arga sedikit mengancam Manda yang terlihat kesal melihatnya membela Alana.
Manda yang merasa terpojok karena Arga memergokinya berbuat kasar kepada Alana pada akhirnya pergi meninggalkan Arga dan Alana. Namun, Manda tidak percaya kalau cewek yang dia anggap Alana itu adalah Aluna, adik Arga. "Gue yakin dia Alana bukan Aluna karena gue bisa lihat dari matanya, sorot mata itu adalah sorot mata milik Alana yang selalu aku lihat.”
Arga mendekati Alana yang masih shock dengan perlakuan kasar Manda kepadanya. Arga menanyakan keadaan Aluna yang masih diam tanpa berkata apapun.
“Lo nggak apa-apa kan, Dek? Apa ada yang luka? Mendingan kita ke UKS aja, ya? Lo masih keliatan nggak tenang gitu.” Arga memapah Aluna yang masih shock ke UKS. Alana hanya menuruti perintah Arga dan membiarkan lelaki itu membawanya ke UKS.
Alana menatap Arga yang sangat perhatian kepadanya, entah kenapa Alana merasa Arga sangat perhatian melebihi perhatiannya kepada adiknya. Alana tahu, dia adiknya Arga. Namun kenapa perhatian Arga terlihat lebih dari perhatian kakak ke adiknya. Namun Alana hanya diam memerhatikan Arga yang sedang memapahnya ke UKS.
Disisi lain Arga sebenarnya heran mengapa Aluna terlihat tidak seperti biasanya, yang tegar bila mendapat perlakuan atau perkataan temannya yang tidak menyukainya. Sikap Aluna sekarang terlihat lebih lemah dari biasanya. Aluna yang sekarang terlihat sangat berbeda dengan Aluna yang dulu, sangat cuek dan tidak mudah lemah bila temannya menyakiti atau menghinanya. Aluna yang dulu pasti tidak akan lemah seperti ini bila mendapat perlakuan kasar, namun ini berbeda 180 derajat dari Aluna yang dulu cuek dan terkesan tidak peka.
Dia terlihat sangat berbeda dengan dia yang dulu, yang terkesan tidak peka. Kenapa dia sekarang terlihat rapuh? Namun, yang jelas walaupun dia sekarang berbeda, gue akan selalu ada di sampingnya dan melindunginya, batin Arga yang sudah mengantarkan Aluna ke UKS.
Arga duduk di samping Alana. Arga meminta Alana untuk berbaring dan menenangkan dirinya setelah mendapat perlakuan kasar dari Manda. Alana tersenyum ke arah Arga yang nampak perhatian dan mengkhawatirkan kondisinya sekarang. Ada kehangatan yang dirasakan Alana, yang selama ini tidak pernah gadis itu dapatkan sebelumnya, entah kenapa dia merasakan itu padahal jelas-jelas dia sering merasakan perhatian Arga. Karena, dia adalah adik lelaki itu.
“Gue ke kelas dulu ya dek, kamu baik-baik disini. Jangan kemana-mana kalau kakak belum kesini ya.” Arga tersenyum seraya mengelus puncak kepala Aluna.
Arga meninggalkan Alana di UKS, karena dia harus mengikuti pelajaran. Lagi pula Arga merasa Alana sudah tidak shock lagi. Arga tersenyum meninggalkan Alana yang masih berbaring di ranjang UKS.
***
Di depan UKS, Arga tak sengaja berpapasan dengan Bryan yang baru keluar dari toilet. Bryan nampak aneh melihat Arga yang keluar dari ruang kesehatan padahal Arga terlihat sehat. Bryan yang penasaran kenapa Arga baru saja keluar dari ruang kesehatan pun masuk ke ruangan itu. Bryan kaget melihat Alana yang sedang berbaring di ranjang yang ada disana.
Dia kenapa ada disini? Nggak biasanya di UKS , setahu gue dia tipe cewek yang nggak pernah sakit ... apa mungkin karena kecelakaan kemarin dia jadi sering pusing, ya? batin Bryan. Laki-laki itu memerhatikan Aluna dari kejauhan. Bryan ingin mendekati Aluna namun dia mengurungkan niatnya, takut Aluna tidak nyaman dengan kehadirannya.
Bryan keluar meninggalkan ruang kesehatan dan kembali ke kelasnya, karena dia hanya ijin untuk ke toilet dan ini sudah terlalu lama. Laki-laki itu takut ditegur gurunya, karena Bryan ijin ketika guru baru datang. Bryan sekelas dengan Arga namun tak pernah saling menyapa satu sama lain.
***
Sepulang sekolah, Bryan seperti biasa, laki-laki itu tak langsung ke rumahnya. Dia mampir ke sebuah lapangan basket yang berada di kompleks dekat sekolah untuk bermain basket sembari mengusir rasa bosan, yang selalu melandanya setelah seharian menjalani aktivitas di sekolah. Bryan selalu asyik sendiri bermain basket tanpa memerdulikan sekitarnya yang mungkin saja ramai dengan orang-orang. Namun, setiap Bryan pulang sekolah ke sana untuk bermain basket, di sana memang sangat sepi karena memang Bryan memilih suasana yang sepi agar dia bisa bermain basket dengan tenang dan fokus. Saat Bryan sedang asyik bermain, dari kejauhan ada seseorang yang memerhatikan Bryan yang sedang mencetak skor ke ring basket dalam diam.
“Masih saja suka menyendiri bermain basket sepulang sekolah, memang cowok es itu selalu terlihat beku. Namun entah kenapa aku selalu ingin memerhatikannya walaupun dia sudah menyuruhku untuk menjauhinya. Hatiku selalu tak mau menuruti permintaannya itu.” Seseorang berdiri bersembunyi di balik pohon yang cukup besar, yang berada tak jauh dari lapangan.
Bryan yang sedang bermain basket entah kenapa merasa ada yang memerhatikannya. Bryan melirik sekitar lapangan itu namun dia tak menemukan seseorang yang terlihat memerhatikannya. Gue kok ngerasa ada yang ngelihatin gue ya? Tapi disini kan nggak ada orang atau cuma perasaan gue aja yang kangen sama Aluna yang diam-diam sering ngikutin gue walaupun gue pura-pura nggak tahu kalau dia ngikutin gue, batin Bryan lalu melanjutkan permainan basketnya lagi.
Kak, apakah selama ini kakak nggak tahu kalau setiap hari aku selalu ngikutin kakak demi mendapat perhatian kakak? Aku disini selalu melihatmu, Aluna Anastasya yang selalu membuat hatimu mencair, batin seseorang itu yang ternyata Aluna.
Aluna tersenyum melihat Bryan yang tak pernah bosan bermain basket walaupun Bryan sudah setiap hari latihan di sekolah. Aluna menatap wajah Bryan yang beberapa hari ini tak bisa dia lihat secara langsung. Namun, sekarang gadis itu bisa melihat secara langsung walaupun dari jauh.
Aku harap kakak bisa mencair dengan Aluna yang sekarang, bukan dengan Aluna yang dulu. Sekarang Kak Alana yang menjadi aku pasti bisa mencairkan hati kakak dengan mudah. Karena sikapku dan Kak Alana sangat berbeda jauh. Aku sengaja menjauhimu karena aku memang tak bisa mencairkan hatimu yang beku, batin Aluna yang masih memerhatikan Bryan, Aluna mengingat sekarang Alana lah yang ada di posisinya sebagai dirinya di sekolah.
Aluna meninggalkan pohon tempat persembunyiannya, karena masih banyak yang perlu disiapkan untuk rencana yang akan dilakukannya.
“Sampai bertemu lagi Kak, dengan sosok aku yang baru. Aku nggak akan mencoba mengganggumu lagi karena aku tak mau kamu merasa terganggu lagi seperti dulu karenaku.” Aluna meninggalkan tempat itu karena memang hari sudah sore.
***
Keesokan harinya, Bryan seperti biasanya berangkat ke sekolah naik busway. Di busway seperti biasa Bryan selalu mendengarkan musik menggunakan earphonenya tanpa memerhatikan sekitarnya. Seseorang tersenyum melihat Bryan ada di busway itu, dia pun langsung naik karena memang akan ke sekolah menggunakan kendaraan itu. Cewek itu langsung duduk di belakang Bryan yang tak pernah memerhatikan sekitarnya, cewek itu tersenyum bahagia bisa melihat Bryan secara dekat setelah sekian lama tak bisa melihat cowok itu sedekat ini.
Dasar cowok es yang nggak pernah lihat sekitar, tapi karena itu aku tertarik kepadanya bahkan aku sangat mencintainya sampai aku susah menjauhinya, batin cewek itu tersenyum duduk di belakang bangku, tempat dimana Bryan duduk di busway.
Cewek itu diam-diam terus memerhatikan dan memandangi Bryan, tanpa Bryan menyadari ada yang memerhatikannya. Sampai mereka berdua sampai di halte depan sekolahnya. Ya memang cewek itu bersekolah di sekolah yang sama dengan Bryan, saat baru saja turun dari busway tanpa sengaja cewek itu menubruk punggung Bryan yang ada didepannya karena memang suasananya sangat sesak dengan anak sekolah. Bryan menatap cewek itu datar, cewek itu tersenyum menatap Bryan yang masih menatapnya.
“Sorry, Kak Bryan. Aku nggak sengaja,” kata cewek itu membuat Bryan bingung darimana cewek itu tahu namanya, padahal Bryan baru melihat cewek itu hari ini.
Cewek itu langsung salah tingkah namun dia berusaha mencari alasan kenapa dia bisa tahu nama Bryan. “Hm.... Nama kakak Bryan, kan? Soalnya aku lihat name tag kakak, sekali lagi aku minta maaf. “
Bryan menatap datar cewek yang menunjuk name tag-nya, sebelum pergi meninggalkan cewek itu. Namun, entah kenapa Bryan merasa pernah melihat tatapan cewek itu sebelumnya dan entah kenapa jantungnya tiba-tiba berdebar tidak beraturan saat cewek itu menatapnya. Ya, Bryan tak mengenal cewek yang mungkin anak baru dengan penampilan yang sangat berbeda dengan siswi lain yang modis. Cewek itu penampilannya memakai kacamata tebal dan pipi nya bertopel dengan rambut yang diikat dua.
Kenapa jantung gue berdetak tak beraturan saat dia menatap gue? Tatapan matanya seperti pernah gue lihat sebelumnya tapi bukankah gue baru ketemu dia hari ini? batin Bryan - Laki-laki itu meninggalkan cewek yang masih terdiam di tempatnya.
Bryan diam-diam sempat melirik name tag cewek yang menabrak punggungnya tadi karena memang Bryan tak pernah melihat cewek itu, akhirnya dia memutuskan untuk sedikit melirik nama cewek itu. “Kiara Salshabilla“ Bryan melihat nama cewek itu dalam diamnya.
Cewek itu menatap kepergian Bryan yang mendahuluinya untuk masuk ke area sekolah. Cewek itu memang sebenarnya sudah terbiasa merasakan suasana seperti ini.
Aku senang dia menatapku cukup lama walaupun tatapannya masih saja datar, tapi setidaknya itu bisa mengobati rasa rinduku setelah sekian lama tak bertemu sedekat ini dengannya, batin cewek itu yang bernama Kiara Salshabilla.
Kiara berjalan masuk ke area sekolah itu, namun tanpa sengaja ada mobil yang hampir menabraknya. Membuat gadis itu melihat mobil yang hampir menabraknya tadi, dan Kiara tahu itu mobil milik siapa, pengendara mobil itu berhenti dan keluar dari mobilnya untuk meminta maaf kepada Kiara.
Kiara yang sangat tahu pemilik mobil itu hanya diam menatap pemilik mobil yang sudah ada di hadapannya sekarang.
“Sorry, ya. Gue beneran nggak bermaksud buat hampir nabrak lo, sekali lagi gue minta maaf.” Cowok itu meminta maaf kepada Kiara yang masih saja diam menatap cowok itu.