Devin POV
Malam ini Devin sengaja menghabiskan waktunya kembali ke kebiasaan lamanya, minum-minum bersama beberapa teman clubbingnya, sekaligus menghilangkan kegundahan hatinya. Ternyata tak perlu menunggu lama, begitu ia duduk dan memesan minuman, segerombolan wanita muda berpakaian seksi dan cantik langsung mendekati ia dan teman-temannya. Meski Devin tidak banyak bicara dan bersikap cuek seperti biasa, salah seorang diantara mereka tetap duduk di sampingnya dan sangat menunjukkan ketertarikannya. Si wanita, yang Devin bahkan tidak ingat namanya, terus menempelkan dadanya ke lengan Devin dan sengaja menyentuh paha Devin beberapa kali, yang tak lama sukses membangunkan hasrat Devin yang sudah berminggu-minggu tidak terpuaskan akibat patah hatinya. Ia pun tak menolak ketika wanita itu mencium bibirnya begitu panas, dan nafsunya makin naik saat si wanita mulai menciuminya di leher. Devin baru akan mengajak wanita ini turun ke suitenya untuk menuntaskan malam mereka saat ia bertatapan mata dengan seorang yang tidak ia sangka, sedang duduk di kejauhan.
Maya?
Tapi apa yang Maya lakukan di restoran ini jam segini? Bukankah harusnya ia sedang bekerja?
Sejumlah pertanyaan berkelibat di otak Devin, saat seorang wanita cantik dan seksi sedang menggumuli lehernya dengan penuh gairaah, tapi keinginannya tiba-tiba berganti dan yang ia pikirkan sekarang malah reaksi Maya. Apakah Maya akan kaget atau kecewa melihatnya seperti ini? Tapi Devin begitu kaget saat Maya malah tersenyum lebar dan melambai padanya. Maya lalu berpaling ke arah bartender, dan Devin sontak mendorong teman kencannya itu menjauh dari tubuhnya.
“Sorry,” Ucap Devin. Si wanita tampak kaget, tapi langsung menguasai dirinya.
“Ah ya, lupa kalau kita masih disini.” Ujarnya begitu menggoda. “Gimana kalau kita lanjut di kamar lantai bawah?”
“Gak malam ini.” Tolak Devin tegas. “Gue duluan,” Ujarnya pada teman-teman semejanya, yang semua juga sedang sibuk dengan pasangan masing-masing. Mereka hanya berkomentar sekenanya, dan Devin langsung melangkah ke meja bartender tempat Maya duduk. Tapi tetangga misteriusnya itu sudah menghilang. Yang dia lihat malah sisa pesanan Maya, salad, burger dan gelas berisi milkshake. Hampir Devin berprasangka buruk mengira Maya sedang mabuk-mabukan malam ini, tapi ternyata Maya memang tidak meminum alkohol seperti perkataannya. Segera Devin berlari keluar restoran dan akhirnya melihat sesosok wanita dengan hoodie dan celana training abu sedang berdiri di depan lift.
“Maya?” Devin memegang lengan Maya, berusaha menghentikan langkahnya saat akan masuk ke dalam lift.
“Mas Devin?” Tanyanya, heran. “Kirain siapa. Hampir aja saya banting mas.” Maya terkekeh. Devin hanya meringis dan melepaskan pegangannya, baru ingat kalau Maya adalah mantan atlet judo, dan berjanji tidak akan menyentuh Maya sembarangan lagi.
“Kok disini, mas?” Maya bertanya lagi. “Bukannya…”
“Lo kok disini?” Devin memotong ucapan Maya dan malah bertanya balik.
“Saya memang biasa makan disini mas, pas jam istirahat.” Jawab Maya lugas. “Saya sengaja gak menyapa langsung ke meja mas Devin tadi, takut ganggu.” Lanjutnya santai. Devin menelan ludah. Benar berarti Maya melihat apa yang tadi ia lakukan bersama teman kencannya. Harusnya tidak apa-apa, tapi kenapa ia merasa terganggu? Dan kenapa Maya masih saja terlihat santai?
“Saya duluan ya mas, saya ada zoom meeting sebentar lagi.” Maya menunjuk jam tangannya saat pintu lift terbuka.
“Biar gue antar.” Devin baru akan ikut masuk ke dalam lift saat Maya menahannya.
“You should go back to your date, Mas. Ditungguin tuh.” Maya mengedipkan sebelah matanya. Devin langsung menoleh ke belakang, dan benar saja, teman kencannya tadi sedang berdiri tidak jauh darinya, melipat kedua tangannya dengan ekspresi kesal karena ditinggal begitu saja tiba-tiba. Devin menghela nafas, dan Maya menghilang di balik pintu lift yang menutup.
…..
Pertemuannya dengan Maya yang tidak sengaja tadi malam membuat mood Devin jumpalitan hingga pagi. Setelah berpisah dengan Maya, Devin tidak jadi menghabiskan malam bersama teman kencannya dan pulang sendiri ke kamarnya. Ia lalu bangun pagi, dan langsung ke gym apartemen untuk menghilangkan gundah hatinya. Sambil berlari di atas treadmill, Devin mereka ulang kejadian tadi malam. Ia benar-benar bingung kenapa ia terlalu memikirkan reaksi Maya saat melihatnya bermesraan dengan wanita lain, padahal sepertinya sudah jelas Maya tidak memiliki perasaan apapun terhadapnya. Harusnya Devin juga tak perlu ambil pusing karena toh ia tidak punya perasaan lebih kepada Maya, tapi ntah kenapa sikap Maya yang cuek dan misterius membuatnya semakin penasaran. Semakin ia berusaha melupakan dan bersikap seolah tak peduli, semakin ia termakan rasa ingin tahu.
Setelah menghabiskan sejam di gym, sekitar jam 7 pagi, Devin kembali ke kamar apartemennya. Begitu keluar dari lift, Devin baru akan berbelok ke arah kamarnya saat ia mendengar suara Maya yang lebih nyaring dari biasa.
“Ada apa kok kesini?” Tanya Maya. Tidak seperti biasanya, Maya terdengar kesal. Devin refleks bersembunyi di balik dinding, dan mengintip. Ia melihat seorang lelaki paruh baya berdiri di depan pintu kamar Maya. Wajah si lelaki tampak familiar, tapi Devin lupa pernah melihatnya dimana.
“Ya tidak apa-apa dong. Kan saya ingin bertemu kamu.” Lelaki itu menjawab.
“Memang bapak tidak takut istri bapak marah kalau ketemu saya?” Sentak Maya lagi. Devin mengernyit, sementara si lelaki menghela nafas.
“Sudahlah, tak usah pikirkan reaksi dia. Apapun kata istri saya, kita berdua kan tetap punya hubungan sendiri.” Si lelaki berusaha menenangkan Maya. Sementara Devin yang mendengarkan semakin bingung. Hubungan?
“Ck..” Maya berdecak. “Sudah telat bagi kita untuk punya hubungan apapun, pak. Sudahlah, bapak pulang saja ke rumah keluarga bapak. Jangan temui saya lagi kesini. Saya tidak mau berurusan lagi dengan bapak dan terutama istri bapak itu. Sudah cukup kesal saya dihina oleh dia.”
“Maya..”
“Cukup ya pak. Kalau bapak tidak pergi juga, saya teriak nih. Apa bapak tidak malu kalau ketahuan orang sedang berada disini bersama saya? Bisa-bisa pas periode berikutnya elektabilitas bapak turun.” Seloroh Maya, terdengar sarkastis sekarang. Elektabilitas? Devin lalu mengingat-ingat lagi dimana ia pernah melihat wajah si lelaki. Apa di salah satu spanduk pemilu?
“Ya sudah,” Lelaki itu menyerah sekarang. “Tapi hari Sabtu, kamu tetap datang kan?” Suaranya terdengar berharap.
“Tergantung mood saya.” Sergah Maya. “Kalaupun saya datang, bukan demi bapak.”
“Setidaknya kamu tetap datang.” Ujar si lelaki itu lagi. Maya mendengus dan membanting pintu kamarnya. Sementara si lelaki lagi-lagi menghela nafas panjang. Devin yang mendengarkan semuanya kini berusaha terlihat santai, dan saat berpapasan, ia berpura-pura sedang menelpon sehingga tidak bertatapan dengan si lelaki. Tapi ia bisa melihat wajah si lelaki dengan jelas, dan ia baru ingat, lelaki itu memang salah satu anggota DPRD yang digadang-gadang akan maju menyalonkan diri jadi walikota di pemilu periode berikutnya.
Hubungan apa yang dimiliki Maya dan lelaki seperti itu? Mendengarkan keseluruhan percakapan mereka tadi secara diam-diam malah makin membuat Devin berpikiran buruk. Dari percakapannya, seperti hubungan terlarang. Jika tidak, tak mungkin Maya terganggu dengan istri si lelaki. Apa selama ini Maya juga merupakan selingkuhan? Apakah ia juga bekerja sebagai wanita panggilan? Karena itukah Maya terlihat santai dan tak tertarik dengannya? Otak Devin memutar berbagai probabilitas sekarang. Ia tahu ini bukan urusannya sama sekali, tapi kenapa dia tidak bisa menghilangkan Maya dan seluruh misterinya dari pikirannya?
Semua pikiran buruk berkecamuk dalam diri Devin hingga ia selesai mandi dan berpakaian. Tadinya ia berniat langsung berangkat ke kantor, karena hatinya berkata seharusnya ia tak berurusan lagi dengan Maya. Tapi kakinya malah berhenti melangkah di depan pintu kamar Maya dan tangannya refleks mengetuk pintu itu.
“Eh, Mas Devin.” Maya tersenyum begitu ceria. Ekspresi kesalnya tadi sama sekali tidak terlihat. “Masuk mas, saya masak nasi kuning lho.”
Nasi kuning buatan Maya sangat enak, seperti semua masakannya yang pernah Devin makan, dan Devin yang tadinya gusar bercampur bingung dengan semua pikiran buruknya terhadap Maya, jadi tak memikirkan hal itu lagi. Seperti biasa, mereka berdua makan dalam diam, hanya ditemani suara TV yang menampilkan berita. Pagi ini, Maya memutar CNN. Maya tidak membahas soal kejadian Devin berciuman dengan teman kencannya tadi malam, dan Devin juga tidak bertanya soal siapa lelaki paruh baya yang tadi ia lihat berdebat dengan Maya, dan apa hubungan keduanya sebenarnya.
Maybe I should just enjoy my time being here? Devin akhirnya berkesimpulan, sembari menyeruput kopi espressonya yang dibuatkan Maya. Setelah makan, mereka berdua duduk berseberangan di sofa, sembari menikmati pemandangan langit Batam pagi ini yang kelabu karena hujan gerimis. Rintik hujan mulai membasahi jendela kamar. Tapi rasanya sangat menenangkan, membuat Devin akhirnya memahami sesuatu.
Untuk saat ini, Devin mulai menerima bahwa ia tidak perlu tahu semua hal tentang Maya. Hubungannya dengan Maya tidak perlu ada label. Dan sepertinya Maya pun merasakan hal yang sama dengannya.
“Makasih ya mas,” Ujarnya, untuk pertama kalinya Devin dengar saat akan keluar dari kamar Maya.
“Untuk apa?” Tanya Devin, heran. Bukankah dia yang hobi numpang makan gratis disini dan harusnya mengucapkan terima kasih?
“For just…” Maya terlihat menyusun kata-katanya dengan hati-hati. “Being here?” dan Maya tersenyum, begitu tulus. Sekilas Devin melihat kilatan rasa syukur di kedua matanya, dan Devin terpana karenanya. Baru ia sadari betapa manis senyuman itu, membuatnya refleks tersenyum juga.
Author's Note:
Halo semua! Ada yang bisa tebak siapa lelaki tidak dikenal yang mendatangi Maya? Apa kecurigaan Devin benar? Tinggalkan komentar yaa. Terima kasih sudah selalu membaca, jangan lupa klik love cerita ini dan follow penulis Ashadiya di platform ini. Yang mau seru-seruan di i********: juga boleh, follow @ashadiya.dreame yah. Sampai jumpa besok!