Chapter 10: Calon

1681 Words
Devin POV Senin pagi, Devin kembali berkutat di depan laptopnya. Pagi ini ia sengaja melewatkan sarapan di tempat Maya, karena ia sudah bertekad mengurangi interaksi dengan gadis misterius itu. Terlalu sering bertemu dengan Maya membuat Devin kelewat gusar dan tidak seperti dirinya yang biasa, cuek dan dingin. Jadi ia menenggelamkan diri dalam kesibukan kantornya hingga ia datang pagi hari senin ini. “Devin!” Ibunya, tiba-tiba masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu. “Mama?” Devin sedikit kaget, tapi lalu berdiri menghampiri sang ibu. “Ada apa ma? Kok pagi-pagi kesini?” “Memangnya nggak boleh mama nemuin anak mama ke kantornya?” Bu Uwi merengut lalu duduk di sofa ruangan Devin. Devin hanya tersenyum tipis dan duduk di seberang sang ibu. “Ada yang perlu mama bahas ya?” Tanya Devin lagi, tahu kalau ibunya pasti ingin membicarakan suatu hal yang sangat penting sampai mendatanginya ke kantor. “Ish, kamu nih. Tau aja.” Ibunya melempar senyum penuh arti, lalu menegakkan posisi duduknya. “Mama udah telponan kemarin sama tante Dewi.” “Ooh.” Komentar Devin pendek. “Katanya mereka suka sama kamu! Silvi bahkan gak sabar mau ketemu kamu lagi.” Bu Uwi memekik girang. Sementara Devin hanya diam, melengos ke arah jendela. “Kok kamu diem aja sih?” Ibunya merengut lagi, kesal dengan reaksi Devin yang dingin. “Ya terus aku mesti komentar apa, ma.” Respon Devin acuh. Tidak aneh bila Silvi dan kedua orang tuanya menyukainya, dia memang salah satu jejaka muda Batam paling berkualitas saat ini. Karena itu, Devin selalu merasa punya posisi tawar lebih dalam urusan mencari pendamping hidup. Meski kedua orang tuanya semangat menjodohkannya dengan anak-anak dari keluarga konglomerat di Batam, Devin tidak pernah tertarik untuk serius karena merasa belum bertemu dengan wanita yang pas. “Kapan kamu ketemuan lagi sama Silvi?” tanya ibunya lagi. Devin hanya mengangkat bahu. Silvi memang cantik, dan berotak encer, ditambah punya sisi liar yang tampaknya tersembunyi. Tapi Devin belum tertarik untuk berhubungan lebih lanjut dengannya. Meski Silvi sudah mengiriminya beberapa kali pesan pendek yang belum ia balas. “Ya udah, kalau bisa secepatnya deh.” Pinta ibunya lagi. “Papa nanyain juga, gimana kemaren di pesta, udah sempet ngobrol sama pak Sudibyo belum?” Meski sedang di luar kota, ayahnya tampak ingin tahu perkembangan urusan hubungan bisnis dengan pendiri ST Shipyard, sampai harus menitip pesan lewat ibunya. “Belum sempet, beliaunya sibuk selama acara. Cuma sama Silvi dan orang tuanya aja.” “Tuh kan. Bagus kamu cepet deketin Silvi biar bisa kenal langsung sama Pak Sudibyo.” Saran Bu Uwi. “Kan bagus kalau ST Shipyard buka kantor mereka di Dubil Tanjung Uncang dan Kabil nanti.” “Devin udah punya kontak Pak Airlangga, ma. Katanya beliau yang bakal set up meeting Devin sama Pak Sudibyo. Nanti kalau jadi, Devin bakal sumbang dana buat kampanye dia.” “Ya kalau bisa lewat cucunya juga kan enak. Lagian emang kamu gak mau pertimbangin Silvi buat jadi istri? Bayangin keluarganya itu lho luar biasa banget.” “Mama ngomongin itu terus deh.” “Wajarlah, kamu ini  udah mau 36 tahun. Sampai kapan kamu main terus? Bagaimana kamu bisa gantiin papa jadi Presdir kalau belum punya istri?” Omel sang ibu. “Ya emang papa punya pengganti lain apa selain Devin?” Sungut Devin, kesal. “Nikah gak nikah juga tetep Devin yang gantiin.” “Nikah dulu, kata papa. Baru papa mau pensiun.” Jelas Bu Uwi. Devin mendengus. “Ya udah nanti Devin ajak Silvi dinner.” “Good, gitu dong.” Ibunya mengangguk, puas. Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu. “Pak Devin, orang Daewoo sudah tiba, menunggu di ruang meeting.” Taufik, sekretarisnya, memberi info. Devin bangkit, teringat dia ada meeting dengan Gilang pagi ini. “Iya iya, mama tau kamu sibuk.” Sang Ibu ikut bangkit saat Devin melempar pandangan padanya. “Mama pulang dulu ya. jangan lupa janji kamu loh mau ketemuan lagi sama Silvi.” “Iya, ma.”   Gilang POV Setiap ada urusan yang mengharuskannya untuk pergi ke kantor Dubil, Gilang selalu bersemangat. Karena tandanya, dia bisa bertemu Revina. Revina, perempuan manis yang akhir-akhir ini selalu menyita pikirannya. Sayang meski telah memberi perhatian yang maksimal, tapi Revina tampak cuek saja dengan sikapnya. Gilang tentu tidak menyerah, karena toh dia tidak terburu-buru ingin segera menikah. Dia menikmati suasana kesehariannya yang baru, merasakan kesenangan tersendiri saat bisa bertemu wanita pujaannya. “Selamat pagi, Pak Devin. Kita bertemu lagi ya senin ini.” Gilang menyapa Devin dengan ramah saat Devin memasuki ruang meeting. Devin hanya tersenyum, lelaki ini memang cenderung dingin dan irit bicara, berbanding terbalik dengan Gilang yang murah senyum dan ramah pada siapa saja. “Selamat pagi, Pak Gilang. Kita mulai ya agenda pagi ini.” Devin membaca tabletnya. “Tunggu pak, kita cuma berdua ya?” “Benar.” “Bukannya harusnya ada bu Revina?” Gilang bertanya lagi, penasaran. “Revina sedang keluar kota bersama presdir.” Sahut Devin pendek. Gilang tertegun, tapi lalu tersenyum. Meski sedikit kecewa, ia tidak ingin Devin sampai sadar perubahan perasaannya. “Bisa kita mulai, Pak Gilang?” “Ah, baik pak.” Dan rapat keduanya pun dimulai. Setelah sekitar satu jam, agenda rapat akhirnya selesai dibicarakan. Gilang baru akan pamit saat Devin menghentikan langkahnya. “Pak..” Devin terlihat salah tingkah, tidak seperti biasa. “Ya, Pak Devin?” “Di acara ST Shipyard hari sabtu kemarin, bapak kesana dengan siapa ya?” “Oh?” Gilang lalu mengingat-ingat. “Sendiri sih pak. Memang ada apa ya pak?” “Ah, tidak. Saya melihat bapak mengobrol bersama seseorang saat itu.” “Aaah!” Gilang teringat perkenalannya dengan Maya, cucu pertama Pak Sudibyo. “Itu teman sih pak, saya juga baru kenal pas tidak sengaja bertemu dan ngobrol di acara itu.” “Ooh, begitu.” Devin mengangguk. “Ah iya, untuk klub golf bapak dengan Pak Sudibyo, apakah masih ada slot untuk saya join?” “Tentu!” Gilang tersenyum. “Semakin ramai pasti semakin menyenangkan. Pak Devin datang saja ya Sabtu pagi ini ke Nongsa. Nanti saya kenalkan dengan member yang lain, termasuk Pak Sudibyo.” “Baik, terima kasih, Pak Gilang.” Devin menyalami Gilang.    Maya POV  Senin sore ini, Maya lagi-lagi dibangunkan oleh telepon sang kakek. “Jadi, bagaimana obrolanmu sabtu kemarin dengan mas Gilang, Maya? Kapan kalian ketemu lagi?” “Kakeeeeeek…” Erang Maya di sela kantuknya. “Bisa gak sih nelponnya agak maleman dikit gitu? Maya nih lagi tidur jadi kebangun kan.” “Kan sudah kakek bilang, mending kamu kerja di tempat kakek aja. Kakek jamin gaji kamu sama bahkan lebih dari yang dikasi sama orang perusahaanmu sekarang.” “Maya ini pengalaman kerjanya di periklanan lho, kek. Masa pindah ke galangan kapal. Yang ada karyawan kakek pada protes.” “Siapa yang berani protes sama pengganti bos mereka?” “Hiii justru makin diproteslah! Anak muda ntah dari mana, pengalaman gak relevan tau-tau datang jadi bos. Nanti kalo didemo karyawan gimana?” Maya bergidik. “Udahlah kakek jangan mengada-ngada terus deh. Kan keluarga kakek bukan cuma Maya. Stop bercandanya soal Maya yang gantiin posisi kakek.” “Dibilangin berapa kali gak bercanda juga..” Protes kakek Sudibyo, tapi langsung dipotong Maya lagi. “Terus soal mas Gilang, dia katanya udah punya calon sendiri lho. Kakek nih main ngenalin Maya tapi gak mastiin sama orangnya dulu?” “Ooh, gitu. Sayang sekali ya kalau begitu. Padahal kakek suka dia, orangnya ramah dan pintar. Tahu sopan santun juga.” Kakek Sudibyo terdengar kecewa. “Ya sudah, kamu gak perlu khawatir. Nanti kakek carikan calon lain yang pas buat kamu.” “Yang lagi cari calon juga gak ada, kakek doang nih yang semangat.” “Semangat dong. Kamu tahu kan Maya, kakek semakin tua. Umur kakek mungkin udah gak lama lagi.” “Kakek gak usah bercanda gitu ah, gak lucu,” Sergah Maya, tapi sang kakek melanjutkan ucapannya. “Jadi sebelum kakek sudah gak ada di dunia ini lagi, pengennya ngeliat kamu nikah. Sederhana kan permintaan kakek?” Ucapan sang kakek terdengar sendu sekarang, tapi Maya tidak terpengaruh. “Kata Pak Adi, hasil medical check up tahunan kakek selalu bagus, dan kakek adalah lansia tersehat yang pernah Maya temui. Kayanya malah kakek yang bakal hidup jauh lebih lama dari Maya, dengan pola makan dan olahraga kakek yang kaya fitness guru.” Sindir Maya, membuat kakeknya tertawa. Kakek Sudibyo memang sangat menjaga pola makan dan rajin berolahraga, makanya meski sudah berusia lanjut ia terlihat jauh lebih muda dan bersemangat dibanding orang lain seusianya. “Duh, kamu ini memang paling bisa ya.” Ujar Kakek Sudibyo setelah puas tertawa. “Oh ya, kenapa sabtu kemarin pulang gak pamit ama kakek? Padahal kakek udah semangat mau ngenalin kamu sama tamu kakek.” “Kakek sibuk banget, Maya nggak mau ganggu.” Jawab Maya, meski alasan sebenarnya tentu saja supaya ia tidak berpapasan dengan ayah kandung dan keluarga barunya yang menjengkelkan, yang selama pesta kemarin terpantau sibuk berkeliling mengakrabkan diri dengan para tamu kakeknya. “Jadi Maya keluar hotel bareng Mas Gilang.” “Kalian akrab banget ya, apa benar mas Gilang sudah punya calon? Jangan-jangan dia tertarik sama kamu juga sebenarnya.” “Kakek ini suka maksain deh. Orangnya bilang sendiri kok kemarin. Kayak gak ada laki-laki lain aja.” “Berarti sama laki-laki lain, kamu mau kenal?” “Euuuhhh…” Maya mengerang jengkel. “Terserah kakek aja ah. Udah ah tutup telponnya. Memang kakek gak sibuk apa?” “Ya sudah, ya sudah. Nanti kakek kabarin kalau ada yang mau kakek kenalin ya.” “Ya.” Jawab Maya pendek, malas menanggapi. Sudah bahasannya soal pengganti posisi, sekarang muncul lagi bahasan jodoh. Ia sudah membayangkan keseriusan kakeknya kali ini. Mungkin tidak perlu waktu lama, ia harus kencan buta dengan orang baru. Author's Note: Halo semua! Terima kasih sudah senantiasa membaca dan meninggalkan komentar. Jangan lupa follow penulis Ashadiya di platform ini, tap love cerita ini agar muncul di library, dan follow i********: @ashadiya.dreame karena saya suka post story dan reel mengenai karakter dan jadwal UP. Sampai jumpa di chapter esok!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD