"Udah mbak, biarin kami makan dulu ya, udah laper banget nih. Lagian makanannya kelihatan enak- enak, sayang kalau dianggurin," Hans menengahi kasihan melihat Anjas terus dibully.
"Jiah si kunyuk pinter banget ngambil hati calon ibu mertua," berkat ucapannya Anjas mendapat hadiah dari Hans berupa lemparan pena yang berada di saku kemeja pria itu.
Ha.. ha.. ha..
Anjas tertawa keras sementara Riana dan Rashad hanya mesem- mesem.
Waktu begitu cepat berlalu. Kehamilan Reyna sudah memasuki bulan kesembilan artinya sebentar lagi anaknya akan lahir ke dunia. Dia pun sudah mengurus cuti kuliahnya. Saat ia bosan di rumah ia akan menghabiskan waktu untuk mencoret- coret kanvas. Memang tak semahir para pelukis profesional tapi not bad lah. Ternyata bakatnya tak hanya menggambar design dan membuat maket.
Rayan dan Faira akhirnya menjadi sepasang kekasih berkat campur tangan Reyna. Awalnya sulit meyakinkan Faira apalagi Rayan tak mau repot- repot melakukan apapun.
"Kalau gak mau ngapain dipaksain? Kayak gue gak laku aja!" katanya kala itu saat menanggapi Reyna yang ngomel- ngomel karena Rayan tak ada usaha mendekati Faira.
"Emang loe gak laku, Ray. Loe mau jomblo sampai kapan?"
Rayan tak menanggapi hanya mengangkat kedua bahunya cuek. Reyna tentu saja tak berhenti sampai di situ.
"Ray, maafin gue ya, semua karena gue. Kalau saja gue..."
" Stop, Rey. It is not your fault. For God shake, i have told you many times!" Rayan memotong kata- kata Reyna yang selalu menyalahkan dirinya. Mata Reyna berkaca- kaca. Rasa bersalah selalu membayanginya, dia merasa menjadi beban buat Rayan. Bahkan menghalang- halangi jodoh Rayan.
Rayan mendekati Reyna yang menangis tanpa suara dan memeluknya.
"Loe bukan beban, Rey. Jangan pernah berpikiran seperti itu! Loe seperti adik yang harus gue jaga," Rayan mengelus rambut Reyna dengan sayang. Reyna semakin membenamkan wajahnya di d**a Rayan.
"Kalau memang dengan gue berhubungan sama Faira bisa membuat loe berhenti berpikiran buruk, gue akan dekati dia buat loe," kata Rayan masih sambil memeluk Reyna.
"No. Ini bukan buat gue, Ray. Tapi lakukan semua buat diri loe sendiri. Gak adil buat Faira nantinya. Kalau loe gak suka Faira tapi ada wanita lain yang loe suka, dekati dia. Jangan cuma karena gue tapi karena kemauan hati loe," Reyna mengeratkan pelukannya di pinggang Reyhan.
Sejak saat itu Rayan benar- benar mendekati Faira, masih ada campur tangan Reyna tentu saja. Dua bulan kemudian mereka jadian. Mereka berdua memberitahu Reyna dengan wajah merona bahagia. Hubungan Reyna dan Rayan tak berubah sedangkan Faira tidak keberatan dengan hal itu. Reyna seperti mendapat sahabat baru. Bahkan Faira membantu mengawasi kesehatan Reyna apalagi soal kehamilannya yang semakin mendekati hari kelahiran. Mereka berdua yang antusias mempersiapkan semua kebutuhan anaknya nanti. Tentu saja Reyna tidak keberatan dengan hal itu justru dia bahagia.
Tak jarang saat pergi periksa ke dokter mereka berdua ikut. Saat melihat anaknya di layar USG atau mendengar detak jantungnya mereka yang akan lebih heboh dari pada dirinya selaku ibunya.
Pernah suatu waktu Reyna bertanya pada Faira, "Kamu gak marah dan cemburu kan, Ra, sama aku?"
Faira tersenyum kemudian menjawab, "Awalnya iya. Tapi Rayan bilang bahwa kamu adalah adik yang harus ia jaga dan ia sayangi. Dia tidak akan bisa meninggalkanmu. Sejak saat itu aku belajar menyayangimu dan membantu Rayan menjagamu. Tidak sulit karena kamu adik yang baik."
Reyna menghambur ke pelukan Faira.
"Kamu tahu? Kamu adalah temen deket cewek pertama aku. Sebelumnya aku gak pernah dekat sama teman cewek."
Malam ini begitu panas, Reyna pun gelisah dan susah tidur. Sudah lama ia tak mengalami keadaan seperti ini. Diambilnya kemeja Hans yang dibawanya dulu. Ya dia putuskan membawa kemeja Hans untuk meredakan mualnya sedangkan jas yang ia pinjam di mobil dulu, ia meminta tolong bibik untuk mencuci dan mengembalikannya pada Hans. Tak cukup memeluk dan menciumnya ia mengenakan kemeja Hans dan herannya masih muat meskipun perutnya membuncit.
Rasa gerah yang Reyna rasakan tak mereda. Dapat ia rasakan anaknya pun terus menendang sampai terasa nyeri. Ia putuskan untuk ke balkon dan melihat bintang yang bertaburan. Dielusnya perutnya dengan sayang.
"Kenapa belum tidur, Nak? Kangen papa yah? Mama udah pakai kemeja papa nih, udah ya, bobok yang anteng," diajaknya bicara anak yang masih belum diketahui jenis kelaminnya itu. Reyna sengaja tidak bertanya pada dokter, biar jadi surprize.
Bukannya tenang anaknya malah semakin agresif bergerak. Hingga ia merasakan air merembes keluar dari lubang peranakannya. Dia tahu ini sudah waktunya.
Inhale exhale inhale exhale.
Reyna berusaha menenangkan diri, dengan perlahan dia memakai celana kain longgar dan meraih cardigan panjang. Semua barang yang ia butuhkan untuk dibawa ke rumah sakit sudah ia persiapkan beberapa hari yang lalu. Setelah meraih dompet dan ponsel di atas nakas ia menenteng tas yang berisi keperluannya. Keluar kamar ia mengetuk pintu kamar Rayan.
Tok.. tok.. tok
"Ray," panggilnya.
Dengan mata yang masih setengah terpejam Rayan membuka pintu kamar.
"Kenapa, Rey?" tanyanya sambil mengucek mata belum sepenuhnya sadar.
"Sorry gue ganggu tidur loe. Tapi gue mau minta tolong anterin ke rumah sakit," dengan tenang Reyna menjawab.
"Ngapain ke rumah sakit malam- malam, Rey? Gak bisa besok pagi aja?"
"Gak, Ray. Kayaknya ini udah waktunya si dedek lahir, deh."
"Dedek siapa sih?" Rayan menguap lebar dan tiba- tiba mematung, "Apa?! Loe mau lahiran?" teriaknya sepertinya dia baru sepenuhnya sadar.
Rayan berlari masuk kamar dan mengambil kunci mobil.
"Udah, ayo Rey, jalan pelan- pelan loe gak boleh panik!" katanya cepat tanpa jeda.
Reyna tersenyum melihat tingkah Rayan, melarangnya panik tapi dia sendiri yang panik.
"Ray, gue gak papa. Loe harus tenangin diri dulu. Loe mau nyetir loh, bahaya. Coba tarik nafas...hembuskan," Rayan mengikuti instruksi Reyna hingga dirinya berangsur- angsur tenang.
"Sekarang loe ganti baju dulu," Reyna memutar badan Rayan untuk masuk ke kamarnya lagi.
Seketika Rayan sadar dirinya hanya mengenakan celana piyama tanpa atasan. Bergegas masuk untuk berganti pakaian dan mengambil dompet yang tadi sempat ia lupakan. Setelahnya ia membimbing Reyna turun ke parkiran mobil.
"Gue udah telpon Faira tadi, jadi nanti loe gak sendiri," kata Reyna menahan sakit. Peluh sudah membanjiri keningnya.
"Iya," jawab Rayan singkat karena konsentrasi menyetir agar cepat sampai rumah sakit. Dia tak tega melihat Reyna yang terus mendesis menahan sakit.
Lalu lintas lewat tengah malam yang lengang membuat mereka tak butuh waktu lama di jalan. Sampai di rumah sakit ternyata Faira sudah sampai duluan dan sudah menunggu di lobi. Pihak rumah sakit dengan sigap membantu Reyna. Dokter Marrie yang biasa memeriksa Reyna juga sigap memeriksa keadaan Reyna.
Faira menemani Reyna di ruang bersalin sementara Rayan menunggu di luar ruangan dengan wajah yang tidak tenang. Sempat terpikir untuk menghubungi keluarga Reyna tapi dia sudah berjanji sama Reyna. Mondar mandir di depan ruangan sambil bersedekap ia lakukan untuk meredakan kegelisahannya.
Hingga satu jam kemudian terdengar tangis bayi yang kencang. Tak sadar air mata meleleh di sudut matanya. Beberapa saat kemudian Faira keluar dengan wajah sedikit murung membuat Rayan kembali gelisah.
"Apa yang terjadi, Ra?" berondong Rayan.
"Eh.." Faira terlihat kaget, "Bayinya lahir selamat dan sehat, cowok, ganteng," lanjutnya sambil tersenyum.
"Syukurlah. Reyna gimana?"
"Reyna? Reyna tadi sempat pingsan sekarang sedang ditangani dokter," jelas Faira kemudian.
Rayan mengusap wajahnya gelisah mendengar keadaan Reyna dari Faira. Melihat Faira yang murung menambah kegelisahannya semakin menjadi.
"Kenapa kamu murung, Ra? Apa ada masalah sama Reyna dan anaknya?"
"Ti.. tidak. Kata dokter mereka tidak apa- apa. Mereka akan segera dipindahkan ke ruang rawat."
"Terus kenapa wajahmu begitu?" Rayan menatap Faira intens.
"Ta.. tadi Reyna sempat menyebut sebuah nama. Kupikir itu nama ayah dari anaknya," Faira menjelaskan dengan ragu- ragu.
"Siapa?" tanya Rayan serius, rahangnya mulai mengeras.
"Keluarga ibu Reyna?" seorang perawat memanggil sesaat sebelum Faira menjawab pertanyaan Rayan.
"Saya, Sus," Rayan menghampiri perawat tersebut.
"Ibu Reyna dan bayinya akan segera kami pindahkan ke ruang perawatan," terang perawat itu.
Tak lama beberapa perawat mendorong brangkar Reyna menuju ruang perawatan dan seorang lagi membawa bayi Reyna ke ruangan khusus bayi.
"Reyna, ibu yang hebat," dokter Marrie tersenyum ke arah Rayan dan Faira.
"Mereka baik- baik saja kan, Dok?" Rayan memastikan.
"Iya, mereka sehat. Memang Reyna sempat drop tapi sekarang sudah stabil. Untuk bayinya tidak masalah. Sebagai calon dokter kalian melakukan tugas dengan baik dalam menjaga pasien kalian," dokter Marrie tersenyum.
"Dari mana Dokter tahu kalau kami calon dokter?" tanya Faira heran.
"Dari Reyna lah, siapa lagi yang punya mulut ember di sini!" jawab Rayan sedikit kesal.
Dokter Marrie tertawa kecil sebelum akhirnya pamit undur diri. Mereka berdua pun bergegas ke kamar perawatan Reyna. Reyna terlihat tertidur nyenyak dengan baju pasien berwarna biru. Kemeja putih yang dikenakannya saat ke rumah sakit tadi saat ini sedang berada di tangan Faira yang merapikan keperluan ibu dan anak itu yang masih tersimpan di tas.
"Ra, kamu tadi belum menjawab pertanyaanku. Siapa nama yang disebut Reyna?"
Faira menghentikan kegiatannya dan memfokuskan diri menghadap Rayan.
"Sebelumnya aku mau tanya siapa nama ayahnya?"
Meskipun Rayan tak mengerti arah pembicaraan Faira tapi ia menjawab juga, "Rashad."
"Omnya?"
"Anjas. Sebenarnya apa yang ingin kamu ketahui, kenapa menanyakan nama keluarganya?"
"Hhhh..." Faira menghela napas, "Aku cuma takut salah paham aja. Siapa tahu nama yang disebutnya tadi adalah keluarganya," Faira menjelaskan.
"Memangnya siapa yang disebutkannya tadi?"
"Uhh..." terdengar suara rintihan Reyna yang sepertinya mulai sadar.
"Rey, kamu sudah sadar?" buru- buru Rayan menghampiri Reyna yang membuka matanya perlahan.
"Ha..us.." kata Reyna terbata. Dengan sigap Faira membantu Reyna minum air mineral yang tersedia di nakas.
"Anak gue mana, Ray?" tanyanya kemudian.
" Ada di ruangan bayi. Anak kamu cowok, ganteng," Faira yang menjawab sambil tersenyum.
Mata Reyna berkaca- kaca memandang kedua sahabatnya.
"Thanks, kalian udah dampingin aku sampai sejauh ini," mereka bertiga berpelukan diiringi isak tangis haru dari Reyna.
-
-
-
-
Hans terbangun di brangkar rumah sakit dengan selang infus yang menancap di tangan kirinya. Ia ingat sedikit melamun saat menyetir pulang kerja tadi, alhasil dia menabrak pagar pembatas jalan karena menghindari pejalan kaki yang menyeberang.
Tak ada siapapun di kamar perawatan ini artinya tak ada siapapun yang menungguinya. Mungkin memang seperti itu, tak ada orang yang benar- benar mengharapkannya membuka mata. Ia teringat tadi ia terbangun karena memimpikan seorang anak kecil yang menggenggam jemarinya. Rasa hangat jemari mungil yang menggenggamnya itu bahkan masih terasa di jemarinya.
TBC