“Aku akan membuat mereka yang menyakiti orang yang aku sayangi merasakan akibat dari perbuatan mereka. Aku akan melakukan apa pun demi dia yang aku sayangi.“
~ Aluna Anastasya ~
“Jadi selama ini ....” kata Alana menggantung.
“Iya, lo suka sama Kak Bryan. Sebelum kecelakaan lo emang lagi berusaha buat lupain rasa suka lo itu ke kak Bryan. Sampai akhirnya, keinginan lo itu terkabul,” kata Adara sambil meledek Alana yang masih terdiam memikirkan perasaannya untuk Bryan.
“Udah nggak usah dipikirin lagi, Lun. Takutnya nanti membebani pikiran lo yang lagi amnesia,“ kata Bella.
Alana tersenyum ke arah Adara dan Bella, lalu berpikir sejenak tentang Bryan.
Kalau memang apa dibilang mereka berdua benar, kenapa aku nggak ngerasain apa pun pas kak Bryan meluk aku tadi pagi? Apa karena lupa ingatan jadi perasaanku ikut hilang? batin Aluna.
***
Di sisi lain, Aluna yang sedang di Bandung mulai melancarkan aksinya untuk mengerjai orangtua angkat Alana yang selalu menyiksanya itu. Dia mengubah penampilannya menggunakan jaket, kacamata, masker dan topi agar tidak ketahuan. Dia datang ke restoran milik orangtua angkat Alana.
Oh jadi ini restoran milik mereka? Aku harus kasih pelajaran ke mereka karena udah nyakitin Kak Alana selama ini, batin Aluna.
Aluna memesan banyak makanan, dia duduk sambil memperhatikan situasi di restoran itu, apakah ada CCTV atau tidak? Aluna tersenyum mengetahui tidak ada CCTV yang terpasang di sana. Setelah menunggu 10 menit, makanan yang Aluna pesan datang dan dihidangkan di depan Aluna. Dia langsung melancarkan aksinya, melakukan sesuatu pada makanan itu secara diam-diam.
Kalian akan merasakan akibatnya, karena sudah membuat Kak Alana menderita. Aku akan membuat kalian bangkrut, batin Aluna.
Aluna memasukan beberapa kecoa ke dalam makanan yang dia pesan. Setelah itu, dia pergi ke toilet, dia juga diam-diam masuk ke dalam dapur restoran. Sebelumnya, Aluna sudah memastikan tidak ada yang akan mengganggu aksinya. Dia tersenyum penuh kemenangan, dia yakin bila semuanya akan berjalan dengan mulus sesuai rencananya.
Aluna memasukan beberapa kecoa dan rambut ke dalam bahan makanan restoran itu. Setelah itu, dia kembali ke mejanya lagi. Saat Aluna duduk, dia hendak memakan makanan yang dia pesan. Dia berpura-pura kaget melihat ada kecoa di makanan itu sehingga membuat semua pengunjung panik mendengar perkataanya.
“Ya ampun! Ini makanan atau tempat sampah! Masa ada kecoanya banyak banget kayak gini sih?” kata Aluna berdiri dan menggebrak meja itu.
Sontak membuat pengunjung dan karyawan yang berada di sana kaget. Mereka menghampiri Aluna, melihat semua masuk perangkapnya. Dalam hati, Aluna tersenyum licik karena rencananya mulai berhasil. Mendengar Aluna berteriak, pemilik restoran itu yang tidak lain adalah ibu angkat Alana menghampiri Aluna.
“Ada apa ya, Mba?” tanya Winda pemilik restoran.
“Anda pemilik restoran ini? Anda berminat membuat saya masuk ke rumah sakit!“ kata Aluna.
“Maksud Mba apa?” kata Winda lagi mencoba tenang.
“Anda tidak melihat makanan yang anda sajikan ini? Makanan ini isinya kecoa banyak sekali. Saya akan melaporkan ini ke polisi karena ini sangat membahayakan dan merugikan pengunjung yang makan di restoran ini,” kata Aluna.
Semua kaget dan mulai berbisik-bisik mengenai makanan itu, mereka melihat ke arah Winda dengan tatapan yang tajam karena kejadian itu.
“Restoran saya sebelumnya tidak pernah mengalami kejadian seperti ini, ini pasti anda yang mencari masalah,” kata Winda.
Aluna diam-diam tersenyum, karena dia sudah mengetahui apa yang akan terjadi. Dia sudah memperhatikan Winda dari lama, sebelum dirinya berada di Bandung.
Memang seperti yang aku duga, wanita ini tidak bodoh. Dia bermuka dua, di depan orang dia akan bersikap manis, di belakang seperti Iblis. Lihat saja, apa yang akan terjadi selanjutnya? Aku akan membuat wanita ini menyesal sudah menyakiti kak Alana, batin Aluna.
Aluna tidak tinggal diam dan terus menekan Winda. Lalu, dia melancarkan aksinya lagi. Tiba-tiba ada pengunjung lain yang kaget, di makanannya ada kecoa sama seperti yang ada pada makanan yang dipesan oleh Aluna. Aluna tersenyum senang melihatnya karena memang itu sudah termasuk rencananya.
“Di makanan saya juga ada kecoanya, coba kalian cek makanan kalian semua yang sedang berada di sini,” kata seseorang pengunjung.
Mendengar itu para pengunjung mengecek makanannya, dan benar di dalam makanan mereka juga ada kecoa dan rambut, mereka menjadi emosi kepada Winda. Para pengunjung meminta semua orang yang ada di restoran itu untuk mengecek dapur restoran itu. Semua kaget melihat di bahan makanan ada banyak kecoa. Semua pegawai juga kaget melihatnya, karena mereka sebelumnya sudah memeriksa dan tidak ada apa pun di sana.
Winda berusaha membela diri, tapi percuma karena Aluna sudah menelpon polisi dan melaporkan restoran milik Winda itu. Polisi langsung membawa Winda ke kantor untuk mempertanggungjawabkan kejadian yang terjadi di restorannya. Gadis itu tersenyum senang, karena rencananya berhasil dengan sempurna.
Aluna masih terus memperhatikan Winda sampai di kantor polisi. Dia harus memastikan polisi memberikan hukuman yang sesuai untuk Winda. Dia juga mencari Manda yang merupakan anak dari Winda, kakak angkat Alana yang selalu mem-bully Alana semasa Alana berada di Bandung.
Kok Manda nggak keliatan? Harusnya saat ibunya di sini dia pasti datang. Aku harus cari tahu di mana Manda, batin Aluna.
Aluna mengecek ke rumah Winda, tapi Manda tidak keliatan juga. Dia menanyakan kepada tetangga, tapi dia mendapat berita kalau Manda ternyata sudah pindah ke rumah saudaranya yang berada di Jakarta.
“Oh jadi Manda pindah ke Jakarta? Wah, ini bakalan bahaya buat kak Alana. Walaupun kak Alana sekarang menjadi aku, tapi aku yakin sifatnya masih sifat asli kak Alana,” kata Aluna.
Aluna langsung pulang ke rumah Wijaya, lalu memikirkan langkah apa yang selanjutnya akan dia ambil.
Aku akan membuat mereka yang telah menyakiti orang yang aku sayangi merasakan akibat dari perbuatan mereka. Aku akan melakukan apa pun demi dia yang aku sayangi, batin Aluna.
***
Pulang sekolah, Alana ditemani Arga--kakaknya yang setia mendampinginya. Cowok itu mengajak Alana makan siang di sebuah restoran. Gadis itu tampak kaget setelah sampai di restoran yang cukup mewah itu.
“Kakak yakin ngajak aku makan di sini? Emang nggak sayang uangnya?” tanya Alana polos.
Arga tersenyum, melihat tingkah aneh Alana yang sangat berbeda dari biasanya. Lalu, Arga menarik tangan Alana untuk duduk di salah satu meja. Dia langsung memesankan makanan favorit Aluna. Gadis itu kaget saat melihat makanan yang Arga pesan.
“Ayo dimakan, nanti keburu dingin loh?” kata Arga.
Alana hanya diam memandangi makanan itu. Namun, karena Alana tidak enak dengan Arga, dia memakan makanan itu dengan terpaksa. Setelah memakan makanan itu, entah kenapa Alana merasa badannya gatal-gatal dan memerah. Arga yang melihat Alana seperti itu langsung panik dan membawa gadis itu ke rumah sakit.
“Dek, kenapa lo bisa alergi makan udang sih? Padahal lo biasanya nggak pernah alergi, justru udang makanan favorit lo,” kata Arga.
Alana hanya diam mendengar kata-kata Arga yang mengatakan kalau dirinya menyukai udang. Namun, entah kenapa dari awal dia melihat makanan yang berisi udang itu, dia sudah merasa tidak yakin dan takut memakannya.
***
Bryan di rumah, sedang duduk di ruang tamunya mendengar perkataan ayahnya yang sangat dia benci. Ya, ayahnya pasti membicarakan tentang perjodohannya dengan anak rekan kerjanya.
“Kamu harus tunangan sama anak temen papa, Yan. Kamu nggak bisa nolak,“ kata Ivan Hermansyah--ayah Bryan.
Bryan yang mendengarnya berusaha menolak. Namun, tetap saja permintaan ayahnya tidak bisa ditolak.
“Tapi Pah, Bryan kan udah bilang nggak mau dijodohin. Apalagi tunangan secepat ini? Bryan masih pengen hidup bebas,” kata Bryan.
Ivan menatap tajam Bryan yang terus berusaha menolak permintaannya tentang perjodohan itu.
“Denger ya, Bryan! Keputusan papa sudah bulat, dan sampai kapan kamu terus memperhatikan cewek yang tak punya masa depan itu, dia cuma seorang anak panti asuhan,“ kata Ivan.
“Tapi Pah ....” kata Bryan.
Sebelum Bryan selesai berbicara, Ivan sudah memotong perkataan Bryan yang terus melawannya.
“Cukup! Kalau kamu tetap seperti ini, papa akan bikin gadis itu menghilang! Papa kira kamu akan terus menjauhinya, sesuai janji kamu. Sebaliknya, papa lihat kamu diam-diam masih memperhatikannya, bahkan mengkhawatirkan gadis itu,” kata Ivan.
Bryan hanya diam mendengar perkataan ayahnya yang selalu mengancamnya untuk membuat Bryan menuruti permintaannya.