Hans terdiam, Anjas benar.
'Kenapa tak terpikirkan olehnya tadi?' batin Hans.
Diambilnya ponsel disaku celananya dan mencari kontak orang kepercayaannya di sana.
Beberapa saat bercakap- cakap dengan wajah yang serius akhirnya Hans memutus sambungan ponsel dengan senyum terkembang di bibirnya.
"Thanks, Jas."
"Gak masalah. Bukan hal besar."
"Tapi solusi buat aku. Gak tahu kenapa hal sepele seperti ini tapi otakku buntu. Bahkan tak terpikirkan olehku."
"Akan menjadi hal yang tidak sepele jika apa yang dikatakan mantan kamu itu adalah hal yang benar," Anjas memperingatkan.
"Menurutmu gimana?" tanya Hans setelah diam beberapa saat untuk berpikir.
"Kalau hal itu salah akan mudah menyelesaikannya. Akan berbeda jika hal itu benar. Yang terpenting jangan mudah percaya rumor. Kamu tahu sendiri seperti apa berita bisa dimanipulasi. Tes DNA adalah jalan keluarnya," jelas Anjas.
"Apa harus tes DNA?"
"Kalau itu sih terserah kamu. Aku hanya menyarankan biar jelas aja."
"Ok. Kita bicarakan kemungkinan dia jujur tapi kenapa baru mencariku. Menurutmu apa yang melatarinya?"
Anjas terlihat berpikir.
"Nothing. Aku tidak bisa menemukan alasan dia melakukan itu. Kecuali dia orang bodoh, dan tentu saja dia bukan orang bodoh bukan?"
Hans mengangguk menyetujuinya.
"Atau dia orang yang kekurangan uang sehingga terkendala biaya untuk menyusulmu ke sini. Dan kukira hal itu pun tidak, kan? Mengingat dia seorang model dengan penghasilan yang lumayan," Anjas melanjutkan.
Hans pun menunduk terlihat berpikir mendengar pernyataan Anjas.
"Sebaliknya jika dia berbohong maka banyak alasan yang terpikir olehku," Anjas terus memaparkan analisanya.
Hans mengangkat pandangannya ke arah Anjas tanpa mengatakan apapun tapi terlihat menunggu penjelasan Anjas.
"Pertama, selingkuhannya kehabisan uang sekarang makanya ia berlari ke arahmu lagi. Kedua, selingkuhannya mencampakkannya karena bosan. Ketiga, dia sengaja disuruh selingkuhannya karena karir mereka sedang down dan butuh suntikan dana. Keempat, selingkuhannya mati. Kelima, dia benar- benar mencintaimu dan baru sadar. Tapi jika yang dia lakukan karena alasan satu sampai empat maka dia benar- benar wanita tak tahu malu," Anjas menjelaskan panjang lebar dengan menggebu.
Ha.. ha.. ha
Hans tertawa mendengar analisa Anjas barusan.
"Kamu berbakat jadi penulis skenario, Jas," kata Hans disela tawanya.
Anjas yang ditertawakan hanya diam menatap Hans.
"Menyebalkan," gerutunya.
-
-
-
-
"Rey, saya antar pulang. Ini sudah larut malam," Brandon dan Reyna saat ini tengah berada di dalam lift yang membawa mereka ke lobi.
"Tidak perlu, Pak. Saya bisa naik taksi," tolak Reyna sopan, tak mau menyinggung atasannya. Lagian dirinya tak mau Rayan atau pun Faira melihatnya diantar pria karena akan menimbulkan kesalah pahaman seperti kemarin.
"Tidak. Saya antar, kamu tanggung jawab saya. Saya harus memastikan keselamatanmu. Tunggu saya di depan dan jangan membantah," putus Brandon final.
Reyna menghela napas, 'semoga Rayan belum pulang atau sudah tidur' katanya dalam hati. Reyna berjalan keluar gedung kantor tempat ia bekerja dengan lesu dan wajah tertunduk.
Tin.. tin
Bunyi klakson mobil Brandon membuat Reyna mengangkat wajahnya dan bergegas masuk ke mobil Brandon.
"Kok diam aja? Gak suka saya antar ya?" tanya Brandon memecah keheningan di antara mereka setelah mobil melaju beberapa saat di jalanan.
"Bukan begitu, Pak. Hanya lelah dan mengantuk," balas Reyna sekenanya, tak mungkin kan, dirinya menjawab iya.
"Tidurlah, nanti saya bangunkan kalau sudah sampai," titah pria di sebelahnya.
"Tidak Pak. Sebentar lagi sampai."
"Kamu akan menjemput anakmu lagi?"
"Tidak Pak. Tadi teman satu unit saya sudah mengabari kalau Reyhan sudah dia jemputnya."
"Teman satu unit? Wanita?" sepertinya atasannya ini begitu penasaran dengan kehidupan Reyna.
"Pria," jawab Reyna singkat sebenarnya ia enggan membicarakan masalah pribadi tapi tak enak pada atasannya ini.
"Pria? Kamu tinggal dengan seorang pria?" volume suara Brandon lebih keras dari sebelumnya.
Reyna menoleh ke arah Brandon dan mengernyitkan kening heran mendengar nada suara Brandon.
"Sorry, bukan maksud saya marah, saya hanya kaget," Brandon buru- buru mengklarifikasi ucapannya.
"It's ok. Bapak bukan satu- satunya orang yang bereaksi seperti ini," balas Reyna dengan senyum kecil.
"Apa dia ayah Reyhan?" ternyata sesi tanya jawab belum berakhir.
"Bukan. Dia sahabat saya."
"Boleh kapan- kapan saya bermain bersama Reyhan?"
Reyna semakin mengernyitkan keningnya mendengar permintaan Brandon.
"Saya suka anak kecil," Brandon melanjutkan, "Melihat tingkah mereka membuat rasa lelah kita terobati. Bukan begitu?" Brandon menoleh ke arah Reyna yang masih menatapnya heran.
Reyna hanya menanggapinya dengan anggukan.
"Jadi, apa boleh?"
"Apa?"
"Bermain dengan Reyhan."
"Oh.. bo.. boleh Pak. Nanti kapan- kapan," jawab Reyna gugup tak mengira bahwa Brandon meminta hal seperti itu.
Mobil berhenti di depan gedung apartemen Reyna.
"Terima kasih banyak, Pak. Maaf merepotkan Bapak," pamit Reyna sebelum membuka pintu mobil.
"Rey, tunggu," Reyna yang tengah membuka pintu menghentikan kegiatannya kemudian menoleh ke arah Brandon.
"Boleh saya mengenal kamu lebih dekat? Dalam artian sebagai pria dan wanita bukan sebagai atasan dan bawahan."
Reyna diam membisu, otaknya blank. Tak menyangka bahwa Brandon akan mengatakan hal ini padanya.
"Pak, saya...."
"Ssttt...," Brandon mengulurkan jari telunjuknya untuk menutup bibir Reyna, "Saya tak mau memaksamu menjawab sekarang, pikirkan dulu," lanjut Brandon.
"Apa yang membuat Bapak tertarik pada saya?" tanya Reyna untuk memastikan sesuatu.
Tak sedikit pria yang mendekatinya karena nafsu belaka. Mereka menganggap Reyna, wanita yang bisa diajak tidur dengan siapa saja. Hal itu terkadang yang membuatnya rendah diri dan merasa tidak berharga.
"Apakah menyukai seseorang butuh alasan?" tanya Brandon balik.
Reyna hanya menggeleng. Dirinya sendiri mengalami, dia menyukai Hans pun tanpa alasan.
"Masuklah. Jangan terlalu dipikirkan."
Reyna keluar dari mobil setelah mengucapkan terima kasih sekali lagi.
Tak bisa dipungkiri ada setitik rasa bahagia di hatinya mengetahui bahwa Brandon menyukainya. Di kantor pun Brandon tak segan- segan menunjukkan perhatiannya. Beberapa kali mereka keluar bersama Reyhan seperti yang mereka sepakati sebelumnya.
Orang awam pasti mengira mereka adalah keluarga kecil yang bahagia. Brandon memang terlihat menyukai anak kecil. Tak terlihat canggung atau kaku menghadapi anak kecil yang terkadang rewel dan banyak mau. Justru Reyna yang terkadang sungkan karena Reyhan yang manja saat bersama Brandon.
-
-
-
-
Butuh beberapa hari orang kepercayaan Hans untuk mengumpulkan informasi yang diminta Hans terkait mantan kekasihnya, Jessica. Selama waktu itu Jessica datang ke kantornya setiap hari tapi Hans tak menggubrisnya.
Hans segera membuka email saat orang kepercayaannya mengirimkan pesan bahwa apa yang ia minta sudah dikirim via email.
Dari data itu menyatakan bahwa tiga tahun lalu Jessica memang mengandung yang diakui wanita itu bahwa anak yang dikandungnya adalah anak dari kekasihnya yang berarti adalah dirinya sendiri karena publik jelas tahu bahwa dirinyalah kekasih Jessica saat itu. Karena hamil maka dirinya mengajukan cuti pada agency. Tapi setelah masa cutinya habis Jessica tak kembali dan menghilang dari dunia modelling.
Hans mengirimkan email itu kepada Anjas. Karena saat ini dirinya sedang tidak bisa berpikir jernih.
Anjas yang menerima email itu bergegas menyambangi Hans di kantornya karena tahu pasti Hans sedang kacau saat ini. Entah mengapa dirinya yakin bahwa wanita itu mempunyai niat yang tidak baik dengan datang kembali ke hidup Hans. Dan Hans sendiri mengalami denial karena mimpi- mimpinya.
"Jangan ditelan mentah- mentah informasi itu," saran Anjas yang melihat Hans tengah menundukkan kepalanya.
"Tapi waktunya bertepatan..." Hans mengusap wajahnya frustasi.
"Bisa saja itu bukan anakmu. Bukankah kamu sendiri memergokinya tidur dengan pria lain?"
Hans tidak menjawab dan hanya menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Jalan satu- satunya ya tes DNA," Anjas memberikan solusi terakhir.
"Kamu meragukannya bukan?" tanya Hans.
"Kalau aku pakai logika, Hans. Kenapa baru sekarang dia mencarimu, itu adalah hal yang jelas ganjil. Tapi mimpi- mimpimu jelas adalah hal yang mendorongmu untuk percaya. Bukan begitu?" terang Anjas.
Hans mengangguk karena apa yang diucapkan oleh Anjas adalah kebenaran.
"Maka dari itu aku menganjurkan untuk tes DNA."
Hans masih terdiam memikirkan masalah ini. Kalau saja wajah anak laki- laki di mimpinya itu jelas maka dia tinggal melihat wajah anak Jessica maka akan tahu yang sebenarnya. Tapi masalahnya wajah anak itu hanya terlihat samar.
"Sudahlah sebaiknya kamu pulang untuk istirahat dan menenangkan diri. Kita pikirkan besok lagi apa langkah yang harus kita ambil," Anjas menepuk bahu Hans.
Hans mengangguk kemudian berdiri melangkah keluar ruangannya bersama dengan Anjas setelah berpamitan pada sekertarisnya. Mereka berpisah di parkiran. Anjas akan langsung pulang karena ada acara makan malam keluarga. Sementara Hans memutuskan mampir ke supermarket, membeli bahan makanan untuk mengisi kulkasnya yang telah kosong.
Dengan mendorong troli Hans mengelilingi rak- rak di supermarket. Saat hendak mengambil camilan kesukaannya dilihatnya seorang anak kecil berusia dua tahunan yang ingin meraih camilan juga tetapi tak sampai karena tingginya tak mencapai pinggang Hans.
"Hei boy," sapanya sambil jongkok dan tersenyum. "Mau om bantu?"
"Otato," ucap anak kecil itu tak jelas sambil menunjuk potato chips dengan bungkus yang besar.
Dengan terkekeh kecil Hans meraih camilan yang ditunjuk anak kecil itu.
"Ini?" Hans bertanya memastikan.
"Otato," sorak anak kecil itu dengan riang membuat Hans semakin terkekeh.
"Kamu suka makan ini?" tanya Hans lagi yang dijawab dengan anggukan oleh anak kecil itu.
"Kita sama boy, om juga suka makan ini," anak kecil itu memperhatikan Hans dan tersenyum.
"Tantyu," ucap anak kecil itu membuat Hans terkekeh kemudian berlari kecil setelah menerima sebungkus besar potato chips yang menutup sebagian badannya membuatnya terlihat menggemaskan.
Anak kecil itu berlalu tapi senyum Hans tak luntur meskipun anak kecil itu sudah menghilang di balik rak. Tak ingin berlama- lama Hans segera menyusuri rak dan mengambil barang belanjaan yang ia perlukan.
Saat mengantri di kasir ia melihat seorang wanita yang keluar dari supermarket dengan membawa belanjaan di tangan kiri dan tangan kanan menggandeng anak kecil. Wanita yang sangat ia kenali meskipun hanya melihat dari belakang.
TBC