[7] Dia terlihat berbeda

1093 Words
Dia terlihat berbeda, tapi kenapa justru gue seneng ngeliat dia yang sekarang. Dia lebih sering tersenyum, senyuman yang dulu pernah gue lihat, dan yang beberapa tahun ini menghilang.” ~ Arga Pratama ~ Bryan terdiam di kamarnya, memikirkan banyak hal yang membuatnya tertekan. Mulai dari ayahnya yang selalu menyuruh Bryan menuruti apa pun kemauannya, sekalipun sebenarnya itu bukan keinginan Bryan. “Gue harus gimana? Jujur, gue pengen banget berontak dan menentang keputusan papa, tapi apa daya, selama ini papa selalu bikin gue nyerah. Kalau gue nentang keinginannya, pasti papa bakalan ngelakuin hal yang bikin gue nggak tenang,“ kata Bryan menatap langit-langit kamarnya. “Gue udah nurutin kemauan papa, gue jauhi Aluna. Padahal, jujur gue sebenarnya nggak mau ngelakuin itu. Tapi gue takut, papa ngelakuin sesuatu sama Aluna ataupun keluarganya. Selain itu, gue rasa sekarang udah nggak bisa cuekin Aluna lagi. Dia sudah cukup menderita, karena selama ini selalu gue cuekin. Dia selalu terlihat kuat, tapi gue tahu dia cukup menderita gue cuekin,” kata Bryan mengingat Aluna yang tetap mendekatinya walaupun Bryan cuek kepadanya. *** Arga membawa Alana ke rumah sakit untuk memeriksa keadaannya yang mengalami alergi. Alana alergi terhadap udang, Arga baru mengetahuinya setelah mengajak dia makan di restoran. Arga sangat khawatir akan kondisi Alana. “Kok aneh ya, Dek? Biasanya lo nggak pernah alergi kalau makan udang. Mungkin karena lo habis sakit, jadi daya tahan tubuh kamu menurun?“ tanya Arga. Alana hanya diam, tapi dia juga memikirkan tentang alergi yang menimpanya sampai harus dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa. Kata Kak Arga, aku sebelumnya nggak pernah alergi? Tapi kenapa, aku ngerasa sering mengalami alergi udang dari dulu ya? Atau mungkin itu cuma perasaan aku aja ya? batin Alana. Arga yang melihat Alana masih saja diam, semakin bertambah khawatir dengan keadaannya. Setahu Arga, Aluna adalah gadis yang cerewet terutama bila bersamanya. Namun, sekarang gadis itu tampak menjadi pendiam. “Dek, kok diem aja? Alerginya parah, ya? Balik ke rumah sakit aja, gimana?” tanya Arga. Alana menatap Arga, tersenyum manis kepadanya, karena perhatian yang Arga berikan padanya. “Aku udah nggak apa-apa, Kak,“ kata Alana. Arga kembali fokus menyetir setelah mendengar penuturan Alana. Arga percaya dengan perkataan Alana bahwa dia baik-baik saja. Namun, Arga masih merasakan adanya kejanggalan pada gadis di sebelahnya ini. Gadis yang dia pikir Aluna, terlihat tidak seperti Aluna yang dia kenal. Kenapa Aluna jadi pendiam setelah kecelakaan itu, ya? Apa amnesianya parah, sampai-sampai mengubah kepribadiannya? batin Arga. Alana mengecek handphone-nya yang bergetar, ada pesan masuk diaplikasi w******p, lalu dia membuka pesan itu. Ternyata pesan dari grup w******p itu yang beranggotakan Aluna, Adara dan Bella. LuBeRa(5) Adara : Woi, udah pada nyampe rumah belum? Bella : Menurut lo? Adara : Ish gaje banget lo! Gue nanya, kenapa lo malah balik nanya? Bella : Gue udah di rumah, lagi on i********: nih. Lo sendiri lagi ngapain, Ra? Jangan bilang lo lagi stalking akun Kak Arga? Adara : Ish lo mah, gue nggak gitu kali? Oh ya, si Aluna mana nih? Kok belum nongol tuh anak? Jangan-jangan tuh anak lagi stalk akun i********:-nya Kak Bryan? Makanya dia, nggak nongol chat di sini? Alana membacanya sambil tersenyum, lalu dia putuskan untuk melihat isi pesan-pesan yang ada di grup itu dan akhirnya ikut bergabung dalam percakapan grup. Aluna : Hai, sorry aku baru nongol. Soalnya, aku habis dari rumah sakit sama Kak Arga. Adara : What? Lo habis dari rumah sakit? Lo sakit lagi, Lun? Bella : Iya Lun, lo sakit lagi atau ngapain nih ke rumah sakit? Aluna : Aku nggak apa-apa, tadi cuma berobat gara-gara alergi makan udang. Adara : Alergi udang? Loh, bukannya lo doyan banget makan udang ya? Perasaan lo nggak pernah alergi kalau makan udang, Lun. Aluna : Tapi aku udah baikan kok, tadi Kak Arga langsung bawa aku ke rumah sakit. Bella : OMG... Kakak lo emang sweet banget, Lun. Kalau gue jadi lo, pasti gue baper deh. Adara : Sumpah gue baper dengernya, Lun. Kak Arga tuh benar-benar cowok idaman banget, pasti kalau lo bukan adiknya lo udah baper. Ya, karena lo adiknya, jadi lo nggak baper. Aluna : Aku off duluan ya. Bye…. Adara : Oke Bye…. Bella : Bye…. Mereka mengakhiri sesi chatting di grup. Dia masuk ke rumah, karena memang sudah sampai di rumahnya. Arga langsung masuk ke kamarnya, Alana juga masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat. Namun tiba-tiba, saat Aluna hendak tidur, Arga masuk ke kamar Aluna untuk memastikan keadaan Alana. “Dek, lo beneran udah nggak apa-apa? Udah diminum belum obatnya?” kata Arga. Alana tersenyum ke arah Arga, yang nampak masih khawatir dengan keadaannya. “Aku udah ngga apa-apa, Kak,“ kata Alana. Arga tersenyum lega, mendapati Aluna sudah tidak apa-apa. Setelah itu, dia kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Namun, cowok itu merasa ada yang berbeda dengan adik kesayangannya itu. Dia terlihat berbeda, tapi kenapa justru gue seneng ngeliat dia yang sekarang. Dia lebih sering tersenyum, senyuman yang dulu pernah gue lihat, yang beberapa tahun ini menghilang. *** Aluna yang berada di Bandung merasa tidak tenang karena mendengar Manda – saudara angkat Alana sekarang berada di Jakarta. “Manda langsung ke Jakarta setelah tahu Kak Alana hilang, aku nggak akan biarin dia hidup dengan tenang. Gara-gara dia, Kak Alana memutuskan untuk bunuh diri. Tunggu aja Manda! Aku bakalan balas semua yang telah kamu lakuin sama Kak Alana!” kata Aluna. Aluna sudah mempunyai banyak rencana, untuk membalas perlakuan Manda, yang selalu semena-mena kepada Alana. Namun sayang, Manda justru tidak ada di Bandung, sehingga Aluna harus sedikit mengubah rencana agar dia bisa melancarkan aksinya. “Andai saja Kak Alana cepat kutemukan, pasti semua nggak akan kayak gini. Kenapa aku selalu gagal membantu orang yang membutuhkan ?“ kata Aluna sembari berbaring di ranjangnya. Aluna membuka aplikasi i********:, sekedar mengecek bagaimana kondisi di Jakarta. Dia menyempatkan mengecek profil akun i********: milik Bryan. Namun, ternyata di sana tidak ada postingan terbaru dari Bryan. “Kenapa aku masih aja penasaran sama kak Bryan? Padahal, aku udah mutusin buat mencoba ngelupain dia dan menjauh dari dia. Aku harus bisa lupain kak Bryan! Walaupun hati aku menentang, tapi aku harus melakukannya,“ kata Aluna. Aluna memutuskan untuk menutup matanya karena hari sudah semakin larut, dia harus beristirahat agar pikirannya tenang. *** Keesokan harinya, ketika pelajaran pertama akan dimulai, gurunya masuk bersama murid baru, kemungkinan dia adalah murid pindahan. Guru mempersilakan murid baru itu untuk memperkenalkan diri. Namun, saat dia sedang memperkenalkan diri, dia melihat seseorang yang tak asing baginya. Dia tersenyum sinis ke arah orang itu yang saat itu juga sedang menatapnya. Kenapa dia ada di sini? Ini menarik... batin murid baru itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD