"Siapa bilang Reyna jomblo?" nenek Michele menyela perdebatan dua sahabat itu.
Gotcha
Faira tersenyum licik. Rencananya berhasil. Dia harus memastikan sesuatu.
"Nenek tahu? Jadi Reyna cerita sama Nenek tapi dia tidak cerita pada kami?" Faira bertanya dengan menggebu- gebu.
"Cerita apa?" Rayan tak mengerti arah pembicaraan Faira.
"Itu Reyna. Aku lihat kemarin dianterin pria ganteng. Tapi dia gak cerita sama kita kalau punya kekasih," Faira menjelaskan dengan bibir cemberut.
"Bener Rey?" Rayan bertanya memastikan.
"Gak bener itu. Kemarin aku emang dianter pulang sama manager aku. Tapi kami gak ada hubungan apa- apa kok," Reyna menjelaskan.
"Bohong!" sahut Faira.
"Tadi Nenek juga bilang kalau kamu gak jomblo lagi kok. Iya kan, Nek?"
"Apa?" nenek menyahut.
"Tadi Nenek bilang kalau Reyna gak jomblo kan? Berarti Reyna udah punya kekasih, ya kan, Nek?" Faira menatap nenek Michele berbinar.
Reyna menatap Faira sebal, gadis itu mengambil kesimpulan seenak jidatnya.
"Memang tadi Nenek bilang begitu, ya?" sahut nenek sambil terkekeh.
"Nenek kan tadi bilang Reyna gak jomblo," terang Faira lesu.
"Ya memang Reyna gak jomblo. Dia kan sudah punya buntut. Tuh Reyhan," nenek Michele menjelaskan membuat empat orang dewasa yang berada di ruang keluarga itu menatap si kecil Reyhan yang tengah memakan kue dengan mulut blepotan yang menggemaskan.
"Ah, Nenek gak asyik," rengek Faira sebal.
Tadi dia berharap bahwa Reyna beneran punya kekasih dan akan menjadi ayah Reyhan nantinya. Reyna juga harus menemukan kebahagiaannya meskipun tak bersama ayah kandung Reyhan. Semenjak mendengar cerita Reyna mengenai ayah kandung Reyhan, Faira bertekat akan membantu Reyna menemukan kebahagiaannya. Reyna masih muda, masa depannya masih panjang. Lagi pula dirinya bisa bersama Rayan saat ini juga atas bantuan Reyna.
Reyna malihat nenek Michele dengan tatapan terima kasih dan senyum lega. Nenek Michele sendiri mengangguk dan tersenyum balik kepadanya. Memang beberapa hari lalu dia diantar pulang Brandon, managernya sebagai ucapan maaf karena membuatnya lembur. Orang- orang di tempat kerjanya tahu kalau dia adalah seorang single parent jadi dia tak berharap ada romansa antara atasan dan bawahan atau sesama rekan sejawatnya. Dia cukup tahu diri, dengan adanya Reyhan, para pria akan berpikir dua kali untuk mendekatinya.
"Ngapain manager kamu nganterin pulang? Gak biasanya?" Rayan bertanya menyelidik membuat Faira kembali antusias.
"Karena aku terpaksa lembur, deadline akhir bulan," Reyna menjelaskan.
Mendengar jawaban Reyna yang lempeng membuat Faira kembali cemberut.
"Udah puas kamu?" Rayan menegur Faira membuat Reyna tersenyum.
Faira tambah memonyongkan bibirnya dan melirik sinis ke arah Reyna karena kesal. Reyna hanya membalas dengan seulas senyum.
Brandon, pria itu memang akhir- akhir ini memberi perhatian lebih kepada Reyna. Entah apa maksudnya, Reyna tak mau menebak- nebak. Dia takut kecewa karena merasa dirinya tak seberharga itu untuk diperjuangkan seorang pria. Tapi tak bisa dipungkiri ada rasa yang menggelitik hatinya saat Brandon menatapnya penuh perhatian.
-
-
-
-
Tok.. tok.. tok
Konsentrasi Hans yang sedang memeriksa dokumen terpecah mendengar suara ketukan pintu ruangannya.
"Masuk," titahnya.
Setelah pintu terbuka muncul wajah sekertarisnya dari balik pintu.
"Maaf Pak, ada tamu untuk Bapak. Tapi belum ada janji," kata Nina, sekertarisnya dengan menunduk hormat.
Hans mengernyitkan kening, "Siapa?"
"Morning dear. Don't you miss me?" seorang wanita berparas cantik dengan dress merah ketat membungkus tubuh indahnya muncul dari belakang sang Sekertaris, Jessica.
Hans menegang di tempatnya. Rahangnya mulai mengeras menahan amarah yang sudah terkubur dan kini kembali mencuat ke permukaan. Wanita yang sudah mengkhianatinya dan sudah mulai ia lupakan dengan percaya diri muncul di hadapannya. Apa yang wanita ini pikirkan?
"Kamu bisa keluar, Nin," perintah Hans dengan suara dingin.
Menyadari raut wajah Hans yang berubah dingin, Nina mengangguk dan bergegas keluar.
Tanpa beranjak dari kursi kebesarannya, Hans mengamati Jessica yang berjalan mendekat dengan senyum menggoda. Tak mengucapkan sepatah kata pun.
"Long time no see dear," Jessica semakin mendekat dan menunduk untuk mengecup bibir Hans namun Hans menolak dengan memalingkan wajahnya hingga ciuman Jessica hanya mengenai pipinya.
Jelas yang dilakukan Hans menyentil ego Jessica yang tidak pernah ditolak pria manapun. Tak habis akal Jessica berjalan mengitari Hans, sampai di belakang tubuh pria itu kedua tangannya ia letakkan di atas bahu Hans. Mensejajarkan wajahnya dengan telinga Hans sambil berbisik, "I miss you so damn much," diakhiri dengan mengecup leher Hans.
Hans POV
Aku tidak habis pikir apa mau wanita ini. Dia datang seperti tidak pernah terjadi apapun di antara kami. Datang dengan senyum menggoda tanpa rasa bersalah setelah apa yang ia lakukan dulu. Dia pikir aku akan tergoda lagi? Cih, rasa itu sudah lama mati.
Aku menghindar saat ia akan menciumku. Dan aku tahu hal itu pasti menyentil egonya. Tapi sepertinya wanita ini sudah tidak punya malu lagi. Aku mempertahankan ketenanganku untuk melawannya, dia akan merasa menang jika aku bereaksi.
"What do you want?" tanyaku dingin.
"Don't you miss me?" Jessica menatapku dengan senyum sensual.
"I don't think so. I have forgotten you," aku tetap mempertahankan raut dinginku.
"Oh.. you hurt me dear," jawab Jessica dengan wajah sedih yang dibuat- buat.
"You can go, now. The door is over there," usirku dengan tangan menunjuk ke arah pintu.
Bukannya pergi wanita tak tahu malu ini malah duduk di kursi di hadapanku dengan senyum menjijikkan.
"Kamu takut?" tanyanya dengan senyum menantang.
"Apa yang harus kutakutkan?" aku jelas tak mau kalah.
"Kamu meninggalkanku tanpa kejelasan," bukannya menjawab Jessica malah mengalihkan topik pembicaraan.
"Really? Kamu tidur dengan fotografer kamu, dan itu masih kurang jelas?" emosiku mulai terpancing saat aku tahu dia akan playing victim.
"Bahkan kamu tidak bertanya mengapa aku melakukan itu. Kamu menghilang tanpa berkata apapun. Dan aku menunggumu seperti orang bodoh," jawab Jessica berapi- api.
Senyum smirk tersungging di bibirku mendengar kemarahannya.
"Aku tidak perlu bertanya apapun karena aku sudah melihat semuanya."
"No. Kamu tidak tahu alasanku melakukan itu. Kamu hanya melihat satu kesalahanku tanpa mendengarkan penjelasanku."
"Aku tidak perlu penjelasan apapun dan tidak ada yang perlu dijelaskan. Kita sudah lama berakhir. Kamu bisa pergi sekarang, aku tak punya banyak waktu untuk meladenimu," kuusir wanita ini untuk yang kedua kalinya.
"Ada hal yang harus kamu tahu, Hans," Jessica menatap Hans sendu. "You have a son. A handsome boy," kata Jessica kemudian berjalan ke arah pintu dan akhirnya menghilang dari pandanganku.
Aku masih mematung di tempatku mendengar kata- kata terakhir Jessica.
I have a son. Bisa saja Jessica berbohong tapi beberapa kali ia bermimpi bermain dengan seorang anak laki- laki yang memanggilku papa, hal itu yang selalu mengusik ketenangan hatiku. Dan hari ini Jessica datang mengatakan hal yang selama ini mengusik hatiku.
Aku mengusap wajahku gusar. Kalau Jessica berbohong, apa mungkin dia akan berbohong soal hal sebesar ini. Pikiranku kacau dan tak mungkin melanjutkan pekerjaan karena akan berdampak buruk pada pekerjaanku.
Aku lebih memilih keluar, aku akan menemui Anjas di perusahaannya dan menceritakan masalah ini. Aku akan bekerja dari sana kalau pikiranku sudah lebih baik, tidak kacau seperti sekarang.
"Nina, tolong cancel semua jadwalku hari ini. Ada urusan penting yang harus segera kuurus," pesanku pada sekertarisku sebelum pergi meninggalkan kantorku.
"Baik Pak," sahut Nina sambil menganggukkan kepalanya.
Hans POV end
Hans mengendarai mobilnya menuju perusahaan Anjas, perusahaan kakak ipar Anjas lebih tepatnya. Mereka sudah menjalin kerja sama selama tiga tahun ini. Bahkan mereka menganggap Hans seperti keluarga sendiri.
Tak jarang ia menginap di kediaman keluarga Anjas. Reyna yang tak pernah pulang membuat Hans dihantui rasa bersalah. Saat menginap itulah ia akan berlama- lama memandangi potret Reyna di dinding ruang keluarga. Pernah ia kepergok mama Reyna saat tengah malam ia duduk di ruang keluarga memandangi foto Reyna itu. Pagi harinya ia habis digoda semua penghuni rumah itu.
Entahlah, Hans masih tak mengerti apa yang ia rasakan terhadap Reyna. Yang jelas rasa bersalah adalah yang paling mendominasi.
Sesampainya di kantor Anjas, Hans bergegas menuju ruangan pria itu.
"Tari, Anjas ada?" Hans bertanya tanpa basa basi pada Tari, sekertaris Anjas.
"Ada Pak," jawab Tari singkat.
Hans hanya mengangguk pada Tari dan langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Mendengar pintu terbuka, Anjas mengangkat wajahnya dari dokumen yang sedang ia kerjakan. Pemandangan wajah kusut Hans menyapa mata Anjas, membuat pria itu mengernyitkan dahi.
"Ada masalah?" tanya Anjas to the point.
Meninggalkan pekerjaannya dan menghampiri temannya yang duduk di sofa.
"Wanita itu datang," jawab Hans singkat dengan badan yang bersandar di punggung sofa, matanya terpejam dengan sebelah lengannya berada di dahi.
"Wanita?" Anjas masih tidak mengerti dengan clue yang diberikan Hans.
"Jessica," jawab Hans lirih, hampir tak terdengar.
"Jessica? Untuk apa dia datang?"
"Dia tidak terima aku menghilang begitu saja," Hans berkata masih dengan posisi yang sama.
"Kenapa baru sekarang?"
"Entahlah, aku juga tak habis pikir."
"Alasan dia saja mungkin," Anjas mencibir tidak percaya. Sebenarnya Hans pun ingin tidak percaya tapi pernyataan Jessica soal anak tetap mengusiknya.
"Kamu ingat aku pernah cerita bermimpi bertemu anak laki- laki yang memanggilku papa?" Hans mengubah posisi duduknya.
Pertanyaan Hans membuat Anjas berpikir beberapa saat.
"Ya, aku ingat," jawab Anjas sambil menganggung.
"Hhh..." Hans menghela napas dalam sebelum berucap, "Jessica mengatakan bahwa aku mempunyai seorang anak. Anak laki- laki," ucap Hans sambil mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya.
Anjas terdiam mendengar perkataan Hans. Dia merasa ada yang ganjil dengan semuanya. Kalau memang benar Jessica memiliki anak dari Hans, mengapa baru sekarang ia datang? Bukankah harusnya sejak dulu, sebelum anak itu lahir. Jelas janggal untuk orang yang berpikir jernih dan itu tidak terjadi pada temannya sekarang.
"Kamu sudah memastikannya?" Anjas mencoba memberi pencerahan.
"Belum. Dia datang sendiri tadi."
"Bukan itu. Bukan masalah anak itu beneran ada atau tidak? Memastikan kabar yang beredar di Jerman. Bukankah dia model? Harusnya tidak sulit untuk mencari jejak tentangnya bukan?"
Hans terdiam, Anjas benar.
'Kenapa tak terpikirkan olehnya tadi?' batin Hans.
Diambilnya ponsel disaku celananya dan mencari kontak orang kepercayaannya di sana.
TBC