"Anjas! Bang Rashad!" Hans pun berseru senang seolah- olah terselamatkan dari bahaya zombie yang akan menggigit.
Memang hampir digigit sih, tapi bukan zombie. Wkwkwk ketawa jahat. Sementara Jessica terlihat kesal karena gagal berciuman dengan Hans.
Hans segera bangkit menyambut kedua tamu penyelamatnya.
"Siapa wanita cantik ini, Hans?" tanya Rashad dengan senyum menggoda.
"Dia teman lamaku Bang, Jessica. Jessica kenalkan mereka rekan bisnisku Anjas dan Bang Rashad," Hans memperkenalkan mereka, tapi kata teman lama yang keluar dari mulut Hans membuat hati Jessica mencelos. Dia kira setelah acara maaf- maafan tadi hubungan mereka sudah kembali seperti semula.
"Ah kamu ini Hans. Masa' teman lama sih? Jangan percaya Bang. Dia ini mantannya Hans yang di Jerman dulu," Anjas yang bisa sedikit membaca situasi mulai mulai melempar umpan.
Jessica menunduk menyembunyikan senyum kecilnya. Merasa ada seseorang yang berada dipihaknya dan membantu mendorong Hans lebih mendekat padanya.
"Mantan? Oh mantan yang mau dilamar gak jadi itu?" Rashad menatap Hans dengan senyum mengejek membuat Jessica melotot kaget karena mereka tahu sepak terjangnya.
Hans menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal karena canggung. Anjas mengamati gerak gerik Jessica yang mulai tidak nyaman. Jelas wanita ini tidak beres. Melihat mereka yang hampir sosor- sosoran tadi berarti teman bodohnya ini sudah bisa ditakhlukkannya. Ck.. lemah.
"Ini anak siapa? Jangan bilang anak kamu ya Hans?" Anjas menjawil pipi Joane yang sejak tadi anteng dengan makanannya. "Hey boy, what is your name?" Anjas duduk di sofa yang dekat dengan Joane tanpa disuruh dan mengelus kepala anak itu.
"Namanya Joane. He is my son," Jessica menjawab karena Joane tak mengalihkan perhatian dari kotak makannya. Senyum bangga terukir di bibirnya seolah- olah tengah memamerkan miliknya.
"Joane?" tanya Anjas memastikan.
"Yah Joane," Anjas tersenyum penuh arti mendengar jawaban Jessica.
"Yes, he is your son. Kelihatan sih dia mirip banget sama kamu," lanjutnya.
Ditatapnya mata Jessica yang terlihat kaget, tubuh wanita itu menegang sesaat. Tapi kemudian mengubah ekspresinya cepat seperti seorang aktris handal.
Jessica mungkin lupa bahwa dua orang tamu Hans mengetahui masa lalunya bersama Hans. Dan jelas pria bernama Anjas yang tengah tersenyum penuh arti di depannya ini tahu sesuatu. Tapi selama dirinya bisa main cantik maka semua akan aman.
'Hans benar- benar bodoh, 'Joane' dari nama itu sudah jelas banget,' ucap Anjas dalam hati.
"Ah sudahlah lah Bang. Ayo kita ke ruang meeting!" ajak Hans yang melihat ketidak nyamanan Jessica.
"To the point banget, Hans. Biasanya juga kita ngopi- ngopi dulu," Anjas menimpali.
"Kita bisa ngopi di ruang meeting nanti," Hans menggiring mereka berdua.
"Ah mantan kembali jadi gak asyik kamu, Hans," goda Rashad tapi jatuhnya nyindir.
"Bukan gitu Bang. Cuma ada urusan yang belum selesai di antara kami."
"Ah.. alamat gagal punya menantu potensial kayak kamu nih, Hans," Rashad menampilkan raut kecewa yang dibuat- buat.
Mereka bertiga terus mengobrol sambil berjalan ke arah ruang meeting. Hans pergi tanpa mengatakan apapun pada Jessica sehingga dia tetap bertahan di ruang itu sampai Hans kembali dari meeting.
'Ah.. alamat gagal punya menantu potensial kayak kamu nih, Hans'
Jessica terngiang kata- kata Rashad tadi soal 'menantu'.
'Apa Hans sedang dekat dengan wanita selama di sini? Apa mereka sudah sedekat itu menuju pernikahan? Tidak, itu tidak boleh,' ucap batin Jessica.
Di ruang meeting, Anjas, Rashad dan Hans membahas beberapa issue yang sempat menghambat tender- tender yang sedang mereka tangani. Tak terasa waktu makan siang sudah lewat hingga suara dering ponsel menginterupsi diskusi serius mereka.
"Halo Ma," ternyata Nyonya Pradipta yang menelpon membuat Hans dan Anjas menghela napas. Bakalan lama ini.
Rashad terlihat hanya mendengarkan dan sesekali manyahut dengan pendek- pendek seperti iya, hmm, ok, baiklah dan kata yang semakna dengan itu membuat Anjas geleng- geleng kepala sementara Hans hanya menahan tawa.
Setelah sekian menit akhirnya percakapan tuan dan nyonya Pradipta akhirnya berakhir.
"Duh susah ya kalau udah bucin. Ingat umur Bang," seloroh Anjas sebal.
"He.. he.. he.. susah ngejelasin sama jomblo karatan mah," balas Rashad sambil tertawa kecil.
"Gak papa jomblo yang penting gak bodoh kayak Hans," Anjas tersenyum miring.
"Kok jadi aku dibawa- bawa," Hans protes.
"Mending aku juga dong. Bucin tapi gak bodoh," Rashad menangkap signal dari Anjas.
"Jadi maksudnya cuma aku yang bodoh disini? Enak aja!" Hans tak terima.
"Memang!" sahut Anjas dan Rashad berbarengan kemudian tertawa membuat Hans semakin kesal.
"Udah, Jas. Kita pergi makan siang dulu, Nyonya besar sudah bising tadi karena kita belum makan siang. Biarkan Hans bernostalgia dengan mantannya itu," ajak Rashad sambil beranjak dari kursinya.
"Bukan cuma sama mantannya Bang. Tapi sama JOANE. J O A N E!" Anjas sengaja menekankan suaranya saat mengucap nama Joane dan sengaja mengejanya.
"Ha.. ha.. ha..," Rashad hanya tertawa melihat Hans yang mengerutkan kening tanda tak mengerti.
"Logikanya dipake ya, Hans. Nge-bucin-nya nanti kalau udah nikah, kayak Abang," Rashad menepuk bahu Hans.
Mereka berdua berlalu meninggalkan Hans yang masih termenung di kursinya sampai sekertarisnya datang untuk mengingatkan makan siang.
Sampai di ruangannya ternyata makan siang sudah disiapkan oleh Jessica yang tersenyum manis menyambutnya. Sedangkan Joane terlelap di sofa panjang.
"Maaf aku cuma pesenin makanan lewat aplikasi karena Joane tertidur dan aku tidak bisa meninggalkannya," kata Jessica.
"Tidak apa- apa. Terima kasih."
Mereka berdua makan dalam diam. Jessica terlihat sesekali mencuri pandang ke arah Hans tapi Hans diam saja sampai terdengar rengekan Joane yang sepertinya terbangun dari tidurnya.
Saat Jessica akan menghampiri, Hans mencegahnya, "Biar aku saja. Selesaikan makanmu," Hans berdiri dan beranjak ke arah sofa dimana Joane tertidur.
"Hei boy," sapa Hans pada Joane yang tengah mengerjap lucu membuat Hans tersenyum.
"Daddy," rengek Joane manja.
"Wake up boy," Hans meraih Joane kepangkuannya dan mengelus kepala anak itu dengan sayang.
"Daddy, otato," Joane mengulurkan tangannya pada Hans tanda meminta, membuat Hans tertawa dan menciumi wajah Joane terutama pipi gembilnya yang memerah.
Jessica yang menyaksikan adegan itu tersenyum senang.
"Ok, ayo kita cari otato!" ajak Hans bersemangat kemudian beranjak dengan membawa Joane digendongannya.
-
-
-
-
"Mamama!" teriak Reyhan menyambut kedatangan Reyna dan Brandon yang baru saja pulang dari kantor.
Ya, hari ini Reyna di antar Brandon. Lagi. Hubungan mereka semakin dekat meskipun masih masa pendekatan dan belum sampai tahap kekasih. Entah masih ada yang mengganjal di hati Reyna.
"Anak ganteng Mama," Reyna menghambur ke arah Reyhan dan langsung meraihnya dalam gendongan tak ketinggalan ciuman bertubi- tubi di seluruh wajah hingga membuat Reyhan berteriak protes.
"Mamama!" teriak Reyhan dengan bibir melengkung ke bawah dan wajah memerah menahan tangis karena kesal membuat Reyna terkekeh.
"Kalian sudah pulang?" nenek Michele datang dari arah dapur.
"Iya, Nek," sahut Reyna singkat karena perhatiannya masih terfokus pada Reyhan yang berada di pangkuannya membuat nenek Michele menggelengkan kepalanya.
"Brandon dibuatkan minum dulu, Rey," suruh nenek Michele.
"Eh, iya sampai lupa," Reyna menurunkan Reyhan dari pangkuannya dan bergegas ke dapur membuatkan kopi kesukaan Brandon.
Nenek Michele menghela napas sementara Brandon hanya tersenyum maklum dengan sikap Reyna.
"Maaf ya Brandon, kalau sudah sama Reyhan, Reyna pasti lupa segalanya."
"Gak papa, Nek. Semua orang tua pasti akan melakukan hal yang sama. Anak adalah obat lelah yang paling mujarab," Brandon tersenyum.
Hua hua hua
Suara tangis Reyhan membuat mereka kaget dan bergegas ke arahnya. Terlihat Reyhan terbaring telentang dengan mainan bola- bola kecil disekitarnya. Kemungkinan dia terinjak bola dan membuatnya jatuh telentang.
"Reyhan!" teriak ketiga orang dewasa itu khawatir.
Tangis Reyna bahkan sudah pecah membuat suasana tambah gaduh.
"Kita ke rumah sakit segera!" Brandon langsung membawa Reyhan dengan memeluk di dadanya keluar dari apartemen menuju ke rumah sakit. Dibelakangnya Reyna mengikuti masih dengan isak tangis yang belum reda.
'Ah.." Hans yang sedang mengupas buah kaget merasakan rasa perih di jarinya. Ternyata jarinya sudah memerah mengeluarkan darah karena teriris pisau.
Jessica yang melihat itu bergegas mengambil kotak P3K dan mengobati jari Hans.
"Kok kamu gak hati- hati sih, Hans," tegur Jessica dengan bibir cemberut.
"Gak papa. Ini hanya luka kecil," balas Hans.
"Luka kecil ya?" Jessica sengaja menekan keras luka Hans yang sedang dia bersihkan.
"Aduh! Sakit Jes."
"Makanya jangan bilang luka kecil. Karena sekecil apapun luka pasti terasa sakit," Jessica mengangkat pandangannya dari luka yang sedang ia balut.
"Aku tahu. Luka dikhianati pun tak berdarah tapi lukanya membekas sampai sekarang," jawab Hans masih menatap mata Jessica yang berubah sendu.
"Maaf. Aku sedang berusaha menebusnya. Aku akan mengobatinya dengan seluruh hidupku," ucap Jessica.
Hans memandang Jessica dalam diam. "Sebaiknya aku antar kalian pulang," putus Hans setelah lukanya selesai diobati.
"Pulang?" Jessica bertanya heran.
"Iya. Dimana kalian tinggal selama ini?" tanya Hans.
"Oh, kami tinggal di kontrakan," jawab Jessica terdengar kecewa.
Ia berharap bisa bermalam di rumah Hans malam ini dan malam- malam selanjutnya.
"Ayo aku antar," Hans mendahului ke mobil setelah menggendong Joane yang kembali tertidur setelah makan malam tadi. Mungkin juga karena kecapekan karena sempat bermain di timezone bersamanya tadi.
"Selama kita berpisah, apa kamu pernah dekat dengan seseorang, Hans?" tanya Jessica memecah keheningan di mobil yang sedang melaju di jalanan.
"Hmmm," jawab Hans malas.
"Apa dia cantik?"
"Iya," ditanya seperti itu Hans teringat Reyna.
Jessica menjadi tidak enak hati karena jawaban singkat- singkat dari Hans. Sepertinya Hans belum memaafkan sepenuhnya kesalahan Jessica atau mungkin karena pengaruh dua rekan kerja Hans tadi siang? Sial! Jessica mengepalkan tangannya menahan kesal.
Sesampainya di kontrakan Jessica, Joane terbangun dan tak mau pisah dari daddy nya membuat Jessica diam- diam tersenyum senang.
"Sayang, Daddy pulang dulu ya, besok main lagi," bujuk Hans.
"Daddy.. daddy..." rengek Joane yang berada di gendongan Jessica.
"No, Joane. Daddy pulang dulu," Jessica ikut membujuk.
"Anak ganteng Daddy gak boleh nakal, Ok? Besok kita beli otato lagi," Hans berusaha membujuk lagi. Dia belum siap kalau harus tinggal satu rumah dengan Joane dan juga Jessica.
"Otato?" akhirnya Joane tidak merengek lagi.
Hans pun mengangguk mengiyakan.
"Daddy pulan. Ecok otato," kata- kata yang diucapkan Joane membuat Hans tersenyum.
"Good. Daddy pulang ya, jangan nakal," Hans mengecup kening Joane dan melambaikan tangannya sebelum masuk ke mobil dan melaju di jalanan.
Di dalam mobil Hans meringis dan memegang d**a kirinya yang terasa nyeri.
"Kenapa perasaanku tidak enak? Ada apa denganku?" lirih Hans masih dengan memegangi d**a kirinya.
TBC