Sorry 12

1759 Words
Faira menatap Reyna kaget. "Mau aku bantu?" tanya Reyna dengan menaik turunkan alisnya menggoda. Faira hanya tertunduk dengan wajah memerah karena malu. 'Lucu sekali, cocok untuk Rayan yang cuek dan kadang pecicilan' batin Reyna. "Kamu gak marah?" tanya Faira membuat Reyna mengernyitkan dahi tanda tak mengerti. "Kenapa harus marah?" "Kalian kan dekat," Faira berusaha menelisik lebih dalam. "Jadi kamu belum percaya kalau aku bilang kami cuma sahabat?" rupanya gadis di depannya ini masih tidak percaya. "Sorry, tapi melihat kedekatan kalian kurasa banyak yang tidak percaya," dari gestur dan cara berbicara Faira, gadis itu terlihat merasa tak enak dengan apa yang ia utarakan. "Aku mengerti," alih- alih marah Reyna justru tersenyum mendengar keterus terangan Faira. "Aku tidak memaksamu untuk percaya." Mendengar kalimat balasan Reyna muncul rasa bersalah di hati Faira. Sebenarnya ia bisa merasakan bahwa Reyna orang baik. Mengenai kehamilannya juga tak masalah hanya kedekatan Reyna dan Rayan yang seringkali dibantah Reyna yang menjadikan rumor tak sedap. Yang orang- orang bicarakan adalah Reyna hamil anak pria lain tapi Rayan yang bertanggung jawab karena Rayan sangat mencintai Reyna. Tapi sikap Reyna yang selalu membantah kedekatan mereka menjadikan orang- orang berpikir Reyna perempuan egois. Tak ingin dimiliki tapi tak ingin melepaskan. Sementara Rayan sendiri seperti tak peduli pada rumor itu terlepas benar dan tidaknya. "Kita balik, Rey?" Rayan yang baru kembali dari toilet menghampiri Reyna yang sedang ngobrol dengan seorang gadis yang ia tahu juga berasal dari Indonesia. "Eh, Ray, kenalin nih Faira, anak kedokteran juga kan, Fai?" Reyna memperkenalkan Faira pada Rayan yang sudah berdiri di sampingnya sambil tersenyum. "Udah tahu," jawab Rayan singkat. Reyna mengernyitkan kening, "Kalau udah kenal kenapa gak pernah nyapa atau ngobrol, Ray?" "Gue bilang udah tahu, Rey, bukan kenal," terang Rayan jengah. Reyna semakin mengernyitkan keningnya, "Apa bedanya?" Reyna bertanya dengan mata berkedip polos membuat Rayan gemas. "Ck.. ya be..." "Kalau kenal itu kita udah kenalan minimal shake hand gitu, Rey. Tapi kalau tahu ya sekedar tahu aja. Kami kadang ada kelas yang sama jadi saling tahu," Faira membantu Rayan menjelaskan pada Reyna yang menatap mereka bergantian. "Oh gitu," jawab Reyna sambil manggut- manggut. "Udah? Kita cabut sekarang," Rayan meraih lengan Reyna mengajaknya pulang. "Eh tunggu, kita mau kemana?" Reyna melepas pegangan Rayan di lengannya. Reyna tak mau Faira semakin mempercayai rumor itu. "Ya pulang lah, kemana lagi?" Rayan menghembuskan napas lelah menghadapi Reyna. Hari ini Reyna tak seperti biasanya yang penurut tapi kembali ke sifat aslinya dulu yang keras kepala. "Gue pengen makan di luar sama Faira. Iya kan, Ra?" Reyna mengkode Faira dengan mengedipkan sebelah matanya. "Eh.. i.. iya," jawab Faira gugup. "Kenapa gak makan di rumah aja? Biasanya kamu paling anti makan di luar," Rayan menatap Reyna curiga. Semenjak hamil memang Reyna jarang makan di luar karena dia mau mengkonsumsi makanan sehat katanya. Bukan berarti makanan restoran gak sehat tapi kalau di luar dia akan tergoda makan fast food sedangkan makanan itu tidak baik untuk ibu hamil sepertinya. "Gak tahu Ray, mungkin ngidamnya si dedek," katanya sambil mengusap perutnya, "Tapi sebenarnya aku gak ngidam makan di luar sih," Reyna menemukan ide cemerlang untuk memuluskan tujuannya. "Hhh.. trus sebenernya apa maumu?" Rayan terlihat makin jengah dengan tingkah aneh Reyna. Tak biasanya dia mengidam. "Aku pengen makan bareng Faira, kalau gak makan di luar makan di apartemen juga gak papa yang penting bareng Faira," Reyna mengeluarkan puppy eyes andalannya. Rayan menatapnya datar sementara Faira melotot kaget. Tidak menyangka Reyna bergerak secepat ini untuk "membantunya" sementara Faira merasa belum menyetujui "tawaran" bantuan dari Reyna tadi. Rayan menatap Faira yang terlihat kaget. Dia tahu ini pasti akal- akalan Reyna, tapi dirinya tak mungkin menolak di depan Faira bukan? "Ok," jawabnya singkat sambil menganggukkan kepalanya. Reyna tersenyum lebar kemudian menggamit lengan Faira. Dengan semangat mengajaknya berjalan ke arah parkiran kampus. Faira menerima perlakuan Reyna dengan canggung tapi tidak menolak. Sementara Rayan menghela napas dalam sebelum mengikuti kedua wanita yang sudah berjalan mendahuluinya itu. Lima bulan ini komunikasi Reyna dengan keluarganya baik- baik saja. Meskipun tak jarang ia menolak panggilan dari mereka karena terkadang ia tak dapat membendung tangisnya ketika mendengar suara mama atau papanya. Rasa bersalah terus menghantuinya. Reyna selalu beralasan terlalu sibuk dengan kuliahnya. Saat mama dan papanya bilang mau berkunjung ia selalu menolak dengan alasan ingin hidup mandiri. Sementara Anjas yang sering mencoba video call selalu ditolaknya. Ia hanya mengirim pesan balasan yang mengatakan dirinya sedang sibuk. Sikapnya tentu saja membuat keluarganya curiga tapi dia mengancam tak mau pulang jika mereka nekat berkunjung tanpa sepengetahuannya. "Hari ini giliran loe yang masak ya, Ray, gue capek dan gerah nih," kata Reyna pada Rayan sambil mengibaskan tangannya setelah sampai di unit apartemen mereka. "Oh ya, Ra, kamu bisa masak kan? Tolong bantuin Rayan, ya. Aku mandi dulu," katanya pada Faira kemudian. Setelah mengedipkan sebelah matanya ia berlalu ke dalam kamarnya. Sepeninggal Reyna, Faira dan Rayan terlihat canggung. Rayan semakin yakin Reyna tengah mengerjainya dan ngidam yang dia bilang tadi hanyalah akal- akalannya. "Sorry ya, Ra, gara- gara permintaan Reyna, kamu jadi repot," Rayan membuka obrolan untuk mencairkan suasana canggung di antara mereka. "O..oh.. gak papa kok," jawab Faira tergagap, "Sebaiknya kita masak sekarang, sebelum bumil itu kelaparan," ajak Faira dengan menampilkan senyum manis yang membuat Rayan terpana sesaat. "Ok," Rayan berjalan mendahului ke arah dapur. Faira langsung menuju kulkas untuk melihat apa yang bisa mereka masak untuk makan siang ini. Dengan sigap ia mengeluarkan bahan- bahan yang menurutnya cocok untuk menu makan siang. Rayan membantu memotong- motong bahan sementara Faira dengan cekatan membuat bumbu. Mereka bisa bekerja sama dengan baik tidak seperti dua orang yang baru kenal. Reyna mengintip mereka dari balik kamar yang pintunya ia buka sedikit. Ia tersenyum melihat chemistry di antara mereka yang terbangun dalam waktu singkat. 'Mungkin mereka memang jodoh' katanya dalam hati dan senyum menghiasi bibirnya. Setelah puas melihat Rayan dan Faira ia berjalan ke arah arah ranjang. Pinggangnya terasa pegal hari ini, dia duduk bersandar di headboard. Dibukanya laci nakas di samping tempat tidurnya, diambilnya kotak kecil pemberian Hans di bandara sebelum keberangkatannya. Cincin emas putih polos bermata diamond yang tak terlalu besar dan terlihat elegan berada di dalam kotak itu. Cincin yang belum pernah ia pakai. Setelah berpikir sejenak dilepasnya kalung emas putih yang menggantung di lehernya pemberian papanya tahun lalu, cincin dari Hans dijadikannya bandul kalung. Tak terlihat memang karena kalungnya yang agak panjang terbenam di dalam bajunya. - - - - Hans menjalani hidup di Jakarta tidak lebih baik dari Reyna. Dia masih dihantui rasa bersalah dan penyesalan kepada Reyna. Tapi ia begitu pengecut untuk sekedar minta maaf dan mengakui kesalahannya. Bahkan ia menghabiskan waktunya untuk bekerja. Dia benar- benar menghindari makhluk bernama wanita. Pengkhianatan Jessica benar- benar membuatnya tak bisa percaya lagi pada makhluk bernama wanita. Tapi Hans bersyukur ia mengetahui semua itu sebelum ia melamar Jessica. Dan berkat itu pula ia bisa fokus pada karirnya di Indonesia tidak perlu ulang aling Indonesia Jerman untuk melepas rindu. Tok.. tok.. tok Terdengar pintu diketuk dari luar. "Ya masuk," Hans mempersilahkan orang di balik pintu untuk masuk yang ternyata adalah Anjas. "Waktunya lunch Hans, itu ditungguin Mbak Rianti di ruangan Bang Rashad. Dibawain makan siang kita," Anjas memberitahu tanpa masuk ke dalam ruangan Hans. "Ada acara apa memangnya?" tanya Hans sambil beranjak dan mengambil ponsel serta dompetnya. "Entahlah," Anjas mengangkat bahu. "Ada drama apa kira- kira hari ini?" mereka semua sudah hafal dengan watak dari Nyonya Pradipta itu. Sesampainya di ruangan Rashad makanan sudah terhidang di meja yang biasa mereka gunakan untuk meeting di ruangan itu. Sementara Rashad tengah membaca dokumen sambil disuapi sang istri tercinta membuat Anjas mendengus. "Ayo duduk Hans, Anjas kita makan sama- sama," Riana yang tengah menyuapi suaminya mempersilahkan mereka makan. "Manja kali, Bang," celetuk Anjas. Rashad mengernyitkan kening kemudian menutup dokumen di tangannya, "Kenapa? Jealous? Nikah dong!" balasan Rashad membuat Anjas mendengus kesal. "Gimana mau nikah, pacar aja gak punya," sang Nyonya ikut mencibir semakin membuat Anjas kesal. Hans tersenyum melihat Anjas yang kena buli. "Kok aku sih yang selalu dibully perasaan Hans juga jomblo deh," protes Anjas sambil cemberut. "Hans beda, dia belum lama jomblo. Lah kamu udah bertahun- tahun kagak laku," Riana memang tak pernah tanggung- tanggung kalau membully. "Lagian Hans masih dalam fase move on." "Bela aja terus itu si Hans!" Hans hanya tersenyum menanggapi kekesalan Anjas yang telah beralih pada dirinya. "Dan satu lagi, Hans masih nunggu Reyna," Rashad menambahkan, "Kalau kamu nunggu siapa?" kalimat lanjutan Rashad membuat Anjas bersungut- sungut. Riana terkikik geli melihat adiknya. "Reyna juga belum tentu mau sama Hans. Pulang dari Ausie dia pasti laris manis kayak kacang goreng. Sementara Hans, mungkin udah ubanan saat itu," Anjas meledek Hans. "Enak aja ubanan. Saat Reyna pulang umur Hans baru berapa, empat tahun doang," timpal Rashad. "Siapa bilang empat tahun lagi?" Anjas tersenyum mengejek ke arah kakak iparnya. "Ya aku lah, kamu gak denger barusan aku ngomong?" "Cih.. orang Reyna bilang gak akan pulang sebelum aku nikah kok. Jadi sebelum aku dapat jodoh, Reyna gak bakal pulang. Tinggal kutunggu aja sampai Hans ubanan baru aku nikah," bibir Anjas terukir senyum kemenangan menatap ke arah kakak iparnya sebelum senyum itu luntur karena sang kakak kandung. "Kalau Hans ubanan trus kamu gimana? Udah kakek- kakek dong, memang masih ada yang mau?" 'Sial kakaknya ini memang tak pernah memihaknya' gerutu Anjas dalam hati. "Memangnya kapan Reyna bilang kayak gitu ke kamu, Jas?" Riana bertanya penasaran karena seingatnya anaknya tak pernah berkata demikian terhadapnya. "Kemarin aku coba video call tapi ditolaknya. Katanya dia lagi sibuk ngerjain tugas. Kami hanya berbalas pesan sampai akhirnya kutanya kapan dia mau pulang, eh jawabnya ya itu tadi, dia pulang saat aku nikah," jelas Anjas panjang lebar. "Pokoknya kamu harus dapet pacar secepatnya kalau gitu, Jas. Mbak gak mau tahu pokoknya harus dapet pacar dalam waktu dekat. Kamu mau blind date atau nyari dimana terserah yang penting dapet. Kalau perlu obral sekalian biar cepet laku," sang Nyonya memulai drama dengan menggebu- gebu membuat Anjas pusing seketika teringat percakapannya dengan Reyna di pantai Bali kala itu. "Pokoknya aku gak mau tahu ya om, aku gak mau pulang sebelum om nikah. Titik!" "Idih ngancem. Kalo kamu gak pulang ya kami tinggal nyusul lah." "Enggak boleh! Aku gak bakal kasih tahu aku dimana kalo om belum nikah." "Emang kamu gak kangen sama mama papamu?" "Gak peduli, paling kalo mereka kangen bakal ngrecokin om karena om gak nikah-nikah." "Udah mbak, biarin kami makan dulu ya, udah laper banget nih. Lagian makanannya kelihatan enak- enak, sayang kalau dianggurin," Hans menengahi kasihan melihat Anjas terus dibully. "Jiah si kunyuk pinter banget ngambil hati calon ibu mertua," berkat ucapannya Anjas mendapat hadiah dari Hans berupa lemparan pena yang berada di saku kemeja pria itu. TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD