Devin POV
“Vin?” Suara sang ibu membuyarkan lamunan Devin.
“Eh, ya ma?”
“Kamu ini. Mikirin apa sih?” Ibunya menggelengkan kepala. Devin meneguk air putihnya, canggung. Saat ini ia sedang di rumah keluarganya, makan malam bersama kedua orang tuanya dan Revina, adiknya. “Sabtu ini, bisa kan? Acara ulang tahun pendiri ST Shipyard, di hotel Radisson.”
“Kenapa Devin harus datang?” Tanya Devin, sedikit bingung. ST Shipyard adalah salah satu galangan kapal terbesar di Batam, dan tidak memiliki hubungan bisnis khusus langsung saat ini dengan keluarganya, setahunya. Karena Dubil berlokasi di Muka Kuning yang isinya mayoritas adalah perusahaan manufaktur elektronik, plastik, dan lainnya, sementara ST Shipyard yang berfokus pada pembuatan kapal berlokasi di Sagulung.
“Menantunya temen mama, katanya mau ngenalin kamu sama anaknya.” Jawab sang ibu. Devin menghembuskan nafas. Lagi-lagi masalah calon pendamping.
“Ini kesempatan bagus Vin, kamu bisa sekalian propose pendirinya untuk mendirikan kantor cabang baru pas nanti Dubil buka di Kabil dan Tanjung Uncang. Papa dengar mereka memang mau perluasan usaha dan menambah pabrik baru, karena orderan mereka naik berapa persen.” Kali ini sang ayah yang berkomentar. Devin hanya mengangguk. Untuk urusan pekerjaan, ia terpaksa setuju. Bila ST Shipyard mau membuka kantor di kawasan baru Dubil, galangan kapal lain pasti akan banyak yang mengikuti.
“Cucunya cantik lho, masih muda dan pinter juga. Lulusan universitas luar negeri, Cuma mama lupa dari mana.” Ibunya kembali membahas calonnya. “Bapaknya anggota dewan, ibunya mantan aktris, kakeknya punya galangan kapal. Keluarga baik, jelas bibit bebet bobotnya. Mama udah tunjukin foto kamu ke ibunya, dan katanya mereka semangat mau ketemu sama kamu.” Devin lagi-lagi hanya memutar kedua bola matanya. Pembahasan mengenai calon pendamping selalu membuatnya malas. Sejak Dira, dia belum menemukan lagi sosok yang ia rasa pantas untuk jadi istrinya. Sekilas ia teringat sosok Maya, tapi ia langsung menggelengkan kepalanya cepat. Maya hanya tetangganya, tak lebih.
“Bagus itu, Devin.” Ayahnya menyahuti lagi. “Tidak ada ruginya pasti besanan dengan keluarga mereka.”
“Ya, sabtu Devin datang kesana.” Tandas Devin pasrah. Kedua orang tuanya mengangguk puas, sementara Revina hanya tersenyum, tampak bersyukur ia lolos dari percobaan perjodohan kali ini.
Revina POV
Malam ini malam Sabtu, dan Revina menghabiskan malamnya untuk menghilangkan penat akibat kerjaannya dengan minum-minum sendiri di La Bella Vita. Ia jarang sekali ke restoran sekaligus bar ini karena malas bila harus bertemu dengan si abang, tapi karena tahu malam ini Devin sedang di Singapura untuk urusan pekerjaan dan baru kembali besok pagi sebelum acara pesta, Revina jadi bisa kesini. Dia duduk di salah satu sudut bar dan menyeruput cocktail favoritnya. Tak lama, seorang lelaki yang tampaknya berusia jauh lebih tua darinya, mendekatinya.
“Hai,” Sapa si lelaki. Revina hanya melengos. Ia malas meladeni siapapun malam ini.
“Cewek secantik kamu, tidak pantas sendirian. Boleh kutraktir minum?” Lelaki itu berkata.
“Gue bisa beli minum gue sendiri.”
“Ayolah.” Lelaki itu masih memaksa.
“Nggak.” Tolak Revina lagi. Si lelaki tetap cuek dan malah memeluk pinggang Revina yang sedang duduk, tampak tidak peduli dengan keramaian orang di bar malam itu.
“Wah, harus dipaksa ya..” Ia terkekeh. Sementara Revina menggeliat, makin merasa tidak nyaman tiba-tiba dipeluk oleh lelaki asing sembarangan. Tangan kanannya baru akan menampar sang pengganggu ketika lelaki itu sigap menangkap tangannya. “Ckckck, perempuan cantik kok main tangan.”
“Sia..” Belum selesai Revina mengumpat, laki-laki itu tiba-tiba berteriak. Lengannya yang tadinya melingkar di pinggang Revina tiba-tiba diangkat oleh seorang wanita muda mengenakan hoodie berwarna biru tua.
“Jangan ganggu mbak ini, pak.” Ujar si wanita, santai. Revina menatapnya takjub.
“Siapa yang ganggu? Saya gak ganggu, kita lagi ngobrol kok!” Lelaki itu berupaya menarik tangannya tapi malah makin meraung kesakitan karena si wanita berhoodie makin memutar tangannya. “Aw.. aw.. oke oke lepasin!”
“Kalau dia udah bilang nggak, itu artinya nggak. Udah tua kok gak paham bahasa Indonesia.” Wanita itu bersungut pedas. “Sekarang, minta maaf sama mbak ini karena udah ganggu-ganggu.”
“Ya, maaf maaf,” Ucap si pengganggu pada Revina. Revina hanya mengangguk, Ia meringis kesakitan sebelum akhirnya tangannya dilepas.
“Awas kalau ganggu-ganggu lagi ya,” Si wanita penyelamat mengacungkan kepalan tangannya, dan si lelaki tak melawan, langsung pergi bahkan keluar dari bar.
“Mbak gak apa-apa kan? Maaf ya saya ikut campur.” Wanita itu berkata pada Revina ketika si lelaki menghilang dari pandangan.
“Saya nggak apa-apa, terima kasih ya mbak...” Balas Revina.
“Panggil Maya aja, mbak.” Maya tersenyum.
“Saya Revina.” Ia mengulurkan tangannya, dan disambut Maya dengan ramah.
“Saya hampir tiap malam makan sendiri di sana,” Maya menunjuk mejanya di sudut meja bartender, tidak jauh dari tempat Revina duduk. “Kalau mbak perlu teman, bisa duduk di sebelah saya. Enak disana, suka dapat almond gratis.” Maya terkekeh, membuat Revina ikut tertawa.
“Boleh deh, Maya. Makasih sekali lagi, ya.”
“Santai, mbak. Senang bisa membantu.”
Revina mengambil gelas dan tasnya dari meja, lalu mengikuti Maya dan duduk di sampingnya.
“Hai mbak, gak apa-apa kan?” Salah seorang staf restoran menyapa Revina saat ia duduk. “Saya Gina, manajer di sini. Silakan air putihnya mbak, dan ini assorted nuts untuk mbak, free of charge.” Lanjut Gina, meletakkan piring berisi berbagai jenis kacang. Revina menggumamkan terima kasih, perasaannya membaik setelah gangguan barusan.
“Saya dari tadi merhatiin mbak, dan mbak kayanya terganggu. Makanya saya minta Maya samperin. Maaf ya mbak kalau ikut campur.” Ujar Gina lagi, terlihat merasa bersalah.
“Nggak kok, justru saya yang terima kasih.” Revina tersenyum, lalu menoleh ke arah Maya yang sedang menyantap salad di sebelahnya. “Kamu mau minum apa? Biar kutraktir. Cocktail mau?”
“Saya gak minum alkohol, mbak.” Maya menolak ringan.
“Nggak minum, tapi malam jam segini kamu nongkrong disini?” Revina mengerutkan dahinya. Aneh sekali mendapati orang yang tidak minum alcohol di bar jam segini.
“Saya sih disini Cuma buat makan malam mbak. Karena Cuma disini yang buka dan di dekat rumah. Soal minum alkohol, Gina juga nggak, padahal dia manajernya.” Ketiganya tertawa. “Lagian saya sebentar lagi harus balik, ini masih jam kerja saya soalnya.”
“Kamu kerja shift malam?” Tanya Revina.
“Nggak, memang setiap hari jam kerja saya jam segini.” Maya tersenyum simpul.
“Oh ya? Kok bisa?”
“Dia kerja remote, mbak.” Sahut Gina, kini sambil mengelap gelas. “Kantornya di New York. Makanya dia kaya kalong, tiap malam bangun.”
“Wah, keren.” Puji Revina tulus. “Sebagai apa nih?”
“Copywriter.”
“Berarti urusan periklanan ya?” Tebak Revina. Maya mengangguk. “Gak capek tuh kerja beda time zone gitu?”
“Udah biasa sih mbak. Capeknya tertutupi karena gajinya dolar.” Jawab wanita berhoodie itu, dengan cengiran lebar, seperti sudah biasa ditanya seperti itu. Revina terkekeh.
“Ya sudah, kalau gitu saya bayarin makanmu aja ya.” Tawar Revina, langsung menyerahkan kartu kreditnya pada Gina. “Jangan nolak ya, saya tidak suka hutang budi sama orang.” Sahut Revina lagi sebelum Maya sempat berkomentar. Tapi Maya dan Gina hanya tertawa.
“Nggak nolak lah mbak, saya sih orangnya selalu menerima rejeki dengan tangan terbuka. Makasih ya mbak.” Celotehnya, dan mereka tertawa lagi. Revina tersenyum. Mereka bertiga mengobrol cukup seru mengenai pekerjaan Maya dan Gina hingga jam istirahat Maya selesai, dan mengundang Revina duduk bersama lagi bila malam-malam berikutnya ia datang sendiri ke La Bella Vita lagi. Revina yang biasanya kesepian karena mayoritas teman perempuannya sudah menikah atau tinggal di luar negeri sedikit merasa hangat menemukan teman-teman baru. Meski Maya dan Gina tidak bergaya kelas tinggi seperti teman-temannya yang berasal dari sesama keluarga sosialita, Revina merasa nyaman. Berbagai kejadian beruntun dalam beberapa bulan ke belakang sedikit mengubah pola pikirnya yang selama ini tinggi hati. Terutama, ia yang tadinya berpikir harus segera menikah dengan lelaki pilihan karena usianya sudah lewat 30 tahun, sekarang merasa senang bekerja dan menikmati hasil jerih payahnya sendiri. Saat ini, Revina hanya ingin menikmati kehidupannya sebagai wanita lajang hari demi hari dengan santai.
“Mba Revina, udah punya pacar?” Tiba-tiba Gina bertanya setelah Revina memesan gelas cocktail keduanya.
“Kayanya kalau punya pacar, saya gak akan disini sendirian malam ini.” jawab Revina lugas, yang sukses membuat Gina tertawa. “Kenapa?”
“Kali aja mau dikenalin sama kakak saya. Biarpun duda, dia mapan dan ganteng lho mbak.” Gina berkata menggebu-gebu. Revina menahan tawanya. Tentu saja dia akan membanggakan kakaknya seperti itu, namanya juga kakak sendiri.
“Kok gak sama Maya aja dikenalinnya?” Revina bertanya lagi, sedikit acuh.
“Maya nolak terus, dia belum mau punya pacar katanya.”
“Jadi saya sebagai cadangan nih karena Maya nggak mau?” sindir Revina yang sukses membuat Gina panik.
“Nggak gitu dong mbak maksud saya! Kan saya kenal Maya duluan. Coba saya kenal mbak duluan, ya mbak duluan pasti yang saya kenalin.” Jelasnya, terbata-bata. Revina tergelak.
“Bercanda, kok. Sebenarnya saya juga sama sih, belum mau pacaran.” Gina mengangguk mendengar jawaban Revina. “Memangnya kakak kamu lagi cari pacar? Dia nggak bisa cari sendiri?”
“Nggak sih, dia juga sama, maunya jomblo terus. Makanya saya semangat mau ngenalin ke temen-temen saya, biar dia gak sendirian terus.”
“Sendirian kan bukan berarti gak bahagia.” Celetuk Revina.
“Bener sih,” Gina mengiyakan.
“Untuk saat ini, gak dulu deh Gin. Sorry ya.”
“Oke mbak. Tapi di masa depan belum tentu gak nih ya, berarti?” Gina masih bersikeras.
“Haha..” Revina terkekeh lalu meneguk cocktailnya lagi. “Kita lihat nanti deh.”
Author's Note:
Halo semua! Gina semangat banget ya mau jodohin kakaknya. Jadi si kakak bakal kenalan ama Maya atau Revina ya? Sampai jumpa di chapter besok! Terima kasih yaa sudah meninggalkan komentar dan tap lovenya. Terima kasih juga sudah follow penulis Ashadiya di platform ini. Silakan follow i********: @ashadiya.dreame untuk info karakter dan UP! Terima kasih~