Chapter 9: Perkenalan

1737 Words
Devin POV Sabtu malam yang sama, Devin memasuki ballroom utama hotel Radisson dengan jas hitam dan kemeja abunya, sendirian. Suasana pesta cukup ramai, dengan mayoritas tamu menyebar berbincang dengan kenalan masing-masing. Meski mengenali beberapa tamu yang merupakan perwakilan perusahaan yang berkantor di Dubil, Devin bukan tipe orang yang mendekati orang lain duluan, apalagi mengajak bicara, jadi Devin hanya berdiri di salah satu stall untuk minum jus. Tiba-tiba, seorang wanita paruh baya dengan gaun dan dandanan glamor mendekatinya. “Mas Devin ya?” Tanyanya. “Ya?” Devin bertanya balik. “Ini Tante Dewi, temannya Bu Uwi, mamanya mas Devin.” Dewi Sudibyo, tersenyum cerah. Devin membalas senyumnya. Akhirnya ia bertemu juga dengan menantu pak Sudibyo yang diceritakan oleh ibunya. “Sudah lama datangnya mas?” “Tidak kok, tante.” “Maaf ya tante baru ajak ngobrol. Dari tadi tamunya ramai sih. Sebentar ya, tante panggilkan anak tante dulu. Kemana ya dia?” Bu Dewi celingak-celinguk beberapa saat. “Itu dia. Silvi, sini-sini!” Bu Dewi melambaikan tangannya pada seorang wanita muda berambut panjang mengenakan gaun merah muda yang lalu berjalan mendekat ke arah mereka berdua. “Mas Devin, kenalkan, ini Silvi. Sil, ini mas Devin, yang mama ceritain itu, anaknya tante Uwi. Mas Devin ini penerus Dubil, benar kan mas Devin?” Bu Dewi terkekeh penuh arti, sementara Devin hanya tersenyum kecut. “Silvi, salam kenal mas.” Silvi mengulurkan tangannya. Dia cukup cantik, seksi, dan mirip dengan tipe Devin yang biasa. Usianya mungkin baru 25-26 tahun, terpaut lumayan jauh dengan Devin yang sudah 35 tahun. Tapi Devin cukup pintar untuk tidak bermain-main dengan anak-anak kolega atau teman orang tuanya. Jadi Devin hanya mengangguk pada Silvi, tidak terlalu  menunjukkan ketertarikan. “Silvi baru saja kembali dari Inggris, mas. S2 disana. Mas Devin juga dari Inggris kan ya?” Tanya Bu Dewi. Devin mengangguk lagi. “Aku ambil business administration di London, mas. Mas Devin dari Southampton ya? Jurusan ekonominya disana memang terkenal ya mas.” Silvi membuka obrolan, ramah. Devin mengiyakan lagi. “Silvi saat ini bantu-bantu jadi staf ahli di kantor papinya, mas Devin.” “Staf ahli?” “Iya. Ayahnya Silvi, anggota komisi III DPRD Pemrov Kepri ini mas.” Bu Dewi menjelaskan. “Nah, kebetulan papinya lagi kesini nih. Papi!” Bu Dewi melambai lagi, kini ke arah seorang pria paruh baya yang mendekati mereka. Devin berusaha menjaga ekspresi wajahnya agar tidak terlihat terlalu terkejut saat wajah sang pria semakin ia kenali. Lelaki yang beberapa hari sebelumnya mendatangi Maya ke apartemennya. “Siapa, mi?” Lelaki itu bertanya pada Bu Dewi. Ia tampak tidak mengenali Devin, meski baru selang beberapa hari mereka berpapasan saat Devin mendengar perdebatan dirinya dan Maya. Mungkin karena hari ini Devin menggunakan kaca mata dan baju resmi, sementara waktu itu Devin hanya berpakaian kasual sepulang dari gym. “Devin Darmawan, Pi, yang semalam mama ceritakan. Anaknya temen mami yang suaminya pendiri Dubil itu!” Bu Dewi bercerita antusias. Wajah sang lelaki berubah ikut antusias dan langsung mengulurkan tangannya pada Devin. “Airlangga Sudibyo. Senang akhirnya bisa berjumpa dengan direktur Dubil ya, Pak Devin.” Pak Airlangga berkata dengan formal. Devin menggenggam tangannya balik. “Devin Darmawan, Pak.” Devin memasang senyum tersopannya. Ia langsung mengeluarkan kartu namanya dari dalam dompet, dan menyerahkannya pada Pak Airlangga. “Ini pak, kartu nama saya. Nomor telepon pribadi saya, tertera disitu.” “Wah, kebetulan sekali nih, kita bisa sekalian tukaran kontak ya Pak Devin..” Pak Airlangga juga menyerahkan kartu namanya pada Devin. “Silakan kalau ada perlu sesuatu, Pak Devin bisa kontak saya. Semua bisa kita atur.” Ujar Pak Airlangga dengan senyum penuh makna. “Terima kasih, Pak. Kebetulan ada yang ingin saya bicarakan dengan Pak Sudibyo, mengenai pembukaan galangan baru ST Shipyard.” Devin langsung membahas pekerjaannya to-the-point. Sementara Silvi dan ibunya hanya mengamati dengan tatapan kagum. “Ah, ya.” Pak Airlangga merespons. “Saya dengar Dubil mau buka cabang baru ya di Tanjung Uncang dan Kabil. Pas sekali memang, ST Shipyard memang mau membuka kantor di salah satu daerah itu, hanya belum tahu di kawasan industry yang mana.” “Dubil sedang dalam tahap pembebasan lahan, dan akan dibangun dalam bulan-bulan ini Pak. Targetnya enam bulan ke depan, perusahaan-perusahaan sudah mulai mendirikan gedung masing-masing.” Jelas Devin. “Baik, nanti saya akan langsung bicarakan dengan Bapak ya, Pak Devin. Untuk urusan perusahaan memang saya tidak pegang langsung sejak jadi wakil rakyat.” Pak Airlangga terkekeh, sementara Devin tersenyum tipis. “Nanti saya atur meeting dengan bapak langsung. Untuk urusan perizinan juga Pak Devin tidak perlu khawatir. Asalkan nanti ketika dekat waktunya pemilu, saya bisa mengandalkan bapak juga.” Pak Airlangga menepuk bahu Devin. Devin mengangguk, paham bahwa lelaki ini sedang melempar kode masalah dana bantuan kampanye rahasia. “Tenang saja pak, untuk itu, kami selalu siap membantu wakil rakyat terbaik.” Balas Devin. Ayahnya memang biasa menjadi donator kampanye tersembunyi bagi banyak politisi yang menyalonkan diri saat pemilu, ini yang membuat jalan Dubil selalu mulus menghadapi masalah yang berhubungan dengan birokrasi atau kepentingan umum. “Ya sudah, kami tinggal dulu ya. Silakan Pak Devin mengobrol dengan Silvi. Silvi ini juga pintar untuk urusan bisnis, cocoklah kalau bersanding dengan Pak Devin.” Pak Airlangga melempar kode lain, kali ini mengenai perjodohan anaknya dan dirinya. Devin hanya tersenyum tipis. Ia lalu menoleh pada anaknya yang sedari tadi berdiri mematung. “Sil, kamu temani Pak Devin ya, apa yang beliau minta, tolong layani dengan baik.” Devin mengernyitkan dahi, agak sedikit terganggu dengan pemilihan kata-kata si anggota DPRD pada anaknya, karena ia biasa mengasosiasikan kata ‘layani’ dengan urusan ranjang. Tapi Silvi tampak biasa saja dan tersenyum cerah, mengiyakan kata-kata sang ayah. Kotor banget pikiran lo, Vin. Gumam Devin dalam hati. Pak Airlangga dan Bu Dewi lalu meninggalkan ia dan Silvi dengan saling merangkul pinggang, sembari Devin memperhatikan kemesraan mereka berdua dari belakang. Setelah selesai berbincang urusan kerjaan dengan Pak Airlangga, tiba-tiba ia jadi teringat pada percakapan Pak Airlangga dan Maya beberapa hari lalu yang sedikit panas. Apa benar Maya selingkuhan lelaki ini? Tapi dia dan istrinya terlihat begitu mesra. Apa mesranya itu hanya akting? Lamunan Devin dibuyarkan oleh Silvi yang tiba-tiba menggamit lengannya. “Mas Devin mau makan apa? Biar aku ambilkan.” “Nggak usah,” Devin menggeleng, agak jengah dengan keakraban Silvi. “Eh, jangan gitu dong mas. Masa udah kesini nggak makan. Kuambilin sate ayam ya, mau?” Paksanya. Devin hanya mengangguk, agar lengannya segera dilepaskan Silvi. “Oke, tunggu disini ya.” Silvi menimpali ceria dan berlalu ke arah stall. Devin menghembuskan nafas lega. Ia baru akan duduk di salah satu kursi yang rapat ke dinding saat orang lain menyapanya. “Pak Devin?” Kali ini Gilang, Direktur Daewoo Batam yang menyapanya. “Eh, Pak Gilang.” Devin memasang senyum sopan lagi karena bertemu dengan kolega kantornya. “Wah, ternyata Pak Devin disini juga ya!” Gilang berkomentar. “Saya baru tahu Dubil ada relasi juga ya pak dengan ST Shipyard.” “Belum pak, sedang saya usahakan.” Devin menjawab pendek. “Saya kesini atas undangan Pak Airlangga Sudibyo,” “Aah, iya iya.” Gilang mengiyakan. “Saya juga disini mewakilkan bos saya, Pak. Kebetulan bos saya dan Pak Sudibyo satu klub golf di Nongsa, jadi mereka cukup dekat.” Jelas Gilang. Devin hanya mengangguk-angguk, sambil berjanji dalam hati untuk mencari tahu nama klub golf yang dimaksud Gilang agar ia pun bisa bergabung demi menambah relasi lebih banyak, terutama dengan pendiri ST Shipyard, Pak Sudibyo. “Maaf ya Pak Devin, saya tinggal dulu. Saya sudah ditunggu,” Gilang mengacungkan dua gelas jus di masing-masing tangannya, memberi tanda bahwa seseorang sudah menantinya membawakan minum. Devin melambai mafhum, dan mengamati Gilang berjalan menjauhi keramaian ke arah salah satu pintu balkon transparan yang sedikit terbuka. Gilang lalu menyapa seorang wanita bergaun hitam yang sedang memandang ke arah luar, kemudian memberikan salah satu gelas jus yang ia bawa. Wanita itu menerimanya, dan ketika Devin akhirnya melihat dengan jelas wajahnya, lagi-lagi ia begitu terkejut. Wanita itu… Maya??? Apa yang Maya lakukan di acara ini? Apa ia diundang juga? Sebagai selingkuhan? Tapi kenapa Maya sekarang malah bersama Gilang? Sejuta pertanyaan berputar di kepala Devin, tapi gengsinya terlalu tinggi untuk membuat Devin mendekat dan bertanya langsung baik pada Gilang atau Maya. Jadi ia hanya memperhatikan keduanya dari jauh. Keduanya kini berbincang begitu seru, tertawa bahkan berfoto bersama dengan jarak begitu dekat. Devin tidak pernah melihat Maya berdandan secantik itu sebelumnya, ia bahkan tidak tahu Maya bisa seakrab itu dengan laki-laki lain karena Maya tidak pernah menunjukkan ketertarikan lebih padanya. Hatinya begitu berkecamuk dengan berbagai perasaan, tapi ia merasa begitu bodoh terlalu memikirkan Maya beberapa hari ke belakang. Jelas sudah bahwa antara ia dan Maya memang tidak ada apa-apa. Rasanya kini ia ingin pulang untuk minum dan bersenang-senang memuaskan nafsunya. “Mas Devin, ini kubawakan satenya.” Silvi berkata dengan menyerahkan sepiring sate ayam dan lontong. “Thanks.” Jawab Devin, pendek. Silvi lalu duduk di sampingnya, juga memakan sate dari piringnya sendiri. “Mas Devin, aku minta nomor mas dong.” Celetuknya. Devin hanya melengos malas. “Tadi sudah kukasih ke papimu.” “Kan ke aku belum,” Silvi mengerucutkan bibirnya, ngambek. Ia lalu berbisik ke telinga Devin dengan nada menggoda. “Aku bisa melayani dengan baik lho, di suite mas Devin.” Ujarnya pelan, nafasnya yang sedikit mendesah berhembus ke leher Devin. Devin langsung merinding dan menoleh ke arah Silvi, tidak mempercayai pendengarannya. Gadis ini tampaknya tidak sepolos yang terlihat. “Jangan bicara apa yang kamu gak bisa tanggung akibatnya. Don’t try to play with fire.” Ancam Devin, pelan agar tidak menarik perhatian orang sekitar mereka. Meskipun tak pelak membuat nafsu dalam dirinya jadi ikut terbangun. Sudah terlalu lama memang Devin ‘puasa’ akibat rentetan hal yang belakangan ini memenuhi pikirannya. Tapi Silvi tak terlihat gentar, dan malah menghabiskan sate ayamnya. Ketika ia mau bangkit, Silvi menyelipkan secarik kertas putih di kantong jas Devin. “You can always try me.” Jawab Silvi, mengedipkan matanya. Devin hanya diam, bingung harus bereaksi apa.  Author's Note: Halo semua! Sudah bisa ketebak dong yaa siapa lelaki yang kemarin mendatangi Maya. tapi sayang Devin selalu berpikiran buruk jadi nyangkanya yang aneh-aneh deh! Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan komentar, yang belum tap love cerita ini jangan lupa tap love, dan follow penulis Ashadiya di platform ini ya~ Follow juga i********: @ashadiya.dreame, tempat saya share soal UP dan info foto karakter. Sampai jumpa besok!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD