[11] Berusaha merelakannya

1607 Words
Aku yang memulai semua rencana ini, aku harus siap menerima resiko apapun, yang akan aku terima. Aku akan merelakan yang aku punya demi saudaraku. Karena, kebahagianku ialah saat melihat dia bahagia. Walaupun, aku harus melupakan orang yang aku cintai demi dia.” ~ Kiara Salshabilla ~ “Lo nggak apa-apa ‘kan, Ra? Lain kali lo harus berani ngelawan Manda? Jangan cuma diam kayak gini.” Seseorang itu mulai berusaha berbicara dengan Kiara, yang masih saja terdiam menatapnya. “Kak Bryan? Jadi, dia nolongin aku? Dia ngasih jaketnya ke aku? Aku nggak salah lihat?” batin Kiara kaget dengan sikap Bryan yang mau menolongnya. Kiara menatap Bryan sesaat sebelum tersenyum sembari mengucapkan terima kasih kepada cowok itu, yang telah menolongnya. Tanpa ia duga, Bryan yang dulu sangat tidak pernah memerhatikan dirinya saat ia masih menjadi Aluna. Sekarang, justru saat dirinya menjadi Kiara dia langsung bisa dekat dengan Bryan, yang terkesan cuek kepada cewek. “Makasih, Kak. Udah mau nolongin aku.” Melihat Kiara sudah aman dan tenang, Bryan meninggalkan Kiara. Kiara langsung membuka seragamnya, dia memakai jaket Bryan yang dipinjamkan laki-laki itu kepadanya tadi. Saat dia sampai di kelas, Manda memandangnya dengan tatapan tajam penuh kebencian. Namun, Kiara tak mempedulikan Manda yang seakan mengancamnya. Namun, Kiara kaget saat tiba-tiba ada seseorang yang menghampiri dan menanyakan keadaannya yang tidak memakai seragam. “Kiara? Lo kok nggak pake seragam? Baju lo kenapa?” “Aku nggak apa-apa kok, Kak Arga. Seragam aku tadi ketumpahan jus secara nggak sengaja. Jadi, aku lepas seragam itu karena emang udah kotor.” Kiara tersenyum senang ke arah Arga yang memang sedang berada di kelas Kiara untuk mengantarkan Alana. Alana, Bella, dan Adara merasa heran dengan sikap Arga yang menaruh perhatian kepada Kiara, yang notabene merupakan murid baru. “Lun, kok Kak Arga bisa perhatian banget, sih sama Kiara? Apa mereka sudah saling kenal ?” Adara penasaran melihat kedekatan Arga dengan Kiara. “Iya, tadi pagi nggak sengaja Kak Arga hampir nabrak Kiara jadi mereka udah saling kenal.” Alana menjelaskan apa adanya sesuai yang dia ketahui sambil tersenyum ke arah sahabatnya itu. Kiara masih menatap Arga yang berada di dekatnya, lalu Arga kembali ke arah Alana untuk berpamitan kembali ke kelasnya. “Kakak balik ke kelas Kakak dulu, ya. Nanti jangan lupa pulang bareng Kakak,” Arga mengingatkan Alana, yang tersenyum ke arah Arga. Kiara hanya diam melihat Alana yang dekat dengan Arga. Namun, dalam hati Kiara senang saat melihat Alana yang sekarang bisa menerima perhatian Arga tidak seperti Aluna yang dulu, yang terkesan tidak peka dan menolak perhatian kakaknya itu. Kak Arga pasti akan lebih nyaman dengan Aluna yang sekarang, maafin Aluna karena Aluna harus menukar identitas Aluna dengan Kak Alana. Karena, Aluna ada sesuatu yang harus Aluna selidiki tapi, tidak sebagai Aluna, batin Kiara yang memperhatikan Arga, yang sudah meninggalkan kelasnya. *** Pulang sekolah, Alana menunggu kakaknya untuk pulang bersama. Namun, tiba-tiba ada seseorang yang menarik tangannya untuk ikut dengan orang itu. Alana kaget saat melihat orang yang menariknya. Tapi, Alana hanya diam menatap orang itu. Orang itu membawa Alana ke sebuah tempat yang biasa dia datangi setelah pulang sekolah. Alana hanya menurut dengan orang itu karena, dia sudah membaca kalau orang itu, yang selalu dia tulis di buku diary nya. Walaupun dia belum membaca semua isi diary-nya, ia seakan tahu kalau orang yang membawanya pergi adalah orang yang dia sukai. “Kita udah sampai, lo nggak lupa ‘kan sama tempat ini? Gue tahu kok kalau lo dari dulu sering banget ngikutin gue ke sini secara diam-diam dan sekarang gue pengen lo nemenin gue di sini.” Bryan. Ya orang itu adalah Bryan. Dia mulai berbicara kepada Alana yang masih bingung dengan ucapan Bryan. Namun, Aluna terus mencoba mengingat apakah benar yang dikatakan oleh Bryan kalau sering mengikuti Bryan ke sini. Tapi, entah kenapa dia merasa tak pernah melakukan hal itu. Bryan mendekatinya lagi sebelum memberikan bola basket yang sengaja dia bawa kepada Aluna yang masih menatapnya bingung. “Ayo main! Lo pasti bisa main, ‘kan? Lo ‘kan tiap hari ngintipin gue main di sini, setiap pulang sekolah. Lo tuh keras kepala banget padahal dari dulu gue udah bilang nggak suka lo deketin. Tapi, lo tetap aja berusaha deketin gue dan ngikutin gue ke sini, walaupun gue tahu lo ikutin tapi, gue pura-pura nggak tahu.” Bryan memberikan bola basket ke Alana dan menarik tangan cewek itu untuk bermain bersama. Dari kejauhan, ada seseorang yang mengintip Bryan bersama dengan Alana. Seseorang itu kaget mendengar perkataan Bryan. Jadi selama ini Kak Bryan tahu kalau aku sering ngikutin dan lihatin dia main basket di sini? Tapi, kenapa selama ini dia berusaha pura-pura nggak tahu dan nggak mau nerima perhatian aku ke dia dan kenapa di saat aku sudah menjadi orang lain, dia baru mengatakannya? Aku merasa senang sekaligus sedih mendengar kejujuran Kak Bryan. Karena, dia bicara jujur bukan ke aku tapi ke Kak Aluna. Kenapa dia seperti sangat membenci Aluna yang dulu, aku akan berusaha tidak melihat dan mendekatimu lagi Kak Bryan. Karena, sekarang aku bukan lagi Aluna tapi, aku adalah Kiara, batin Kiara, memerhatikan Bryan yang sudah mulai mengajak Aluna bermain basket. Bryan mencoba mengajari Alana yang ternyata tidak bisa bermain basket, Bryan menunjukkan bagaimana cara melempar bola ke ring agar bisa masuk dan mencetak angka. “Gini caranya lo megang bolanya, lo harus fokus lempar bola ke ring.” Bryan memegang tangan Alana. Alana yang menyadari Bryan memegang tangannya merasa hatinya berdetak lebih kencang dari biasanya, mendapat perhatian dari Bryan yang biasanya cuek seperti yang dia ceritakan di diarynya dulu. Tapi, entah kenapa sekarang Bryan mulai perhatian kepadanya. Jantung aku kenapa berdetak lebih kencang seperti baru pertama merasakan getaran ini? Aku tahu aku dulu suka sama Kak Bryan. Tapi, bukannya di halaman terakhir buku diaryku yang nggak aku baca, aku lagi berusaha lupain dia, batin Alana. Dalam diam, Kiara masih memerhatikan Bryan dan Alana yang bermain basket. Cewek itu berusaha tersenyum walaupun hatinya sakit melihat kedekatan mereka. Aku yang memulai semua rencana ini, aku harus siap menerima resiko apapun yang akan aku terima. Aku aku merelakan apapun yang aku punya demi saudaraku karena, kebahagianku ialah saat melihat dia bahagia. Walaupun aku harus melupakan orang yang aku cintai demi dia, batin Kiara yang masih memerhatikan Bryan dan Aluna di balik pohon. Kiara meninggalkan pohon itu karena, dia memang harus melakukan rencananya mulai sekarang. Dia tidak boleh memakai perasaannya lagi karena, itu akan menyakiti dirinya yang sebenarnya rapuh bila menyangkut tentang hati dan perasaan. Air mata yang sempat turun kala melihat kebersamaan Bryan dan Alana tadi membuatnya tersadar, bahwa apapun yang ia kejar tidak akan bisa ia dapatkan. Dulu dia selalu mengejar Bryan namun, dia tak mendapatkan perhatian Bryan. Dan sekarang Alana yang tak mengejar perhatian itu, malah mendapatkan perhatian Bryan dengan mudahnya. *** Arga merasa kesal karena, Alana meninggalkan dirinya yang sudah meminta cewek itu untuk pulang bersamanya. Namun, Arga tahu kebiasaan Aluna dulu, yang memang tidak suka berangkat dan pulang bersamanya. “Dasar adik durhaka!! Kebiasaannya kembali lagi. Dia kayanya pulang sendiri naik busway biar bisa ngelihatin Bryan. Memang ingatannya hilang tapi hatinya tidak.” Arga mengingat Aluna yang setiap hari mengikuti Bryan. Arga akhirnya memutuskan untuk pulang sendiri, namun di jalan entah kenapa dia melihat seseorang yang sedang menunggu busway. “Loh, itu bukannya Kiara? Dia kayaknya lagi nungguin busway. Gue nggak tahu kenapa, merasa udah kenal Kiara lama padahal aku baru ketemu dia tadi pagi.” Arga melihat Kiara yang terdiam di halte sambil menulis sesuatu di bukunya. Arga keluar dari mobilnya, mendekati Kiara yang sedang duduk di halte. Laki-laki itu berusaha mengajak Kiara untuk mengobrol dan ikut pulang dengannya. “Kiara, lo lagi nungguin busway, ya? Kayanya masih lama buswaynya sampai halte ini.” Arga mulai berbicara di dekat Kiara. Kiara kaget kala matanya menangkap sosok Arga yang sudah duduk di sebelahnya. Cewek itu tersenyum sambil menatap Arga yang duduk di sampingnya dengan senyumannya yang khas. Kak Arga masih nggak berubah. Dia masih baik kepada siapapun walaupun dia baru kenal orang itu seperti sekarang. Padahal ‘kan Kak Arga baru ketemu aku tadi pagi, batin Kiara memerhatikan Arga lamat-lamat. “Dari pada lo di sini kelamaan, mending gue anterin. Lo mau kan gue anterin?” Arga mengajak Kiara untuk pulang bersamanya. Kiara tersenyum ke arah Arga yang menawarinya untuk pulang bersamanya, “ nggak usah, Kak. Aku naik busway aja. Lagian aku juga nggak biasa di anterin orang, nanti orangtua ku marah sama aku kalau aku dianterin sama cowok.” Arga tersenyum ke arah Kiara yang menolak ajakannya. Arga tahu dan paham dengan alasan penolakan Kiara karena, jujur orangtuanya juga sangat protektive kepada adiknya dulu bahkan sampai sekarang. “Iya, nggak apa-apa, Ra. Ya, udah gue tungguin lo sampai busway nya lewat ya.” Kiara tersenyum pada Arga yang tak marah dengan penolakannya. Karena, Arga pasti paham apa yang dimaksud Kiara. Maaf, Kak Arga. Kalau kakak nganterin aku pulang. Pasti nanti Kak Arga bakalan tahu kalau aku ini Aluna, batin Kiara memandangi Arga. Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya busway yang akan dinaiki Kiara datang. Kiara langsung pamit kepada Arga yang masih menemaninya. “Kak Arga! Aku duluan, ya, buswaynya udah datang.” Kiara pergi meninggalkan Arga dan masuk ke dalam busway itu dengan senyuman manis yang terus ia lontarkan ke Arga yang masih menatap dan tersenyum kepadanya. Cewek itu masih terus tersenyum hingga busway itu berjalan. “Maafin, aku, Kak Arga. Jujur aku nggak bermaksud bohongin Kakak sama Mama. Tapi, ini demi Kak Alana. Dia berhak bahagia tinggal sama kalian dan aku juga harus menyelidiki siapa orang yang selalu menerorku itu.” Kiara mengingat saat di mana ia masih menjadi Aluna yang sering mendapat teror dari sosok misterius, yang hingga kini belum bisa ia pecahkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD