[10] Dia berbeda

1950 Words
Kenapa hati gue selalu bergetar saat bertemu dengannya? Padahal, sebelumnya, hati gue cuman bergetar setiap berada di dekat orang, yang selalu gue abaikan. Dan, kenapa hati gue merasa sudah dekat dengan orang baru ini?” ~ Bryan Samudra ~ *** Kak Arga, batin cewek, yang hampir Arga tabrak tadi. Cewek itu masih saja terdiam membisu menatap Arga, yang tampak mengkhawatirkan kondisinya. Arga tampak bingung melihat cewek itu hanya terdiam menatapnya. Namun, laki-laki itu berusaha untuk menyadarkan lamunan cewek yang hampir ditabraknya tadi. Arga menepuk bahu cewek itu agar cewek itu tersadar dan menjawab pertanyaannya. “Hei! Lo nggak apa-apa, ‘kan? Atau ada yang terluka? Biar gue bawa lo ke rumah sakit.” Arga menepuk bahu cewek itu dan menanyakan keadaannya. Karena, cewek itu hanya diam memandanginya dan kediaman gadis itu berhasil membuat Arga merasa khawatir. Saat Arga masih berusaha berbicara dengan cewek yang hampir ditabraknya, Aluna keluar dari mobil karena, khawatir dengan orang yang ditabrak kakaknya itu. Aluna menghampiri Arga untuk menanyakan keadaan cewek itu. “Dia nggak apa-apa, ‘kan, Kak? Kalau ada yang luka, mending kita bawa dia ke rumah sakit.” Alana mencoba ikut berbicara seraya melihat ke arah cewek itu. Alana menatap cewek itu sejenak. Namun, entah kenapa jantungnya berdetak kencang. Kenapa saat aku melihatnya, jantungku terasa berdebar kencang? Seperti ada sesuatu hal aneh yang membuat jantungku berdetak seperti itu, batin Alana yang hanya diam, memerhatikan cewek yang hampir ditabrak Arga tadi. Cewek itu pun menatap Alana yang baru saja keluar dari mobil, untuk melihat keadaannya. Kak Alana ... aku senang bisa ketemu dan melihat Kak Alana disini. Kak Alana baik-baik disini sama Kak Arga, ya? Karena, itu adalah keinginanku agar kakak tidak merasakan sakit hati dan terpuruk lagi seperti beberapa tahun ini, batin cewek itu yang sekarang beralih memandangi Alana. Arga yang tidak mendapati jawaban pun akhirnya melihat name tag cewek itu. “Kiara Salshabilla. Nama lo Kiara, ‘kan? Lo baik-baik aja atau ada yang luka? Lo bilang aja sama gue, gue bakalan tanggung jawab.” Kiara langsung tersadar dari lamunannya kala Arga menyebut namanya. Cewek itu menatap ke arah Arga yang masih menatapnya khawatir. Cewek itu tersenyum kepada Arga dan Aluna yang terus menatapnya. “Aku nggak apa-apa kok, Kak. Aku duluan ya.” Kiara langsung meninggalkan Alana dan Arga. “Ya udah, kalau ada apa-apa karena kejadian tadi, lo bisa cari gue. Nama gue Arga Pratama dan ini Adik gue namanya Aluna Anastasya. Kalau lo ada luka, lo bisa cari gue kalau gak cari Adik gue, oke?” kata Arga seraya tersenyum ke arah Kiara yang belum meninggalkannya jauh. Kiara hanya menoleh dan tersenyum sebelum melanjutkan perjalannya menuju ruang kepala sekolah. Kiara masih tetap memikirkan Arga dan Aluna yang baru saja cewek itu temui. Ternyata Kak Arga nggak sadar kalau yang bersamanya bukan aku tapi Kak Alana, aku rela kalau Kak Alana jadi aku asal dia bahagia. Aku tahu sekarang Kak Alana hilang ingatan makanya aku sengaja memanfaatkan keadaan ini untuk membuat Kak Alana jadi aku, Aluna. Agar dia tidak terpuruk lagi merasakan siksaan dari orang yang selalu menyakitinya di Bandung. Biarlah sekarang aku mengganti identitasku sebagai Kiara, agar aku bisa mengawasi Kak Alana sama seperti Kak Arga. Karena selama ini aku tak bisa di samping Kak Alana, batin Kiara senang melihat Alana aman bersama Arga. *** Guru masuk ke kelas Alana dan memberitahukan bahwa ada murid baru pindahan dari Bandung, murid baru yang tak lain adalah Kiara pun masuk ke kelas itu. Guru menyuruh Kiara memperkenalkan diri di depan kelas. “Perkenalkan nama Saya Kiara Salshabilla pindahan dari Bandung, senang bertemu dengan kalian,” ujar Kiara seraya membenarkan kacamata tebal yang dipakainya, agar terasa nyaman digunakan dan tidak mencurigakan. Semua orang yang ada di kelas itu menatap Kiara dengan berbagai tatapan karena, melihat penampilan Kiara yang sangat berbeda dengan yang lain. Bisa di bilang gadis itu terlihat aneh dan cupu karena, dia menggunakan kacamata tebal dan ada tompel di pipi tepatnya dibawah mata kanannya. Namun, dia bersikap biasa saja dan tidak mengambil hati bila teman-teman barunya menatapnya aneh. Biasa aja, kali, lihatin penampilan aku yang baru, batin Kiara memerhatikan teman-teman sekelasnya itu. Pandangan mata Kiara tertuju pada Alana yang juga menatap dan tersenyum ke arahnya. Kiara merasa bahagia mendapat senyuman hangat dari Alana. “Senyuman yang membuatku bahagia karena, sudah lama aku tak bertemu dengannya. Akhirnya aku bisa berada didekatnya untuk melindunginya. Kak Alana semoga nyaman jadi Aluna, ya”. Namun, Kiara kaget saat pandangan matanya melihat seseorang yang memang dia cari selama ini, semenjak dia berada di Bandung untuk membalas perlakuan buruk seseorang itu kepada Alana. Amanda. Benar dugaan aku, Manda ada di sini ‘kan. Dia ada di kelas yang sama dengan Kak Alana. Apakah Manda menyadari kalau Kak Alana bukan aku? batin Kiara memerhatikan Manda yang sibuk dengan handphone nya. Karena, malas melihat ke arah murid baru yang cukup seperti Kiara. Setelah memperkenalkan diri, Kiara duduk di belakang bangku yang diduduki oleh Amanda, Kiara tersenyum mendapati dirinya duduk dibelakang Manda. “Aku nggak akan ngebiarin hidup kamu tenang Manda, setelah apa yang kamu lakuin sama Kak Alana selama di Bandung saat menjadi saudara angkat kamu, aku nggak akan biarin kamu ganggu Kak Alana yang sekarang menjadi aku. Karena, sekarang, aku kembali ke sini untuk membuat perhitungan denganmu, Manda.” Kiara melirik ke arah dua orang yang sebenarnya merupakan sahabatnya, sebelum dia sengaja mengubah identitasnya. Kiara tersenyum melihat ke arah Adara dan Bella. Semoga kalian bisa senang berteman dengan sosok Aluna yang sekarang, yang ramah dan lemah lembut. batin Kiara memandangi kedua sahabatnya yang duduk di sebelah Alana yang sekarang menjadi Aluna. Guru itu memulai pelajaran matematika dan membagikan hasil ulangan minggu lalu. Guru itu menyebutkan kalau yang mendapat nilai terbaik adalah Aluna Anastasya. Aluna maju ke depan untuk mengambil hasil ulangan matematikanya. “Nilaimu selalu bagus Aluna! Semoga dengan keadaan kamu yang sekarang, kamu bisa mempertahankan nilaimu ini,” kata guru matematika itu sambil memberikan kertas hasil ulangan Aluna. Kiara yang melihat kejadian itu tersenyum senang karena, nilai Aluna yang terbaik, dalam hati dia bangga atas pencapaiannya selama ini. Namun, Kiara sadar kalau Aluna yang sekarang adalah Alana yang sangat berbeda dengan dirinya, termasuk dalam pelajaran ... kemampuan mereka berbeda. Aku harap Kak Alana bisa mempertahankan nilai itu, agar semua orang tidak curiga kalau dia bukan Aluna. Karena, tidak mungkin sekarang aku menjadi Aluna lagi. Aku nggak mau Kak Alana kembali mengingat masa lalu nya yang suram, batin Kiara. Alana mengambil kertas hasil ulangan itu dengan perasaan aneh. Karena, dia merasa tak pernah mengerjakan ulangan itu. Namun, guru itu menyebut namanya yang mendapatkan nilai sempurna, Alana berpikir mungkin dia lupa karena, efek hilang ingatannya. Jam istirahat dimulai, semua murid pergi ke kantin. Alana, Adara dan Bella juga menuju ke kantin untuk membeli sesuatu sekalian nongkrong. Namun, sekarang Alana hanya di kantin sampai jam istirahat padahal dulu, Alana sering mengisi waktu istirahatnya tidak hanya di kantin. Bryan yang ternyata memerhatikan Alana dari kejauhan cukup heran melihat Alana tetap di kantin, padahal biasanya Aluna hanya sebentar di kantin lalu pergi ke perpustakaan untuk membaca buku disana. Karena, memang Aluna termasuk siswa yang cerdas dan berusaha mempertahankan nilai bagusnya. “Nggak biasanya tuh cewek cuma nongkrong di kantin bareng sahabatnya, biasanya gue sering lihat dia di perpustakaan. Kenapa dia terlihat berbeda dengan Aluna yang dulu? Tapi sebenarnya dia terlihat lebih lemah lembut dan ramah kepada orang karena, gue lihat dia sering tersenyum kalau disapa orang.” Arga yang mengetahui adiknya berada di kantin bersama dengan kedua sahabat adiknya itu—Adara dan Bella— pun langsung menghampiri Alana lalu, seperti biasa mengacak rambut Alana tanpa rasa malu, dilihat banyak orang. Namun sekarang terlihat berbeda karena Aluna terlihat tidak menolak Arga yang mengacak-acak rambutnya di depan umum karena, Aluna yang dulu pasti akan langsung menepis tangan Arga lalu memarahinya. “Cie Adik gue sekarang tiap hari nongkrongnya di kantin terus.” Arga memerhatikan Alana yang hanya diam dan justru tersenyum menerima tindakannya, yang mengacak-acak rambut Alana di depan umum. “Dia kok beda dari biasanya, sejak dia hilang ingatan, dia beda banget dari Aluna yang dulu.” Bryan yang masih memerhatikan Alana pun sama kagetnnya melihat Aluna yang tidak seperti biasanya. “Dia benar-benar berubah. Gue nggak nyangka bisa berubah sedrastis ini tapi, dia berubah lebih baik.” Bryan lalu meninggalkan tempat itu. Namun, saat dia berbalik tanpa sengaja dia bertabrakan dengan seseorang dan membuat buku yang dibawa orang itu terjatuh. Bruk! Bryan menatap kaget orang yang ditabraknya yang tak lain adalah Kiara, yang tadi pagi bertemu dengannya di halte. “Sorry, gue nggak lihat, Kiara?” Kiara yang sudah mengambil bukunya terlihat kaget menatap Bryan yang menabraknya, membuat bukunya terjatuh. “Kak Bryan ... nggak apa-apa, kok, lagian aku juga jalannya nggak hati-hati. Soalnya, tadi aku dari perpustakaan buat minjem buku,” kata Kiara yang sebenarnya gugup saat berhadapan dengan Bryan. Kenapa hati gue bergetar saat bertemu dengannya yang notabene adalah orang baru. Padahal sebelumnya hati gue cuma bergetar tiap berada di dekat orang yang selalu berusaha gue abaikan dan kenapa hati gue merasa sudah dekat dengan orang baru ini, batin Bryan yang meninggalkan Kiara. Bryan sedikit tersenyum melihat sikap Kiara yang terlihat gugup dihadapannya. Namun, Bryan bersikap seperti biasanya, sedikit cuek. Karena, entah kenapa hatinya bergetar lagi saat menatap Kiara yang baru bertemu dengannya tadi pagi. Bryan lalu meninggalkan Kiara yang masih dihadapannya. Kiara yang melihat sikap Bryan yang masih cuek seperti dulu pun merasa kesal. Namun. dia merasa senang karena Bryan sempat meminta maaf kepadanya tadi. Di saat aku tidak ingin bertemu denganmu, takdir menginginkan kita untuk bertemu kembali, batin Kiara yang memandangi kepergian Bryan, yang hanya bisa ia tatap punggung tegapnya. Saat Kiara menuju kelasnya, tanpa sengaja Kiara ditabrak oleh seseorang yang membawa jus, yang membuat seragamnya basah dan kotor. “Woi, Cupu! Kalau jalan tuh pake mata dong!” Seseorang yang menabrak Kiara memarahi Kiara, yang justru menjadi korban tumpahan jus itu. Seseorang kembali menumpahkan sisa jus yang masih ada, kepada Kiara yang masih menatapnya dan berusaha membersihkan baju seragamnya yang kotor. “ Kayaknya seru, nih kalau kita ngerjain si Cupu ini lagi, guys.” “Benar banget, tuh, Manda! Kayaknya seru banget. Kalau perlu kita bikin, nih cewek tambah kayak ondel-ondel biar dia tambah malu dengan penampilannya,” kata seseorang yang merupakan teman Manda, yang telah menumpahkan jus kepada Kiara. Kiara hanya diam saja menerima perlakuan Manda, sebenarnya dia ingin sekali membalas perlakuan Manda. Namun, dia ingat dengan posisinya yang sekarang bukan lagi Aluna, dia sekarang sedang menyamar menjadi cewek cupu agar bisa mengawasi Alana yang masih dalam bahaya karena, Manda berada di dekatnya. Kalau saja dia tidak sedang menyamar dia pasti sudah menampar dan mendorong Manda bahkan bisa lebih melakukan perlakuan yang lebih kasar kepada Manda. Tapi, Kiara akan membalas perlakuan Manda dengan caranya yang lebih cerdas ketimbang membalas perlakuan kasar dan licik Manda. Kiara menatap tajam ke arah Manda yang tersenyum sinis kepadanya. “Lo nggak terima dengan perlakuan gue? Ayo balas gue!” Manda menantang Kiara yang masih menatapnya tajam. Jujur Kiara ingin membalas Manda namun, dia teringat kembali akan rencananya. Jadi, dia mengurungkan niatnya. Kiara hanya diam berusaha membersihkan seragamnya yang kotor. Namun, tiba-tiba saat Kiara masih berusaha membersihkan seragamnya ada yang memakaikan sebuah jaket kepadanya, Kiara kaget saat melihat orang itu. Seseorang itu juga memarahi Manda yang sudah berani mem-bully Kiara yang merupakan murid baru. “Lo jangan pernah melakukan tindakan bully di sekolah ini! Lo nggak pernah mikir apa, Amanda Syahira? Apa yang akan terjadi kalau pihak sekolah mengetahui tindakan lo ini, ini sudah melanggar peraturan yang ada di sekolah ini. Dasar cewek gak punya moral!!” kata seseorang itu, yang berusaha menasehati Manda dan temannya. Seseorang itu langsung menarik dan membawa Kiara pergi dari hadapan Manda agar Manda tak semakin membullynya, Kiara menatap kaget seseorang yang menolongnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD