Tak ingin berlama- lama Hans segera menyusuri rak dan mengambil barang belanjaan yang ia perlukan.
Saat mengantri di kasir ia melihat seorang wanita yang keluar dari supermarket dengan membawa belanjaan di tangan kiri dan tangan kanan menggandeng anak kecil. Wanita yang sangat ia kenali meskipun hanya melihat dari belakang.
Jessica.
Berarti memang benar, Jessica tidak berbohong, terlepas mengenai benar tidaknya anak itu adalah anak Hans tapi anak itu benar- benar ada. Pikiran Hans kembali kacau.
Keesokan harinya Hans pergi ke kantor dengan wajah yang tidak lebih baik dari kemarin. Pasalnya malam ini ia memimpikan anak laki- laki itu lagi.
"Papa, don't you miss me?" tanya anak itu dengan wajah murung dan tertunduk.
Hans buru- buru menghampiri tapi anak itu malah menjauh.
"Don't you miss me, Papa?" ulangnya.
"I miss you so much, son. I love you," balas Hans dengan menumpukan kaki di kedua lutut mensejajarkan tingginya dengan anak itu.
"Really?" mata anak itu terlihat berkaca.
"Yeah," Hans mengulurkan tangan yang disambut anak itu. Hans mengecup kening anak itu.
"I miss you Papa. I have been waiting for you for a long day," bisik anak lirih dan terdengar memilukan hingga kemudian menghilang meninggalkan kekosongan di hati Hans.
Paginya Hans terbangun dalam suasana hati yang begitu kacau. Penampilannya tak serapi biasanya. Ingin berencana absen tapi ada meeting penting dengan perusahaan Rashad nanti pukul 10. Beruntung ia mempunyai sekertaris yang cekatan sehingga materi meeting sudah disiapkan.
Belum genap setengah jam dia mempelajari materi meeting dengan duduk di kursi kebesarannya terdengar suara pintu ruangannya terbuka.
"Ada apa, Nin?" tanya Hans tanpa mengangkat kepala dari berkas yang sedang ia pelajari.
"Ehm.. ini Pak, ada tamu untuk Bapak," jawab Nina takut- takut pasalnya perempuan di sampingnya ini memaksa masuk tanpa sempat Nina cegah.
Mendengar jawaban Nina, Hans mengangkat pandangannya dan menemukan wanita yang ia hindari sejak kemarin. Tapi kali ini dia tidak datang sendiri melainkan bersama seorang anak laki- laki yang digandengnya di tangan kiri sementara tangan kanannya membawa paper bag.
"Kamu bisa kembali ke majamu, Nin," titahnya pada Nina.
Setelah pintu ditutup dari luar oleh Nina, kedua orang dewasa itu tak ada yang buka suara. Hans masih di singgasananya, menatap lurus ke arah wanita yang hari ini berpakaian simple dan make up tipis. Tidak seperti dirinya yang biasanya. Bahkan gerak geriknya yang biasa agresif dan menggoda hari ini terlihat canggung dan hanya menunduk tak berani menatap mata Hans yang menyorot tajam.
'Kemana Jessica yang tidak tahu malu kemarin, apa kewarasannya sudah kembali?' tanya Hans dalam hati.
"Ada perlu apa lagi, Jes?" Hans membuka pembicaraan dengan tatapan mengintimidasi dan berharap wanita di hadapannya ini segera keluar.
"A.. aku datang membawa sarapan," kata Jessica terbata.
Hans mengangkat sebelah alisnya, heran dengan jawaban Jessica. "Aku sudah sarapan," balasnya singkat dengan ekspresi dingin.
"Aku mohon jangan tolak aku hari ini. Jangan tolak aku di depan anakku. Aku sudah berjanji pada Joane untuk sarapan bersama daddy nya hari ini," Jessica mengawasi gerak gerik anaknya dengan tatapan sendu. Anak itu bersembunyi di belakang tubuh Jessica karena takut dengan ekspresi dingin Hans.
"Joane? Daddy?" Hans beranjak dari kursinya membuat Jessica waspada.
"I.. iya. Joane, anakku ingin sarapan bersama Daddy nya," Jessica memang sedikit nekat hari ini, karena beberapa hari kedatangannya tak ditanggapi oleh Hans maka hari ini ia mencoba peruntungan dengan membawa Joane, anaknya.
"Lalu kenapa datang ke sini?" Hans masih menatap tajam dan bersandar pada ujung meja kerjanya sambil bersedekap.
"Karena.. karena kamu daddy nya," cicit Jessica.
"Oh ya? Kamu yakin itu bukan anak Joe, si fotografer itu?" tanya Hans meremehkan.
"Bukan!" bantah Jessica. "Kumohon jangan tolak anakmu Hans. Kamu boleh menolakku tapi jangan menolak anakmu karena kamu akan menyesal nanti," Jessica menatap Hans dengan mata berkaca- kaca.
Hans masih diam saja berusaha meneguhkan hatinya. Bisa saja Jessica saat ini hanya bersandiwara.
"Mungkin caraku kemarin salah. Aku menemuimu dengan berperilaku seperti j****g tapi sungguh bukan itu maksudku," Jessica terisak membuat Joane mengeratkan pegangannya pada kaki Jessica.
"Kupikir kamu masih seperti dulu yang suka wanita seksi dan menggoda. Aku lupa bahwa manusia bisa saja berubah. Apalagi kamu membenciku karena ada kesalah pahaman yang belum diluruskan di antara kita."
"Kesalah pahaman? Bagian mana yang kamu sebut salah paham itu, Jes?" keteguhan hati Hans mulai tersulut emosi.
"Ma.. maafkan aku Hans. Harusnya dulu aku langsung mencarimu untuk menjelaskan semua padamu. Tapi aku tidak bisa," ucap Jessica lirih.
"Cukup. Kamu bisa keluar. Aku tidak butuh penjelasan apapun darimu," tak mau semakin goyah Hans menyuruh Jessica keluar.
"Kumohon untuk kali ini saja tolong dengarkan aku, Hans. Setelahnya aku akan pergi dan tak akan muncul di hidupmu lagi. Let me explain," Jessica menghiba.
"Ok. Five minutes. Dan jangan sekali- kali kamu berbohong karena aku tidak akan memaafkanmu nantinya," Hans memutuskan memberi waktu untuk Jessica.
"Tap..," Jessica terlihat ingin protes tapi Hans mengacungkan telapak tangannya.
"Lima menit atau tidak sama sekali," putus Hans membuat Jessica mengangguk.
"Malam itu aku ada acara dinner dengan teman- teman model," mulai Jessica dengan mata menerawang. "Aku datang bersama Joe karena kamu tidak ada," Jessica menatap Hans kemudian melanjutkan, "Aku minum terlalu banyak malam itu, begitu juga dengan Joe. Kami melalukan itu karena kami sama- sama mabuk Hans. Bukan karena kami mengkhianatimu," Jessica berusaha meyakinkan Hans.
"Kenapa kamu tidak langsung mengejarku saat itu?" tatapan Hans masih dingin.
"Jujur saja aku tidak tahu kamu datang. Siangnya saat aku bangun, aku menemukan bunga di tempat sampah di samping pintu depan. Baru aku sadar bahwa kamu datang dan aku berpikir mungkin kamu melihat aku dan Joe sehingga membuatmu marah dan pergi," jelas Jessica.
"Bagaimana kamu yakin itu anakku?" Jessica terperangah mendengar pertanyaan ini dari Hans.
"Jadwalku saat itu sedang padat- padatnya. Kamu tahu dari dulu aku selalu mengutamakan karir dan mengabaikan yang lain, termasuk kamu dan anak kita. Aku sudah hamil saat itu tapi aku yang egois ini masih berpikir karir adalah segalanya. Maafkan aku, aku menyesal," Jessica menunduk dan membersit hidungnya.
"Kenapa kamu tidak menyusulku dan langsung memberitahuku kalau kamu hamil saat itu?" suara Hans mulai melunak.
"Sebenarnya aku akan memberikan kejutan untukmu saat kamu datang tapi ternyata..." Jessica tak melanjutkan kata- katanya karena mereka berdua sudah tahu kelanjutannya.
"Saat jadwal mulai senggang, aku berniat menyusulmu tapi kesehatanku memburuk. Kata dokter aku harus bed rest karena kandunganku lemah. Karena itu kuputuskan untuk mengundurkan diri dari dunia modelling ," lanjut Jessica sendu.
Hans tampak berpikir, laporan yang didapat dari orang kepercayaannya memang mengatakan Jessica menghilang setelah masa cutinya habis. Berarti Jessica tidak berbohong.
"Lalu untuk apa sekarang kamu mencariku?" Hans masih mengorek celah untuk mencari kebohongan di mata Jessica.
"Joane butuh daddy nya."
"Jadi semua untuk Joane? Lalu kenapa perlu waktu 3 tahun untuk mencariku?"
"Maaf. Awalnya aku berpikir untuk membesarkan Joane sendirian karena aku bisa memperkirakan kamu akan menolak mengakuinya setelah malam sialan itu. Dan perkiraanku terbukti bukan?" Jessica tersenyum pedih menghadirkan sebersit rasa bersalah di hati Hans.
Hans melihat Joane yang menatapnya takut- takut. Ia ingat anak ini adalah anak yang ia tolong di supermarket kemarin. Wajahnya memang tak mirip dengannya karena sebagian besar mengikuti Jessica.
Sekelebat mimpi tadi malam muncul diingatannya.
"Papa, don't you miss me?"
Kata itu terngiang dan wajah mungil yang menatapnya takut- takut saat ini mengingatkannya pada wajah murung dimimpinya seperti menunjukkan kekecewaannya pada Hans.
"I miss you Papa. I have been waiting for you for a long day,"
Pelukan anak kecil dimimpinya begitu hangat dan kata- kata yang diucapkannya begitu menyentil hatinya.
'Apakah mimpi itu petunjuk untuk hari ini. Menanyakan kerinduanku padanya, seperti anak ini yang tengah menatapku takut- takut tapi penuh minat. Mengatakan bahwa dia telah menungguku begitu lama, seperti yang dikatakan Jessica, tapi aku tak kunjung datang. Tatapan kesakitannya benar- benar membuat hatiku nyeri," batin Hans.
"Aku sudah menghabiskan lima menitku. Terima kasih. Aku tidak peduli kamu percaya atau tidak yang penting aku sudah mengatakannya padamu. Aku pergi dulu, maaf sudah mengganggu waktumu. Selamat tinggal," Jessica kembali menuntun Joane ke arah pintu.
"Tunggu!" seru Hans saat Jessica hampir meraih gagang pintu.
Jessica berbalik badan begitu juga dengan Joane yang ditatap Hans dengan intens.
Hans melangkah mendekati mereka perlahan menyisakan lima langkah di depannya. Joane beringsut ke belakang Jessica menatapnya takut- takut.
"Kalian akan ninggalin Daddy?" tanya Hans lirih membuat Jessica terperangah mendengar Hans menyebut dirinya Daddy. Senyum kecil terbit di bibirnya.
"Joane, he is daddy," Jessica menarik pelan Joane dari belakang tubuhnya.
"Daddy?" tanya Joane polos.
"Yeah. He is daddy," Jessica memberi pengertian. "Daddy is back," Jessica membelai rambut Joane penuh sayang.
Hans menekuk satu lututnya dan merentangkan tangannya, "Come to daddy, dear," kata Hans dengan senyum haru.
Joane melangkah dengan takut- takut tapi saat melihat senyum Hans anak itu berlari ke pelukan sang ayah sambil tertawa. Hans menyambut tubuh mungil itu dengan pelukan erat, tak ada satu inchie pun dari wajah Joane yang terlewat dari kecupan bibirnya.
Jessica menyusut air mata melihat adegan itu. Senyum, tawa kecil dan tangis haru menghiasi wajah cantiknya. Akhirnya Joane mendapatkan kasih sayang seorang ayah.
"Kamu sudah sarapan boy?" Hans teringat sarapan yang dibawa Jessica.
"Dia baru minum s**u tadi," terang Jessica. "Joane, ayo kita sarapan sama daddy," Jessica menggiring ayah dan anak itu ke sofa dan menyiapkan sarapan yang ia bawa tadi.
"No daddy!" tiba- tiba Joane berteriak membuat kedua orang dewasa itu heran.
"Otatoo!" teriak Joane nyaring membuat Hans tertawa sementara Jessica mengernyitkan kening semakin dalam tanda tak mengerti.
"Iya. Daddy yang bantu Joane ambil Otato kemarin," kata Hans sambil mengelus kepala Joane sayang.
Hans menoleh ke arah Jessica yang menatapnya meminta penjelasan.
Hans menanggapinya dengan tersenyum kemudian berkata, "Kemarin kami bertemu di supermarket dan aku membantunya mengambilkan potato."
"Ternyata dia menemukanmu lebih dulu," Jessica tersenyum manis sambil mengulurkan tupperware berisi sandwich isi tuna kesukaan Hans.
"Sorry, aku membuat kalian dalam kesulitan," Hans melihat ke arah Joane yang asyik dengan makanannya dengan tatapan menyesal.
"Semua sudah berlalu, Hans. Bukan hanya kamu yang bersalah di sini, aku juga salah," Hans dan Jessica saling tatap.
Wajah Jessica semakin mendekat ke arah Hans yang terdiam. Entah kenapa hatinya menolak tapi dia tak mau membuat Jessica sakit hati.Hingga akhirnya suara pintu terbuka menyelamatkannya.
"Oops... mataku ternoda Bang!" seru Anjas yang menutup mata dengan jari- jari yang terbuka membuat Nina menahan tawa.
"Anjas! Bang Rashad!" Hans pun berseru senang seolah- olah terselamatkan dari bahaya zombie yang akan menggigit.
Memang hampir digigit sih, tapi bukan zombie. Wkwkwk ketawa jahat. Sementara Jessica terlihat kesal karena gagal berciuman dengan Hans.
Hans segera bangkit menyambut kedua tamu penyelamatnya.
"Siapa wanita cantik ini, Hans?" tanya Rashad dengan senyum menggoda.
TBC