Mulut gue emang nyuruh dia buat jauhin gue, tapi entah kenapa hati gue nolak kalau dia jauh-jauh dari gue. Gue selalu pengin dia ada di dekat gue.“
~ Bryan Samudra ~
“Bryan, lo ngapain meluk adik gue kaya gitu?” kata Arga kaget karena Bryan tiba-tiba memeluk Alana dengan erat, padahal sebelumnya dia bersikap cuek kepada Aluna. Ya, Bryan tidak mengetahui bahwa gadis yang dipeluknya sebenarnya Alana, kembaran Aluna.
Alana masih terdiam, tapi entah kenapa jantungnya menjadi berdetak lebih kencang.
“Akhirnya, lo kembali, Lun,” kata Bryan yang masih memeluk Alana erat tanpa memedulikan Arga yang memandangnya dengan tatapan tajam.
Setelah puas memeluk Alana, Bryan bergegas pergi menuju kelasnya karena bel masuk sebentar lagi berbunyi. Namun, dia berbalik dan mengatakan, “Intinya gue seneng lo udah balik, Lun.”
Bryan tersenyum kepada Alana, lalu pergi meninggalkan gadis itu. Dia sadar bahwa Arga masih berada di samping Alana, maka Bryan tak mau ribut dengan Arga yang sangat protektif kepada adiknya.
Alana memandangi kepergian Bryan, dia bingung, kenapa tiba-tiba ada orang yang memeluk-nya. Arga langsung menarik Alana yang masih memandangi kepergian Bryan. Arga mengantar Alana menuju kelasnya. Alana disambut dengan pelukan oleh kedua sahabat Aluna, yaitu Adara dan Bella yang juga tidak mengetahui bahwa Aluna mempunyai kembaran.
“Lun, gue kangen banget sama lo. Alhamdulilah lo kembali sama kita-kita di sini. Gue kira kita nggak akan ketemu lagi,” kata Adara sambil sedikit meledek Aauna.
“Iya, Lun. Tapi, beneran gue seneng banget lo kumpul lagi sama kita,” kata Bella.
Alana merasa kebingungan menerima pelukan kedua sahabat itu. Namun, Alana berusaha membalas pelukan itu, dia tersenyum kepada mereka berdua. Arga yang melihat kejadian itu memutuskan meninggalkan Aluna. Dia yakin sahabat-sahabat adiknya bisa menjaga Alana.
Saat Alana menuju sebuah bangku untuk duduk, Adara menegur Alana karena gadis menuju tempat duduk yang bukan tempat duduk yang biasa Aluna tempati.
“Lun, tempat duduk lo bukan di situ, tapi di sebelah gue,” kata Adara sambil tersenyum, sekaligus heran melihat tingkah Aluna yang sekarang.
Alana menuruti kata-kata Adara karena dia tidak mengetahui apa pun tentang sekolah itu. Adara yang beranggapan bahwa Alana itu Aluna, mengingat kalau Aluna sekarang hilang ingatan. Bella juga baru saja tahu berita itu dari Arga lewat pesan w******p.
“Sorry gue nggak tahu, Lun. Gue baru tau kalau lo amnesia,“ kata Adara.
“ Iya, Lun. Tapi, kita bakalan bantuin lo kok, tenang aja. Iya nggak, Ra?” kata Bella.
Alana tersenyum ke arah dua sahabat itu, mereka sangat baik kepadanya meskipun Alana tidak tahu siapa mereka. Handphone Aluna yang berada di tangan Alana tiba-tiba bergetar, ada pesan yang masuk. Dia langsung melirik ke arah handphone itu.
From : Teror Misterius
Ternyata lo masih bisa selamat ya, Aluna. Lo boleh selamat sekarang, lain kali lo bakalan lenyap dari muka bumi ini! Ingat itu!
Alana kaget melihat isi pesan itu, tapi dia berusaha tenang karena saat ini dia berada di sekolah, tapi entah kenapa dia sangat penasaran dengan pesan itu.
Kenapa orang ini sering ngirim pesan teror begini? batin Alana melihat isi percakapan chat-nya.
Alana memperhatikan isi pesan itu. Namun, dia hanya diam sambil memperhatikan guru yang sedang mengajar di kelasnya.
***
Disisi lain, seseorang tersenyum bahagia, karena dia sudah menemukan cara untuk memberi pelajaran kepada orangtua angkat kakaknya yang selama ini selalu menyiksanya.
“Aku yakin rencana aku bakalan berhasil. Aku akan buat orangtua kak Alana menyesal karena udah nelantarin dan nyiksa kak Alana,” kata Aluna. Aluna janji bakalan balas perlakuan orangtua angkat kakak, batin Aluna.
“Lun, kamu yakin mau di Bandung dulu, nggak langsung ke Jakarta?“ kata Wijaya.
“Aluna bakalan balik ke Jakarta kalau urusan di sini sudah selesai, Om. Setelah misi Aluna berhasil,” balas Aluna tersenyum ke arah Wijaya.
“Ya sudah, kalau kamu mau ke Jakarta lagi, bilang sama Om. Biar nanti Om sediakan tempat tinggal buat kamu,” kata Wijaya.
“Iya, Om. Makasih,“ jawab Aluna.
***
Di sisi lain, Arga menghampiri Bryan yang nampak sedang latihan basket di lapangan sekolah.
“Bryan, gue mau bicara empat mata sama lo!“ kata Arga.
Bryan menatap heran ke arah Arga, dia tak tahu apa yang terjadi padanya. Tidak biasanya Arga mengajak dia bicara dan sepertinya pembicaraan kali ini serius.
“Iya, Ga. Ada apa ya?” kata Bryan dengan santai sementara Arga menatapnya dengan tajam.
“Gue heran, kenapa lo tadi pagi meluk adik gue di depan umum?“ tanya Arga.
“Gue cuma seneng Aluna kembali, itu aja. Emang gue nggak boleh seneng lihat adik lo kembali dalam keadaan selamat?” balas Bryan.
Arga mulai emosi dengan sikap Bryan yang terlihat santai. Padahal, Arga tahu sehari sebelum Aluna menghilang, Bryan meminta Aluna menjauhinya.
“Lo bukannya benci sama Aluna? Lo juga nyuruh Aluna jauhin lo sebelum dia menghilang,” bentak Arga.
Bryan terdiam sejenak, lalu tersenyum ke arah Arga yang masih menatapnya tajam.
“Gue memang nyuruh dia jauhin gue, tapi bukan berarti gue senang kalau misalnya dia hilang kayak kemarin,” balas Bryan.
“Gue harap lo nggak mainin perasaan adik gue. Gue nggak mau adik gue sedih lagi karena lo!“ tegas Arga.
Mulut gue emang nyuruh dia buat jauhin gue, tapi entah kenapa hati gue nggak mau dia jauh-jauh dari gue. Gue selalu pengin dia ada di dekat gue, batin Bryan.
“Lo nggak berhak ngelarang gue buat dekat sama adik lo!“ sanggah Bryan lalu pergi meninggalkan Arga.
Arga yang sebenarnya kesal dengan Bryan berusaha sabar menghadapi sikapnya, karena sekarang dia berada di sekolah.
Jam istirahat tiba, Alana diajak oleh Adara dan Bella ke kantin. Namun, di tengah jalan mereka melihat Bryan sedang latihan basket. Langkah Alana terhenti, lalu dia melihat ke arah Bryan.
“Cie, amnesia aja masih bisa mandangi Kak Bryan,” goda Adara.
“Ya, kepalanya emang amnesia tapi hatinya nggak, Ra,“ ledek Bella.
Alana bingung saat mendengar perkataan Adara dan Bella. Hal itu membuat Alana penasaran, siapa Bryan sebenarnya dan apa hubungan dia dengan Alana?
“Emangnya dia siapa, sih? “ tanya Alana polos.
Ada dan Bella tersenyum mendengar pertanyaan Alana yang nampak benar-benar lucu dan polos. Lalu, mereka menjawab pertanyaan Alana tentang Bryan.
“Amnesia lo keterlaluan banget sih, Lun, sampai lo lupa tentang Kak Bryan. Cowok yang selama ini lo cintai,” kata Adara.
“Lo boleh amnesia, tapi hati lo jangan ikutan dong, Lun,“ goda Bella.
Alana kaget bukan main mendengar jawaban dari Adara dan Bella tentang Bryan—cowok yang katanya Alana cintai selama ini.
“Lo amnesianya jangan lama-lama, Lun. Nanti lo nyesel lagi, karena Kak Bryan banyak yang ngincer loh,“ kata Adara.
“Jadi ...” kata Alana terpotong.
“Iya lo suka banget sama Kak Bryan, walaupun Kak Bryan nggak pernah mau ngelirik lo, karena Kak Bryan dingin banget sama cewek,“ kata Adara.
“Iya Lun, tapi gue salut sama lo yang selama ini bisa tahan. Lo juga nggak nyerah buat dapatin Kak Bryan,” kata Bella.
Alana terdiam sejenak, dia berusaha mencerna kata-kata kedua temannya itu.
“Jadi selama ini ...“